
"Jadi Dean Tyler mengirimnya bunga?" Tanya Gerard yang mendapat anggukan dari Alex dan langsung membuat pria berkacamata itu bersiul.
"Man, dia saingan berat," lanjutnya yang membuat Alex mendelik pada sahabatnya yang sedang tertawa itu.
"Tenang saja, walaupun berat aku akan tetap mendukungmu,” ucap Gerard sambil tersenyum memberi dukungan.
"Lexi bilang itu hanya ucapan terimakasih untuk designnya."
"Ckk.. itu hanya alasan saja."
Alex mengangguk menyetujui ucapan Gerard, saat ini mereka tengah duduk di kursi café yang berada di luar menikmati minuman mereka sambil mengamati lalu lalang dan hingar bingar time squere. Gerard terlihat tampan dengan kemeja biru muda lengan panjangnya yang digulung sampai sikut, sedangkan Alex keren dengan jaket kulit hitam kesayangannya lengkap dengan kacamata hitam yang menutupi mata birunya yang tengah mengamati sekitar.
"Apa kalian dari tadi?" Tanya Daniel yang baru saja datang dan langsung duduk bergabung dengan keduanya, siang ini kakak si kembar itu mengenakan kaos lengan panjang merah marun dan kacamata hitam yang menghiasi wajah tampannya.
"Tidak, kami hanya baru menghabiskan makan siang dan bergelas-gelas kopi hingga perut kami kembung," ucap Alex yang membuat Daniel tersenyum sambil menaikkan alisnya.
"Sorry, tadi aku ada rapat yang tak bisa ditinggalkan," jawab Daniel sambil membuka kacamatanya terlihat santai, "Apa yang sedang kalian bicarakan?"
"De..."
"Kasus Lexi!" Seru Alex dengan cepat setelah melihat Gerard akan mengatakan tentang Dean Tyler yang mengirim Alexa bunga.
Daniel menatap mereka berdua beberapa saat terlihat menyelidik, tapi kemudian dia menyerah setelah melihat keduanya yang tersenyum penuh misteri.
"Bagaimana dengan kasusnya, apa sudah ada titik terang?" Tanya Daniel.
"Belum." Alex membuang napas berat sesaat memikirkan kasus yang membuatnya memutar otak dua kali lipat, "Tidak ada sedikitpun jejak yang mereka tinggalkan, dan itu membuatku gila."
"Bukankah kau selalu mengatakan kalau tidak ada kejahatan yang sempurna... pasti ada sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk," ucap Gerard sambil menatap sahabatnya yang terlihat berpikir.
"Kau benar, aku rasa aku melewatkan sesuatu yang sangat penting. Tapi Sial, aku tak tahu apa yang kulewatkan."
Mereka terdiam beberapa saat larut dalam pikiran masing-masing. Alex mencoba mengingat apa yang terlewat olehnya? Apa hubungan Alexa dengan kasus ini? Kenapa mereka menargetkan gadis itu?
"Menurut kalian apa yang diinginkan mereka dari Lexi?"
Gerard dan Daniel mengerutkan alisnya terlihat berpikir, "Apa mungkin dia melihat sesuatu yang seharusnya tak dia lihat?"
"Tidak, dia pasti tidak akan tinggal diam dan menceritakan kepada kita kalau melihat aksi kejahatan seperti itu."
"Kau benar... apa mungkin kita terlalu paranoid dan menganggap Lexa terhubung dengan kasus ini?"
"Percayalah aku harap juga seperti itu, tapi bukti yang ada di lokasi kemarin berkata lain. Siapapun yang mengejar Lexi, dia masih terkait dengan ghost."
"Apa mungkin Lexa tanpa sengaja memiliki bukti kuat tentang mereka?" Tanya Daniel dengan mata masih terlihat berpikir.
"Apa maksudmu?" Tanya Alex penasaran, begitupun dengan Gerard yang terlihat serius menatap Daniel.
"Lexa, tak mungkin menjadi saksi kejahatan mereka, seperti yang kau katakan kalau dia tak akan tinggal diam kalau melihat suatu kejahatan. Begitu pula dengan para ******** itu, mereka pasti akan segera membunuh siapapun yang menjadi saksi kejahatan mereka, seperti yang kau bilang bukankah ada seorang mahasiswa yang terbunuh dan diduga kalau dia menjadi saksi kejahatan mereka?"
Daniel menatap Alex yang langsung mengangguk membenarkan.
"Bagi mereka kalau hanya untuk melenyapkan Lexi, itu sangat mudah karena dia tak selalu dalam pengawasan kita 24 jam, pasti ada celah untuk melakukannya."
