
Setelah kejadian penembakan di apartemen Alexa beberapa hari lalu membuat Alex bekerja keras menangkap pelakunya, mengingat si pelaku kemungkinan besar masih terkait dengan kelompok perampokan permata bersenjata yang sedang dicari oleh hampir seluruh kepolisian di Amerika maka ketakutannya selama ini terbukti benar kalau Alexa dalam bahaya.
Seringkali ia dan beberapa rekannya berpikir apa hubungan antara Alexa dengan kelompok penjahat yang dikenal dengan sebutan Ghost itu, dan apa yang mereka inginkan dari adik Daniel Winchester itu? Tapi semua jawaban kembali buntu, karena Alexa sendiri tidak menyadari kalau dirinya terlibat dalam kasus yang cukup besar.
Bercak darah yang ditemukan di TKP dari luka tembak si pelaku membuat kepolisian sedikit berharap, tapi semua sia-sia karena data DNA yang dihasilkan tidak memiliki kecocokan dengan database yang dimiliki NYPD. Dan itu membuat semua kembali ke titik nol.
"Bagaimana, apa ada kemajuan tentang kasus perampokan kemarin?" Tanya sang Kapten setelah sebelumnya memanggil Alex dan Phillip ke ruangannya.
"Belum, tapi kami curiga kalau ini ada hubungannya dengan Pedro," jawab Phillip membuat Kapten mengangkat alisnya.
"Pedro?"
"Iya, penyelundup senjata yang berhasil kita tangkap," jawab Alex yang mendapat anggukan dari Kapten.
"Aku mendengar kalau pelakunya kemungkinan besar adalah orang yang menyerangmu kemarin, apa itu benar?" Kapten kembali bertanya sambil menatap Alex yang mengangguk membenarkan.
"Kami menemukan proyektil peluru yang sama dari kejadian kemarin dengan yang berada pada tubuh korban pada kasus perampokan permata."
"Apa kau mengenali pelakunya?"
Alex dengan menyesal mengelengkan kepala, "Tidak, dia mengenakan topi dan masker, tapi aku yakin kalau aku bertemu dengannya aku akan mengenalinya," ucap Alex dengan sangat yakin, membuat Kapten menatapnya beberapa saat lalu mengangguk percaya.
"Sebaiknya kau memberi gambaran kasar tentang ciri-ciri pelaku kepada bagian sketsa wajah, agar kita semua memiliki gambaran tentang baj*ngan itu.
"Baik, Kapten, tapi yang pasti dia adalah seorang penembak ulung, bukan hanya seseorang yang belajar menembak dari jalanan."
Alex berkata sambil kembali mengingat bagaimana cara pria itu memegang pistol dan melakukan penembakan yang hampir saja tepat sasaran kalau seandainya saja ia tak cepat berlindung.
"Ingat-ingat kembali apapun itu yang bisa memberikan kita petunjuk baru walaupun hanya sedikit," perintah Kapten yang dapat anggukan mengerti dari Alex dan Phillip sebelum akhirnya mereka berdua keluar dari ruangan itu.
Alex kembali ke mejanya dan kembali berkutat dengan berkas yang menumpuk di atas meja yang berantakan, matanya terlihat serius ketika membaca tentang kasus pembunuhan mahasiswa dengan peluru yang sama bersarang pada tubuhnya.
"Apa hubungannya dengan Ghost? Apa dia salah satu dari mereka?" Tanya Alex, membuat Phillip menggeser kursinya ke sebelahnya dan ikut melihat berkas seorang mahasiswa dengan rambut jagung dan bintik-bintik di hidungnya.
"Aku rasa bukan, dia hanya terlihat sebagai seorang mahasiswa biasa dengan latar keluarga biasa saja tidak ada yang mencolok. Bukankah Pedro mengatakan kalau anggota Ghost adalah orang-orang yang tidak bisa kita sentuh dengan sembarangan?"
Alex mengangguk mendengar penjelas Phillip, "Kalau begitu, apa mungkin dia adalah saksi dari salah satu aksi mereka?"
Mereka berdua terdiam beberapa saat memikirkan kemungkinan itu, Phillip seketika manatap Alex yang masih terlihat berpikir.
"Alex, apa mungkin kekasihmu juga merupakan salah satu saksi?" Tanya Phillip membuat Alex menatapnya dengan terkejut, dia tak berpikir sampai sejauh itu karena Alexa tidak pernah menceritakan apapun tentang kejadian aneh padanya.
"Tidak, Lexi pasti akan menceritakan kepadaku kalau dia melihat sesuatu yang mencurigakan," ucap Alex dengan setengah tidak yakin, dan akhirnya membuatnya mengumpat sambil mengambil ponselnya untuk menghubungi gadis itu.
"Halo."
"Lexi, ini aku Alex."
"Tentu saja kau Alex, apa kau kau pikir kau Bradly Cooper."
Alex memutar bola matanya mendengar ucapan Alexa.
"Dengarkan aku, apa kau melihat sesuatu yang aneh akhir-akhir ini?"
"Sesuatu yang aneh?"
"Iya, sesuatu yang aneh."
"Lebih aneh dari melihatmu membersihkan apartemen tadi pagi?"
Alex membuang napas berat, "Iya lebih aneh dari itu."
