The Secret Identity (#3 The Secret Series)

The Secret Identity (#3 The Secret Series)
Bab 49



“Well-well, siapa yang baru bangkit dari kubur,” ujar Alex sambil menatap Simon yang hanya tersenyum mendengar ucapan Alex.


“Seperti yang kau lihat bahkan malaikat maut-pun terlalu takut untuk mengambil nyawaku,” ucap Simon dengan congkak sambil berjalan menuruni tangga.


“Bukan malaikat maut yang takut padamu tapi kau yang terlalu penakut, kau bahkan bersembunyi dariku,” ujar Alex menghina pria yang kini tengah berdiri menatapnya dengan kedua tangan dimasukan ke dalam saku celana.


“Aku bukan bersembunyi darimu, aku hanya bermain-main sedikit denganmu.”


Simon berjalan menuju meja bar dan mengambil minuman untuknya sendiri sebelum duduk di samping Kely yang kini tengah menyesap minumannya.


“Maksudmu Ghost? Oh percayalah, mereka tak selevel untuk bermain-main denganku.” Alex berkata dengan senyum miringnya membuat Simon terdiam dan menatapnya dengan pandangan menusuk, tapi itu tak menghentikan Alex untuk melanjutkan ucapannya.


“Kau tahu sendiri, aku bahkan bisa menangkap mereka semua hanya dalam waktu singkat.”


“Kau mungkin bisa menangkap ketiga orang bodoh itu, tapi ingat kau tidak bisa menangkapku, kau bahkan tidak tahu kalau aku masih hidup selama ini,” ujar Simon sambil menggelengkan kepalanya dan menatap Alex dengan pandangan meremehkan.


Alex terdiam beberapa saat kemudian tersenyum mengejek, “Kau salah, Simon, selama ini aku tahu, hanya saja tak seorang-pun yang percaya padaku.”


Simon menatap Alex dengan tajam terlihat dia berusaha menahan emosinya, jadi yang ia lakukan hanya tersenyum sambil mengangguk seolah memahami hal itu.


“Hai! Apa aku boleh bertanya sesuatu?” Alex mengajukan pertanyaan yang membuat Simon mengangkat alisnya kemudian tersenyum miring.


“Tentu saja, kau boleh mengajukan permintan terakhir sebelum aku membunuhmu.”


Kini giliran Alex yang mengangkat alisnya mendengarkan ucapan Simon.


“Kau sangat murah hati, Simon,” sindir Alex yang membuat Simon tersenyum lebar, “Apa hubungan kalian berdua dengan orang gila, ah maksudku Harry Robert?” tanya Alex membuat Kely dan Simon saling pandang dan ia bisa melihat kebencian dimata Kely ketika gadis itu menatapnya.


“Apa perlu kita berbasa basi seperti ini? Kenapa kita tidak langsung membunuhnya saja?” geram Kely sambil menatap Alex penuh kebencian.


“Hei! Kenapa kau membenciku? Apa aku pernah menolakmu atau apa kita pernah berkencan sebelumnya?” tanya Alex tak mengerti kenapa rekan kerja Alexa itu bisa sangat membencinya.


“Kau pikir aku ingin membunuhmu hanya karena kau pernah menolakku?” Kely balik bertanya sambil menatap Alex tajam.


“Oh percayalah, aku sudah sering mendapat ancaman dari wanita yang ingin membunuhku karena aku menolak mereka,” jawab Alex santai sambil mengangkat bahunya membuat amarah Kely memuncak dan dia akan menerjang Alex kalau saja Simon tak menahannya.


“Sabarlah, Kely, tunggu sebentar lagi lalu kita akan menghabisinya tapi sekarang kita perlu menjawab pertanyaannya terlebih dahulu atau dia akan mati dengan penasaran,” ucap Simon membuat Kely kembali duduk.


“Duduklah, detektif, ini akan memerlukan sedikit banyak waktu,” perintah Simon membuat Juan mendorong tubuh Alex kearah sofa untuk duduk.


Simon menaruh gelas anggurnya di atas meja sebelum dia kembali duduk dengan bertumpang kaki terlihat sangat santai seolah kemenangan telah berada dalam genggamannya.


“Dia adalah adik tiri dari Harry Robert dan Matt Foster.” Simon memulai ceritanya yang membuat Alex terkejut sambil menatap Kely yang masih menatapnya dengan tajam.


“Kelly Robert, Harry Robert, apa kau tak bisa melihat persamaannya?” tanya Kely kembali membuat Alex terkejut.