Semua orang terdiam ketika menyadari hal itu.
"Kau benar, jadi yang diinginkan mereka adalah..."
Gerard menatap kedua sahabatnya yang terlihat berpikir lalu mengangguk membenarkan apa yang ada di dalam pikiran pria berkacamata itu.
"Lexa memiliki sesuatu yang diinginkan mereka," ucap Daniel yang dapat anggukan dari Alex.
"Dan mengingat mereka berusaha masuk ke dalam apartemen, aku rasa apapun yang diinginkan mereka ada di sana." Alex melanjutkan ucapan Daniel yang mengangguk setuju.
"Dan sepertinya itu sangat penting mengingat mereka sudah beberapa kali mencoba masuk ke dalam apartemen," ujar Daniel dengan serius yang ditanggapi Gerard dengan gumaman setuju.
Alex baru akan membuka mulutnya untuk menanggapi ucapan Daniel ketika matanya menangkap sosok yang membuatnya mengurungkan hal itu, mata tajamnya kini menatap dua sosok yang berjarak beberapa meter darinya dengan serius membuat kedua sahabatnya menatap kearah yang sama.
"Bukankan itu..."
"Dean Tyler," ujar Gerard melengkapi perkataan Daniel.
Mereka bertiga kini tengah mengawasi salah satu pewaris Emerald grup yang tengah berjalan ke arah mereka duduk. Seperti biasa pria itu mengenakan stelan mahal yang terlihat pas di tubuhnya, begitu pula dengan pria di sampingnya.
"Benarkah? Adikku belum menceritakannya.. aaah... apa aku akan memiliki adik ipar seorang pengusaha lagi seperti Dylan?" Tanya Daniel disengaja sambil menatap Gerard dengan senyum mengembang berharap ucapannya itu bisa membuat seseorang marah.
Tapi hal itu tidak terjadi karena kini orang yang masih mengenakan kacamata hitamnya itu tengah mengawasi Dean dan temannya bak seekor elang yang mengawasi korbannya. Alex kini telah berubah bukan lagi seseorang yang tadi duduk bersama mereka dan berbincang tentang hal-hal ringan, tapi kini ia telah berubah menjadi Alex sang Detektif yang terlihat serius dengan aura yang tepancar membuat kedua sahabatnya saling pandang, tapi kemudian tersenyum .
"A, jangan katakan kalau kau cemburu dan marah hanya karena dia mengirim Lexa bunga," ucap Gerard dengan nada suara mengejek.
"Aku tak percaya kalau adikku berhasil menaklukkan sang Don Juan NYPD, jadi katakan padaku siapa yang menang taruhan kali ini?"
Alex tak menjawab pertanyaan itu dia hanya diam dengan kening berkerut dan mata tajamnya masih terlihat mengawasi kedua orang yang kini semakin dekat dengan dirinya.
"Dean Tyler!" Seru Alex sambil berdiri membuat pria yang tengah berjalan melewati meja mereka itu berhenti melangkah dan menatap ke arahnya, sedangkan Daniel dan Gerard terlihat terkejut dengan apa yang ia lakukan.
"Kita pernah bertemu sebelumnya di The Rock," ucap Alex sambil membuka kacamata hitamnya dan menjulurkan tangan dengan senyum menghiasi wajah tampannya, "Alex MacKena, Alexa telah mengenalkan kita sebelumnya tapi mungkin kau lupa dengan kami," lanjutnya sambil menjabat tangan Dean yang sepertinya mulai mengingat pria itu. Daniel dan Gerard ikut berdiri lalu ikut bersalaman dengannya.
"Ah iya, aku ingat, maafkan aku tadi aku tak melihat kalian," ujar Dean sambil tersenyum menatap ketiganya.
"Apa kau mau pergi makan siang? Kalau kau tak keberatan kau bisa bergabung dengan kami," ucap Alex yang membuat Daniel dan Gerard saling pandang sedangkan Dean menatap pria di sebelahnya sesaat sebelum dia menjawab pertanyaan Alex.
"Maafkan aku, tapi aku sudah ada janji dengan temanku."
Alex mengangguk mengerti, ia kini menatap pria yang dari tadi diam berdiri disamping Dean.
"Dan dia adalah..." Alex bertanya dengan mata masih mengamati pria plontos dengan tinggi 180 dan bertubuh kekar itu.
"Oh aku hampir lupa, ini adalah temanku.. James Barton," ucap Dean sambil mengenalkan temannya.
