![The Sheen of Love [TSOL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-sheen-of-love--tsol-.webp)
percakapan menggunakan versi bahasa Indonesia.
...
...
"Bukannya ayah sakit?"
"Aaah! aku sudah sehat!" bantah Wee pada Lien.
Lien hanya geleng-geleng kepala sambil mengupat dalam hatinya;
"Haduuuh! Nih orang tua ngasih tantangan yang aneh-aneh saja, bukannya di ajak ngopi sambil ngobrol, malah makan ramen (mie instan)"
Kedua pria itu berjalan menuju dapur. Lien pun mengikutinya. Wee membawa semua peralatan tempurnya untuk mengadakan pertandingan sengit antara camer (calon mertua) dan camen (calon menantu).
Wee mulai beraksi memasak ramen dengan bumbu-bumbu masakan super pedas versinya, ia mahir melakukannya sendiri tanpa bantuan pelayan.
Pelayan sudah menyiapkan mangkuk mie di atas meja makan.
Lien mulai harap-harap cemas.
Sebelumnya bumbu sudah di racik sesempurna mungkin, tinggal dicampur menjadi satu.
A F E W M I N U T E S L A T E R
Ramen panas, pedas (merah🔥) sudah terhidang manis diatas meja dengan aromanya khas sajian instan, menusuk hidung yang di bawa oleh aliran asap dari aroma mie ramen.
("Cocok bro! Lagi lapar!" gumam Hiroshi sambil senyum-senyum)
"Kakak serius mau menantang ayah? ini pedas banget loh, bukan seperti pedas biasa!" Kata Lien yang begitu khawatir sampai dahinya berkerut😯.
"Tenang Beb! ini tantangan yang terlalu mudah!" Jawab Hiroshi santai.
"Tling...tling..." suara Lonceng kecil di bunyikan oleh Wee pertanda pertandingan di mulai.
((eng...ing...eng))
Gerakan tangan Keduanya serentak mengambil sumpit bersama.
Lien siap mendampingi kekasihnya dan sudah menyiapkan banyak tisu.
Gadis itu terasa berat menelan ludah. Ia tampak khawatir dengan kondisi Hiroshi setelah makan.
Wee dan Hiroshi mulai makan ramen pedas level puncak 🔥🔥🔥 siap membakar Lidah.
Terdengar suara dari mulut Hiroshi.
"Sruuuup" mie serta kuah masuk kedalam lidah, melewati lorong tenggorokan hingga jatuh ke dalam perutnya.
"Lumayan juga pedasnya!" ucap si ketua gengs dalam semangat yang masih tinggi.
Kedua pria itu pun tertawa cengengesan bersama dengan konsep pemikiran masing-masing.
"Ehehehehehe"
...
3 kali suara srup terdengar dari mulut Hiroshi, ia mulai tampak kepedasan dan langsung minum.
"Minum hanya boleh 3 kali jika lebih di anggap gagal" kata Wee dengan tegas.
("Astaga! gini amat yah yang mau nikah, nasib-nasib😠" gumam pria itu)
Ia melanjutkan lagi makan sajian instan yang membakar lidah.
Keringat Hiroshi mulai bercucuran deras,
dan sudah dua kali meneguk air minum.
Sementata Wee belum minum sama sekali.
Lien membantu melap keringat Hiroshi yang terus bercucuran bagai air pancuran.
Bibir doer merah membara semakin cas dengan kulit putih pemuda itu, nafas panas serasa ada hawa api di dalam rongga mulut yang meledak.
"Hàaaaaaaaaaaaaah💥"
[Ilustrasi Hiroshi ibarat seekor naga yang menyemburkan api panas]
"Pedas-pedas,..." teriaknya sambil mengipasi lidah dengan tangannya yang serasa terbakar.
Lien memerintahkan si pelayan menghidupkam Ac serta kipas khusus terarah kepada Hiroshi.
Sementara Wee makan dengan santai dan hampir habis dengan senyum mengangguk, kemenangan sudah di depan mata.
("Gawat, dia sudah mau habis, aku harus cari cara, Hais! Udah jelas nih kalah, tapi gimana yah? Gila ni camer, dia ngasih cabe atau granat? benar-benar mengigit di lidah, aduuh! Ampun banget ni orang, Asli dia enggak kepedesan sama sekali lagi! parah, ancooor"
ucapan batin Hiroshi mulai panik)
"Haduh! Sayang mienya masih banyak, masih tahan tidak?" Tanya Lien begitu khawatir.
