The Sheen of Love [TSOL]

The Sheen of Love [TSOL]
Part 74



Pengawalan gangster BOF untuk sang Ratu tetap terlihat meski dari jarak yang tidak dekat, diketahui oleh Hiroshi tapi tidak Lien Hua.


Perjalanan mendapati tujuan mereka, akhirnya berhasil sampai, tanpa ada hambatan.


keduanya tiba di sebuah rumah besar nan mewah.


...


"Ini dimana Ai?" Tanya Lien.


Hiroshi tidak menjawab.


"Ayo sayang! kita masuk saja dulu!" Ajak Hiroshi menggandeng istrinya.


Langkah-langkah kaki itu mulai bergerak memasuki rumah.


(Rumah besar nan mewah, di belakang area rumah tersebut terdapat tempat pelatihan gangster BOF lengkap dengan fasilitas yang menggunakan fitur tekhnologi tercanggih)


Tanpa terasa, keduanya sampai di depan pintu.


Sudah ada para pria yang membukakan pintu besar itu secara otomatis sambil memberi penghormatan setengah membungkuk kepada Hiroshi Kienta dan Lien Hua.


Lien masih merasa asing dengan tingkah mereka serta suasana rumah yang mewah.


Salah satu pria disana memandu keduanya.


Sepasang kekasih itu pun mengikuti si pria dan terus bergerak melangkahkan kaki mereka menuju titik lokasi, hingga sampai di sebuah ruang aula yang luas, tampak sudah berkumpul para gangster-gangster hebat mulai dari petinggi-petinggi sampai bawahan BOF, serta beberapa gangster JK juga ada disana yang di pimpin oleh Aldo dan Andre.


Ada juga sekelompok bodyguard wanita yang bergaya seperti lelaki, bertubuh besar dan kekar. Kedepannya mereka sudah di siapkan khusus untuk mengawal keamanan sang Ratu.


Melihat fenomenal yang ramai dengan perawakan wajah-wajah cukup seram, Lien semakin erat menggandeng Hiroshi.


"Ai kita dimana ini? tanya Lien lagi merasa takut!"


Hiroshi hanya tersenyum dan terus membawa istrinya berjalan menghadap seseorang.


Keduanya berjalan bak Raja dan Ratu di tengah-tengah kerumunan, layaknya sedang menuju sebuah singgasana mereka dalam sebuah istana.


Semua yang hadir memberi hormat kepada sang Ratu dengan menunduk sedikit kepala mereka pertanda menyambut pimpinan baru yang sudah lama di nanti.


Prilaku aneh itu membuat Lien semakin tidak paham.


Akhirnya Hiroshi berhasil membawa Lien menuju kepada seroang pria tua bernama Jovial.


"Selamat datang di kehidupan yang baru." ucap Jovial sambil memberi penghormatan kecil kepada wanita muda berparas cantik itu.


Terpancar kemilau aura yang berseri-seri dari wajah Lien Hua, pesona kebangsawanannya semakin terlihat jelas, pria tua itu menatap fokus pada Lien Hua.


Matanya berkaca-kaca seolah-olah ia sedang memandang sosok si mantan bigbos mafia yang sangat ia rindukan.


Tak berapa lama munculah sepasang kekasih lama dihadapan Lien, mereka adalah Wee dan Mahia, orang tua asuhnya sejak bayi serta Jingmi kakak angkatnya.


Sontak wanita itu berlari memeluk keluarganya. Ia sangat bahagia bertemu dengan keluarganya dan tidak menyangka mereka juga ada disana.


"Apa yang sedang terjadi ayah?" Tanya Lien pada begitu khawatir.


"Dengar saja apa penjelasan dari kakek tua itu. Ayah tau di dalam kebencianmu ada terselip rasa rindumu pada sosok ayah kandungnmu kan?" ucap Wee.


"Tidak ayah! (Jawab Lien sambil meneteskan airmata)


Aku sudah lama mengubur rasa rindu itu jauh-jauh dari hati dan pikiranku, hanya ayah satu-satunya yang ada dihatiku dan kalianlah keluargaku!" jawab Lien, terlihat tetesan airmata itu jatuh berkali-kali di kedua pipinya.


(Mahia tanpa kata hanya meneteskan airmata saja dan berusaha me-lapnya dengan tisu.


Hati seorang ibu yang bercampur aduk antara bahagia tapi terselip rasa berat melepas Lien, putri yang sudah ia asuh mulai dari bayi hingga beranjak dewasa, tangis serta sandaran manja itu masih terasa hangat di dalam jiwanya.)


