The Secret Identity (#3 The Secret Series)

The Secret Identity (#3 The Secret Series)
Bab 11



Merasa tengah diperhatikan Alex kini menatap ke arah Alexa yang masih berdiri tak bergerak, ia tersenyum miring yang membuatnya diam-diam membuang napas panjang untuk mengatur detak jantungnya lalu kembali melanjutkan jalannya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Alexa sambil menatap Alex yang berdiri dengan senyum masih menghiasi wajah tampannya.


"Apa kau lupa hari apa sekarang? Lexi, Ibumu sedang ada di London bersama Em, dan sekarang waktunya kita makan bersama, jadi karena Mrs. W tak ada di sini mereka akan makan malam di tempat kita malam ini, bukankah Daniel sudah memberitahumu kemarin?"


"Ya Tuhan, aku lupa! Jam berapa sekarang?" tanya Alexa sambil melihat jam tangannya dan mengutuk ketika melihat waktu sudah menunjukan pukul 7.30 malam.


"Tidak usah khawatir, aku sudah meminta Calista dan Kerelyn untuk menyiapkan makanan karena tahu kau sedang sibuk, dan aku yakin mereka kini sedang menunggu kita."


"Syukurlah!" ucap Alexa sambil tersenyum lalu mengambil tasnya untuk pergi tapi ia kembali terdiam ketika membalikkan badan dan melihat Kely masih berdiri di sana dengan senyum lebar.


"Hai," ucap Kely sambil mengangkat tangannya sebagai salam.


"Kau masih di sini?" tanya Alexa yang mendapat anggukan dari Kely.


"Yap, dan aku mendengar semuanya...sekarang sepertinya aku tahu rahasia yang sedang kau sembunyikan dariku, Lexa. Tempat kita? Apa kalian tinggal bersama?" tanya Kely dengan senyum lebar yang membuat mata Alexa terbelalak.


"Ti-tidak..."


"Hai, aku Alex." Alex memotong sambil mengenalkan diri yang disambut Kely dengan semangat, "Iya, kau benar, kami tinggal bersama... tapi apa kau bisa menjaga rahasia kami?" ucap Alex sambil berbisik dengan senyuman maut yang biasa membuat kaum hawa meleleh ketika melihatnya.


"Tentu saja, aku akan menjaga rahasia kalian," jawab Kely sambil berbisik.


"Terima kasih, aku tahu kalau kau sangat baik," puji Alex yang membuat pipi perempuan itu memerah.


"Kely, kau salah paham, kami..."


"Ayo, Lexi, kita pulang sekarang yang lain sudah menunggu," ujar Alex sambil merangkul bahu Alexa dan memaksanya pergi.


"Tapi... Kely, jangan salah paham!" Seru Alexa di balik bahu Alex yang terus memaksanya pergi.


"Tidak usah khawatir, aku akan menjaga rahasia kalau kalian tinggal bersama!" Seru Kely membuat Alexa membelalakan mata tak percaya karena kini semua orang di ruangan itu mendengarnya dan tengah menatap ke arah mereka.


"Maaf, aku tak sengaja," lanjut Kely pelan dengan wajah meringis yang langsung mendapat pelototan dari Alexa sedangkan Alex tengah menahan diri untuk tidak tertawa.


"Arrghhh! Kenapa kau tidak umumkan saja lewat koran kalau kita kini tinggal bersama," ujar Alexa dengan galak yang hanya membuat Alex menatapnya sambil menaikkan alisnya.


"Apa boleh aku melakukan itu?"


"Aku membencimu," ucap Alexa sambil masuk ke dalam lift dengan mata dipicingkan menatap Alex.


"Aku tahu," ucap Alex santai.


"Kini semua orang mengetahui kalau kita tinggal bersama."


"Itu bagus."


"Apanya yang bagus!" seru Alexa tak percaya sambil keluar dari lift dan berjalan di lobi menuju luar dengan Alex yang berjalan di sampingnya dengan senyum mengembang.


"Dengan seperti itu, tidak akan ada lagi pria yang akan mendekatimu," ucap Alex dengan bahagia membuat Alexa menatapnya lalu menendang kakinya membuat pria itu meringis kesakitan.


"Apa kau mau aku menjadi perawan tua?"


"Tenang saja, aku akan menemanimu menjadi pejaka tua," jawab Alex santai yang membuat Alexa memutar bola matanya.


"Kau bahkan bukan pejaka lagi," geram Alexa di depan wajah Alex yang terdiam beberapa saat kemudian mengangguk.


"Kau benar, aku bukan pejaka lagi... aah aku sudah ternoda," ujar Alex dengan nada terluka yang membuat Alexa kembali menatapnya sambil menganga lalu menggeleng terlihat putus asa sebelum berjalan dengan cepat keluar dari gedung itu meninggalkan Alex yang tertawa lalu setengah berlari menyusul perempuan yang tengah merajuk itu.


