The Sheen of Love [TSOL]

The Sheen of Love [TSOL]
Part 34



Explore your imagination with The Sheen of Love....


Perhatian!! Di larang keras meniru adegan Action. 《Percakapan sudah menggunakan versi Bahasa Indonesia》


............


............


Lompatan tinggi....


Terjangan keras, balas-membalas....


Tangkis-menangkis....


Pukulan yang menghantam di seluruh tubuh satu dan yang lainnya.


"Brak...Bruk...Bumz....." (suara hantaman keras)


Pertarungan dahsyat sedang berlangsung, keduanya terlihat menggunakan jurus kungfu dengan kecepatan pergerakan persekian-sekian detik. Dan hanya bisa di lakukan oleh seseorang yang sudah terlatih.


Jurus maut gengs misterius melumpuhkan kaki-kaki Hiroshi dkk sebagai tumpuan pertahanan, kemudian serangan area dada sebagai ujungnya, hingga salah satu dari gengs itu mengalami game over.


Dengan waktu yang singkat Hiroshi dan gengsnya ambruk, jatuh tersungkur, mengeluarkan darah dari mulut dan hidung.


Benar-benar menguras habis energi tubuh mereka terutama Hiroshi dkk. Ada beberapa jurus dari lawan yang belum di pelajari oleh Hiroshi sehingga pukulan keras lawan berhasil menghantam titik-titik kelemahan dari gengs milik Aldo yang tak mampu mereka tangkis. Ditambah lagi personel pasukan Hiroshi lebih sedikit daripada lawan mereka.


Gangster yang baru di bentuk satu tahun itu harus menerima kekalahan dan menyatakan menyerah, kecuali Hiroshi yang memaksakan diri untuk bangkit lagi, Namun dengan mudah mereka menghantam Hiroshi dan lagi-lagi tersungkur hingga terjatuh.


Sementara Lien masih dalam perjalanan menuju titik lokasi.


Terlihat Hiroshi dkk tergeletak sambil meringis-ringis kesakitan.


.....


.....


☆☆☆☆☆☆☆☆


Percakapan pasukan lawan yang masih di tempat****;


"Bagaimana bos! apa kita perlu menghabisi nyawa mereka semua?" tanya anggota pada sang pemimpin pasukan itu.


"Tidak perlu! cukup hanya memb*n*h 2 orang saja yang sudah menyaksikan tindakan kita"


(Dua orang itu adalah Hiroshi dan Akiyama)


Kondisi Hiroshi dan Akiyama yang sudah sangat lemah dan babak belur ibarat rempenyek siap di makan.


kemudian, keduanya di papah berdiri.


"Kita habisi dulu yang ini" (Hiroshi)


......


......


"Hah...hah...hah" (Nafas Hiroshi yang cukup berat dengan pandangan sayu pasrah jika hari itu ia harus tewas)


.......


.......


Ketika terjangan maut itu hendak di lancarkan,


Tiba-tiba,


Terdengar teriakan wanita yang sedang berlari cepat keluar dari mobil.


"Kak Hiroshiiii," jerit Lien.


Sontak semua tertuju pada gadis itu termasuk pihak lawan dan saat itu pula, sang eksekusi mengurungkan niatnya untuk menghabisi nyawa Hiroshi.


("Drama ini pun dimulai, aku ingin tau reaksi mereka," gumam Hiroshi)


Lien berlari mendapati Hiroshi dan masuk kedalam kerumunan para lelaki tangguh itu.


"Lepaskan dia, mengapa kalian memukulinya?" Bentak Lien yang tiba-tiba saja tidak gentar menghadapi pasukan-pasukan hebat itu.


Mendengar ucapan Lien,


Sontak komandan dari gengs memberi arahan mundur kepada anggota lainnya.


Dan sangat di luar dugaan, gengster terhebat itu mundur tanpa kata dan menghempaskan tubuh Hiroshi yang lemah.


Masing-masing dari mereka juga, terlihat memberi isyarat dengan menundukkan sedikit wajah mereka kepada Lien Hua.


(Makna menundukkan sedikit wajah di dalam gengs, artinya sebuah penghormatan kecil untuk yang ditinggikan)


Hiroshi melihat jelas dan paham makna isyarat mereka dan merasa tidak percaya, mengapa lawan hebat itu bisa tunduk serta hormat kepada sosok gadis yang lemah.


Tanpa kata-kata lagi mereka mundur teratur menuju kendaraan masing-masing. Terlihat oleh Hiroshi si komandan gengs misterius sedang memakai jaketnya, di belakang jaket itu tertulis jelas;


"BREST ON FIRE"


...