“Orangtuaku mengadopsi Harry ketika aku masih kecil, dia Kakak yang sangat baik dan menjadi pelindungku. Teman-teman sekolahku tak ada lagi yang berani mengejekku setelah Harry datang karena ia akan memberi mereka pelajaran,” ucap Kelly dengan senyum bangga dan mata menerawang mengingat masa kecilnya.


“Tapi kami hanya sebentar tinggal bersama, karena aku harus masuk sekolah asrama dan sejak itulah Harry berperan sebagai anak orangtuaku dan menjaga mereka dengan sangat baik, sampai akhirnya kecelakaan itu terjadi dan kami berdua menjadi anak yatim piatu.”


Kelly terlihat sangat sedih ketika menceritakan tentang orangtuanya dan itu membuat Alex menyusun rencana di otaknya.


“Tapi aku tak perlu khawatir karena memiliki Harry yang selalau ada untukku dan menjadi waliku. Setelah kematian orangtuaku Harry mengenalkan Matt yang seperti malaikat pelindung keduaku, aku tak perlu mengkhawatirkan apapun karena memiliki mereka berdua… tapi kau telah membunuh salah satu dari mereka dan kau memenjarakan yang satunya lagi,” geram Kely sambil menatap Alex tajam, tapi pria bermata biru itu hanya menatapnya santai kemudian mengangguk mengerti.


“Apa kau tahu kalau mereka adalah…” Alex tak melanjutkan perkataannya tapi sepertinya perempuan mungil itu mengerti dengan apa yang akan ditanyakannya.


“Tentu saja tidak, mereka tak ingin aku merasa khawatir untuk itulah mereka tak memberitahu siapapun tentang aku dan merahasiakan tentang hubungan kami karena kalau mereka tersangkut masalah mereka tak ingin melibatkanku dalam masalah itu.. dan asal kau tahu, mereka melakukan itu karena perempuan sialan itu, Kerelyn… seandainya bukan karena dia yang mengingatkan Kakakku kepada ibu kandungnya, hal ini tidak akan terjadi.”


Alex terdiam, matanya menatap Kely dengan pandangan menyelidik sebelum akhirnya mengangguk mengerti.


“Harry menyelamatkanku,” jawab Simon sambil kembali mengambil gelas minumannya dan menyesapnya, “Dia tahu kalau Matt tidak akan membiarkanku hidup, dan pada saat itulah kami menyusun rencana. Dia akan membiarkan Matt membunuhku karena dengan seperti itu aku bisa kembali bebas. Sebenarnya aku tak pergi ke Kanada tapi Harry yang mengatakan kepada Matt seolah-olah aku bersembunyi di sana, dan selebihnya kau sudah mengetahuinya… Matt membunuhku.”


Simon tertawa mengingat bagaimana mereka berdua telah membodohi Matt saat itu karena orang yang dia bunuh bukanlah Simon hanya seseorang yang kurang beruntung, dengan bantuan beberapa polisi korup maka hasil DNA palsu-pun keluar dan menyatakan kalau mayat itu adalah milik Simon Javier. Alex kembali terdiam dengan mata menyelidik, otaknya kembali berputar dan akhirnya ia bisa melihat benang merah dari semua kejadian semua ini, tapi ia harus memastikan satu kasus lagi untuk memastikan analisanya benar.


“Biar ku tebak,” ujar Alex sambil menatap Alex dengan pandnagan serius, “Harry jugalah otak dari Ghost?”


Simon menatap Alex sesaat kemudian tersenyum miring sambil mengangguk, “Lebih tepatnya kami berdua, aku menceritakan kepada Harry tentang teman-teman masa kecilku yang sekarang sudah sukses kemudian dia memberiku ide tentang pembentukan ghost, dan akhirnya kami berhasil,” jelas Simon sambil tersenyum bangga membuat Alex yang dari tadi mengamatinya kembali mengangguk sambil tersenyum miring.


Pria bermata biru itu kini berjalan ke arah mini bar dan mengambil minuman untuk dirinya sendiri dan itu sempat membuat Kely terlihat geram tapi lagi-lagi Simon menahannya dan untuk membiarkan pria itu melakukan apapun untuk sementara.


“Jadi yang aku lihat di sini, Harry adalah atasan kalian berdua,” ucap Alex santai sambil kembali duduk di sofa dan ucapannya itu membuat Simon maupun Kely terlihat marah.


“Apa kau tidak mendengarkan apa yang aku katakana tadi?” tanya Kely dengan penuh amarah, “Dia bukan atasan kami, tapi dia adalah Kakak sekaligus malaikat pelindungku, begitu juga dengan Matt. Dan kau telah membunuh salah satu dari mereka dan aku akan memastikan akan membunuhmu sehingga Alexa bisa merasakan apa yang aku rasakan… kau ingat, karma itu ada dan akan membalas semuanya.”