"Hmmm... tidak, melihatmu membersihkan apartemen adalah hal teraneh dalam hidupku. Apa kau menderita sakit parah yang tidak ku ketahui?" Tanya Alexa dengan serius, membuat Alex kembali membuang napas berat.
"Tidak aku tidak sakit."
"Oh syukurlah, aku kira kau baru mengetahui kalau kau menderita penyakit parah hingga akhirnya membuatmu mau membersihkan apartemen."
"Itu karena kau selalu mengomel setiap hari."
"Karena kau sangat jorok."
Alex tersenyum mendengar ucapan Alexa, "Baiklah kalau begitu, kalau kau mengingat sesuatu yang aneh.. tentu saja lebih aneh dari aku yang membersihkan apartemen, hubungi aku secepatnya ok?"
"Baiklah... Alex, tunggu! Kau masih ingat tentang seseorang yang mengirimiku bunga mawar dengan kartu berisi tulisan tentang karma?"
"Iya," jawab Alex yang tiba-tiba berubah serius.
"Aku mendapatkannya lagi belum lama ini, dan isi kartunya masih tetap tentang karma."
"Aku berniat untuk memberitahumu, tapi aku lupa."
"Kau dan penyakit lupamu itu... apa kartu itu masih ada padamu?"
"Iya, aku masih menyimpannya di dalam tas."
"Bagus, aku akan ke kantormu sekarang dan kita akan mulai menyelidiki tentang itu."
Alex menutup teleponnya, lalu berdiri sambil memakai jaket kulit kesayangannya dan pergi diikuti oleh Phillip di sampingnya. Tanpa menunggu lama setelah mendapatkan kartu itu dari Alexa, mereka mulai menyelidiki dari mana bunga itu berasal dan nasib baik sedang berpihak pada mereka kali ini, karena di belakang kartu itu tercetak nama dan alamat toko bunganya.
Setelah yakin kalau mereka berada ditempat yang benar, Alex dan Phillip masuk ke dalam toko yang menjajakan berbagai macam bunga dari seluruh dunia, seorang perempuan yang tengah merangkai bunga menyapa mereka dengan ramah. Alex dan Phillip memerlihatkan lencana mereka dan tanpa basa basi langsung mengajukan pertanyaan.
"Apa kartu ini berasal dari toko ini?" Phillip bertanya sambil memberikan kartu yang diberikan oleh Alexa.
"Iya," jawab pelayan tadi setelah mellihat nama yang tercetak di belakang kartu.
"Apa kalian memiliki data tentang para pelanggan?"
"Kami hanya mencatat pemesanan yang dikirimkan langsung oleh kurir kami, tapi kami tidak mencatat yang diambil langsung oleh pelanggan kami."
Alex dan Phillip saling berpandangan beberapa saat kemudian mengangguk.
"Bisakah kau melihat catatan pengiriman kepada Alexa Winchester?" Tanya Alex yang membuat si pelayan terlihat ragu untuk sementara sampai akhirnya Phillip mengingatkan kalau mereka adalah polisi dan meminta data itu untuk urusan penyelidikan.
Pelayan itu akhirnya mengetik sesuatu di keyboard komputernya dan akhirnya nama Alexa-pun muncul di layar.
"Iya, Alexa Winchester, kami melakukan pengiriman sebanyak tiga kali."
Alex dan Phillip terlihat bersemangat ketika mendengar hal itu.
"Apa bisa kau lihat siapa nama pengirimnya?"
Pelayan itu kembali menatap layar komputer untuk mencari apa yang diminta Phillip tapi kemudian ia mengglengkan kepala.
"Maafkan kami, tapi di sini tidak tertulis siapa nama pengirimnya, hanya ditulis seorang perempuan."
"Perempuan?" Tanya mereka berbarengan.
"Iya, perempuan, biasanya kami hanya menulis jenis kelamin dari pengirim kalau mereka ingin merahasiakan identitas mereka."
"Apa kau masih ingat ciri-ciri perempuan itu?" tanya Alex yang membuat pelayan itu terdiam beberapa saat terlihat berpikir.
"Maafkan saya, tapi saya tidak mengingatnya."
Alex membuang napas berat kecewa tapi ia kembali tersenyum untuk hanya untuk membuat pipi si pelayan memerah. Mereka terdiam beberapa saat sampai akhirnya Alex mengingat sesuatu.
"Tadi kau mengatakan kau melakukan tiga kali pengiriman?
"
Pelayan itu mengangguk membenarkan.
"Kapan yang terakhir?"
"Hari ini, kurir kami baru saja berangkat untuk mengirimkannya."
Seketika kedua detektif itu membelalakan mata ketika mendengar jawaban pelayan tadi.
“Apakah perempuan yang sama?”
"Tidak kali ini seorang pria."
"Pria?" Tanya Alex tak percaya.
"Iya pria kaya yang tampan," ucap pelayan itu sambil tersenyum.
"Apa dia juga tidak memberitahu namanya?"
Pelayan itu kembali melihat layar komputernya lalu dia mengelengkan kepala, "Tidak, Sir, kali ini dia memberi tahu namanya."
"Siapa dia?" Tanya Alex penasaran.
"Dean Tyler," jawab si pelayan yang langsung membuat Alex mengumpat.
*****