The Secret Identity (#3 The Secret Series)

The Secret Identity (#3 The Secret Series)
Bab 14



Alexa mengumpat sambil memegang kepalanya yang terasa pusing ketika ia bergerak hendak bangun dari tidurnya.


"Akhirnya kau sadar juga."


Sebuah suara berat membuatnya membuka sebelah matanya untuk melihat sosok yang kini tengah berdiri di ambang pintu sambil tersenyum menatapnya.


"Kepalaku sangat pusing," ucap Alexa sambil mengernyit untuk kemudian duduk di atas tempat tidur, "Seseorang sepertinya telah memukul kepalaku," lanjutnya sambil menatap Alex dengan memicingkan matanya, membuat pria itu tersenyum miring.


"Oh percayalah, semalam godaan untuk memukul kepalamu sampai pingsan sangat besar," ujar pria yang kini berjalan memasuki kamarnya dengan kedua tangan di dalam saku celana jeansnya.


"Apa aku melakukan hal yang bodoh semalam?" Tanya Alexa dengan wajah meringis menatap Alex yang berdiri menjulang di hadapannya dengan senyum miring menggoda khasnya.


"Eh-heh," jawab Alex menganggukkan kepala, membuat Alexa mengumpat sambil kembali berbaring lalu menutupi wajahnya dengan selimut.


"Kau membuat kita hampir ditilang, karena bernyanyi dengan suara jelekmu itu sambil berteriak-teriak sepanjang jalan."


Alexa meringis mendengar ucapan Alex membuatnya semakin mengeratkan selimut yang menutupi wajahnya.


"Tapi yang paling dahsyat adalah kau memuntahi seluruh tubuhku."


Alexa kembali mengernyit di balik selimutnya, tubuhnya kini semakin menggelung mengecil berharap saat ini dia bisa menghilang.


"Kau bahkan membuatku harus mengganti pakaianmu..."


Alex mengernyit sambil mengutuk dirinya dalam diam karena keceplosan berbicara membuat Alexa secepat kilat langsung duduk tak menghiraukan denyut di kepalanya lalu menatapnya dengan mata terbelalak. Dia menunduk melihat tubuhnya yang kini telah berganti pakaian dengan baju tidur berupa kaos panjang di atas lutut berwarna putih dengan lengan pendek merah.


"Kau..."


"Aku telah membuat kopi untukmu, sebaiknya kita minum sebelum dingin," ucap Alex memotong perkataan Alexa sambil membalikan badannya hendak melarikan diri, tapi terlambat ketika sebuah bantal mendarat tepat di belakang kepalanya.


"Kau, mengganti pakainku! Dasar mesum!" Teriak Alexa sambil bangkit dan berlari mengejar Alex yang telah berlari terlebih dahulu ke arah ruang tengah.


"Lexi, pakaianmu kotor terkena muntah, apa kau mau tidur dengan pakaian kotor?" Tanya Alex berusaha menjelaskan tindakannya.


Mereka kini terpisahkan oleh sofa kuning yang berada di ruangan itu.


"Oh percayalah aku lebih baik tidur dengan pakaian kotor!" Seru Alexa dengan penuh amarah lalu kembali mengejar Alex.


Untuk sesaat mereka berlari mengelilingi sofa, Alexa bahkan melemparinya dengan bantal kepala winnie the pooh dan bantal sofa lainnya.


"Lexi, kenapa kau sangat marah? Kau bahkan tak memiliki sesuatu yang bisa kulihat di balik bajumu."


Ucapan Alex itu membuat Alexa semakin marah, dia menggeram lalu melompati sofa yang membuat Alex menganga tak percaya dan akhirnya terjerembab ke belakang ketika Alexa menerkamnya.


"Dasar zombi mesum!" Teriak Alexa sambil menjambak rambut Alex dan duduk di dadanya.


"Aww.. aww.. Lexi hentikan!" Seru Alex sambil berusaha menjauhkan tangan gadis itu dari rambutnya.


"Baiklah.. cukup!" Geram Alex sambil memeluk tubuh Alexa lalu membalikan tubuhnya, ia kini berada di atas tubuh gadis bermata amber yang menatapnya dengan membelalakan mata.


Alexa berusaha memberontak tapi sia-sia karena tangannya kini berada di atas kepalanya ditahan oleh tangan kokoh pria bermata biru yang menatapnya tajam.


"Lexi, dengar... bukan aku yang membuka bajumu, tapi kau yang melakukannya."


"A...aku apa?" Tanya Alexa dengan mulut menganga tak percaya.


"Eh-heh.. kau yang membuka bajumu tepat di depanku," ujar Alex dengan senyum miringnya.


"I..itu...itu tidak mungkin, kau pasti bercanda."


"Apa menurutmu kau akan membiarkanku membuka bajumu?" Alex balik bertanya dengan mata biru menatap geli gadis di bawahnya.


