
"Jadi apa kau percaya padanya?"
Saat ini Alexa tengah berbicara dengan Emily dan menceritakan apa yang baru saja terjadi. Ia membuang napas berat ketika mengingat kejadian beberapa saat lalu ketika Alex mengatakan kalau dia mencintainya dan jujur saja itu membuat perasaannya seperti jungkir balik dengan jantung yang berdetak mengila, untung saja Gerard menginterupsi dengan menelepon Alex yang membuat Alexa langsung melarikan diri dan menghubungi kembarannya.
"Kalau kau jadi aku apa kau akan percaya?" Emily tertawa mendengar pertanyaan Alexa dan itu membuat dirinya semakin putus asa, ia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan telentang.
"Kau tahu, aku pernah mengalami ini ketika Dylan mengatakan kalau dia mencintaiku. Apa kau percaya itu? Dia sahabat kita selama ini dan tiba-tiba saja dia mengatakan kalau dia mencintaiku?"
"Itu maksudku!" seru Alexa dengan semangat sambil kembali duduk di atas tempat tidur, "Kau tahu sendiri selama ini kami seperti apa, setiap bertemu kami selalu bertengkar dan sekarang dia mengatakan kalau dia mencintaiku? Yang benar saja," ucap Alexa sambil menggelengkan kepala.
"Hmm.. kau benar, apa mungkin dia sengaja mengatakan itu untuk menggodamu?"
Alexa membuang napas berat, "Mungkin saja."
"Bagaimana denganmu apa kau mencintainya? Maksudku sebagai seorang pria bukan sebagai seorang Kakak."
"Te-tentu saja tidak."
"Ayolah, kau lupa sedang berbicara dengan siapa? Aku kembaranmu, kau bisa membohongi seluruh dunia tapi kau tak bisa membohongiku."
"Kalau begitu kenapa kau masih bertanya," ucap Alexa sambil cemberut dan malah membuat Emily tertawa.
"Hanya untuk menggodamu."
Alexa mendengus tertawa sambil menggelengkan kepala mendengar ucapan Emily.
"Jadi sejak kapan kau menyadari kalau kau mencintainya?" Tanya Emily membuat Alexa kembali membuang napas berat dan menjatuhkan tubuhnya telentang di atas kasur.
"Sebelum aku ke Paris."
"Ya Tuhan, Lexa!" Seru Emily tak percaya kalau Alexa telah mencintai Alex selama itu.
"Tidak usah terkejut seperti itu." Alexa membalik badannya hingga tengkurep dan mulai kembali bercerita.
"Awalnya aku tak yakin kenapa aku selalu merasa marah setiap kali melihatnya dengan perempuan lain, dan diam-diam aku selalu memerhatikannya," ucapnya sambil membuang napas, "Dalam hati aku selalu berusaha menyangkal kalau itu ya.. kau tahu sendiri dia seperti memiliki magnet bagi perempuan untuk menyukainya, jadi aku pikir itu hanya perasaan kagum saja."
"Lexa, kenapa kau tak menceritakannya padaku."
"Well, Em, karena aku sendiri belum yakin dengan perasaanku, tapi semakin hari perasaanku semakin kuat setiap berdekatan dengannya aku tak bisa lagi mengontrol detak jantungku yang menggila. Untuk itulah aku menerima tawaran kerja ke Paris, untuk memastikan tentang perasaanku."
"Kenapa kau memendamnya selama ini? Seharusnya kau katakan saja padanya kalau kau menyukainya."
"Dan dia akan terus menggodaku seumur hidupku? Tidak, terimakasih."
Emily tertawa mendengar jawaban Alexa, "Ayolah, dia tak sejahat itu."
"Yeah tentu saja, kau bahkan kasihan kepada Voldemort karena wajahnya rata."
Emily kembali tertawa mendengar perkataannya, "Hei! Itu sebelum dia membunuh Cedric."
"Tenang saja, Cedric tak jadi mati hanya berubah jadi Vampire dan ganti nama menjadi Edward Cullen."
"Kau benar," ucap Emily membuat keduanya tertawa, "Ok, cukup membahas si vampire seksi, sekarang kita kembali kepadamu... apa kepergianmu ke Paris bisa membuatmu bertambah yakin dengan perasanmu atau kau malah melupakannya?"
"Hmm.. aku belum yakin dengan perasaanku dan aku hampir saja bisa melupakannya."
"Karena Ethan?"
"Iya, karena dia aku hampir bisa melupakannya, tapi baj*ngan itu malah mengkhianatiku," ujar Alexa sambil membuang napas dan membalikan badannya kembali terlentang, seketika itu pula ia menjerit terkejut.
