The Sheen of Love [TSOL]

The Sheen of Love [TSOL]
Part 23



Aldo masih dalam perjalanan menuju Tokyo-Jepang.


Sedangkan Andre sudah tiba di Jakarta menuju rumah.


.....


.....


Hiroshi dan Lien sudah terlihat makan malam bersama. Hiroshi yang dingin di tambah lagi rasa kaku saat dekat bersama gadis itu. Sesekali mata tajamnya mencuri-curi aura wajah Lien Hua.


Saat mata sang gadis memergoki pandangan Hiroshi, pemuda itu langsung mengambil langkah meneguk air minum.


Meski Lien merasa aneh! namun ia tidak berani menegur.


Selain di tugaskan untuk menjaga Lien, Hiroshi juga ingin mengenal lebih dekat. Seperti apa sosok gadis yang sudah mencuri hatinya.


"Hmm! Maaf, jika aku boleh tau. Mengapa kakak mu tega sampai memukul, apakah luka di lenganmu tahun lalu yang pernah aku lihat merupakan ulah dari kakakmu juga?" Tanya pria itu untuk menjawab rasa penasarannya.


Gadis itu tarik nafas, diam sejenak lalu mulai bicara;


"Kakakku seorang pecandu Narkoba. Ia sering meminta uang dengan paksa untuk membeli barang terlarang itu, jika tidak di beri ia akan arogan untuk memukul aku, ayah dan ibuku. Meski ayah sudah mengusirnya dari rumah, ia masih suka mencariku di luar. Saya minta maaf atas kejahatan kakak saya," kata Lien sambil sedikit menundukkan sedikit kepalanya.


"Oh! Iyah. Aku hanya geram, jika melihat ada pria main fisik dengan wanita yang lemah" jawab Hiroshi.


"Dulu ia adalah sosok kakak yang sangat baik. Semasa sekolah dasar, Dia selalu memboncengku untuk berangkat sekolah dengan bersepeda, makan bekal bersama, saling canda dan tawa. Namun ia berubah sejak beranjak Remaja. Suka marah-marah dan mengusirku saat ingin ikut bermain dengannya," kata Lien dengan wajah mewek.


"Mengapa ia bisa berubah?"


"Aku tidak tau, mungkin ia iri denganku. Karena aku lebih di sayang oleh ayah dan ibu, ayah sering marah kepadanya dan kerap memukulinya karena prestasinya yang jelek dan suka membuat kejahatan di sekolah, tapi aku yakin dia itu sebenarnya menyayangiku. Reaksi obat-obat itu lah membuat pikirannya tidak waras," jawab Lien sedih.


"Oouh!" Hiroshi mengangguk.


Lien gadis yang kurang terbuka. Ia tidak menceritakan jika Jingmi adalah kakak tirinya.


("Aku harus segera mengamankan kakaknya, jika pihak lawan sampai tau ia bisa dimanfaatkan terlebih dulu" gumam Hiroshi dalam hati)


"Mulai hari ini, kamu harus ikut denganku, kemana pun aku pergi dan menjadi sekretaris pribadiku, jika kamu memiliki pacar ataupun calon suami, segera putuskan!!" pinta Hiroshi serius.


.....


....


((Uups๐Ÿ™Š babang mulai ochi maksa))


....


....


Lien sempat bengong.


"Kenapa? Kamu keberatan?" Tanya Hiroshi dengan gaya ekepresi arogan yang di paksakan.


"Tidak kak! Tapi Sampai kapan yah kak?"


"Sampai selama-lamanya"


"Hah! selama-lamanya?๐Ÿ˜ฒ( kaget ) a...artinya Lien bakalan perawan tua" ucapnya dengan nada melambat dan semakin pelan.


"Oh tidak...tidak...tidak! hal itu tidak akan terjadi, dengan otomatis akan ada pria yag menikahi kamu" jawab Hiroshi memberi penjelasan yang tidak jelas, wajahnya tiba-tiba memerah bagai tomat kematangan.


"Aku tidak ingin di jodohkan. Tolong hak pribadiku jangan di kuasi juga," jawab Lien tegas.


"Hehehe๐Ÿ˜ Baiklah! tenang saja, tidak akan ada yang namanya perjodohan, tapi untuk saat ini aku tidak ingin kamu menjalin hubungan dengan siapapun."


"Iyah," jawab Lien.


"Apa kamu pernah mencintai orang lain?" bisik Hiroshi mulai kepo.


"Pernah"


"Apaah?"


"Pe..pernah?" Tanya Hiroshi dengan nada sedikit kecewa.


"Dia kakak senior aku saat di sekolah menengah, saat ini dia sudah menjadi seorang Dokter. Aku pernah berpikir jika dia Dokternya aku adalah Susternya" kata Lien dengan senyuman manisnya.


