The Secret Identity (#3 The Secret Series)

The Secret Identity (#3 The Secret Series)
Bab 31



"Ya Tuhan, dia telihat sangat seksi sekaligus berbahaya dengan luka-lukanya itu," bisik Raina tak percaya.


"Hmm, dia memang sangat tampan dan aku sangat kesal kenapa luka-lukanya itu malah membuatnya semakin... hot," ucap Alexa dalam bisikan yang dapat anggukan setuju dari Raina.


Saat ini mereka berdua tengah berjongkok di samping tempat tidur dan memerhatikan pria yang memiliki gelar Don Juan NYPD itu yang terlihat damai dalam tidurnya.


"Dan pria hot ini adalah kekasihmu?" Tanya Raina sambil mengalihkan tatapannya ke arah Alexa dengan senyum mengembang yang membuat wajah kembaran Emily itu memerah.


"Kau benar, pria hot ini sekarang adalah keakasihku," ujar Alexa membuat keduanya cekikikan layaknya anak ABG yang tengah membicarakan gebetan mereka.


"Dan kau tidur bersamanya!" Seru Raina tertahan dengan mata berbinar menatap sepupunya yang terlihat memerah.


"Aku sudah menyuruhnya tidur di sofa semalam, tapi kenapa dia malah tidur di sini, dan hei! Aku bersumpah kami tak melakukan apapun," jelas Alexa masih berbisik karena tak ingin membangunkan pria yang sialnya tetap terlihat tampan walaupun sedang tidur.


"Kau tak usah memerah seperti itu, Lexa, aku hanya mengatakan kalau kalian tidur bersama dan aku benarkan? Atau kalian tidak tidur dan melakukan sesuatu yang membuatnya terlihat sangat kelelahan?" goda Raina membuat mata Alexa membulat sambil menganga tak percaya dengan apa yang dipikirkan sepupunya itu.


"Rain! Yang benar saja!" seru Alexa membuat keduanya kembali tertawa, tapi mereka cepat-cepat menutup mulut dengan tangan ketika melihat Alex bergerak.


"Sttt... sudah berapa hari dia tidak bercukur?" Tanya Raina dengan mata menatap rahang kokoh Alex yang ditumbuhi bulu-bulu yang cukup lebat.


"Entahlah," jawab Alexa terlihat putus asa, "Kau tahu, dia boleh saja tampan tapi dia sangat jorok!"


"Benarkah?" Raina balik bertanya tak percaya yang dijawab anggukan semangat dari sepupunya, mereka kini memutar tubuhnya jadi saling berhadapan tapi masih dalam posisi jongkok di samping tempat tidur, kedua tangan keduanya dilipat dan bertumpu di lutut masing-masing.


"Dia bahkan sering kali melempar baju kotornya sembarang dan malas sekali mandi, bahkan dia bisa memakai celana jeans yang sama selama berhari-hari tanpa menggantinya!"


"No way!" seru Raina tak percaya yang kembali dapat anggukan semangat dari Alexa.


"Aku harus mengancamnya dengan mengatakan akan menendangnya keluar dari sini supaya dia mau mandi."


"Ya Tuhan, apa separah itu?" Tanya Raina sambil meringis membuat Alexa ikut meringis sambil mengangguk.


"Aku tak tahu apa yang membuat para pempuan mau berkencan dengannya dulu," ucap Alexa sambil menggelengkan kepala tak mengerti, sedangkan Raina mengangguk menyetujui ucapannya.


"Aku yakin mereka belum mengetahui sifat joroknya itu karena dia langsung memutuskannya bahkan sebelum dia mengingat nama perempuan itu," lanjut Alexa yang membuat mata Raina membulat sambil mengangguk.


"Kau benar!"


"Ya Tuhan, sepertinya dia lebih sering berganti teman kencan dari pada mengganti celana jeansnya... dan kini aku berkencan dengannya," ujar Alexa sambil menepuk jidat ketika menyadari statusnya saat ini. Melihat itu Raina hanya bisa menepuk-nepuk pundak sepupunya ikut bersimpati.


"Aku tak sesering itu berkencan."


Terdengar sebuah suara berat serak nan seksi membuat keduanya melompat sambil memekik terkejut. Alex menatap keduanya dengan mata setengah mengantuk, kepalanya ditumpukan di tangan kanannya dan entah kenapa melihat pria itu dalam kondisi bangun tidur malah membuat para perempuan itu menganga tak bisa berkata-kata, dan akhirnya mereka berdehem berusaha senormal mungkin.


"Aku tak sesering itu berkencan... percayalah aku lebih saring mengganti celana jeansku dari pada berkencan," ucap Alex sambil duduk lalu menarik Alexa ke dalam pelukannya untuk memberikan sebuah ciuman.


"Selamat pagi, Lexi," ucapnya sambil tersenyum menatap Alexa yang kini duduk di atas pangkuannya.


