The Sheen of Love [TSOL]

The Sheen of Love [TSOL]
part 36



Suapan demi suapan di lahap habis oleh Hiroshi, entah karena lapar ataupun tertarik dengan sosok yang ada di hadapannya, sudah bercampur aduk.


Setelah habis, Lien meletakkan mangkuk sup di atas meja dan mengambil segelas air putih lalu membantu Hiroshi memegangi gelas berisi air.


Terlihat fenomenal sosok pria yang terlalu manja dengan keadaannya, sampai-sampai untuk minum sajapun ia kesulitan, padahal sebelumnya Hiroshi pernah mengalami cedera yang lebih parah lagi.


((🤣🤣🤣😂eaaa,eaaa😃😂🤣😂🤣))


Setelah cukup lama suasana itu hening, percakapan kembali terdengar.


"Selama menjadi suster? kamu sering menyuapi pria seperti ini?" Tanya Hiroshi.


"Seringnya tidak! Namun ada beberapa kali."


"Apah? Beberapa kali?" Ucapan terkejut Hiroshi bercampur dengan rasa cemburu.


"Iyah! Karena kemarin ada beberapa pasien, kondisi tangannya mengalami patah tulang (kecelakaan) jadi para suster wajib membantunya makan dan minum"


"Ooh!"


("Apa perlu tangan ini ku patahkan lagi, agar bisa si suapi terus, hahaha! aku memang sudah gila" gumam Hiroshi dalam hatinya yang sedang di mabuk cinta)


"Memangnya kenapa kak?"


"Oh! Enggak apa-apa😁 (nyengir), supnya enak👍"


"Itu sup yang biasa di konsumsi oleh para pasien, berkhasiat untuk mengembalikan stamina," jawab Lien.


"Iyah...iyah...(Hiroshi mengangguk sambil berkata dalam hati; "wow!😋calon istri dan ibu yang baik nih!")


sebaiknya kamu tidak usah bekerja lagi di rumah sakit, ber-profesi menjadi sekretaris pribadiku jauh lebih besar gajinya."


"Tapi Lien senang kak! menjadi perawat, bisa menolong orang"


....


....


("Aku pikir gadis ini hanyalah korban saja, hatinya sangat lembut dan ini bukanlah sandiwara")


"Iyah, untuk saat ini! Cukup berbahaya, jika kamu berkeliaran di luar."


Lien pun, terlihat lesu!


........


........


"Terima kasih yah! sudah menolongku dari para gengs itu. Andai saja kamu terlambat datang, mungkin aku sudah tewas," kata Hiroshi.


Lien hanya terdiam.


"Apa kamu mengenal mereka?" tanya Hiroshi mulai pelan mencari tau.


"Tidak kak!" Lien menggeleng.


"Terus! Mengapa mereka bisa patuh dengan perintahmu"


"Mungkin sekelompok gengs itu takut atau malu dengan tindakan mereka jika ada orang lain yang melihat?"


"Takut? Malu? Hehe! Mereka itu gengs yang tidak ada lagi rasa takut dan malunya," jawab Hiroshi.


"Sumpah kak! Lien tidak tau, harus berapa kali aku katakan, jika aku tidak mengerti apa-apa! apakah aku ini terlihat seperti manusia pembohong atau suka menjebak orang lain lain...hiks...hiks... mengapa kalian tidak percaya denganku. Aku sangat lelah...hiks...hiks...hiks, aku capek!" Ucap Lien yang begitu sensitif dengan keadaan.


"I...iyah😰, aku percaya, Lien! tolong kamu jangan menangis seperti ini, Jika ada yang mendengar tangisanmu, aku bisa tersangka telah berbuat jahat kepadamu"


Tangisan Lien pun reda, iyah menghapus airmatanya.


"Aku rindu pada ayah dan ibuku, bisakah aku bertemu mereka"


Hiroshi bisa memahami perasaan gadis yang baru beranjak dewasa itu. Begitu hampa tanpa sandaran.


"Baiklah, Tapi tolong beritahu aku dengan kejujuranmu, apakah Wee dan Mahia adalah orang tua kandungmu?


Lien terdiam...


"Tolong jawab pertanyaanku Lien, aku sangat butuh sekali informasi ini! Please🙏"


"Ayah Wee memang bukanlah ayah kandungku. Aku juga tidak keluar dari rahim ibu Mahia. Tapi bagiku mereka adalah segalanya"


"Apa kamu tau siapa orangtua kandungmu?"


"Ibuku bernama Xin Hua, dia sudah lama meninggal saat usiaku kurang dari 2 minggu, Ayah Wee dan ibu Mahia menemukan kami sudah tergeletak di depan rumahnya kala itu. Kata Ayah! ibuku di usir dari keluarga ibu karena melahirkan tanpa status bersuami. kondisi ibuku yang lemah, akhirnya ia meninggal dunia," ucap Lien menitiskan airmata.


