The Secret Identity (#3 The Secret Series)

The Secret Identity (#3 The Secret Series)
Bab 3



“Dean, apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya dengan mata berbinar membuat semua orang kini menatap pria bermata coklat itu dengan penuh selidik.


“Aku sedang bersama teman-temanku, dan kau?”


“Oh aku lupa, kenalkan ini Kakakku Daniel, dan mereka adalah teman baikku... lebih daripada sekedar teman baik sebenarnya, mereka sudah seperti saudaraku juga.”


“Kita tidak bersaudara, Lexi.”


“Diamlah,” geram Alexa berupa bisikan dengan wajah tersenyum sambil menatap Alex galak, “Alex, Gerard, Theo dan Calista, istrinya Theo.. guys kenalkan ini Dean Tyler.”


Mereka menganggukkan kepala masih terlihat menyelidik sampai akhirnya Calista memecah keheningan.


“Apa kau Dean Tyler yang itu?”


“Sunshine, kau mengenalnya?” tanya Theo sambil menatap Calista yang masih menatap Dean terlihat penasaran, sampai akhirnya pria bermata coklat itu mengangguk membenarkan.


“Well, Mrs. Regan, suatu kehormatan kau masih mengenalku.”


“Kalian saling mengenal?” seru Theo tak percaya sambil menatap keduanya begitu pula dengan Alexa dan yang lainnya yang kini menatap Calista.


“Sayang, kau tidak mengenalnya? Dia adalah Dean Tyler, putra dari Emerald Group, dia bahkan hadir di pesta pertunangan dan pernikahan kita.”


“Dan aku juga hadir di pesta pernikahan Dylan McArthur.”


“Benarkah? Kenapa aku tak melihatmu saat itu?” tanya Alexa sambil tersenyum menatap pria bermata coklat yang juga menatap kearahnya dengan lembut.


“Karena saat itu kau sedang sibuk bersamaku, Lexi,” ucap Alex sambil tersenyum lalu mengedipkan sebelah mata ke arah perempuan yang kini menatapannya dengan pandangan membunuh.


“Aku hanya berada di pesta itu sebentar,” ucap Dean membuat Alexa mengangguk mengerti, “Baiklah kalau begitu, aku akan kembali kepada teman-temanku... sampai besok, Alexa,” lanjut Dean sambil pamit pergi.


“Kau akan pergi kencan dengannya besok?” tanya Alex tak percaya.


“Tidak.. hmmm… salah satu keluarganya akan ada yang menikah dan aku yang akan merancang pakaian pengantinnya,” ujar Alexa dengan sorot bangga yang membuat Calista menatapnya dengan sorot mata bahagia.


“Benarkah? Itu luar biasa, Lexa,” ucap istri Theo itu sambil tersenyum lebar membuat Alexa ikut tersenyum lebar.


“Aku tahu, dan semoga saja setelah ini akan banyak lagi yang akan mengetahui tentang rancanganku,” ucap Alexa dengan mata berbinar yang mendapat anggukan dari semuanya, kecuali Alex yang masih memerhatikan pria bermata coklat yang masih mencuri pandang ke arah Alexa, membuat Alex merangkul bahu gadis itu.


“Apa kau mau pulang sekarang? Aku akan mengantarmu, bukankah mobilmu sedang di bengkel?” tanya Alex yang membuat Alexa menatapnya.


“Apa kau sedang merencanakan sesuatu?” tanyanya tak percaya dengan kebaikan pria bermata biru itu yang tiba-tiba.


“Tidak.. bukankah biasanya aku yang mengantarmu pulang?”


“Biasanya aku yang menyetir dan kau akan tidur sepanjang jalan... tidak, aku lebih baik naik taxi jadi aku bisa tidur sepanjang jalan.”


“Baiklah, kali ini aku yang akan menyetir dan kau bisa tidur sepanjang jalan ok?” ujar Alex sambil mengambil tas belanjaan Alexa dan menariknya pergi.


“Tapi minumanku belum habis,” Alexa berkata sambil melihat gelasnya yang langsung diambil Alex lalu menyerahkannya kepada Gerard.


“Kau boleh minum sepuasnya di apartemen nanti,” ucap Alex sambil menyeret Alexa yang masih protes keluar dari cafe membuat para pria menatap ke arah Dean yang tengah mengawasi keduanya, dan mereka kini tertawa menyadari alasan dibalik tindakan detektif NYPD itu.


