The Secret Identity (#3 The Secret Series)

The Secret Identity (#3 The Secret Series)
Bab 55



“Aaaa…” ucap Ethan dengan mulut terbuka yang langsung mendapat suapan apel dari Alexa yang duduk di samping tempat tidur ruang inapnya di rumah sakit. Kaki kirinya terlihat menggantung agar tak bergerak, ternyata selain luka yang memerlukan jahitan cukup banyak kaki pria itu-pun mengalami retak pada tulang betisnya. Alhasil kakinya harus di gips dan digantung untuk penyembuhan.


“Yang benar saja, seharusnya aku yang kau suapi, Lexi,” protes Alex yang duduk di atas kasur sebelah Ethan dengan mengenakan pakaian rumah sakit yang sama dengan adik Kerelyn Howard itu.


Ya, kedua pria itu berada di kamar yang sama walaupun awalnya keduanya menolak tapi orang-orang terdekat mereka meminta mereka berada di ruang yang sama agar bisa mengawasi keduanya langsung dan mereka menganggap itu lebih efisien daripada harus bulak-balik ke kamar yang berbeda. Tapi mereka lupa kalau keduanya kerap kali beradu mulut tiap kali bertemu, bahkan mereka akan dengan sengaja membuat satu sama lain marah seperti saat ini.


“Kau lupa kalau aku telah menyelamatkannya, dan dia telah berjanji akan merawatku sampai aku sembuh,” ujar Ethan dengan senyum kemenangan membuat Alex mendelik padanya.


“Ah! Kau benar, aku lupa,” ujar Alex dengan wajah seolah-olah dia baru mengingat hal itu, “Tentu saja aku akan membalas kebaikanmu,” lanjutnya dengan senyum di wajahnya membuat Ethan ikut mengangguk sambil tersenyum.


“Ah, baru kali ini aku setuju denganmu.” Ethan berkata dengan penuh kemenangan.


“Maka dari itu aku akan membiarkan ke-ka-sih-ku untuk merawatmu sampai kau keluar dari RS, dan setelah itu ke-ka-sih-ku akan merawatku seumur hidur, bukan begitu, Sayang?” Alex berkata dengan senyum sangat lebar membuat senyum kemenangan di wajah Ethan menghilang dan berganti dengan delikan sebal.


“Kalian berdua, berhentilah bertengkar seperti anak kecil,” ujar Alexa yang duduk di antara kedua tempat tidur itu sambil menatap keduanya tajam.


“Ah, lima hari mendengarkan kalian bertengkar seperti ini telah membuatku hampir gila,” protes Alexa sambil menggelengkan kepala.


“Lexa, kau hampir gila hanya mendengarkan mereka bertengkar selama lima hari ini, tapi kami harus mendengarkan kau dan Alex bertengkar seumur hidup kami,” ucap Daniel yang mendapat anggukan setuju dari Gerard.


Saat ini Daniel, Gerard, Raina dan Kerelyn tengah duduk di sofa ruang inap detektif dan model papan atas yang dipenuhi oleh karangan bunga yang dikirim oleh rekan kerja dan juga para penggemar mereka berdua. Mereka bahkan pernah ribut tentang siapa penerima bunga terbanyak, dan tentu saja di menangkan oleh Ethan mengingat profesinya yang dikenal publik lebih luas, dan hal itu menjadi senjatanya untuk membuat Alex bertambah kesal.


“Hei.. kami tak pernah bertengkar. Benarkan, Lexi?”


“Iya, kami tak pernah bertengkar,” jawab Alexa dengan wajah polos.


“Kalian mengatakan kalau kalian tak pernah bertengkar, itu sama saja seperti mengatakan kalau Justine Bieber adalah penemu Facebook,” ujar Gerard membuat yang lain tertawa tapi tidak Double A yang baru saja akan membuka mulut ketika pintu kamar itu terbuka.


“Kalian selalu saja membuat keributan di RS.”


Seorang perempuan bermata ember dan berambut hitam berkata sambil masuk ke dalam ruangan itu membuat semua orang berteriak kegirangan.


“Em!” seru Alexa yang langsung memeluk kembarannya itu penuh kerinduang, “Ah, aku merindukanmu.”


“Aku juga merindukanmu,” ucap Emily tanpa melepaskan pelukannya dengan senyum lebar diwajah keduanya.


“Apa kau tidak merindukanku?”


“Dylan!” Seru Alexa setelah melihat pria bermata hijau dan langsung memeluk saudara ipar sekaligus sahabatnya itu sama seperti ia memeluk Emily yang kini tengah berpelukan dengan yang lainnya.


“Apa kalian tak bisa menjauhi masalah sebentar saja? Aku hampir saja kena serangan jantung mendengar cerita malam itu. Bagaimana keadaan kalian?” cerocos Emily sambil memeluk Ethan dan Alex bergantian.


“Seperti kau lihat, Em, aku terlihat tampan seperti biasanya,” jawab Alex sambil mengedipkan sebelah mata membuat Emily tertawa.


“Dan bagaimana denganmu, Ethan? Aku sangat berterimakasih dan juga minta maaf kepadamu karena terlibat dalam kejadian ini,” ucap Emily sambil menatap Ethan dengan tulus.


“Tidak masalah, Em, aku seperti sedang shooting film action,” jawab Ethan sambil meringis yang membuat kembaran Alexa itu menatapnya dengan penuh simpati.


“Apa kau tak bisa hanya diam saja di rumah dan tidak terlibat masalah?”


