
"Kenapa dia harus tinggal di sini?" Alexa menatap ketiga pria di hadapannya dengan sangat tajam, dia tak percaya ketika mendengar perkataan Daniel kalau mulai malam ini Alex akan tinggal bersamanya.
"Jangan lihat aku... kalian yang harus menjelaskannya," ucap Alex sambil bertumpang tangan di atas dada dan menatap kedua sahabatnya dengan santai.
"Lexa... apartemennya sedang dalam perbaikkan, jadi Alex memerlukan tempat tinggal untuk beberapa hari sampai... dia mendapatkan tempat tinggal baru." Daniel mencari alasan yang langsung dapat anggukan dari Gerard.
"Kenapa dia tak tinggal denganmu? Atau denganmu?" tanya Alexa sambil menatap Daniel dan Gerard bergantian.
Daniel dan Gerard menatap Alex meminta bantuan dari pria itu yang hanya tersenyum miring melihat keduanya yang terlihat gelagapan mencari alasan lain, sedangkan Kerelyn terlihat bingung tak mengerti.
"Aku tak mau dia dekat-dekat dengan Kerelyn," ucap Daniel sambil merangkul Kerelyn yang terlihat tambah bingung dengan perkataan Daniel yang tak masuk akal itu, "Kau tahu sendiri, dia akan menggoda siapapun yang berjenis kelamin perempuan."
"Dan aku!?" Seru Alexa dengan nada tak percaya, "Daniel, apa kau kakakku? Hei.. aku perempuan dan kau malah menyuruhnya tinggal denganku?" tanya Alexa sambil menatap kakaknya galak.
"Tenang saja, Lexi, sudah ku katakan kalau bukan tipeku," ujar Alex sambil mengedipkan sebelah matanya, "Ah, aku malah takut kau akan jatuh cinta padaku kalau kita tinggal bersama."
"Hah! Yang benar saja... kalau sampai aku jatuh cinta padamu, berarti aku benar-benar sudah gila!" Seru Alexa sambil menatap Alex yang hanya tersenyum santai.
"Mau bertaruh kalau kau akan jatuh cinta padaku hanya dalam waktu satu minggu?" tanya Alex sambil mengangkat alis matanya, Alexa terdiam menatapnya beberapa saat.
"Tidak, tapi kita akan bertaruh kalau kau yang akan jatuh cinta padaku dalam satu minggu."
Mereka saling berpandangan dengan tajam beberapa saat melupakan ketiga orang di sekeliling mereka yang menatap keduanya bergantian, dan mereka yakin seandainya seperti di film kartun maka sekarang mereka sudah bisa melihat sinar laser yang keluar dari mata keduanya.
"Itu tidak mungkin terjadi," ucap Alex sambil tersenyum menatap Alexa.
"Apa kau takut?" tanya Alexa sambil mengangkat alis matanya dan tersenyum mengejek.
"Tentu saja tidak... baiklah aku akan tinggal untuk sementara dan kita lihat apa kau bisa membuatku jatuh cinta padamu atau tidak, setuju?" ujar Alex sambil tersenyum.
"Setuju!" Seru Alexa sambil menjabat tangan Alex dan tersenyuman penuh kemenangan, tapi sesaat kemudian alisnya berkerut merasa ada yang salah.
"Hei! Aku tak mengijinkanmu tinggal di sini!" Seru Alexa setelah menyadari kekeliruanmu.
"Sudah terlambat, Lexi, kau baru saja menyetujuinya, iyakan?" ujar Alex sambil menatap Daniel dan Gerard yang langsung membenarkan ucapannya.
"Dia benar, Lexa, kau sudah menyetujuinya... kami melihat kalian berjabat tangan," ucap Gerard dengan senyum lebar. Seperti biasa Alex selalu berhasil membuat orang lain mengikuti keinginannya.
"Tapi... tapi.."
"Baiklah, sudah malam sebaiknya kita pulang sekarang, Sweetheart," ucap Daniel memotong ucapan Alexa sambil berdiri lalu merangkul Kerelyn yang berdiri di sampingnya.
"Aku juga sebaiknya pulang." Gerard ikut pamit berdiri meninggalkan Alexa yang terlihat menganga tak percaya kalau mereka akan meninggalkannya berdua dengan Don Juan NYPD.
"Aku tak percaya ini! Kalian pergi begitu saja!?" seru Alexa sambil cemberut yang hanya ditanggapi ketiganya dengan lambaian tangan dan senyum cerah sambil berjalan menuju pintu lalu pergi meninggalkannya berdua dengan Alex yang menatapnya sambil menahan tawa.
"Jangan tertawa!"
"Aku tidak tertawa."
"Tidak."
"Kau menertawakanku!" Seru Alexa sambil memukulnya dengan bantal kepala Winnie the pooh dan Alex-pun tak bisa menahan tawanya lagi tentu saja itu membuat Alexa semakin geram. Tapi amukannya harus terhenti ketika mendengar ponselnya berdering dan melihat nama Emily dilayarnya.
"Em! Kau tak akan percaya apa yang baru saja terjadi di sini," ucap Alexa seketika setelah dia mengangkat teleponnya, lalu tanpa jeda mulai menceritakan apa yang baru saja terjadi membuat Alex hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Dia membongkar tasnya dan mengambil sebuah kaos lalu dengan santai membuka kemejanya di depan Alexa membuat perempuan itu membelalakan matanya tak percaya.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya dalam bisikan sambil menurunkan ponselnya sesaat.