"Kau seharusnya menghentikanku."


"Oh, percayalah aku sudah melakukannya," ucap Alex sambil menganggukkan kepala dengan penuh keyakinan.


"Dan aku masih berbaik hati dengan memakaikanmu baju tidur ini... kau bahkan merayu dan memaksa untuk menciumku," lanjutnya dengan seringai di wajah tampannya, berbeda dengan gadis bermata amber itu yang menganga tak percaya.


"Itu.. tidak benarkan?"


"Kau tidak ingat kejadian semalam?" Alex balik bertanya yang membuat Alexa terdiam beberapa saat kemudian menggeleng.


"Apa kau mau kita mengulang ciuman kita?" Ucap Alex sambil mendekatkan wajahnya membuat mata Alexa membulat.


Semakin Alex mendekatkan wajahnya, semakin bulat mata gadis itu, ia menatap mata biru Alex yang entah kenapa kini telah berubah, tak ada lagi sorot mata jahil di dalam sana yang ada kini matanya semakin gelap berkabut membuat jantung Alexa berdetak semakin kencang.


Untuk beberapa saat ia menikmati momen itu, ketika jantungnya berdetak hebat memacu adrenalin, membuat dadanya berdesir dan merasakan kehangatan.


Alex sangat tampan dan sempurna secara fisik, matanya membuat para wanita seolah tersesat ketika nenatapnya. Kini dia tahu alasan kenapa para kaum hawa dengan mudahnya tergila-gila pada Don Juan NYPD ini.


Don Juan NYPD? Alex? Seketika matanya membelalak ketika menyadari siapa pria yang kini berjarak beberapa centimeter dari wajahnya itu. Dengan kekuatan dan akal sehat yang seketika datang, ia membenturkan kepalanya dengan kepala Alex yang langsung terduduk di sampingnya sambil mengerang dengan tangan mengusap keningnya yang terasa sakit.


"Lexi, apa kau mau memecahkan kepala kita!" Serunya sambil meringis kesakitan menatap Alexa yang kini telah duduk sambil meringis dan mengusap-ngusap kepala.


"Dan apa yang akan kau lakukan tadi," geram Alexa sambil mendelik menatap Alex yang berdecak lalu berdiri.


"Seharusnya kau lihat semalam bagaimana kau mencoba merayu dan memaksa menciumku," ucapnya sambil berjalan ke arah dapur yang diikuti Alexa yang terlihat mencoba mengingat kejadian semalam, tapi sialnya dia tak mengingat apapun.


"Apa kita... hmmm.. berciuman?" Tanyanya dengan wajah menatap Alex malu, ia kemudian duduk di kursi makan dimana Alex telah menyiapkan secangkir kopi untuknya.


"Baiklah, anggap saja kita berciuman, tapi... hanya itu sajakan?"


Alex harus menahan tawanya ketika melihat wajah serius dan cemas milik gadis yang menatapnya tanpa berkedip, dan itu membuatnya tak kuasa lagi untuk meneruskan mengganggu Alexa.


"Lexi, aku tak mungkin tidur dengan anak SMP," jawabnya sambil mengangkat alis lalu matanya turun sedikit ke arah dada yang membuat Alexa mendengus sambil cemberut dan sebaliknya membuat Alex tertawa bahagia penuh kemenangan.


Untuk sesaat mereka hanya terdiam dalam kegiatan masing-masing. Alex terlihat menikmati kopi hitam dan juga rotinya. Berbeda dengan Alexa yang terlihat larut dalam pemikirannya sendiri.


"Apa semalam aku menciumnya?" Pikir Alexa dalam hati membuatnya mengerutkan kening.


"Ini semua gara-gara ide gila,Em! Tapi... apa jantungku berdetak hebat ketika kami berciuman semalam? Seharusnya aku membiarkannya menciumku tadi, jadi aku bisa mengetahuinya. Ah,sial! Kenapa aku berpikiran untuk menciumnya."


Alexa mengegelengkan kepala sambil bergidik menyadari kebodohan pikirannya untuk mencium Alex, pria yang selama ini telah seperti kakaknya sendiri.


"Tapi, dia bukan kakakmu, Lexi!" ucap Alexa dalam hati sambil mengangguk setuju, tapi kemudian dia terbelalak kaget.


"Lexi! Aku memanggilku, Lexi! Yang benar saja! Ini semua gara-gara Zombie mesum!"


Alexa berseru dalam hati sambil memicingkan mata menatap pria di hadapannya, tapi sialnya pria itu tengah memerhatikannya dari tadi sambil berpangku tangan.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Alex dengan mata tajam menatapnya.


"Tidak ada," jawabnya gugup kemudian berdehem, "Alex, apa kau membawakan kaset yang kuminta kemarin dari bengkel mobil?" Tanya Alexa berusaha mengalihkan pembicaraan.