"Lexa, apa yang terjadi?"
"Apa yang kau lakukan di situ?"
Alexa tak menggubris pertanyaan Emily, ia langsung terduduk sambil menatap gugup pria yang tengah menatapnya sambil bersandar di ambang pintu. Alex hanya mengangkat bahunya sambil berjalan dengan santai masuk kedalam kamar.
"Kebiasan buruk, kau selalu lupa menutup pintu kamarmu," ucap Alex santai sambil naik ke atas tempat tidur dan merebahkan badannya seolah ia sudah terbiasa melakukan hal itu di kamar gadis yang kini menatapnya tajam.
"Aku tadi sudah menutupnya," bisik Alexa sambil menutup ponselnya menggunakan tangan setelah kembali mendengar Emily memanggil namanya.
"Tidak."
"Sudah."
"Tidak."
"Sudah."
"Buktinya aku bisa masuk."
"Itu karena kau membukanya."
"Apa kau mendengar aku membuka pintu kamarmu?"
Alexa terdiam beberapa saat terlihat berpikir sampai akhirnya ia memutar bola matanya, "Tidak."
"Berarti aku benar," ucap Alex sambil tersenyum penuh kemenangan membuat Alexa mendelik ke arahnya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Alexa ketika melihat Alex memejamkan mata setelah mengatur posisi tidurnya dengan nyaman.
"TIdur," jawabnya santai sambil menarik Alexa hingga gadis itu terbaring di sampingnya sambil memekik terkejut.
"Lexa, apa yang terjadi? Apa semua baik-baik saja?" kembali terdengar seruan Emily dari ponselnya.
"I-iya semua baik-baik saja... Em, sudah malam, besok aku akan menghubungimu lagi ok! Sampaikan salamku untuk Dylan dan ciumku untuk Baby Chris."
"Cium dariku juga!" Seru Alex membuat Alexa menyikut dadanya hingga mengaduh kesakitan.
"Alex! Apa yang dia lakukan di kamarmu?"
"Kau salah dengar itu suara TV."
"Sejak kapan ada TV di kamarmu?"
"Apa yang kau lakukan di kamarku?" ucap Alexa sambil menatap Alex galak.
"Tidur," jawabnya singkat sambil kembali memeluk Alexa layaknya guling membuat gadis itu bergerak-gerak mencoba melepaskan diri, "Lexi, sebaiknya kau diam atau aku akan melakukan sesuatu yang akan membuat Daniel membunuh kita berdua."
Seketika tubuh Alexa membeku dengan mata terbelalak ketika mendengar ancaman pria yang kini tersenyum miring melihat wajah terkejut gadis itu.
"Ahh... ini lebih baik," lanjut Alex sambil menarik Alexa lebih mendekat.
Alexa terdiam beberapa saat sebelum dia membalikkan badannya menghadap Alex yang sudah memejamkan matanya dengan damai.
"Alex," panggil Alexa dengan ragu.
"Hmmm."
"Apa... kau mendengar pembicaraan kami?"
Alex terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan itu, "Ya, aku mendengarnya."
Seketika Alexa langsung menengadah terbelalak menatap pria yang telah memejamkan matanya, untuk beberapa saat dia hanya terdiam menatap pria itu dengan jantung berdetak hebat.
"Tidurlah sudah malam," ucap Alex sambil menarik kepala Alexa ke dalam dada bidangnya hingga kepala gadis itu tepat di bawah dagunya.
"Kau jangan salah paham, itu zaman dulu ketika aku masih labil... ya anggap saja cinta monyet ok? Sekarang aku sudah benar-benar melupakanmu."
"Kalau kau sudah melupakanku, kenapa jantungmu berdetak hebat sekarang?" Tanya Alex membuat Alexa meringis dan mengutuk jantungnya sendiri karena tidak bisa diajak kerja sama.
"Itu karena kau memelukku terlalu erat, aku sampai tak bisa bernapas," jawab Alexa sambil mendorong tubuh Alex menjauh dan membuat Alex tertawa.
"Lexi," panggil Alex sambil kembali memeluk tubuh Alexa yang sudah membalik membelakanginya, "Kalau kau sebut itu cinta monyet, berarti aku cinta anak monyet karena aku sudah mencintaimu sejak bayi, tunggu kalau begitu apa itu menjadi cinta bayi monyet? Ckkk, bagaimana bisa aku jatuh cinta kepada bayi jelek sepertimu... aww!" Alex kembali meringis karena Alexa secara tiba-tiba membalikan badannya hingga dagunya terantuk kepala gadis itu.
