The Sheen of Love [TSOL]

The Sheen of Love [TSOL]
Part 48



Hujan rintik-rintik membasahi kota Singapura yang megah malam itu. Di sebuah kamar, terlihat sosok gadis bernama Lien Hua tengah sibuk mengkemasi barang-barangnya yang akan di bawa esok hari menuju kota besar yaitu Jakarta, Indonesia.


Setelah semua selesai, ia mengambil ponselnya lalu duduk di atas kasur. Lien menyentuh nomor tujuan ibunya dan memilih panggilan Video call. Selama tinggal di rumah Hiroshi, Lien beberapa kali mengabari orang tuanya. Sebelumnya, dia sudah mengirim pesan akan berangkat ke Jakarta.


Panggilan Video pun berlangsung.


"Mah! Kalian yakin akan melepasku keluar dari Negeri ini?" Tanya Lien dengan wajah sendunya.


"Lien, sudahlah! ikut saja apa perintah Tuan Ichiro, kau juga mendapat gaji disana kan! jaga dirimu baik-baik."


"Lien ingin bicara dengan ayah mah! sebentar saja!"


"Ayahmu sedang tidur! Sudahlah, dia mengizinkannya." Ucap sang bunda begitu ketus.


"Sebentar saja ma!" Bujuk Lien kembali.


Tanpa perintah, Mahia pun mengarahkan kamera kepada Wee yang posisinya sedang terbaring di kasur saat itu.


"Apa aku harus membangunkannya!" kata Mahia.


"Baiklah kalau begitu, tidak usah mah!" Jawab Lien dengan wajah cemberut☹ dan hampir menangis.


(Gadis itu tampak kecewa, mengapa sang ayah yang ia sayangi tidak begitu mengkhawatirkan akan kepergiannya)


"Lien! Sejak kejadian peristiwa itu, Ada banyak orang-orang mencarimu di rumah kita. Ikutlah dengan Tuan Ichiro, kamu tidak punya kuasa untuk menjagamu," kata Mahia.


"Baiklah mah! Jika itu yang terbaik, tolong jangan lupakan aku, aku sangat menyayangi kalian."


"Trup" percakapan via ponsel di tutup oleh Lien dengan cepat.


Setelah meletakkan ponsel begitu saja, Gadis itu membaringkan tubuhnya di kasur dengan perasaan sedih, galau, lesu. kemudian tubuh kurusnya, berubah ke posisi miring kesamping sambil menekukkan kedua kakinya.


Tampak bola matanya berkaca-kaca, perlahan mengeluarkan tetes demi tetes air mata kesedihan juga kekhawatiran....


Ia berkata sendiri;


"Kedepan, Aku tidak tau apakah kalian akan melupakanku atau tidak? Aku sadar Jiwa ini bukanlah lahir dari benih Ayah dan Ibu. Tapi aku sangat sayang dan cinta pada kalian, aku tidak ingin menukarnya dengan apapun.


Bahkan aku sulit bernafas tanpa cinta itu, Kakak! ayah! ibu! aku ingin kita seperti dulu lagi berkumpul bersama, makan bersama, meski terkadang tidak ada lauk yang tersedia di meja, bercanda dan tertawa, serta pergi bersama, aku ingin tetap ikut kalian walau kita harus melewati hutan rimba sekalipun.


Aku sudah di tinggal pergi oleh ayah dan ibuku, tolong jangan lupakan aku. Aku mohon.


Hiks...hiks...hiks...


Aku mencintai kalian...aku ingin terus bersama, kalian tempat berteduhku di kala aku menangis, ketakutan, kelaparan, kelelahan, kesepian, merindukan belaian kasih sayang.


Ayah Wee aku rindu kamu...kau sosok ayah yang selalu ada di hatiku, tetap mengelus manja rambut ini dan tampak marah jika ada yang menyakitiku meski itu kakak Jingmi sekalipun.


Aku tidak bisa membayar keikhlasan itu demi apapun, rasa terima kasih yang sangat besar aku ucapkan, Kalian membesarkanku tanpa pernah mengeluh tanpa menagih imbalan.


Hiks...hiks...hiks....cinta ini terlalu kuat dan terlalu indah untuk di lepas begitu saja.


Love Forever."


Tangisan itu mengantarkan sang gadis dalam tidurnya.


...


....