("Jiah! Clasic banget" gumam Hiroshi yang mulai tumbuh rasa cemburu)


"Dimana dia sekarang?" Tanya Hiroshi dengan raut wajah yang kurang senang.


("Aku akan ajak dia bertarung, apakah ia benar-benar pria atau pura-pura pria " kata Hiroshi dalam hati)


"Tapiiii ia sudah menikah" kata Lien dengan rasa kecewa


("Huufft senangnya, gumam Hiroshi")


Hiroshi ingin menyatakan rasa suka kepada Lien namun hal itu masih terlalu dini. Ia takut Lien akan hilang rasa (ilfeel) menjauh darinya serta kurang nyaman bersamanya. Karena Hiroshi bisa membaca gadis itu bukanlah tipe pengggoda.


"Oh iyah kak! Katanya kakak miskin, tapi kenapa yah! rumah kakak mewah sekali" tanya Lien yang kritis.


"Itu rumah majikan kakak, aku hanya di beri fasilitas kemewahan untuk menjalankan perusahaan mereka" jawab Hiroshi.


"Oh!, sampai kapan kakak akan setia kepada mereka?"


"Sampai selama-lamanya," jawab Hiroshi.


"Semua itu aku lakukan dari hati, Tuanku adalah orangtuaku. Kamu tau tidak Lien, yang di sebut Orang tua bukanlah hanya ibu yang mengeluarkan kita dari rahim atau pun ayah yang memberikan bibit sp*rm*, namun seseorang yang bisa membantu kita dalam jalan kesulitan apapun itu.


Mereka itu juga merupakan orang tua yang wajib kita balas kebaikannya atau paling tidak jangan menyakitinya," ucap Hiroshi.


"Iyah Lien setuju kak"


.....


.....


.....


Setelah makan malam.


Mereka pun pergi meninggalkan tempat.


Hiroshi membawa Lien ke Merlion Park.


Pria itu sengaja berkeliaran membawa Lien di kota kecil di tempat yang umum mudah di cari, tujuanya untuk mencari info tentang lawan mereka.


"Kita mau kemana kak?" Tanya Lien.


"Sebentar! kita menghirup udara malam disini," kata Hiroshi keluar membuka pintu mobil.


Hiroshi berjalan santai memandang panorama yang terpampang dan mulai menghidupkan sebatang rokoknya,


Menghisap rokok lalu perlahan menghembuskan asap dari mulutnya. Hingga tiupan asap itu terbang dan hilang di telan angin malam.


Pandangannya jauh kedepan. Pikirannya di serang rasa cemas dan tanda tanya.


Lien pun keluar dari mobil dan bergabung bersama Hiroshi.


Wajah serta tubuh kedua insan manusia itu di terpa angin malam.


Gadis itu juga ikut memandangi suasana panorama malam dengan hiasan gemerlap lampu bak lukisan hidup yang terpampang nyata di kota itu.


Keduanya berdiri berdampingan menyaksikan hamparan air serta pancuran yang keluar dari mulut patung icon berlogo kepala singa dan bertubuh ikan.


Diam sejenak keduanya masih menikmati suasana yang ada.


"Apa yang kakak sukai dari kota ini?" Tanya Lien mulai membuka percakapan .


"Kecil, Mewah, Aman (Jawab Hiroshi dengan cepat)


Kalau kamu?" Tanya balik Hiroshi.


"Ini adalah kota kelahiranku, tentu aku sangat menyukainya. Waktu kecil, Ayah dan Ibu suka membawa aku dan kakakku kesini, karena ini adalah wisata yang gratis, kami suka yang gratis," kata Lien dengan senyum manisnya.


"Sama, aku juga suka datang ke tempat-tempat panorama gratis" kata Hiroshi membalas senyuman Lien.


"Ahahahaha" keduanya tertawa bersama.


"Kita sama-sama banyak kesamaan yah๐Ÿ˜" kata Hiroshi manja.


Malam yang panjang terasa nyaman bisa bersama...


....


....


....


....


....


....


....


....


....


....


Kalau yang baca berat ngasih VOTE nya tolong jangan lupa di LIKE yah!


tapi kalau enggak di kasih Vote authornya guling-guling nangis di lantai.๐Ÿ˜ข๐Ÿ˜ญโ˜น๐Ÿ˜’๐Ÿ˜ ๐Ÿคง


...


...


Spoiler; Novel ini akan menampilkan dua rasa adanya kisah akhir Percintaan yang SAD DAN HAPPY ENDING...


wow...wow..wow...wow๐Ÿ˜›๐Ÿ˜›


Penasaran kan? belum pernah baca novel seperti ini kan..


stay tune...