Hiroshi mulai memegang perutnya, pertanda sakit...
"Aduh!..." teriak Hiroshi.
Menambah acting dengan pura-pura pingsan agar pertandingan batal, kemenangan Wee gagal.
"Ayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah" teriak Lien begitu penuh emosi wajahnya merah padam bagai bara api.
"Sudah ku bilang hal konyol ini jangan di lakukan!"
Gadis itu sangat marah pada ayahnya. Seumur hidup Wee belum pernah menyaksikan kemarahan yang amat besar dari putrinya.
Sampai-sampai Wee terbengong.
"Berikan penawarnya ayaaah!" Paksa Lien, gadis itu terlihat sangat panik sambil mencari-cari obat dalam tas yang di bawa oleh Wee.
Pria paru baya itu pun mengambilkannya.
"Kak Hiroshi bisa bangun tidak!" Pinta Lian sambil menepuk kecil pipi pria itu agar terbangun.
Hiroshi terbangun dengan membuka sebelah mata dan menyudahi sandiwaranya.
"Eh! Aduh" keluh Hiroshi lagi.
"Ini kak minum obatnya (cairan)!" Lien membantu pemuda itu agar ia mudah menghabiskan penawar pedas serta tidak membahayakan pencernaan.
Tak berapa lama, rasa pedas kian memudar dan sakit perutnya berkurang.
Lien me-lap keringat Hiroshi dengan lembut.
Wee memperhatikan dengan fokus putrinya itu dan berbicara dalam hatinya;
"Ternyata ia benar-benar mencintai pria ini, aku belum pernah melihat amarahnya seperti tadi bahkan dengan jingmi sekalipun.
Sungguh kekuatan cinta itu Luar biasa,
yah sudahlah pembuktian ini sudah cukup."
Wee sengaja melakukan hal itu, karena ingin melihat benar tidak? putrinya menyukai pemuda yang baru saja ia kenal. Bahkan Wee sengaja menambah level pedas ke dalam mangkuk Hiroshi.
...
...
Setelah suasana normal.
Wee meminta pulang.
"Ayah! nanti malam kami akan datang kerumah!"
"Tidak perlu, persiapkan saja pernikahan kalian." Spontan terucap dari bibir Wee.
"Jadi ayah sudah mengizinkannya!" ucap Lien.
"Apa yang bisa aku lakukan jika putriku sudah mencintai lelaki lain!"
Reflek Lien langsung memeluk Ayah angkatnya itu dengan meneteskan airmata haru dan bahagia.
"Lien, ternyata kamu sudah tumbuh dewasa, begitu cepat waktu berlalu, Jika nanti kamu sudah menikah, tolong jangan lupakan kami, dan maafkanlah ayah, ibu serta kakakmu!" ucap Wee dengan mata berkaca-kaca dan nada suara yang mulai berat.
"Sampai kapanpun Lien tidak akan pernah melupakan kalian. kalian adalah keluargaku yang sesungguhnya, di mataku kalian tidak pernah salah!" jawab Lien dengan wajah sendunya.
"Jaga dirimu baik-baik, ayah pulang dulu."
"Lien rindu pada ibu dan bagaimana kondisi kakak? aku ingin suatu hari nanti kita berkumpul lagi ayah," rengek manja pada Wee.
"Iyah!" sambut Wee sambil mengangguk.
kemudian Hiroshi menjabat sopan tangan calon mertuanya itu.
"Terima kasih paman, sudah memberikan restumu." kata Hiroshi dengan membungkukkan setengah tubuhnya.
Wee memeluk erat Hiroshi dan berbisik di telinga pemuda itu;
"Aku tau tadi itu kau pura-pura pingsan, semoga kau tidak berpura-pura mencintai putriku, aku tidak bisa mencegah hubungan kalian karena ia menyukaimu. Namun jika seorang ayah melihat putrinya tersakiti, maka kau tinggal pilih saja dimana lokasi kuburanmu akan di kubur, dan ku tunggu pertandingan kita selanjutnya," bisik Wee sambil menepuk-nepuk pundak calon menantunya itu.
"Ehehehehehehe!" keduanyapun cengengesan tertawa bersama dengan pemikiran masing-masing.
"Aku akan mengantarmu paman!" Hiroshi menawarkan.
"Tidak perlu! aku punya motor, aku punya kaki," jawab Wee jutek😏.
Pria itu balik badan dan mendapati sepeda motornya, ada titik air mata yang tergantung di kedua matanya, menyimpan berjuta rasa yang dalam.
Like & Vote