"Tunggu... kau bilang kau mencintaiku dari bayi?"
"Tidak, aku hanya mengatakan kepada Gerard kalau aku akan menikahimu ketika besar nanti tepat hanya beberapa jam setelah kau lahir."
"Wow... benarkah?" Tanya Alexa dengan mata berbinar.
"Tapi aku berubah pikiran setelah melihatmu tumbuh... ya Tuhan, kau sangat jelek ketika kecil."
Alexa mendelik menatap Alex tajam yang terlihat sedang menggeleng sambil membuang napas dengan mata biru menatapnya prihatin, membuat gadis bermata amber itu kembali membalikan badannya sambil cemberut.
"Tapi herannya aku tak bisa melupakan gadis jelek dengan bintik-bintik di hidungnya yang bahkan ketika kecil sering kali ingusan itu," ujar Alex sambil kembali memeluk Alexa yang diam-diam tengah menahan senyumnya.
"Jadi kau yang pertama jatuh cinta padaku?"
Alex diam beberapa saat sebelum menjawab, "Hmmm." Yang membuat senyum Alexa melebar.
"Jadi kau mengakui kalau kau yang pertama jatuh cinta padaku!" Seru Alexa sambil kembali membalikan badan secara tiba-tiba yang membuat Alex kembali meringis karena lagi-lagi dagunya terantuk kepala gadis itu.
"Lexi, kenapa kau tidak bisa diam seperti orang normal tidur pada umumnya," ujar Alex sambil mengelus dagunya yang telah ditumbuhi bulu-bulu pendek.
"Karena aku belum tidur," jawab Alexa cepat.
"Jadi sebaiknya kau tidur sekarang!" seru Alex sambil kembali menekan kepala gadis itu ke bawah dagunya.
"Aku belum mau tidur!" Alexa kembali menengadah dan lagi-lagi membuat dagu Alex terantuk dengan cukup keras, membuat pria itu memejamkan mata kuat-kuat sambil membuang napas berat, "Kau belum menjawab pertanyaanku," lanjut Alexa sambil menatap Alex yang kini menatapnya dengan mata ngantuknya.
"Pertanyaan yang mana?"
"Kau yang pertama jatuh cinta padaku-kan?"
"Iya, apa kau puas?" Alexa mengangguk sambil tersenyum lebar, "Bagus, sekarang kau tidur!" Alex kembali menekan kepala gadis yang tersenyum lebar itu ke bawah dagunya.
"Alex." Alexa berkata dengan suara teredam dada bidang pria yang kini memeluknya erat.
"Apa lagi."
"Aku rasa... aku menang taruhan kali ini," ujar Alexa dengan senyum bahagia membuat Alex ikut tersenyum.
"Iya, tapi kau lupa kalau kau kalah taruhan soal Daniel-Kerelyn." Alex berkata sambil menguap menahan kantuk, sedangkan Alexa terlihat mengerucutkan bibirnya.
"Baiklah, bagaimana kalau kita anggap impas saja." Alexa mencoba bernegosiasi mengingat taruhan kali ini tak seberapa dibandingkan taruhan ketika Daniel dulu, tapi sialnya Alex menggelengkan kepala sambil memejamkan mata sebagai jawaban.
"Kau harus mengabulkan 3 permintaanku," kata Alex dengan suara serak mengantuknya yang membuat Alexa terdiam.
"Baiklah, apa permintaanmu?" Tanya Alexa sambil menyurukan kepalanya diantara dada Alex.
"Tidur."
"Hah?"
"Diam dan tidurlah, itu permintaanku yang pertama."
"Aaah... aku mengerti, baiklah kita tidur sekarang," ucap Alexa sambil memeluk tubuh Alex.
"Lexi, apa kau berpikir yang tidak-tidak ketika aku mengatakan tidur tadi."
"Ti-tidak."
"Kenapa gugup?"
"Aku tidak gugup, aku hanya ngantuk."
"Ckk.. alasan... apa kau mau kita melakukan apa yang kau pikirkan tadi?"
"Tidak!" Seru Alexa dengan semangat membuat Alex tersenyum.
"Aaah... berarti kau memikirkan yang tidak-tidak, lihat siapa yang mesum sekarang," ucap Alex sambil tertawa dan berusaha menjauhkan tubuh Alexa untuk melihat wajah gadis yang kini memeluknya sangat erat dan berusaha menyembunyikan wajahnya yang merah padam.
****