Sepanjang jalan Alexa terdiam dengan wajah cemberut, sedangkan Alex hanya tersenyum melihat tingkah Alexa yang seperti anak kecil. Dan ketika Emily menghubunginya dia langsung menceritakan semuanya kepada kembarannya itu, tapi sialnya Emily dan Dylan tidak bisa menyembunyikan tawa membuat Alexa semakin kesal.


"Ayolah, Lexi, jangan cemberut seperti itu, kau terlihat jelek."


Alexa mendelik menatap Alex dengan galak, mereka kini sudah sampai di gedung apartemen dan kini sedang berjalan di lorong menuju apartemen mereka, tanpa berbicara dia kembali melanjutkan jalannya masih dengan cemberut membuat Alex tersenyum lebar sambil menggelengkan kepala.


Alexa masuk ke dalam apartemen dimana semua orang telah berada di sana dan terlihat terkejut melihat gadis itu yang masuk dengan wajah cemberut, lalu menghempaskan tubuhnya di atas sofa di samping Kerelyn dan Calista yang menatapnya tanpa berkedip.


"Apa yang sudah dia lakukan kepadamu, Lexa?" tanya Daniel sambil menatap adiknya yang masih terlihat cemberut.


"Daniel, kau tidak akan percaya apa yang sudah dia lakukan." Alexa memulai ceritanya yang membuat semua orang kini menatapnya dengan serius.


"Dia mengatakan kepada semua orang di kantorku kalau kami tinggal bersama."


"Aku tidak mengatakan kepada semua orang, aku hanya mengatakan kepada Kely," ucap Alex berusaha membela diri.


"Tapi kini semua rekan kerjaku sudah mengetahui kalau kita tinggal bersama! Dan kemarin, kau memberitahu semua rekan-rekanmu kalau kita tinggal bersama."


"Aku hanya menjawab pertanyaan Philip."


"Dan kau menjawabnya sambil berteriak di tengah ruangan."


"Karena dia bertanya ketika kita sudah berada di tengah ruangan."


"Kau bisa saja berbohong."


"Aku tidak suka berbohong. Kita tidak boleh berbohong Lexi, itu dosa."


"Aku tahu, tapi..."


"Sekarang katakan padaku, apa aku salah? Aku hanya menjawab pertanyaan dari Phillip dan Kely karena mereka bertanya," tanya Alex sambil menatap semua orang yang masih terlihat bingung melihat perdebatan double A.


Mereka saling tatap untuk beberapa saat, Daniel menatap Theo dan Gerard yang hanya mengangkat bahu, sedangkan Kerelyn dan Calista hanya saling pandang terlihat bingung lalu menggeleng. Dan akhirnya Daniel membuang napas berat karena itu tandanya kalau dialah yang harus menjawab pertanyaan Alex yang artinya dia harus siap menerima amukan Alexa.


"Well, kau tidak sepenuhnya salah."


"Daniel, yang benar saja!" Seru Alexa yang langsung membuat Daniel mengangkat tangannya memintanya diam agar dia bisa menjelaskan lebih lanjut.


"Tapi kau tidak seharusnya memberitahu mereka kalau kalian tinggal bersama," ucap Daniel yang mendapat anggukan semangat dari Alexa.


"Apa yang salah dengan itu? Itu memang kenyataannya, kami tinggal bersama. Bukankah itu hal biasa di sini, sepasang pria dan wanita yang tinggal bersama."


"Tapi kita bukan pasangan, kita bahkan bukan sepasang kekasih!" Seru Alexa putus asa.


"Jadi kau tidak masalah kalau sepasang kekasih tinggal bersama?" tanya Alex membuat Alexa terdiam beberapa saat.


"Tentu saja, itu hak mereka untuk melakukannya," jawab Alexa membuat Alex tersenyum.


"Kau yakin?" tanya Alex yang mendapat anggukan yakin dari Alexa.


"Aku sangat yakin."


"Baiklah kalau begitu kita sepakat kalau sepasang kekasih boleh tinggal bersama?" Alex menjulurkan tangannya yang mendapat sambutan dari Alexa.


"Sepakat!"


"Bagus... sekarang kita sepasang kekasih."


"Hei!!!" Seru Alexa yang membuat Alex tersenyum sambil mengangkat alisnya.


"Ini tidak adil, aku tidak sepakat untuk jadi kekasihmu."


"Tapi kalian sudah berjabat tangan," ucap Gerard yang langsung dapat pelototan dari Alexa.


"Dan itu artinya sah." Kini Alexa menatap Daniel sambil menganga tak percaya.


"Tapi..." Alexa berusaha menjelaskan yang sepertinya tak akan didengarkan oleh siapapun.


"Aku sangat lapar... kakak ipar, makan apa kita malam ini?" tanya Alex sambil menggoda Kerelyn dengan senyum mengembang dan sejurus kemudian tertawa terbahak-bahak ketika Alexa mulai memukulinya dengan bantal kepala Winnie The Pooh.


*****