“Alex, aku masih ingin berada di sana bersama yang lainnya.”


“Kau akan bertemu dengan mereka lagi besok, sekarang sudah terlalu malam.”


“Yang benar saja, ini baru pukul sembilan.”


“Benarkah? Aku pikir ini sudah jam sebelas, berarti jamku yang rusak.”


Alexa menggeleng mendengar penjelasan Alex yang tak masuk akal, tapi semua percuma karena sekarang mereka sudah berada di dalam mobil dalam ke ramaian jalanan kota New York yang padat menuju apartemennya.


“Jadi kau benar-benar tidak kencan dengan pria tadi?”


“Ya Tuhan, Alex! Kalau kau bertanya sekali lagi, aku benar-benar akan membunuhmu!” Seru Alexa karena sudah bosan mendengar pertanyaan yang sama sepanjang perjalanan dari pria yang kini berjalan disampingnya di lorong apartemen.


“Aku hanya memastikan,” ucap Alex santai yaang membuat Alexa menatapnya dengan galak, tapi seketika ia terdiam ketika melihat Alex menyuruhnya untuk diam dan jangan bergerak, matanya tiba-tiba terbelalak ketika melihat pintu apartemennya sedikit terbuka.


Alex mengambil pistol yang selalu siaga di balik jaketnya, dengan perlahan dia mengendap-endap mendekati apartemen Alexa, dia mengintip di antara celah pintu untuk melihat kondisi di dalam lalu membuka pintu dengan perlahan dan masih mengendap-endap dia mulai masuk meninggalkan Alexa yang terlihat ketakutan di luar apartemen.


Setelah memeriksa keadaan di dalam akhirnya Alex menyuruh Alexa masuk. Tidak ada yang berubahan dari apartemennya semua terlihat sama seperti ketika ia meninggalkannya tadi.


“Lexi, apa kau yakin tadi kau telah menutup dan menguncinya?”


“Iya aku sangat yakin,” jawab Alexa sambil memandang Alex dengan yakin, membuat pria itu mengangguk.


Alexa memeriksa barang-barang berharganya, kotak perhiasannya masih ada di laci meja kamar dan tak ada satupun yang hilang.


“Bagaimana apa ada yang hilang?” tanya Alex setelah melihat Alexa keluar dari kamarnya.


“Tidak... apa mungkin tadi aku lupa mengunci pintu?” ujar Alexa sambil terlihat berpikir.


“Kau memang seperti orangtua yang pelupa.” Alex berkata sambil duduk di atas sofa dan menyalakan TV. Dia memang terlihat santai, tapi kepalanya terus berputar memikirkan kejadian ini, Alexa memang pelupa dan ceroboh tapi selama ini ia belum pernah lupa mengunci apartemennya.


“Tapi tadi aku sangat yakin kalau telah menguncinya,” ucap Alexa sambil duduk di samping Alex sambil memeluk bantal sofa berbentuk kepala Winnie the pooh.


“Aku telah memeriksa pintu dan tidak ada kerusakan. Jadi ada dua kemungkinan, pertama kau lupa menguncinya dan kedua seseorang memiliki kunci apartemenmu. Apa kau memberikan kunci apartemenmu kepada seseorang?” tanya Alex sambil duduk miring menatap Alexa yang juga tengah duduk menghadapnya.


“Apa menurutmu aku akan memberikan kunci apartemen ini kepada orang lain?” Alexa balik bertanya sambil menatap Alex yang tengah menatapnya tajam.


“Kau benar, itu tidak mungkin... jadi besar kemungkinan adalah kau lupa menguncinya,” ucap Alex sambil kembali menatap TV dan memindah-mindah salurannya.


“Apa menurutmu aku akan lupa mengunci apartemenku sendiri?” Alexa bertanya dengan sorot mata serius menatap Alex yang kini telah kembali menatapnya dengan serius selama beberapa saat sebelum kemudian dia berkata.


“Lexi... kau bahkan sering lupa kalau anjing tetanggamu memiliki nama yang sama denganmu, jadi setiap dia memanggil anjingnya saat di taman kau akan langsung berlari menghampirnya karena mengira kalau dia memanggilmu,” ucap Alex dengan muka serius yang sukses mendapat pukulan bantal dari gadis di hadapanya.


