The Sheen of Love [TSOL]

The Sheen of Love [TSOL]
Part 65



"Setelah kami meninggalkan istana itu, drama kehidupan kami telah di mulai oleh sosok Brest.


Dengan kepolosan hati ini, aku berpikir si penguasa itu tidak lagi mengusik kehidupan keluargaku.


Dari tahun ke tahun, Lien tumbuh menjadi dewasa dan sangat mengagumkan, karena kecerdasannya ia siswi terpilih yang berkesempatan untuk pindah kesekolah mewah, khusus untuk anak-anak bangsawan dan pejabat negara, hal itu terus belanjut sampai ia kuliah dan bekerja.


Sementara anak kami tumbuh menjadi anak yang sangat nakal dan tidak percaya diri, perkembangan prestasinya terus memburuk hingga pergaulannya terkucilkan.


Banyak hal-hal keanehan terjadi di dalam keluargaku, mulai dari Lien tak henti-hentinya mendapatkan prestasi dan hadiah sehingga kami terus mengagung-agungkannya, sampai rasa cemburu Jingmi terhadap Lien tumbuh.


Anakku itu terlihat mulai stres, selain terpuruk di dalam pergaulannya, di tambah lagi rasa irinya pada Lien semakin hebat, akhirnya putraku mengenal obat-obat terlarang (narkoba) sebagai pelarian dirinya dan kami kehilangan sosok Jingmi yang baik serta penyayang.


Tanpa aku sadari, ternyata semua itu adalah rencana Mr Vigo alias Brest Albern, akibat penolakan keputusannya.


Bodohnya, Lama hal itu baru aku sadari, harusnya aku merangkul Jingmi, bukannya malah menyudutkan dan memukulinya. Setiap ucapannya tidak pernah aku dengarkan.


Aku menjadi semakin stres dan merasa bersalah, hingga sakit-sakitan. Rasa sakit yang datang dari pikiran dan tekanan batin.


Melihat kondisi Jingmi semakin terpuruk, Aku dan Mahia tidak punya pilihan lagi. Terpaksa datang menghadap Brest kembali ke istananya.


Tanpa daya dan upaya serta jiwa yang lesu, kami datang menghadap si penguasa hebat itu untuk menghentikan rencana buruk Brest selanjutnya kepada Jingmi, lalu meminta maaf kepadanya, hingga kami akhirnya menerima semua keputusannya.


Aku hanya boleh mengasuh dan bertemu bebas sampai Lien berusia 25 tahun saja atau sudah menikah. Selebihnya Lien akan di bawa oleh Brest dan menjadi hak penuh miliknya. Ia akan menerima tahta dari Brest Albern. Brest hanya memanfaatkan kami dalam pengasuhan ini, meski ia memberi kami banyak harta tapi aku tidak ingin memakainya. Tanpa harta itu aku sudah menjadikan Lien sebagai putriku.


Rasa benci dan cemburu itu terus meningkat di hati Jingmi, aku sengaja mengusirnya agar ia tidak lagi memukul Lien, karena jika hal itu terus terjadi, Brest akan menghabisi nyawa anakku dengan caranya yang rapi.


Kekacauan ini kami rasakan bertahun-tahun dan kami harus bungkam dengan hal itu semua kepada Lien.


Ternyata diam-diam Jingmi pun sudah mengetahui masalah yang terjadi. Baru aku sadari anakku itu banyak memendam rasa. Dia bukanlah pemuda yang bodoh.


Aku berpikir, Jingmi masih memiliki sisa kekuatan cinta dan kasih sayangnya kepada kami, ia menahan diri untuk tidak mengungkapkan tentang siapa sebenarnya sosok Mr Vigo kepada Lien.


Karena Jingmi sudah mengetahui, jika hal itu sampai terjadi. Aku dan Mahia akan di tembak mati tanpa jejak Brest, sebagaimana rapi dan cerdasnya sosok Mafia dalam membunuh seseorang. aku rasa Jingmi nekat menemui Brest.


Lien selalu bertanya siapa sosok ayahnya, kami hanya menjawab tidak mengetahui.


...


Aku hanya menyayangkan mengapa Jingmi mengambil jalan dengan memakai obat-obat terlarang. Mungkin ia berpikir, itu bisa mengembalikan rasa kepercayaan dirinya ketenangan atau hal lainnya. Nasib putraku semakin hancur. Aku ingin marah tapi aku tidak tau harus marah kepada siapa.


...