Sementara di lain tempat. Terlihat, sosok seorang ibu yang terduduk lemas, setelah menelpon putri yang dia sayangi.


Merasakan perasaan yang dalam, rasa tertekan, kecewa, bercampur menjadi satu hingga ia menangis tersedu-sedu, tak mampu membendung airmata yang mengalir deras di kedua pipi yang mulai mengekerut itu. Dia menyimpan rasa rindu yang cukup dalam pada gadis yang sudah di asuh sejak bayi.


"Hiks...hiks...hiks...hiks...hiks...Lieeeeen..."


Tanpa sepengetahuan wanita paru baya itu, sebuah telapak tangan menyentuh bahunya dengan sangat lembut dari belakang sambil mulai bicara.


"Jangan pernah tunjukkan kesedihanmu pada Lien," ucap Wee.


"Aku lelah dengan semua keadaan ini!...Aaaaaaah..Hiks...hiks...hiks..."


Raungan tangisan itu semakin terdengar hebat.


Pria itu terlihat menundukkan kepala.


Mengapa pria bajiangan itu (Brest) yang dulu begitu mudah membuangnya kini datang dengan seenaknya untuk mengambilnya lagi,


ini tidak adil...hiks...hiks...hiks...


Aku hanya ingin gadisku (my girl) kembali...hiks...hiks...hiks..." tangis yang sangat dalam memecah di pelukan Wee.


"Kita bisa apa! Pada kenyataannya Lien bukanlah putri kita. Kita juga tidak punya dasar hukum untuk mempertahankan Lien dan Kita tidak bisa menentang si peguasa hebat itu (Brest), ia punya Data DNA yang SAH menyatakan bahwa Lien adalah putri kandungnya," Jawab Wee.


Orang tua Lien masih bungkam dengan seperti apa cerita yang sebenarnya kepada gadis itu, kedua orang tua itu terlihat acuh dalam ucapan saat melepas kepergian sang putri, namun hatinya terasa sangat pilu.


Sepasang suami istri itu pun duduk berdua tampak lesu dan kehilangan semangat. Rumah mereka sunyi, sepi tanpa kedua anaknya. Mereka tidak menyadari waktu begitu cepat berlalu.


Suara tagisan mungil serta canda tawa, berlari kesana-kemari, rebutan mainan dari kedua anak mereka jingmi dan Lien berlalu sudah bagai cuplikan yang berganti dengam season yang baru. Season yang membosankan, hening tanpa keceriaan.


Gadis bernama Lien Hua yang dulu terabaikan kini Menjadi rebutan oleh sejumlah kelompok, demi harta.


....


....


Malam mulai berganti pagi. Mentari cerah bersinar.


"Tlilit..." Bunyi nada pesan di ponsel Lien Hua sekaligus membangunkan wanita itu dari tidurnya.


"Jaga dirimu baik-baik, ayah dan ibu dalam kondisi sehat disini. Kami sangat menyayangimu dan akan terus merindukanmu."


Betapa gembiranya hati sang gadis menerima pesan manis dari sang Ayah (Wee).


Lien Hua seperti mendapat energy super yang membuat dirinya semakin bersemangat untuk menjalani hari-hari yang terasa mencekam.


.....


.....


Hiroshi dan Lien berjalan sama-sama ke meja makan.


Kedua pasangan itupu sarapan bersama.


"Apakah kamu sudah siap?" tanya Hiroshi.


"Iyah kak sudah!" Jawab Lien....


setelah selesai sarapan.


Hiroshi memerintahkan pelayannya untuk mengangkut semua barang mereka ke dalam mobil, Karena Tim Andre sudah tiba menjemput keduanya di lapangan khusus....


supir siap mengantar mereka untuk mendapati Jet milik Andre Al Fanan.


"Ayo kita berangkat?" Ajak Hiroshi.


"Baik kak!"


Keduanya melangkahkan kakinya lalu masuk ke dalam mobil....


Di dalam Mobil;


"Apakah kamu sudah mengabari kedua orangtua mu?" tanya Hiroshi.


"Iyah sudah!" jawab Lien dengan ekspresi sendu sambil membuang wajahnya dari Hiroshi.


Gadis itu terus menatap ke arah luar, pandangannya jauh menembus kaca jendela mobil.


....


....


.....


LIKE & SHARE


tolong jangan pelit hanya untuk Likenya yah! atau Novel ini akan Hiatus karena author berpikir semakin berkurang peminatnya.