“Aarrgghh... aku sangat membencimu!” seru Alexa yang malah membuat Alex tertawa.


“Aku tahu,” jawabnya santai sambil kembali menatap ke arah TV.


“Dan apa yang kau lakukan di apartemenku?” tanya Alexa dengan wajah cemberut setelah menyadari Alex tengah duduk dengan santai sambil nonton TV, bukanya langsung pulang.


“Kau sudah lupa kalau aku tadi mengantarmu? Kau lebih parah dari Nenek-Nenek.” Alex berkata dengan muka tak percaya yang kembali mendapat pukulan bantal dari Alexa, “Baiklah.. baiklah.. aku menyerah,” ucapan Alex itu membuat Alexa berhenti memukulinya.


“Lexi, kau tahu semalam aku melakukan penyergapan untuk kasus cukup besar, bahkan aku harus terjebak diantara baku tembak.”


“Ya Tuhan! Kau tak apa-apa?” tanya Alexa dengan cemas setelah mendengar penjelasan Alex.


“Tentu saja, aku tak apa-apa, kau tahu sendiri kalau aku sangat ahli menembak,” jawab Alex sambil mengangkat alisnya dan tersenyum miring membanggakan dirinya sendiri.


“Ya Tuhan, aku menyesal bertanya tadi,” ujar Alexa sambil menggelengkan kepala membuat Alex kembali tertawa.


“Lexi, semalaman aku harus melakukan pengintaian sekaligus penyergapan dan tadi siang aku harus disibukkan dengan segala laporan yang harus aku buat, jadi aku bahkan belum sempat tidur walaupun cuma beberapa menit,” ucap Alex menjelaskan kondisinya tapi gadis di hadapannya hanya mengangkat alisnya santai.


“Lexi, apa kau tidak kasihan kepadaku?”


“Tidak.”


“Apa kau ingin aku kecelakaan di jalan karena menyetir dalam keadaan mengantuk?”


“Tidak.”


“Bagus, kalau begitu ijinkan aku istirahat sebentar di sini, ok?”


“Tidak.”


“Lexi!” Seru Alex tak percaya.


“Oooh... baiklah-baiklah, kau boleh beristirahat dulu di sini sebentar tapi setelah itu kau cepat pulang, apa kau paham? Aku tak mau orang-orang salah paham tentang kita.”


“Tenang saja, mereka tak akan salah paham tentang kita.”


“Bagaimana kau tahu?”


Alex menatap Alexa dari atas sampai bawah kemudian menggeleng, “Karena kau bukan tipeku,” ujar Alex yang langsung mendapat lemparan bantal dari Alexa.


“Aaarrgghh... aku sangat membencimu... dengar, aku akan mandi dan setelah aku selesai mandi kau harus pulang ok!” seru Alexa dengan wajah galak menatap Alex sambil berdiri lalu pergi dengan masih mendumel.


“Dan aku heran kenapa Lucy bisa cemburu padaku, jelas-jelas aku bukan typemu.”


Alex hanya tersenyum sambil berbaring di atas sofa sambil memeluk bantal kepala Winnie the pooh yang tadi dipeluk Alexa, “Tentu saja dia harus cemburu padamu, Lexi,” bisik Alex sambil memejamkan matanya, setelah sebelumnya ia menaruh pistonya di atas meja tapi masih dalam jangkauan tangannya.


Beberapa menit kemudian Alexa telah selesai mandi dan berganti pakaian dengan baju tidurnya, tapi ketika dia ke ruang depan dia melihat Alex telah terlelap, beberapa saat dia hanya berdiri menatap pria yang terlihat damai dalam tidur, dia kemudian berjalan ke kamar dan kembali lagi dengan selimut di tangannya, dengan perlahan dia menyelimuti tubuh Alex tapi ketika matanya menatap wajah pria berambut lebat itu tiba-tiba ia membuang napas berat.


“Bukan tipemu, huh!” Geramnya dalam bisikan lalu menutup wajah tampannya dengan selimut sebelum dia pergi untuk mengunci pintu dan mematikan lampu, kemudian dia-pun masuk ke dalam kamarnya dan terlelap.


*****