"Senang berkenalana denganmu, tapi... apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Alex dengan penuh selidik. Perlu beberapa detik yang membuat udara di sekeliling mereka menjadi tegang sebelum pria plontos itu menjawab pertanyaan Alex.
"Mungkin saja, aku seorang FBI jadi mungkin kita pernah bertemu dalam sebuah kasus," jawabnya membuat Alex mengangguk walaupun Daniel dan Gerard masih bisa merasakan kalau sahabat mereka masih menyelidiki pria yang kini menatap Alex tak kalah tajam.
"FBI... ya mungkin saja, tapi bagaimana kau tahu kalau aku seorang polisi? Sepertinya aku tadi tak memberitahumu tentang pekerjaanku," ucap Alex sambil tersenyum miring, aura ketegangan di sekeliling mereka kini menguar dengan kental, untuk beberapa saat tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut semuanya .
"Ah, Dean, terimakasih untuk bunga yang kau kirimkan kepada Alexa kemarin," lanjut Alex mengalihkan pembicaraan dan mencoba mencairkan kembali suasana yang terlihat mencekam untuk beberapa saat.
"I..iya, aku harap Alexa akan menyukainya," ucap Dean sambil tersenyum walaupun sorot matanya mengatakan kalau dia masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
"Dia sangat menyukainya.. tapi lain kali aku harap kau tak usah mengiriminya bunga," ujar Alex membuat Dean mengangkat alisnya, "Dia memiliki alergi serbuk bunga, semalam dia tak bisa tidur karena gatal dan badannya penuh dengan bintik merah."
"Benarkah?" Dean membelalakan mata terkejut, Gerard dan Daniel mengangkat alisnya bingung sedangkan Alex mengangguk sambil meringis.
"Aku minta maaf, aku benar-benar tidak tahu kalau Alexa memiliki alergi serbuk bunga. Baiklah kalau begitu aku akan mengajaknya makan malam sebagai ucapan permintaan maafku."
"Tidak!" Seru Alex membuat semua orang kini menatapnya, "Maksudku, tidak sekarang dia tak akan mau bertemu dengan siapapun untuk saat ini karena dia seperti... leci... merah, bintik-bintik dan bulat," lanjut Alex sambil kembali meringis.
Dean membuka mulutnya lalu menutupnya dan akhirnya ia mengangguk mengerti sambil meringis, "Baiklah, aku mengerti... tolong sampaikan padanya kalau aku sangat menyesal."
"Akan aku menyampaikan," jawab Alex sambil tersenyum.
"Kalau begitu, kami permisi dulu... sampai jumpa."
Dean beserta temannya pergi meninggalkan Gerard dan Daniel yang langsung tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Aku tak tahu kalau adikku alergi terhadap bunga," ucap Daniel sambil menatap Alex yang masih berdiri mengamati kedua orang yang berjalan menjauh.
"Sejak kapan dia alergi bunga?" Gerard bertanya sambil menatap Alex yang kini tengah mengambil ponselnya dari atas meja.
"Sejak hari ini," jawab Alex sambil memakai kacamata hitamnya, "Aku harus pergi sekarang," lanjutnya dengan terburu-buru, tapi dia menghentikan langkahnya lalu kembali menatap kedua sahabatnya yang masih menatapnya, "Jangan ceritakan ini kepada Lexi, ok?"
"Leci? Yang benar saja, A, dia pasti akan membunuhmu," ujar Daniel sambil mendengus tertawa, begitu pula Gerard yang ikut tertawa.
"Karena itu, kalian harus merahasiakan tentang ini darinya," ucap Alex sambil mengangkat alisnya lalu pergi meninggalkan kedua sahabatnya.
Ia berjalan dengan terburu-buru menuju mobilnya dengan ponsel ditelinganya.
"Phil, apa kau di kantor?" Tanya alex setelah rekannya itu mengangkat teleponnya, "Aku perlu bantuanmu," ucap Alex sambil menyalakan mesin mobilnya, "James Barton, tolong cari informasi apapun tentang dia."
Kendaraan Alex mulai melesat membelah keramaian jalanan kota New York, secepat mungkin ia ingin segera sampai di kantor NYPD dan membuktikan kecurigaannya. Profesinya sebagai seorang detektif selama ini telah menajamkan instingnya dan ia harap kali ini instingnya tidak akan mengecewakannya.
****
Haii... beberapa kali baca komen dan chat di grup ada yang begadang nungguin double A update... jadi ini khusus untuk kalian yang sampai begadang nunggu double A.. terimakasih banyak udah support dan suka cerita ini... Love 💓A.K💓