Alex hanya diam tanpa ekspresi menatap Kely yang berkata dengan menggebu-gebu.


“Tidak.” Alex menggelengkan kepalanya dengan sangat yakin lalu menatap keduanya dengan senyum miring khasnya, “Kalian tak lebih seperti anak buah baginya yang bisa dia manfaatkan kapan-pun demi keuntungannya sendiri.”


“Kau!” Teriak Simon tapi Alex hanya mengangkat tangan kanan ke arahnya menyuruhnya untuk diam dan mendengarkankan penjelasannya.


“Sudah ku katakan sebaiknya kita membunuhnya daritadi, dia hanya akan membuat kita semakin ingin menyobek-nyobeknya saja,” geram Kely yang hanya membuat Alex mengangkat sebelah bahunya santai.


“Mungkin kau tidak tahu, Kely, tapi orangtuamu tidak mati karena kecelakaan tapi dia dibunuh,” ucap Alex sukses membuat gadis berkacamata itu terbelalak tak percaya, “Dan kau tahu siapa yang membunuhnya?” tanya Alex dengan mata tajam menatap Kely yang sepertinya sudah bisa menebak siapa pembunuh orangtuanya terlihat dari ia menggelengkan kepalanya tak percaya dengan wajah pucat pasi.


“Kau benar, yang membuuhnya adalah Harry dan Matt, orang yang kau bilang Malaikat pelindung, mereka sebenarnya adalah Malaikat maut untuk kedua orangtuamu.”


“Bohong… kau, BOHONG!” teriak Kely dengan penuh amarah.


“Apa kau lupa bunga apa yang dia letakkan di atas peti mati kedua orangtuamu?” Alex kembali bertanya menghentikan Kely yang akan menerjangnya, dan Alex mulai bisa melihat kegundahan dari sorot mata gadis itu.


“Tulip putih,” jawab Kely dengan mata menerawang mengingat kejadian beberapa tahun lalu pada saat pemakaman kedua orngtuanya.


“Jangan dengarkan dia, Kely, dia hanya mencoba untuk membuat kita memercayainya dan melepaskannya begitu saja,” ujar Simon setelah melihat reaksi gadis itu yang mulai memercayai ucapan Alex.


Kely terdiam sesaat terlihat berpikir sebelum ia kembali terlihat normal.


“Kau benar, Simon, Harry memberi bunga tulip pada pemakaman orangtua kami karena dia sangat menyayangi mereka.. bunga tulip putih sangat berharga baginya karena itu adalah peninggalan ibunya.”


“Kau salah, Kely,” potong Alex membuat gadis itu kembali menatapnya, “Bunga tulip putih bercak merah adalah sebagai tanda yang ia berikan kepada para korban yang telah ia bunuh,” ujarnya membaut Kely kembali terbelalak.


“Harry dan Matt adalah para psikopat gila yang haus akan darah, mereka terlalu sombong untuk tidak memberitahu dunia tentang apa yang telah mereka lakukan, dan akhirnya mereka meninggalkan jejak pada setiap kejahatan yang telah mereka lakukan.”


Kely terlihat pucat pasi mendengar penjelasan Alex, dia menggelengkan kepala seolah ingin menyangkalnya.


“Jangan dengarkan dia, Kely!” seru Simon sambil berdiri penuh amarah.


“Itu benar!” seru Alex tak mau kalah dengan Simon, “Apa kau tidak tahu kalau orangtua angkat Matt-pun meninggal dengan alasan yang sama dengan kedua orangtuamu? Apa kau pikir itu hanya sebuah kebetulan semata?”


Kely kini tak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya teduduk lemah seolah baru dibangunkan dari mimpi indah dan kembali pada kekejaman dunia.


“Jangan dengarkan omongannya, Kely! Itu semua bohong!” teriak Simon sambil mengguncang tubuh Kely yang seolah tak bernyawa.


“KAU!!!” teriak Simon sambil mentap Alex dengan garang, “Enyahkan dia dari hadapanku, Juan!” Perintahnya yang langusung membuat Juan beraksi menyerang Alex.


****


Haiii... mau ngetes bisa up ga ya week end ini? kalau bisa Alhamdulillah berarti minggu kemarin memang eror dan selamat baca buat semuanya, kalau gagal bisa berarti memang week end ga bisa up, jadi sampai jumpai senin 😁😁😁