"Berganti pakaian tentu saja," jawabnya santai membuat Alexa menganga menatapnya tanpa berkedip. Untuk beberapa saat ia menikmati pemandangan di hadapannya ketika Alex menanggalkan kemejanya dan memerlihatkan dada bidangnya.
"Hallo, Lexa? Apa kau masih di sana?"
Alexa kembali tersadar setelah beberapa saat terbius dengan pemandangan di hadapannya, "I-iya, Em, aku masih di sini," ucap Alexa dengan sedikit gugup membuat Alex diam-diam tersenyum.
Alex keluar untuk memeriksa kondisi lorong apartemen yang terlihat sepi, ia berjalan ke arah lift dan mengecek CCTV yang lampu merah kecilnya berkedip-kedip menandakan kalau kamera pengawas itu berfungsi, ia memeriksa tangga darurat dan seketika mengutuk ketika menyadari malam itu ia tak memeriksa tangga darurat. Bisa saja para penyusup bersembunyi di sana pada malam itu.
Alex kembali lagi ke dalam apartemen Alexa lalu mengunci pintunya dan memeriksa semuanya agar aman, gadis berambut coklat panjang itu kini tengah duduk di lantai terlihat serius dengan kaca mata, pensil dan kertas-kertas yang bertebaran di atas meja. Ia tengah membuat rancangan gaun-gaun untuk koleksi musim seminya.
Tak mau mengganggu, Alex-pun mengambil satu bundel file tentang kasus yang tengah di tanganinya. Lalu duduk sambil berselonjor di atas sofa. Mereka larut dalam kegiatan masing-masing untuk beberapa waktu, sampai akhirnya Alex tanpa sadar tertidur dengan file-file di atas dadanya.
Ia terbangun ketika merasakan seseorang menutupi tubuhnya dengan selimut dan dengan sangat hati-hati mengambil file-file dari atas dadanya. Ia masih terpejam pura-pura tertidur ketika dirasa tangan mungil itu mengangkat kepalanya lalu menaruh bantal dibawahnya.
"Kau selalu saja menyusahkanku," bisik Alexa sambil dengan hati-hati menidurkan kepalanya di atas bantal, "Seharusnya kau tadi tidur di kamar Em saja," lanjutnya masih berupa bisikan.
Alex bisa merasakan kalau gadis itu masih berjongkok di sampingnya dan sedang memerhatikannya, karena ia bisa mencium wangi sabun dan shamponya yang terasa segar dengan wangi bunga-bunga.
Untuk beberapa saat Alexa hanya terdiam memerhatikan sosok Alex MacKena, bagaimana tidak pria di hadapannya ini menjadi penakluk para perempuan, secara fisik dia terbilang sempurna, bulu mata yang lentik membingkai mata birunya yang tajam, rahangnya yang kokoh ditumbuhi bulu-bulu halus membuatnya terlihat maskulin, badannya terpahat dengan sempurna.
Tapi di luar itu semua Alex adalah seorang pria yang sangat baik dan sangat menghormati perempuan, dia tak pernah memanfaatkan kesempurnaan fisiknya untuk menjerat kaun hawa. Terlepas dari sahabatnya yang selalu mengolok-oloknya kalau dia adalah Don Juan NYPD, Alex sebenarnya tak pernah sekalipun terlihat menggoda perempuan terlebih dahulu.
Merekalah yang akan mengodanya terlebih dahulu kemudian dia akan menjelaskan kalau dia tak menginginkan hubungan dengan komitmen apapun serta menyerahkan keputusan akhir kepada mereka. Alexa mengetahui itu semua karena selama ini ia selalu memerhatikan detektif NYPD itu, itulah alasan kenapa ia menggodanya kalau dia impoten.
Alexa bahkan mendengar cerita dari temannya Caroline yang seorang model papan atas dan pernah berkencan dengan Alex, kalau dia memerlukan usaha ekstra untuk mengajak Alex berkencan. Ketika setiap pria ingin mengajaknya ke tempat tidur, Alex hanya tersenyum lembut ketika model Victoria Secret itu memamerkan koleksi pakaian dalam ternama itu di hadapannya dan malah menyuruhnya untuk segera berpakaian kalau dia tak ingin masuk angin.
Saat itu dia tertawa terpingkal-pingkal ketika mendengarkan cerita Caroline yang putus asa karena ditolak pria bermata biru itu, tapi akhirnya mereka berkencan selama dua minggu setelah Caroline menjelaskan kalau dirinya-pun tak menyukai sebuah komitmen yang mengikat.
Tangan Alexa tanpa dikomanda mengelus lembut rambut pirang Alex kemudian berbisik, "Sebaiknya kau cepat-cepat menikah, kalau tidak, akan banyak lagi perempuan yang terluka karenamu." Ia membuang napas berat lalu berdiri, mematikan lampu kemudian masuk ke kamarnya.
Alex membuka matanya ketika mendengar pintu kamar Alexa tertutup, beberapa saat ia hanya terdiam kemudian membuang napas berat sambil menutup mata dengan tangannya. Apakah ini saatnya ia menyerah?
Sudah bertahun-tahun ia berusaha tapi selalu gagal, sudah sejak lama hatinya berlabuh kepada satu sosok yang selalu menjadi pusat hidupnya, hanya saja egonya terlalu tinggi untuk mengakui itu semua, membuatnya menjadi seorang baj*ngan yang mengencani banyak perempuan hanya untuk meyakinkan perasaannya sendiri yang selalu ia sangkal.
*****