The Sheen of Love [TSOL]

The Sheen of Love [TSOL]
Part 26



Satu ronde lagi yah sayang! pinta Andre manja sambil mengkec*p bibir manis istrinya....๐Ÿ’“๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’—๐Ÿ’ž๐Ÿ’—๐Ÿ’œ๐Ÿ’•๐Ÿ’– Perang Cinta pun terjadi lagi antara Andre vs Indah, namun kali ini lebih tenang dan terselubung, agar Zen tidak terbangun, Dari gaya nungging sampai ala-ala tiarap.


....


....


((Wkwkwk! Yang baca capek berhalu))


....


....


Setelah selesai bersih-bersih dan bersiap tidur, percakapan kecil Keduanya diatas kasur;


"Sayang! kog kamu enggak hamil-hamil yah? Perasaan aku sudah tembakin puluhan rudal menyerang markas rahim,


Apa kamu minum pil KB?" Tanya Andre.


"Enggak ah!! Tapi mas, Zen kan usianya masih satu tahun," jawab Indah.


"Kita buat satu tahun satu anak donk sayang!" pinta Andre.


"Hah๐Ÿ˜ฒ" (Indah)


"Target kita kan 12 anak." (Andre)


"Hah๐Ÿ˜ฒ Du..dua belas itu serius??,...Aduh! tuh lubang kelahiran nanti bentuknya jadi bakalan gimana yah? Hancur donk!" Protes Indah.


"Yah enggak mungkin hancur lah sayang, gimana wanita terdahulu, anaknya banyak-banyak loh! ada yang 2 lusin 3 lusin" kata Andre lebai.


(Dalam isi kepala Indah; 2 lusin?๐Ÿ˜ฒ 3 lusin?anak atau buku tulis??๐Ÿ˜ซ)


Tak berapa lama keluar aksi penolakan Indah;


"Aaaaaaaaaa๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ! Indah enggak mau kalau sampai 12 anaaaak, Ampuuuuuuun!" rengek Nyonya Indah sambil menggesek-gesek kakinya. Ia sudah tau seperti apa rasa sakitnya melahirkan.


"Ahahahaha๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„" Tawa Andre kegelian.


Pria itu merasa ada yang kurang dalam hidupnya jika tidak menjahili sang istri, atau membuat Indah merasa kesal setengah mati.


...


...


Setelah canda-canda manis itu berakhir, akhirnya keluarga kecil itu pun tertidur dalam pelukan hangat membawa kemilau (sheen) cinta yang menerangi setiap hati yang gelisah.


Andre ingin hidup lebih lama dan lama untuk bisa selalu menemani keluarganya.


Padahal dulunya ia bagaikan kata dalam pribahasa;


"HIDUP SEGAN MATI TAK MAU"


...


...


Keesokan paginya masih di lokasi Jakarta, Indonesia ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ. Negeri seribu pulau.


Sinar mentari menyinari rumah bahagia itu. Nyonya besar sudah bangun pagi-pagi dan mandi serta beribadah.


Sang suami masih tertidur pulas. Saat Indah menyentuh dahi Andre;


"Hmmm! Tubuhnya terasa hangat, mungkin karena terlalu lelah yah! Aku harus buatkan sup hangat untuknya," ucap Indah sambil menggendong Zen keluar dari kamar.


Indah pun mengurungkan niatnya membangunkan Andre.


Saat Indah memasuki kamar Anaknya.


Rohaye sudah menunggu dan terlihat mandi serta sterilisasi baik tubuhnya maupun kamar Zen, karena usia anak satu tahun sedang belajar ingin tau yang besar dan lagi kotor-kotornya dengan makanan.


Maklum, si Tuan besar sudah tiba, semua harus terlihat sempurna.


.....


.....


"Dia masih mengantuk! Jam 7.00 wib kamu harus mandikan Zen, jika tidak ingin kena tegur Tuan," pesan Indah dengan tegas.


"Siap Nyah" jawab Rohaye sambil berkata dalam hatinya;


("Duh! Si Nyonya, mentang-mentang suaminya sudah pulang rambut basah terus! Asey geboy")


"Kenapa kamu lihatain saya begitu?" Tanya Indah.


"Hehehehe๐Ÿ˜, pagi-pagi sudah keramas aja yah Nyah? Tadi malam berapa ronde Nyah?"


"Mau tau aja luh!" Jawab Indah sambil keluar dari kamar Zen.


....


....


Si koki handal itu langsung menuju dapur, ia sangat bersemangat sejak kepulangan suaminya, meskipun sudah menjadi Nyonya besar sekalipun, untuk urusan menu serta gizi makanan suami dan anaknya ia menanganinya sendiri, karena hal itu adalah merupakan salah satu kebahagiannya.


Indah juga merangkul baik pelayan-pelayan disana, sehingga mereka sangat suka dan betah memiliki Nyonya seperti Indah Shakila.


......


Hari itu Andre akan menyempatkan dirinya berlibur dengan keluarga kecilnya, tak lupa Rohaye juga di ajak sebagai si pengasuh Zen.


Andre merasa pikirannya Jenuh perlu rehat untuk kembali berpikir.


....


....