Untuk sesaat Alex hanya terdiam sambil menatapnya tajam, membuat gadis di hadapannya itu serba salah.


"Iya, di sana," jawab Alex sambil menunjuk dengan kepalanya sebuah dus yang tergeletak di pojok ruangan sebelah televisi.


"Ah, syukurlah! Aku harus segera menyelesaikan koleksi musim semiku," ujar Alexa sambil membuang napas lega lalu buru-buru berdiri dan pergi meninggalkan Alex yang masih mengamatinya.


"Apa hari ini kau libur?" Tanyanya sambil menatap Alexa yang tengah berjalan ke arah dus tadi lalu mengangkatnya dan menaruhnya di dekat meja sofa kuning.


"Iya, hari ini aku akan menonton setiap kaset ini sebagai referensi," jawabnya sambil mengeluarkan satu persatu kaset itu lalu menyusunnya di atas meja, alis matanya berkerut menatap sebuah kaset dengan ukuran lebih kecil dibandingkan kaset lainnya.


"Apa ini punyamu?" Tanya Alexa sambil menjulurkan tangannya yang menggenggam sebuah kaset ke arah Alex.


"Bukan," jawab Alex sambil menerima kaset itu dan mengamatinya, "Ini seperti kaset handycam," lanjutnya sambil menyerahkan kembali benda hitam itu kepada Alexa yang terlihat berpikir beberapa saat.


"Ini mungkin punya rekanku di kantor yang terbawa di dalam dus," ujar Alexa sambil menaruh kaset itu terpisah dari kaset lainnya, “Aku akan menanyakan kepada mereka nanti," lanjutnya sambil kembali mengeluarkan kaset-kaset video dari dalam dus, sedangkan Alex terlihat sedang menjawab panggilan dari ponselnya.


Selama beberapa menit ia terlihat serius berbicara dengan seseorang yang menghubunginya dan Alexa sudah mulai larut mengamati video para model yang sedang berlenggak lenggok di catwalk, sesekali ia akan mencatat di note book yang telah disediakan.


"Aku harus pergi sebentar," ujar Alex sambil mengambil jaket kulitnya yang tersampir di punggung sofa.


"Kau jangan kemana-mana, kunci pintunya dan jangan dibuka kalau kau tak mengenalnya, aku akan menghubungi Daniel dan yang lainnya agar datang ke sini untuk menjagamu," lanjut Alex dengan wajah serius sambil memakai jaketnya membuat Alexa hanya menatapnya dingin.


"Alex, aku bukan anak kecil kau tak perlu memberitahuku tentang itu, dan kenapa kau harus menghubungi yang lainnya untuk menjagaku? Aku sudah besar dan sudah terbiasa sendirian di sini, jadi sebaiknya kau pergi sekarang sebelum terlambat."


Mereka saling pandang beberapa saat, tak ada yang mau mengalah sampai akhirnya Alex menyerah.


"Baiklah, aku pergi sekarang. Kau jangan kemana-mana ok?"


"Ok."


"Kunci pintunya!" ucap Alex sambil melangkah tapi matanya tetap menatap Alexa tajam.


"Ok."


"Jangan membuka pintu untuk orang asing!"


"Ok."


"Ingat! Kunci pintunya!"


"Ale..x, kau pergi sekarang atau aku akan menendangmu ke luar dari sini!" Ucap Alexa setelah langkah Alex tak juga bertambah dari tadi.


"Baiklah aku pergi sekarang," ucap Alex sambil berjalan tapi kemudian berhenti ketika ia sudah berada diambang pintu.


"Kunci pintunya!"


Alexa terlihat mengambil napas panjang lalu menatapnya tajam, "Iya!"


Alex mengangguk lalu keluar tapi belum juga pintunya tertutup rapat ia kembali membukanya lalu melongokkan kepalanya ke dalam yang langsung dapat lemparan bantal sofa dari Alexa.


"Baiklah aku pergi sekarang!" ujar Alex tapi dia kembali berhenti setelah mendengar Alexa memanggilnya.


"Jangan berani-berani menghubungi yang lainnya supaya mereka menjagaku, apa kau paham!" Seru Alexa dengan pandangan membunuh membuat Alex terdiam beberapa saat lalu mengangguk sambil menutup pintunya.


Ia baru berjalan beberapa langkah ketika dengan cepat ia mengeluarkan ponselnya.


"D, aku harus pergi sekarang, kini giliranmu dan yang lainnya untuk menjaga anak nakal itu."


Alex menutup ponselnya setelah mendengar jawaban Daniel, dia kini masuk ke dalam lift dengan senyum miringnya membayangkan bagaimana marahnya gadis bermata amber itu setelah melihat beberapa menit lagi ia kan kedatangan banyak tamu.


*****