"Hei! Apa kalian harus melakukan itu di depanku?!" protes Raina, sambil meninggalkan keduanya yang hanya tersenyum santai lalu turun dari tempat tidur.


"Apa kau belum mendapatkan ciuman dari makhluk genius kita yang satu itu?" goda Alex sambil ikut berjalan ke dapur menyusul Raina dan Alexa.


"Jangan membahas dia," ucap Raina dengan wajah cemberut, ditangannya kini telah ada sebuah mug yang berisi kopi.


Mendengar itu Alex mengangkat alisnya tak mengerti.


"Jangan katakan kalau kalian bertengkar." Alex berkata sambil menerima kopinya dari Alexa yang kini ikut bergabung bersama keduanya di meja makan, menikmati secangkir kopi panas ditemani roti bakar sebagai sarapan.


"Rain datang ke sini tanpa memberitahu Gerard terlebih dahulu, tadinya dia ingin memberi kejutan untuknya, tapi malah dia yang dapat kejutan dengan aksi tembak-menembak semalam," jelas Alexa sambil mengunyah rotinya yang telah dia olesi coklat.


"Dan... kenapa kekasihmu marah?" Tanya Alex sambil menyeruput kopinya.


"Nah itu dia, aku juga tak mengerti kenapa dia marah!" Seru Raina dengan kesal mengingat kejadian semalam.


Gerard, Alexa, Ethan dan Philip datang ditemani beberapa orang polisi tak lama setelah ia dan Daniel berhasil melumpuhkan Rebeca, atau lebih tepatnya membuat perempuan itu tak sadarkan diri karena tinjunya. Layaknya seorang kekasih yang sudah lama tak bertemu ia langsung berhambur ke dalam pelukan Gerard ketika melihat pria itu memasuki ruang apartemen Alexa.


Mendapat sambutan seperti itu tentu saja membuat pria berkacamata itu terkejut, awalnya Gerard sangat gembira melihatnya tapi setelah mendengar cerita Daniel tentang apa yang terjadi tiba-tiba saja dia marah. Dia marah karena ia tak memberitahu terlebih dahulu tentang kedatanganya, ia marah karena bukannya lari bersembunyi ia malah balik lagi untuk ngejar Rebeca.


"Apa dia tahu arti dari kejutan? Kalau aku memberitahunya terlebih dahulu bukan kejutan itu namanyakan? Ah, aku baru tahu kalau ternyata dia sebodoh itu," ujar Raina dengan nada kesal, membuat Alex dan Alexa saling pandang sambil mengangkat alis dan bahunya.


"Dia seperti itu karena dia khawatir padamu, Rain." Alex mencoba memberi penjelasan tentang alasan kemarahan sahabatnya.


"Aku tahu, tapi maksudku apa dia tak bisa mengerti posisiku?" Tanya Raina dengan berapi-api, "Apa kalian pikir aku senang ketika baru saja datang, masih dalam keadaan jetlag dan tiba-tiba seseorang menembakiku?"


Double A hanya bisa menggeleng serempak mendengar keluh kesah sepupu si kembar itu dari pada ikutan terkena semprot.


"Tidakkan? Aku juga tidak, dan seharusnya dia tahu itu bukan salahku kalau aku datang pada saat yang tidak tepat, dan mengenai perempuan itu... siapa namanya?"


"Iya itu, Rebeca, apa kalian akan diam saja melihat Daniel kesulitan menghadapi perempuan gila itu?"


"Tidak." Kembali double A menjawab dengan serempak sambil menggelengkan kepala.


"Tidakkan? Maka dari itu aku kembali lagi karena tahu Daniel tak akan berani untuk memukul perempuan, dan ternyata benar. Gerard seharusnya mengerti itu!" seru Raina masih dengan berapi-api.


"Iya, tentu saja dia seharus mengerti itu." Kali ini hanya Alexa yang menjawab pertanyaan Raina, sedangkan Alex terlihat mengangkat alisnya.


"Tapi... menurutku, seharusnya kau-pun mengerti alasan kenapa dia marah," ucap Alex membuat kedua perempuan di hadapannya menatap ke arahnya.


"Maksudku... dia marah bukan karena tidak senang melihatmu, percayalah dia sangat merindukanmu selama ini, benarkan?" tanyanya sambil menatap Alexa.


"Dia benar, G sangat merindukanmu sampai hampir gila," jawab Alexa sambil mengangguk menyakinkan.


"Tapi ketika mendengarmu hampir saja tertembak, tentu saja itu membuatnya sangat khawatir dan takut kalau kau terluka."


"Aku tahu maksudnya, tapi dia tak perlu marah seperti itu. Dia bisa menjelaskannya baik-baik tanpa marah-marah seolah aku yang salah."


