The Sheen of Love [TSOL]

The Sheen of Love [TSOL]
Part 53



Percakapan sudah menggunakan versi bahasa Indonesia.


(Cat; Hiroshi mampu berbahasa indonesia meski tidak mahir seperti orang indonesia asli, Lien hua mampu berbahasa melayu-Indo, inggris, mandarin)


••••••


Pagi bersinar cerah, secerah harapan yang selalu tergantung dalam angan-angan.


Hidup, mustahil tanpa ada batu yang menghalang, tergantung setiap insan manusia seperti apa kemampuan mereka untuk menghadapinya.


••••••


Di kediaman rumah besar Andre.


Sebelum berangkat ke kantor dan melakukan aktifitas. Dua pasangan serasi itu melakukan olahraga di lokasi rumah dengan menggunakan alat fitnes yang ada.


Terlihat Indah dan Lien sedang ngobrol asyik tentang membahas wara-wiri seputar wanita.


Begitu juga Andre dan Hiroshi. Pemuda yang usianya hampir menginjak kepala 3 itu, terlihat bersungguh-sungguh dalam belajar apa saja kepada Andre.


Kemudian mereka sarapan bersama.


Saat Hiroshi sedang bergegas memakai sepatu hendak berangkat ke kantor.


Rohaye si babysitter pun mulai cari perhatian sambil menjaga Zen.


•••••


"Rohaye sudah sarapan?" Tanya Hiroshi lembut.


"Belum mas!" Jawab gadis itu malu-malu.


"Jangan lupa sarapan dan tetap semangat yah! Aku bisa memahami menjaga balita seperti tuan muda kecil Zen, sungguh sangat melelahkan," kata Hiroshi yang tersenyum bahagia melihat ke arah Zen....


Rohaye mengangguk sambil berkata dalam hatinya;


("Ya Tuhan! Udah tampan, pengertian, baper paraaaaaah 😻")


Sanking gemesnya dan terjadi reflek begitu saja, Rohaye mencubit kecil dagu Hiroshi.


"Eh!" Pemuda itu terkejut


"Maaf! habis gemes, hehehehe!" Rohaye malu-malu meong.


"Hehehe!" Hiroshi pun tertawa antara paham dan tidak.


Melihat hal itu Lien merasa cemburu lalu berjalan cepat.


"Kak! Ayo kita ke kantor nanti kita terlambat," ucap Lien ketus.


"Okeh!,...bay Zen, Rohaye!" kata Hiroshi mencium pipi si balita itu.


("Duh! Mas, shittanya kagak di ummach😚 juga!" Ucap Rohaye dalam hatinya berharap dot com)


••••••


Di dalam mobil Lien hanya diam saja meski Hiroshi sudah membuka pembicaraan.


Hiroshi berangkat ke kantor bersama sekretarisnya tanpa menggunakan supir, mereka berangkat terlebih dulu dari pada Andre.


....


....


Jadwal kegiatan Hiroshi dan Lien Hua terlihat padat. Mulai dari penyusanan strategi pembangunan beberapa perusahaan di Singapura, sampai dengan pembentukan gangster.


.


••••


"Pak! mau permen lolipop tidak?," Lien menawarkan kemasan yang belum terbuka.


"Boleh! tapi yang ada di mulut kamu yah!" Ucap Hiroshi menarik cepat permen lolipop dari mulut Lien.


"Eh! Jahil yah," 😊kata Lien berlari mengejar Hiroshi sambil menggelitiki pemuda itu.


sang gadis sampai lupa diri bahwa Hiroshi adalah atasannya.


Keduanya tertawa begitu mesra dan berkejaran kecil ala kuch-kuch hota hai.


Tanpa mereka sadari Rey sudah masuk ke ruangan itu.


("Cek...cek...cek aku kagak nyangka ternak duit gua mulai ada kemajuan dan sangat cepat berkembang," ucap Rey geleng-geleng sambil senyum-senyum bahagia)


••••


"Ehem...ehem..." tegur Rey.


Reflek keduanya berhenti.


"Hiroshi kita ke pelatihan," Perintah Rey sambil meletakkan beberapa dokumen di atas meja Lien.


"Okey bos!" Jawab pemuda itu santai.


••••


"Lien! tolong buatkan laporan berdasarkan dokumen yang sudah ada ini, saya, Hiroshi akan ke lokasi pelatihan, jika ada sesuatu yang penting, kamu bisa bertanya dengan beberapa sekretarisku dan jika ada sesuatu yang sangat urgent kamu bisa hubungi kami berdua!"


"Iyah pak!" jawab Lien.


••••


Setelah setengah hari di kantor, kedua pria itu berangkat menuju pelatihan.


Disana juga sudah ada Andre, Rey, Hiroshi serta tim medis lainnya bersiap-siap melakukan sensor kesehatan tubuh dan pelatihan lainnya kepada para calon gangster.


○○○○○○


Singkat cerita...


Andre, Rey, serta guru kungfu lainnya adalah Peng-Uji coba kungfu mulai dari bertempat di darat dan di air.


Pencarian yang cukup sulit karena tidak banyak peserta yang mahir dalam bela diri kungfu. Tujuh orang diantaranya warga Singapura-Hongkong yang memakai visa tenaga kerja di Indonesia.


