The Sheen of Love [TSOL]

The Sheen of Love [TSOL]
Part 76



Brest selalu mencari buku seri terbaru ke toko tempat Xin bekerja dan meminta gadis itu yang membantunya, hampir semua pelayan wanita lain bersedia menggantikan posisi Xin, bahkan beberapa diantara mereka mengajukan diri.


Sementara Brest tidak menginginkan pelayan yang lain dan memaksa sang manager menetapkan Xin sebagai pilihannya, si pelayan yang bekerja paruh waktu itu berkali-kali sudah mencoba untuk menolak dan berusaha mencari alasan lain, namun lagi-lagi pihak manager tidak menghiraukan permintaan Xin. Tetap dengan prinsip pelanggan adalah Raja.


Di dalam stock gudang, Brest juga sengaja menyuruh Xin meraih buku atau komik yang posisinya di atas tumpukan kotak. Xin terpaksa harus menggunakan bantuan tangga untuk mengambil buku pilihan Brest. Layaknya gudang sudah seperti milik pribadi si pelanggan.


Pemilik toko tidak keberatan, karena mereka mendapat keuntungan berlipat-lipat dari customer pemuda bangsawan itu.


Saat Xin sedang berusaha meraih buku di atas tumpukan, perhatian pemuda itu bukanlah pada sebuah buku, melainkan isi dalam rok sang gadis dengan modus berpura-pura memegangi tangga. Meski Xin masih terlihat polos, lama-lama gadis remaja itu mengerti, apa sebenarnya tujuan Brest, lalu ia merasa geram dan sengaja menjatuhkan komik tepat ke kepala Brest.


"Adduh!" Ucap pemuda itu, ia bukannya marah malah justru cengengesan😁 sambil menggosok-gosok kepalanya di area jatuhan.


...


Brest juga suka latah mencolek bokong Xin dengan sengaja, sehingga membuat gadis itu benar-benar marah, mengejar serta memukulinya dengan brutal menggunakan gagang sapu.


Gadis itu lupa jika Brest pelanggan kelas 1 di tokonya, beresiko tinggi di pecat jika pemuda itu mengadukan sebuah keluhan. Brest justru hanya tertawa terbahak-bahak, terlihat sangat bahagia, telah berhasil membuat gadis itu semakin jengkel, campur aduk dengan rasa kesal dan ingin menangis.


Brest juga kerap menyuruh Xin mengantar buku apa saja kerumahnya dengan bayaran yang lumayan tinggi. Lagi-lagi Xin terpaksa memenuhinya, karena permintaan langsung dari si pemilik toko.


Xin si gadis jutek, tak banyak bicara dan sulit tersenyum ditambah lagi saat hatinya sudah tidak menyukai hal apa saja, namun saat ia sekali tersenyum membuat Brest sedang melihat lukisan terindah didunia.


Hal itu membuat Brest menjadi mati penasaran. Ia suka menganggu gadis remaja itu serta menahan kedatangan Xin beberapa menit agar Xin tidak langsung meninggalkan rumahnya.


Salah satu gurauan Brest saat Xin mengantar buku pesanan kerumahnya, mulai dari komik sampai majalah dewasa.


...


"Eh! Perempuan!" panggil Brest.


"Namaku Xin Hua, bukan perempuan!" Jawabnya jutek😒.


"Ehehehe😁sorry, lupa! ( padahal selalu ingat),


Sebaiknya bentuk payudaramu semontok ini,(menunjuk pada foto model dalam majalah) biar pria tertarik padamu, jangan tipis dan jelek seperti itu (tunjuk Brest ke dada Xin)"


Xin tidak menjawab, bahkan tidak tersenyum sedikitpun, hanya diam dan memasang wajah masam. Candaan Brest yang terasa garing membuat perut gadis itu terasa mual.


Brest juga memamerkan koleksi foto pacar-pacarnya yang sexy kepada Xin. Secara tidak langsung, pria itu ingin mengatakan bahwa dirinya cukup tampan dan sangat populer.


Hingga Brest mendapat gelar si CC (Crazy Customer) dari Xin Hua.


Aksi jungkir balik Brest kepada Xin untuk pertama kali memikat wanita itu mati-matian, hingga lama-kelamaan Xin luluh juga, akhirnya mereka mulai berteman, bermain, jalan bersama, merasa nyaman, saling curhat, tertawa dan bercanda bersama, sama-sama penggemar bacaan komik.


Xin mengatakan, jika ia tidak bisa lagi melanjutkan sekolah menengah akibat masalah biaya. Sampai akhirnya Brest rela menyekolahkan Xin di sekolah Brest dengan atas nama adik angkatnya. Membelikan rumah dan memenuhi semua kebutuhan Xin. Gadis itu tidak meminta dan sempat menolak namun karena paksaan Brest. Xin menerimanya.