...


("Brest on fire," gumam Hiroshi.)


Kemudian, para gangster langsung menghilang dengan cepat, bagai abu tertiup angin.


....


....


Hiroshi tiba-tiba saja pingsan, kondisinya yang paling parah diantara yang lain, Karena ia melawan lebih dari satu orang.


....


....


"Kak Hiroshi" panggil Lien sambil berlari menghampiri pemuda itu.


Anggota Hiroshi yang menjemput Lien adalah satu-satunya jiwa yang masih sehat dan bugar, dengan sigap ia mengeluarkan perlengkapan peralatan p3K yang lengkap dari mobil. Obat yang mereka gunakan bisa dengan cepat mengembalikan luka yang parah bahkan sendi yang terkilir. Termasuk minuman yang mampu mengembalikan stamina.


....


....


((Yang pasti harga peralatan + obat-obatan para gangster itu kagak recehan yah guys!))


....


....


Jiwa pejuang kesehatan Lien pun berkobar disana. Ia dan anggota Hiroshi yang tersisa itu membantu pengobatan para gangster-gangster yang terluka.


Para gangster juga dibekali keahlian khusus untuk bisa mandiri mengobati cedera-cedera luka kecil di tubuh mereka.


Sementara,


Lien fokus pada pengobatan luka-luka Hiroshi.


Setelah beberapa jam mereka beristirahat, para gangster itu mulai kembali pulih, diikuti dengan sadarnya (siuman) Hiroshi.


Singkat cerita....


Anggota gangs lainnya pun kembali ke Apartemen.


Sementara Hiroshi dan Lien diantar pulang.


Terlihat di dalam mobil tubuh pria itu lemas dalam dampingan gadis itu.


Hiroshi terlihat murung, di dalam pikirannya penuh dengan pertanyaan yang belum puas terjawab, serta galau. Antara perasaan dan rasa curiga kepada wanita yang memiliki aura sinar yang mempesona dirinya dan mampu mengusir pasukan tangguh yang tak tertandingi.


....


....


Tanpa terasa mereka tiba di rumah.


Anggota Hiroshi yang mengantar mereka kembali ke Apartemen.


Terlihat Lien memapah masuk ke dalam kamar pria bertubuh kekar itu, ia berjalan dengan pincang serta memakai banyak perban di tubuhnya.


.......


......


"Kak! apa kita perlu kerumah sakit?" Tanya gadis polos itu menawarkan jasa.


"Tidak perlu" jawab Hiroshi lambat dengan ekspresi wajah yang murung. Ia sangat kecewa kalah dari lawannya dan gagal membongkar teka-teki yang ada. Hiroshi tidak menduga jika lawannya sangatlah kuat.


"Kak! Kakak marah yah pada Lien? Memangnya apa yang sudah terjadi kak? mengapa tiba-tiba kakak bisa bertarung dengan sekelompok geng lain. Apakah mereka pihak lawan yang selama ini kita cari?" Tanya Lien.


Hiroshi terdiam sambil berkata dalam hatinya;


("Wanita ini pura-pura bodoh atau memang sangat bodoh? Harusnya ia lebih tau daripada aku?")


"Kak?" Panggil Lien membuyarkan lamunan Hiroshi.


"Harusnya kamu yang lebih tau daripada aku, mengapa mereka bisa tunduk dengan mu?" Tanya Hiroshi tanpa basa-basi lagi.


"Tunduk?" Aku tidak mengerti kak?" Tanya Lien bingung.


"Yah sudahlah! Sebaiknya tinggalkan kamar ini, aku mau sendiri," kata Hiroshi dengan wajah masam.


"Baiklah, istirahat yah kak!" ucap Lien beranjak dari duduknya lalu bergerak menuju pintu keluar dan menutup pintu.


...


Terlihat ekspresi wajah pria itu masih dengan lamunannya sambil berkata-kata dalam hatinya.


"Sikap gadis itu sangat natural dan bukan berpura-pura, aku bisa merasakannya?


Apakah Lien adalah utusan lawan? Atau ia benar-benar korban, terus mengapa pasukan Brest memberi penghomatan kepadanya?


Aarrrgg! Kepalaku hampir pecah, ini begitu sulit yang pasti aku tidak boleh terlena dengan sikap polos wanita itu, karena semua bisa terjadi di luar prediksi. Keselamatan keluarga Wijaya adalah hal yang paling penting.


Kakak selalu mengatakan dua senjata lawan yang paling ampuh yaitu Narkotika dan wanita.


Tapi mengapa harus Lien???"


....


....


LIKE + VOTE + SHARE + FAVORIT+ FOLLOW.