Setiap hari, mereka melakukan pelatihan-pelatihan berdasarkan kualifikasi yang diiginkan oleh Eiji dan Ichiro, mantan gangster kelas dunia itu.


Pasukan yang baru di bentuk masih di bawah pimpinan Hiroshi Kienta. Mereka terlihat bersungguh-sungguh. Gaji dan fasilitas yang di tawarkan cukup fantastis.


••••••


Lien Hua juga di perintahkan oleh Hiroshi untuk belajar mengendarai mobil.


Setiap hari pria itu berusaha menyempatkan diri untuk mengantarkan Lien ke tempat pelatihan berkendara dan menjemputnya kembali sebagai uji coba (nyetir) bersama Hiroshi.


Terlihat keduanya saling bercanda dan tertawa serta, sangat serius. Hiroshi sampai melapkan keringat yang bercucuran di dahi sang gadis. Lien tampak mengalami kecemasan tinggi dalam berkendara.


Hingga wanita itu perlahan demi perlahan mulai mahir berkendara.


•••••


Saat Hiroshi bersantai di ruang khusus Rey.


"Cong! Kamu mau tidak! Bagaimana caranya menaklukkan wanita yang sudah mulai nyaman bersama kita?"


"Bagaimana?" Jawab Hiroshi yang sedang asyik bermain game.


"Jadi pria kulkas!"


"Kulkas? Saya harus jadi kulkas?"


"Yup! sekalian lu mojok disana!" Tunjuk Rey di sudut ruang.


"Kamu yang benar bicara, jangan seperti orang yang lagi kumur-kumur!" Kata-kata Hiroshi pada Rey.


("Lah situ yang terlalu ****!" Ucap Rey dalam hati, karena hubungan Rey dan Lien adalah peluang besar, akhirnya Rey mengalah dan kembali merangkul Hiroshi)


"Maksudnya kulkas! Meskipun kamu sangat menginginkan dia, jadilah pria dingin dan misterius. Jangan jadi pria murahan, ketika kamu baru saja berkenalan dengan sosok wanita, langsung mengajak mesum, kamu mau mencari pasangan hidup kan? bukan bersenang-senang?" kata Rey menjelaskan.


Hiroshi hanya terdiam.


"Masih semangat kan brou!"


"Entahlah" jawab Hiroshi optimis.


•••••


Hari berganti hari, misi Hiroshi dalam pembentukan gangster mulai selesai.


...


...


ketika Hiroshi membawa Lien ke gedung Pelatihan.


"Sekarang giliran kamu yang wajib aku latih"


Kata Hiroshi diam-diam mencoba untuk menjadi pria kulkas, terkadang bisa terkadang juga ia gagal.


"Capek pak!" Kata Lien dengan manja


"Ayo lah! di sini perlengkapannya sangat lengkap," jawab Hiroshi membujuk Lien.


"Malas,...malas,...malas!" Ucap wanita itu sambil berlarian dengan kekanak-kanakan.


Waktu Hiroshi pun terbuang sia-sia hanya melakukan pelatihan yang tidak serius bersama sang gadis. Ia juga tidak bisa marah kepada Lien.


••••


Sementara waktu terus berlanjut....


Hiroshi hanya bicara seperlunya saja kepada Lien Hua. Ia lebih banyak menyendiri sendiri, bermain game, sesekali menelpon keluarganya, mencari kesibukan sendiri di waktu luang.


Pemuda Jepang itu tampak mudur selangkah demi langkah untuk mendekati sang wanita pujaan, ia kehilangan kepercayaan diri tinggi untuk bersanding dengan gadis berdarah bangsawan seperti Lien Hua, mungkin pria itu tidak ingin dipandang remeh oleh wanita kaya.


Di tambah lagi Hiroshi sudah mengetahui dengan jelas, jumlah kekayaan yang di miliki oleh Brest, mulai dari Istana megah di tengah pulau, pasukan BOF, Jet pribadi, Helikopter, kapal pesiar, perusahaan yang masih tertinggal, emas, uang, serta kekayaan-kekayaan lainnya.


•••••


Keseharian saat tengah berada di rumah Tampak dua gadis bersaing mendapatkan cinta Hiroshi yaitu Lien dan Rohaye.


○○○


Suatu ketika,


Lien Hua memperhatikan Hiroshi sangat ceria bermain bersama Zen, juga ngobrol asyik bersama Rohaye seputar tentang pengasuhan anak.


Membuat raut wajah Lien cemberut, kesepian dan mulai terselip rasa cemburu.


Hiroshi sangat menyukai anak-anak seperti Shinji, Mayumi dan Zen.


••••


"Kok! Kak Hiroshi sekarang dekat sama si shitta Zen sih? Apa seleranya sudah berbeda yah?" Gumam Lien yang sedang bersembunyi mengintai mereka.


...


...


...**Next on....


Jangan lupa selalu beri dukungan kalian huat penulis recehan seperti sarah mai hanya dengan memberi;


like, comment, star 5, vote, share, favorit dll**.


Maafkan🙏 author, UP tidak sesuai seperti yang di harapkan karena masalah waktu yang cukup sempit/ rumit, bukan unsur di sengaja.


Terima kasih.