The Secret Identity (#3 The Secret Series)

The Secret Identity (#3 The Secret Series)
Bab 50



“Apa kau ada ide dimana letak persembunyian mereka?” tanya Ethan sambil menatap ke kiri-kanan jalan karena mereka tak menemukan bangunan satu-pun di sana, kiri-kanannya hanya hutan dengan pohon-pohon yang tinggi.


“Terus saja, Ethan, aku yakin mereka ada di sekitar sini,” jawab Alexa sambil berusaha mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk keberadaan Alex dan para penjahat itu.


Jalanan semakin mendaki dan berliku-liku sampai akhirnya Alexa melihat cahaya di kejauhan yang semakin lama semakin terang dan menampakan sebuah bangunan megah berwarna putih.


“Itu!” ucap Alexa sambil menunjuk bangunan villa, Ethan ikut melihat arah yang Alexa tunjuk.


“Kau berpikir mereka ada di sana?” tanya Ethan sambil terus melajukan kendaraannya dengan mata sekali-kali menatap bangunan itu.


“Sepertinya… ayo, kita mencari tahunya, E!” ujar Alexa dengan semangat.


“Sebaiknya kau hubungi Phillip lagi, tanya apa merea sudah dekat.”


“Kita akan menghubungi mereka kembali setelah kita yakin kalau Alex ada di sana.”


“Baiklah, tapi ku harap mereka berada tepat di belakang kita,” ujar Ethan sambil menatap ke arah belakang melalui kaca spion berharap iring-iringan mobil polisi ada di sana, tapi sayang satu-satunya kendaraan yang ada di jalan itu adalah kendaraan miliknya.


Mereka semakin dekat dari bangunan villa itu, Alexa berharap bisa melihat mobil Alex terparkir di sana, tapi ia menyuruh Ethan untuk tetap berjalan melewati bangunan dengan pagar tinggi itu setelah melihat beberapa kamera pengawas terpasang di sekitarnya dan ia-pun bisa melihat beberapa orang penjaga dengan senjata lengkap melindungi bangunan itu dan Alexa semakin yakin kalau itu adalah tempat persembunyian Simon Javier.


“Berhenti di sana, Ethan,” ucap Alexa sambil menunjuk sebuah tempat yang terlihat gelap terlindung oleh rimbunnya pohon, ia memutar badannya dan kembali menatap bangunan itu. Ethan melakukan yang diperintahkan Alexa.


“Apa kau yakin itu tempatnya?” tanya Ethan penasaran.


“Iya, aku rasa kita berada di tempat yang benar,” ucap Alexa dengan mata mengawasi bangunan itu seperti Elang. Ia mencoba mencari celah dimana ia bisa memasuki bangunan itu tapi sayang, tempat itu terlalu terlindungi dengan tembok tinggi yang membentenginya.


“Kau lihat,” ujar Alexa sambil menunjuk beberapa orang pengawas yang terlihat di lantai dua dengan senjata laras panjang di bahu mereka.


“Apa kau tidak merasa aneh dengan hal itu?” Alexa bertanya kepada Ethan yang melihat ke arah yang gadis itu tunjuk, “Kalau ini hanya tempat tinggal orang biasa apa kau pikir mereka akan mengawasinya seketat itu?”


“Hmm.. dengan pengawal seketat itu aku rasa isinya adalah Presiden atau gembong penjahat.”


“Dan aku yakin, Obama sedang berada di gedung putih saat ini… berarti yang ada di sana adalah…”


“Gembong penjahat,” ucap Ethan menyelesaikan kalimat Alexa yang mengangguk membenarkan, ia kemudian mengambil ponsel Ethan untuk menghubungi Daniel.


“D, aku rasa aku tahu dimana Alex berada saat ini,” ucap Alexa sesaat setelah kakaknya itu mengangkat ponselnya.


“Demi Tuhan, Lexa, sebaiknya kau diam tak melakukan apapun sampai Phillip dan bantuan datang ok?”