Entahlah..."( pandangan Wee jauh kedepan menebus angan-angan)


Jingmi selalu berteriak;


"Anak perempuan itu pembawa sial, dan anehnya kalian terlalu menyayanginya."


"Mungkin ini tidak adil bagi Jingmi, mengapa harus ia yang terbuang padahal Jingmi adalah anak kandung kami.


Aku harus bagaimana? Haruskah aku mengusir Lien, sementara dia anak yang tidak tau apa-apa. Ia tidak pernah menggoreskan luka di hati kami, tidak pernah malu hidup bersama kami, selalu mencintai kami tulus apa adanya, haruskah aku membunuh cinta dan kasih sayang yang sudah terlanjur berakar di dalam hatiku.


(Wee menunduk, airmata kesedihan yang tak tertahankan lagi hingga jatuh dari kedua bola matanya)


Aku harus bahagia atau sedih, ketika mendengar putriku akan segera menikah.


Aku sangat kasihan padanya, dulu ia dibuang dan akan di bunuh, sekarang banyak pihak menginginkannya dengan tujuan masing-masing.


Ingin ku berteriak, aku tidak menginginkan kekayaan itu, yang ku mau kami bisa berkumpul lagi seperti dulu."


...


...


Hiroshi paham apa yang dirasakan oleh Wee.


"Paman! Lien juga menginginkan hal yang sama, semua akan baik-baik saja, kamu adalah sosok ayah yang hebat, aku sangat kagum padamu.


Percayalah Lien Hua sangat menyayangimu, dia tidak akan pernah melupakanmu, justru tanpa kalian ia sungguh sangat menderita, aku yakin! saat Dia tahu kebenarannya, Lien akan semakin menyayangi kalian," kata Hiroshi memberi semangat.


....


Harusnya aku sadar, Brest adalah sosok penguasa hebat yang bisa berbuat apa saja.


Harusnya aku mengerti, jika lelaki itu juga memiliki hak atas anaknya, sebab siapapun sosok Brest, Dia adalah ayah kandungnya.


Harusnya aku paham, aku tidak bisa melawan kekuasan Brest.


Aku tidak menduga betapa fatalnya kehidupan keluargaku saat menolak keputusannya."


......


"Brest telah tiada, sekarang paman bisa bebas bertemu dengan Lien tanpa ada batasan apapun," ucap Hiroshi.


"Aku merasa semua seperti sudah terlanjur, mungkin aku berhasil mendidik anak orang lain, tapi gagal kepada anakku sendiri. Meskipun Brest sudah tiada, tapi tetap saja aku tidak bisa memutar waktu lagi. Mengembalikan kesehatan anakku seperti dulu.


Aku tidak tau apakah Jingmi bisa sembuh dari kecanduannya atau tidak, yang pasti itu sangat sulit.


Xin Hua adalah cinta sejatinya Brest, mungkin ia berpikir dengan meninggalkan dan melupakan wanita itu, segalanya bisa berlalu begitu saja. Ia tidak pernah paham, bahwa cinta itu seperti kanker ganas yang terus menggrogoti sel-sel tubuh."


( Cerita Wee terbayang dengan kisah masalalunya)


🎥🎥


Saat Lien kecil, gadis cilik itu selalu mengunjungi makam ibunya tepat di hari ulang tahun Xin. Wee terus menemaninya.


kala itu ada yang berbeda saat mereka mengunjungi makam Xin.


"Ayah! Mengapa ada buket bunga ini? Sebelumnya tidak pernah ada kan? Tanya Lien yang masih berusia 10 tahun.


"Ayah tidak tau nak! Ibumu adalah wanita yang baik, orang yang baik akan selalu mendapat bunga seperti ini!" Jawab Wee untuk Lien yang pemikirannya masih kanak-kanak.


"Oh yah!" senyum manis sang gadis.


10 tahun kematian Xin...


Setiap bulan dan setiap tanggal kelahiran Xin selalu saja ada buket bunga yang menancap di pemakaman wanita itu.


Akibat rasa penasaran tinggi, sejak peristiwa itu Wee mencari tau siapa yang selalu memberi bunga di atas kuburan Xin...


....


....


....


Next On.


.....


.....


.


.


.


Guys!! mau tanyak nih, Dimana yah cari pembaca yang rajin Vote. kog! enggak mau mampir sih di lapak TSOL yah🤔


Guys!! kalau ketemu tolong di panggil yah, weekend, sangat di butuhkan pembaca yang rajin serta banyak kasih poin gak pelit tentunya.


.....


.....