Brest juga berjanji akan membiayai kuliah Xin sampai keperguruan tinggi.


Xin bercita-cita ingin sekolah di bagian kesehatan.


Meski masih muda, Brest sudah di percayakan oleh ayahnya membuka banyak usaha.


Canda, senyum, tawa Xin membawa kebahagian tersendiri di hati Brest.


Perasaan cinta itu membuat keduanya lupa diri. Xin terlena dengan rayuan dan belaian pria seperti Brest. Mereka bercinta bak pasangan suami istri untuk pertama kalinya. Hal itu sering dilakukan oleh keduanya hingga Xin hamil di luar nikah.


Status mereka bukanlah suami istri dan bukan pula kekasih. Brest tidak pernah mengungkapkan cinta kepada Xin, entah karena gengsi atau hanya ingin Xin sebagai mainannya saja. Padahal pria itu sangat cinta dan sayang pada Xin Hua.


Hubungan gelap itu akhirnya diketahui oleh Ayah Brest bernama Rery Albern, ia memberikan respon marah besar kepada Brest. Rery tidak merestui hubungan Brest & Xin karena Ayahnya ingin menjadi Brest sebagai penerus tahta 'The Next Big Bos Mafia'.


Xin tidak mengetahui jika Brest sudah terjaring kedalam anggota gangster mafia.


Tentu hubungan asmara antara si kaya dan si miskin sulit bersatu, bagai minyak dan air. Rery menentang dan berusaha keras memisahkan hubungan keduanya.


Rery juga mengetahui jika Xin telah mengandung anak Brest. Selain usia Brest yang masih terlalu dini dan ia juga ingin membawa putra semata wayangnya itu berangkat ke china untuk menyambung kuliah serta membentuk gangster yang lebih hebat lagi. Namun kala itu Brest sempat menolak ajakan ayahnya dan ingin menikahi Xin.


Mendengar hal itu, Rery langsung mengambil siasat dengan mengadu domba antara Brest dan Xin. Rery mengatakan kepada Brest bahwa kehamilan Xin bukanlah karenanya, melainkan adanya pria lain. Ayah Brest mengarang foto-foto palsu antara Xin dengan pria lain.


Brest sempat percaya pada ayahnya dan marah besar kepada Xin, lalu melemparkan sejumlah uang yang banyak, mengatakan Xin adalah wanita sampah, ibarat bunga yang madunya sudah dihisap kumbang terlihat layu tak bersemi lagi.


Brest menyuruh Xin agar segera menggugurkan bayi yang di kandungnya dengan alasan, ia ingin berangkat ke china, mengapai cita-cita dan tidak ingin menikahi Xin. Pemuda itu lebih egois memilih karir dan masa depan gangsternya.


Kala itu, Xin hanya bisa menangisi takdirnya, ia sungguh sangat menyesal, menjadi wanita murahan, memilih tidur dan melayani nafsu pria yang tidak pernah mencintainya.


Semua sudah terjadi, nasi telah menjadi bubur.


Xin berusaha menyembunyikan kehamilannnya hingga ia melahirkan. Pamannya kecewa berat pada Xin dan tidak mau menerima Xin kembali tinggal di rumahnya.


Selama masa kehamilan sampai dengan melahirkan, Brest tidak pernah menemui wanita itu. Xin berjuang sendiri.


Beberapa hari kelahiran sang bayi, Xin melakukan test DNA dengan memakai sempel rambut Brest yang ada. Kemudian ia nekat menemui Brest yang akan segera berangkat ke shanghai.


Hal itu di saksikan jelas oleh Jovial.


....


"Kedatangan ku kesini aku tidak minta untuk di nikahin. Aku sadar! aku adalah gadis sampah yang miskin, tak mungkin bisa bersanding denganmu.


Kau boleh membunuhku karena aku tidak mengugurkan bayi ini. Jika kelak kau punya anak yang lain, tolong jangan lupakan ia. Bertanggungjawablah untuk hidupnya, karena di tubuh bayi ini ada darahmu yang mengalir.


Meskipun aku wanita sampah, aku hanya tidur denganmu saja dan asalkan kau tau, aku sangat-sangat menyesal telah mengenal dirimu, andai waktu bisa diulang kembali, tentu aku tidak memilih jalan takdir seperti ini."


Ucap Xin dengan linangan airmata sambil melemparkan berkas DNA itu tepat ke wajah Brest. lalu Ia pergi membawa bayinya...


Next....


Like & Vote & Share & Comment & star 5 & follow.