“Tenang saja, apa kau pikir aku akan menerobos bangunan yang dijaga oleh pengawal dengan senjata lengkap?" ucap Alexa terlihat berseungguh-sungguh.


“Bukankah itu yang biasa kau lakukan?”


“Kapan aku melakukan itu? Aku tak pernah melakukannya… saat kasus Dylan, aku di culik bukan menerobos masuk dan saat kasusmu di sana tidak ada pengawal dengan senjata lengkap seperti sekarang.”


“Tapi di sana ada bom, Lexa, bom!”seru Daniel membuat Alexa memutar bola matanya.


“Berhentilah menjadi cerewat, D! aku janji tak akan menerobos masuk ke dalam sana, ok?”


“Bagus, dan tidak ada lagi menghancurkan mobil!”


“Tidak ada menghancurkan mobil, aku janji.”


“Bagus! Sekarang tunggu di sana atau kembali ke sini, Gerard telah memberitahu lokasimu kepada Phillip dan sebentar lagi ia akan sampai sana.”


“Bagus! Aku sangat khawatir, D, aku tak tahu apa yang terjadi dengan Alex di dalam sana, bagaimana kalau mereka telah membunuhnya.”


“Tenang saja, Lexa, mereka tidak akan semudah itu untuk membunuh Alex,” ucap Daniel berusaha menenangkan Alexa yang seperinya terdengar begitu ketakutan.


Semenit serasa seabad bagi gadis bermata ember yang kini tengah duduk dengan tidak sabar di dalam mobil Ethan yang juga terlihat sama tegangnya. Beberapa kali ia menatap ke arah belakang berharap Phillip segera datang tapi iring-iringan mobil polisi tak juga tampak. Malam semakin gelap, dan Alexa tak tahu bagaimana kabar kekasihnya yang masih berada di dalam bengunan tak jauh dari tempatnya berada saat ini.


“Apa itu?” tanya Alexa ketika menyadari ada sebuah dus di atas jok belakang.


“Oh itu… itu petasan,” jawab Ethan sambil tersenyum.


“Petasan? Sebanyak ini?” tanya Alexa tak percaya sambil mengambil dus itu dan menaruhnya di atas pangkuan lalu membukanya dan seketika matanya terbelalak ketika melihat banyaknya petasan di dalam dus itu.


“Wow! Apa kau ingin menghancurkan sebuah gedung dengan petasan sebanyak ini,” lanjut Alexa sambil mengangkat sebuah petasan yang dirangkai menjadi satu dalam untaian yang cukup panjang.


“Temanku akan membuka sebuah restoran di Cina Town, dan dia memintaku untuk membelikannya,” jawab Ethan sambil mengangkat sebuah petasan cukup besar berbentuk seperti roket dengan tangkai kayu untuk ditancapkan di atas tanah.


“Ini pasti akan keren kau kita menyalakannya di pinggir sungai Hudson,” lanjut Ethan sambil tersenyum membayangkan bunga api yang akan dihasilkan petasan itu.


Berbeda dengan Ethan yang membayangkan keindahan petasan itu dilangit malam kota New York, Alexa telah memiliki rencana lain yang akan ia lakukan dengan petasan-petasan itu.


“Kau benar, Ethan, ini akan sangat keren. Ayo!” Ajak Alexa dengan sebuah senyuman penuh misteri yang membuat Ethan merasakan kalau gadis itu akan melakukan hal gila. Dan tentu saja apa yang di curigai itu benar adanya, bahkan sekarang gadis itu mengikut sertakan dirinya dalam rencana gilanya itu.


“Oh, ayolah, Lexa! Yang benar saja!” Seru Ethan tak percaya dengan apa yang dia dengar.


“Ayolah, Ethan! Kita tidak tahu apa yang terjadi dengan Alex di dalam sana, dan ini salah satu kesempatan kita untuk menyelamatkannya.”