"Apa kamu tau siapa ayah kandungmu?"


"Saat aku bertanya? mereka selalu bilang tidak tau!"


"Apa kamu tidak ingin mencari tau siapa ayah kandungmu?"


"Mungkin aku hanya sekedar ingin tau saja, tapi tidak akan kembali padanya, aku tidak ingin bersama pria yang tidak bertanggung jawab, pria yang seenaknya meniduri ibu, lalu pergi tanpa jejak"


("Yang di hapadanmu tidak seperti itu kog sayang!" Kata Hiroshi dalam hati)


"Lantas bagaimana dengan keluarga ibumu?"


"Aku tidak ingin mencari tau mereka, bagiku mereka adalah orang lain. Jika mereka hadir saat ini, aku tidak membutuhkan mereka lagi. Keluargaku hanyalah ayah, ibu dan kakak Jingmi."


"Kamu masih tetap sayang pada kakakmu?"


"Iyah, aku tetap sayang. Hanya sesekali saja dia memukulku. Mungkin ia stress."


"Kakakmu sudah kami asingkan di panti rehabilitasi, kamu tidak keberatan kan?"


Suasana diam sejenak.


"Lien ke dapur dulu yah kak!"


"Iyah."


Saat Lien melangkah pergi dan menutup pintu


Hiroshi pun kembali berpikir dan berkata-kata dalam hatinya;


"Jika Wee bukanlah ayah kandung Lien Hua lantas?


(Hiroshi terbayang-bayang dengan perlakuan lembut para gangster Brest kepada Wee serta memberi penghormatan kepada Lien Hua)


Apa hubungannya dengan Brest? mungkinkah ayah kandung Lien Hua adalah Brest dan siapa lagi pasukan bertopeng itu?


(Hiroshi langsung mengambil ponselnya dan memerhatikan fokus wajah Brest, seperti ada kemiripan dengan Lien Hua!)


Mustahil Wee tidak mengetahui hal ini"


Gumam Hiroshi...


Dalam pikiran Hiroshi...


"Tik...tak...tik...tak????"


......


......


Waktu terus berlalu, hingga menuju pukul 10.00 pagi waktu singapura....


Kondisi Hiroshi semakin membaik sudah bisa berjalan tanpa di papah lagi. Ia pun perlahan berjalan menuju kamar Lien.


Hiroshi mengetuk pintu kamar Lien.


"Tok...tok...tok"


Tak lama kemudian pintu terbuka.


"Iyah kak!"


"Lien! hari ini kita kerja dari rumah saja yah? Tolong kamu selesaikan laporan yang semalam, aku ingin live dengan Tuan Ichiro, jika kamu ada pertanyaan rangkum saja di note, kirim ke email saya"


"Iyah kak, bagaimana dengan kondisi kakak?"


"Sudah baikan!"


"Syukurlah!" Jawan Lien sambil tersenyum manis.


"Terima kasih yah! sudah berkenan merawatku," kata Hiroshi membalas senyuman manis gadis itu.


"Biar Lien saja nanti yang mengganti perbannya kak!"


"Okeh!" ucap Hiroshi sambil main mata pada gadis itu.


Percakapan selesai, Hiroshi pun meninggalkan Lien....


....


...


Pria yang memiliki jabatan Chief Eksekutif Officer (CEO) khusus di negeri Singapura itu, melangkah cepat menuju kamarnya.


karena Aldo sudah mengirim pesan, segera bergabung bersama Eiji dan para Intelejen handal mereka.


....


....


Di ruang khusus kerja Hiroshi tersedia fasilitas 4 layar visual serta alat-alat canggih berteknologi super modren yang bisa melakukan panggilan bergambar (komunikasi live streaming dari jepang-Indonesia)


kecanggihan teknologi di zaman milenial mampu berkomunikasi meski orang yang bersangkutan tidak ada di tempat.


Aldo, Andre, dan para intelejennya juga memiliki fasilitas yang sama seperti Hiroshi, mereka berada di ruang masing-masing.


Setelah menyambungkan.


Hiroshi Kienta masuk bergabung live dari Singapura.


"Halo Hiroshi kamu bisa mendengar kami,"


Sambut Aldo kenz.


"Iyah," jawab Hiroshi.


Mereka pun memulai percakapan.


Di mulai dari pihak intelejensi Jepang yang mulai memberikan informasi yang mereka dapatkan....


.........


.........


Share jika kalian suka novel ini.


dan jangan lupa beri VOTE, LIKE & COMMENT..


Terima kasih