Di lain tempat, ๐Ÿ‡ฏ๐Ÿ‡ต


Aldo sudah tiba di kota Tokyo-Jepang dan di sambut hangat oleh keluarganya. Terutama Mayumi, gadis cilik Aldo yang cerewet.


...


...


Adik kakak itu sebenarnya sudah merasa jenuh dengan jejak-jejak mafia yang terus menghantui mereka, namun hidup tetaplah akan menawarkan hal yang manis dan pahit.


Rintangan Kejayaan harta dan kebahagian keluarga akan selalu ada saja yang menerjang, karena ada banyak manusia yang hatinya,


'Senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang'


...


..


Di waktu yang sama pula di kota


Singapura ๐Ÿ‡ธ๐Ÿ‡ฌ


Pagi yang cerah,


Terlihat Pria tampan sudah duduk di meja makan lengkap dengan pakain kantor yang rapi dan wangi semerbak.


Hidangan sarapan sudah lengkap tersaji.


"Apa saya perlu memanggil nona Lien Tuan," ucap si pelayan.


"Tidak usah biarkan saja dia tidur" jawab Hiroshi.


Hiroshi bisa memahami Lien, ia mengerti gadis itu pasti sangat lelah.


15 menit kemudian,


Lien turun dari tangga dengan terburu-buru.


Sementara, Hiroshi sudah sarapan dan mulai sibuk dengan ponselnya sambil menunggu Lien Hua.


"Maaf yah kak, Lien kelelahan jadi bangunnya kesiangan" jawab Lien sambil menundukkan kepalanya tanda bersalah.


Suara lembut Lien mengagalkan fokus Hiroshi pada ponselnya.


Saat pria itu mengangkat kedua matanya terlihat lah fenomenal yang menyilaukan mata Hiroshi.


Tubuh tinggi langsing, memakai kemeja sutra panjang berwarna putih, rok sepan warna peach, rambut di kucir tinggi, kulit mulus dan putih bersih dengan riasan make up simpel, bibir merah menggoda namun tidak norak, wangi serta memakai hiasan kalung halus di leher dan anting yang indah di telinganya.


Dalam ilustrasi kecantikan Lien tampak bersinar-sinar di mata lelaki itu.๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


((Eaa...eaa...eaa))


"Yah sudah! sarapan lah," perintah Hiroshi dengan nada tidak marah.


Lien pun bergegas sarapan.


...


...


Pagi menjelang siang di kota Singapura. Hari itu sangat cerah. Secerah hati Hiroshi memandang sang gadis.


Hiroshi membawa Lien bersamanya ke kantor, bak amplop dan prangko nempel terus.


...


...


Mereka tiba di kantor.


Keduanya berjalan secara profesional. Sambil sesekali Hiroshi menjelaskan fungsi ruang yang ada, pada Lien Hua.


Staf yang berpapasan secara otomatis menyapa dan memberi hormat pada atasan mereka.


Tanpa terasa mereka tiba di ruang tujuan. ruang Khusus Ceo luas, tertutup dan tertata rapi.


...


..


Lien terpaksa mengundurkan diri secara dadakan dari pekerjaan lamanya, hanya dengan memberitahu lewat email.


....


....


keduanya mulai melangkahkan kaki memasuki ruangan bersama.


Hiroshi menunjukkan meja kerja Lien.


Pimpinan itu sengaja menempatkan ruang Lien sementara, di dalam ruangannya dengan alasan agar mudah mengajari Lien dalam urusan Administrasi bidang Sekretaris.


....


....


"Pak! Lien tidak begitu paham dengan bidang sekretaris" rengek manja Lien dengan suaranya yang sangat lembut.


("Haduh sayang! Lembut suaramu benar-benar mengguncang hati dan perasaan ini," gumam Hiroshi)


"Nanti saya ajarkan" ucap pria itu


dengan gaya tetap stay coolnya.


Saat di perhatikan,...?????.....


"Pak kursinya kenapa tidak ada?" Tanya Lien selaku bawahan Hiroshi.


"Oh! Iyah, kursi kamu masih di pesan, kemungkinan besok sudah tersedia, Untuk sementara, Hari ini kita duduknya pangku-pangkuan saja di kursi kerja saya" pinta Hirosi sok serius.


((Aarrg!! Bang Oci lagi-lagi Drama atau settingan tuh?? Mosok kantor mewah kursinya ndak ada๐Ÿ˜‚))


"Hah๐Ÿ˜ฎ...mak...maksudnya pak?" Ucap Lien sedikit gagap kebingungan.


"Kamu duduk di pangkuan saya sekalian saya ajarkan beberapa program pemula?" Ucap Hiroshi tanpa merasa berdosa.


isi kepala lien masih penuh dengan;


????????????????? ๐Ÿ˜ฏ๐Ÿ˜ฎ dengan wajah lugu gadis usia 20 an....


...


....


...


...


...


...


...Next on..


.


.


Yuks! dukung bang oci yang lagi kesemsem dengan cara VOTE yang banyak yah guys..


20 Besar....hehehe


serta tetap;


๐Ÿ•ฏLIKE๐Ÿ•ฏ STAR 5 ๐Ÿ•ฏCOMMENT๐Ÿ•ฏFOllOW๐Ÿ•ฏFAVORITE.


yang baca serasa ingin jungkir balik langsung komen๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿ˜‚๐Ÿคฃ๐Ÿ˜‚