“Oh tidak! Kau lupa kalau polisi sedang dalam perjalanan menuju sini?”


“Ya, tapi kita tidak tahu apa mereka terlambat untuk menyelamatkan Alex atau tidak… ayolah, Ethan! Kita hanya akan mengalihkan perhatian mereka saja sampai polisi datang,” ucap Alexa dengan wajah memelas dan Ethan mengetahui bagaimana perasaan gadis itu saat ini, ketika orang yang ia cintai tak diketahui keadaannya.


“Aku tahu kau sangat khawatir padanya, tapi… itu terlalu beresiko, sebaiknya kita menunggu polisi datang saja,” bujuk Ethan berusaha membuat Alexa mengurungkan niatnya untuk menerobos masuk ke dalam bangunan itu hanya untuk mengalihkan perhatian para penjahat sambil menunggu polisi datang untuk menyelamatkan Alex.


Alexa terdiam beberapa saat terlihat berpikir tentang ucapan Ethan, dan akhirnya ia membuang napas berat sambil berkata.


“Kau benar,” ucapnya membuat Ethan bernapas lega karena akhirnya gadis itu bisa berpikir dengan kepala jernih dan normal, “Aku tahu ini akan sulit untukmu, dan aku tak akan memaksa hal itu.” Ethan tersenyum sambil mengangguk bahagia mendengar ucapan Alexa itu, tapi seketika senyumannya hilang ketika ia mendengar lanjutan dari ucapan gadis itu.


“Oleh karena itu, aku yang akan menerobos masuk, dan kau alihkan perhatian mereka dengan menyalakan petasan-petasan itu, ok?!” Alexa berkata dengan wajah serius membuat Ethan kembali membuang napas berat karena tahu kalau dirinya telah kalah.


Maka disinilah Ethan saat ini berada tepat di balik kemudi dengan wajah tegang dan berusah mengatur napasnya.


“Apa kau siap?” tanya Alexa dari arah jendela, yang dijawab Ethan dengan anggukan tegang, “Tidak usah khawatir, yang perlu kau lakukan hanya menginjak gas dalam-dalam dan menerobos masuk ke dalam sana.”


“Yah, tentu saja itu sangat mudah, Lexa, mereka hanya akan menghujaniku dengan peluru,” ucap Ethan sambil manatap Alexa pasrah.


“Jangan khawatir, setelah kau berhasil masuk ke dalam aku akan mengalihkan mereka dengan itu.” Alexa berkata sambil menunjuk sebuah dus yang terisi penuh dengan petasan.


“Dan jangan lupakan itu,” ujar Ethan sambil menunjuk seuntai petasan cukup panjang yang Alexa ikatkan di bagian belakang mobil.


“Iya, itu juga,” ucap Alexa sambil tersenyum kemudian mengambil napas dalam-dalam sebelum kembali menatap pria tampan itu dengan serius, “Kau siap?” tanyanya kembali dan mendapat anggukan darinya.


Alexa berjalan dengan cepat ke belakang ketika Ethan mulai menyalakan mesin mobilnya, lalu menginjakan gasnya dalam-dalam sehingga terdengar deruman suara mesin tapi ia belum melepaskan kakinya dari pijakan rem, dan tepat setelah Alexa menyalakan petasan di belakang mobilnya ia-pun melesat menuju gerbang villa itu, di susul oleh Alexa yang berlari di pinggir dengan membawa dus petasan.


“Aaah, sial!!! Kenapa aku bisa jatuh cinta kepada gadis gila seperti itu!!!” teriak Ethan di antara deruan mesin mobilnya ketika ia semakin dekat dengan gerbang.


BRAK!!!


Dan bersamaan dengan terbukanya gerbang villa Simon terdengar jugalah suara petasan dari belakang mobilnya yang cukup keras hingga berhasil membuat para pengawal di sana tiarap karena mengira kalau itu adalah suara tembakan.


*****