"Rain, dengarkan aku... dia boleh saja memiliki IQ paling tinggi di antara kami bertiga, dia sangat jenius kalau berhadapan dengan komputer dan benda mati yang lainnya, tapi dia sangat bodoh ketika berhadapan dengan makhluk hidup terutama seorang perempuan, apalagi kalau perempuan itu adalah seseorang yang sangat ia cintai dan dalam bahaya, maka semua logika dan pemikiran jeniusnya akan menghilang begitu saja," jelas Alex membuat Raina terdiam dengan jari telunjuk memainkan bibir mug kopinya.


"Dia tak bermaksud untuk memarahimu, dia hanya terlalu terkejut karena mendengar kalau kau hampir saja tertembak," ucap Alexa yang mendapat anggukan dari Alex.


"Dan sebenarnya bukan hanya Gerard, dia-pun seperti itu," lanjutnya sambil mendelik ke arah Alex yang menganga tak percaya.


"Aku? Kapan? Aku tak mungkin seperti itu, emosiku tak pernah mengalahkan logika," sanggah Alex dengan percaya diri.


"Oh iya? Jadi siapa yang mengancam akan mengurungku di dalam apartemen dan membuang kuncinya pada waktu kasus Kerelyn?” Tanya Alexa dengan sorot mata penuh kemenangan menatap pria di hadapannya.


"Itu karena kau selalu cari masalah," jawab Alex tak mau kalah.


"Hei! Aku tak mungkin meninggalkan mereka berdua dalam bahaya saat itu."


"Aku sudah memberi tahumu kalau polisi sedang dalam perjalanan dan kau sebaiknya bersembunyi sampai aku datang, tapi apa yang kau lakukan?"


"Hah! Kalau aku bersembunyi seperti yang kau perintahkan, saat itu pasti kakakku sudah hancur berkeping-keping."


"Dan bagaimana kalau seandainya kau ikut meledak saat itu!"


"Tapi tidakkan? Buktinya aku masih selamat sampai sekarang."


"Ok, cukup! Kalian berdua berhenti bertengkar!" seru Raina setelah dari tadi kepalanya pusing menatap mereka bergantian.


"Dia yang mulai," ujar Alexa.


"Aku? kau yang mulai duluan."


"Kapan?" Tanya Alexa dengan wajah polos.


"Tadi!" seru Alex dengan putus asa.


"Cukup! Ya Tuhan, aku tak percaya kalau kalian berkencan! Kalian lebih mirip seperti kucing dan tikus dari pada sepasang kekasih."


"Dia yang jadi tikus dan aku akan memakannya habis-habisan."


"Kau lupa, Lexi, kau bukan kucing tapi chihua-hua."


"Kau! Dasar zombie mesum!"


Alex baru membuka mulutnya untuk membalas ucapan Alexa ketika ponselnya berdering dan itu membuat Raina membuang napas lega karena tak perlu lagi mendengar pertengkaran khas Tom and Jerry. Dan, hei! Seharusnya mereka yang jadi penengah pertengakarannya dengan Gerard, bukan sebaliknya, kenapa kini dia yang jadi juri di antara pertengkaran abadi mereka?


Alexa dan Raina sedang melanjutkan sarapan mereka sambil berbincang ringan ketika mendengar Alex memaki, membuat keduanya menatap pria bermata biru itu yang kini tengah terburu-buru memakai sepatu.


"Ada apa?" Tanya Alexa dengan penasaran.


"Aku harus ke kantor sekarang, Nate baru saja memberitahuku kalau DNA James dan darah dari orang yang aku tembak pada waktu itu tidak cocok," jawab Alex sambil memakai jaket kulit kesayangannya.


"Mereka orang yang berbeda?" Alexa kembali bertanya tak percaya.


"Iya, dan aku tak percaya itu," jawab Alex sambil mencium Alexa sebelum pergi meninggalkan apartemen Alexa menuju kantor NYPD.


****


Haiiii... seperti yang sudah saya janjikan kalau hari ini ada bonus 😁 dan bonusnya adalah visul Don Juan kita. ok, untuk visul Alex, saya sedikit kesulitan karena Alex dalam bayangan saya adalah seseorang yg memiliki aura badboy yang menarik bukan tampan yang metroseksual seperti Ethan. Akhirnya beberapa nama terkenal-pun sempat masuk jajaran visual sang Don Juan, tapi selalu saja ada sesuatu yg membuat kurang sreg, sampai akhirnya saya melihat ini yang membuat saya langsung tersenyum sambil bilang "Hallo Alex, i finally found you." 😍 jadi ini dia Alex saat bangun tidur, jadi kurang lebih inilah yang dilihat Alexa dan Raina tadi 😘😘 mudah"an suka ya, kalau ada yg punya bayangan visual Alex versi sendiri boleh di share di grup atau komen😍 Love πŸ’—A.KπŸ’—