"Iyah nak! Ayah mengerti, kami juga sangat menyayangi kamu," Jawab Wee sambil mengelus lembut rambut putrinya.


...


" Lien! ( panggil Jovial dengan lembut) Genggam lah! Liontin ini sudah sangat lama menantikan pemiliknya."


Dalam suasana hening dan semua mata tertuju pada wanita cantik itu. Termasuk Hiroshi yang setia mendampingi istrinya.


Saat benda kecil itu terbuka, terpampang foto Brest Albern dan Xin Hua, keduanya masih tergolong sangat muda.


Brest (20 thn) Xin (18 thn) dengan senyum manis keduanya.


Karena masih terlihat muda dan tampan, Lien tidak mengenali wajah Brest. Sementara wajah Xin sudah diketahui oleh Lien.


Hiroshi juga ikut memperhatikannya.


("Siapa pria ini, tapi dari bentuk wajahnya sepertinya aku mengenalnya," gumam Lien)


"Apakah kamu mengenali pria itu?" Tanya Jovian.


Gadis itu menggeleng,


"Tapi! wajah ini tidak asing," jawab Lien dengan keraguan.


Jovian memanggil anak buahnya, tak lama kemudian utusan itu datang membawa foto Brest dengan ukuran yang lebih besar lagi. Jovial pun memperlihatkannya kepada Lien.


"Bagaimana dengan foto ini apakah kamu mengenalnya?" Tanya Jovian lagi.


"Mr Vigo?" Ucap Lien tercengang.


"Iyah! Benar, foto yang ada di dalam Liontin itu juga Mr Vigo, saat usianya masih terlalu muda!"


"Ma...maksudnya?" Tanya Lien semakin tidak paham.


"Mr Vigo yang kamu maksud itu ialah Brest Albern yang tak lain ayah kandungmu" jawab Jovian dengan tegas.


"Apah??...A...ayah kandungku??" ucapnya tak menduga dan sangat shock mendengarnya.


Jovial mengangguk pelan.


"Ti...tidak mungkin!" bantah Lien sampai bibirnya bergetar, kakinya terasa lemas tak berdaya untuk berdiri tegak.


Sebagai sandaran, Hiroshi menguatkan tubuh Lien.


"Aku adalah Jovial, sudah di percaya bertahun-tahun menjadi ajudan pribadi beliau sejak ia masih remaja, dan rumah mewah ini serta semua pasukan yang berdiri disana (BOF) adalah milik Brest Albern."


"Aku semakin tidak paham, apakah paman hanya bergurau?" tanya Lien sambil mengambil tangan pria tua itu dan mengembalikan liontinnya tepat di telapak tangan Jovial, ia tidak bisa menerimanya.


"Mungkin paman salah orang, sebaiknya aku kembalikan liontin ini" kata Lien lagi.


"Bagaimana dengan wanitanya?" Ucap Jovial.


"Bisa saja kalian menggabungkannya dengan foto ibuku. (Lien berjalan menghampiri Wee dan Mahia) Ayah, mamah, tolong beritahu aku jika itu semua adalah bohong, ayah Lien sudah mati kan? ia adalah seorang bajiangan yang tidak bertanggung jawab, mereka malah mengatakan tuan Vigo yang terhormat adalah ayah kandungku,"


Wee dan Mahia menangis tersedu-sedu sambil memeluk Lien...ungkapan yang sudah lama terpendam kini pecah bersama pelukan serta tangis air mata.


"Hiks...hiks...hiks...apa yang mereka katakan itu benar. Dan maafkan kami yang tidak pernah jujur mengenai siapa ayah kandungmu nak...maafkan kami!..hiks...hiks...hiks" ucap Mahia


"Tapi hari ini kamu berhak mengetahui segalanya nak!" Kata Wee dengan tetesan air matanya.


"Apah (shock)? Jadi! Yang mereka katakan itu benar ayah?" Ucap Lien dengan ekspresi wajah penuh kebingungan.


"Ini tidak mungkin? Bagaimana bisa Tuanku adalah ayah kandungku?" kata Lien dengan ekpresi wajah semakin linglung...


...


"Apapun bisa terjadi di dunia ini,


Lien! aku tau ini terlalu membingungkan bagimu, sebaiknya mari ikut berlayar menuju suatu pulau, aku yakin! Lien juga sudah pernah memasuki tempat itu kan? disana kamu akan mengerti, bagaimana semua ini bisa terjadi," Ucap Jovial.


Next On...


LIKE & VOTE