Terdengar Dylan yang sedang memarahi Alexa layaknya kakak yang memerahi adik kecilnya yang nakal.


“Tahun kemarin kau hampir saja mati oleh orang gila itu, dan sekarang kau menerobos masuk ke dalam sarang penjahat? Kau bahkan hampir mati tertembak dulu. Demi Tuhan, Lexa, apa ‘Danger’ adalah nama tengahmu?”


Dylan menatap Alexa dengan tajam sedangkan yang lainnya terlihat santai dan sesekali terlihat senyum puas di wajah mereka melihat ‘anak nakal’ itu hanya bisa cemberut mendengar omelan sahabat dekatnya itu. Untung saja Theo belum datang kalau tidak akan bertambah satu orang lagi yang akan mengomelinya seperti ini.


“Kau salah, Dylan,” ucap Alex membuat semua orang menatap ke arah Alex yang terlihat duduk santai di atas tempat tidur dan itu membuat Alexa tersenyum lega karena merasa akhirnya ada seseorang yang , “Nama tengahnya bukan ‘Danger’,” lanjutnya dengan wajah serius yang membuat Alexa mengangguk tapi seketika ia kembali cemberut ketika mendengar apa yang kekasihnya itu ucapkan selanjutya.


“Tapi, Alexa ‘Trouble Maker’ Winchester.”


“Dia benar!” seru Gerard sambil tertawa terbahak-bahak membuat Alexa mendelik ke arahnya.


“Bukan aku yang pembuat masalah,” ucap Alexa berusaha membela diri, ”Tapi, kau… kau dan kau,” lanjutnya sambil menunjuk Daniel, Alex dan Dylan.


“Aku?!” jawab mereka bertiga berbarengan tak percaya yang membuat Alexa mengangguk dengan percaya diri.


“Iya kalian. Aku hampir dibunuh oleh orang gila karena berusaha menyelamatkan Daniel yang akan hancur berkeping-keping karena bom.”


“Tapi…”


Alexa mengangkat tangannya menyuruh kakaknya itu tidak melanjutkan apapun yang akan diucapkannya sambil menatapnya dengan tajam.


“Dan kau.” Kini Alexa menatap Dylan yang mulai terlihat seperti tersangka, “Kau lupa, kalau aku hampir saja mati tertembak karena menyelamatkanmu?"


“Dan kemarin aku menerobos sarang penjahat karena Alex dalam bahaya, jadi bukan aku yang ‘Trouble Maker’, tapi kalian bertiga.”


“Kau seharusnya menunggu polisi datang,” ucap Alex yang dapat sautan kata ‘Ya’ dari para ‘tersangka’.


“Bukankah aku sudah mengatakan kalau Phillip dan yang lainnya sedang dalam perjalanan, dan kau seharusnya tunggu mereka,” ujar Daniel yang kembali mendapat anggukan dari ‘tersangka’ lainnya.


“Polisi baru datang setelah kita berlarian di dalam hutan, apa kau lupa?” tanya Alexa dengan semangat.


“Dia benar.” Ethan berkata sambil menganggukkan kepala yang membuat Alexa bertambah semangat.


“Kalian dengar itukan? Bahkan Ethan saja mengerti, kita tak tahu apa yang akan terjadi di dalam selama kita menunggu polisi.”


Alex terdiam dalam hati ia membenarkan perkataan Alexa, dia masih ingat mungkin kalau tidak ada keributan yang diakibatkan oleh petasan karena ulah gadis itu, saat ini mereka semua tidak ada di dalam ruang rawat inapnya tapi sedang berada di pemakamannya. Tapi ia tak akan begitu saja mengakui hal itu yang harus ia lakukan sekarang adalah mencari kambing hitam lainnya.


“Ini salahmu!” Seru Alex sambil menatap Ethan yang terlihat tak mengerti, “Seharusnya kau melarang dia untuk melakukan hal gila,” lanjutnya membuat mulut Ethan menganga tak percaya kalau sekarang dia menjadi tersangka utama.


“Wow! Wow! Kenapa kau sekarang menyalahkan aku?”


“Karena kau seharusnya tidak mendukung ide gilanya.”


“Apa kau bisa menghentikannya?”


“Tentu saja.” Alex menjawab pertanyaan Ethan dengan ragu karena dia tahu dia tak akan bisa menghentikan seorang Alexa Winchester kalau dia sudah memiliki keinginan.


Perdebatan itu terus berlangsung tak ada seorang-pun yang mau mengalah membuat Alexa membuang napas berat, dia kemudian berjalan meninggalkan keduanya untuk bergabung bersama yang lainnya yang juga terlihat sedang berbincang-bincang tak menghiraukan kedua pasien itu.


“Dimana bayimu, Em, apa kalian membawanya ke sini?” tanya Alexa penasaran dengan keponakan barunya.


“Dia ada di rumah bersama Mom, kami tak mungkin membawanya ke RS.”


“Jadi dia ada di New York sekarang?” tanya Daniel yang dijawab anggukan oleh adiknya.


“Keren… aku akan pulang dan melihat keponakanku,” ucap Alexa sambil berdiri disusul yang lainnya dengan semangat.


“Bagaimana dengan mereka?” tanya Raina sambil menunjuk Alex dan Ethan yang belum berhenti berdebat.


“Biarkan saja, mereka sekarang ada di RS jadi dokter akan segera mengobati mereka kalau mereka berkelahi,” ucap Gerard santai.


“Kau benar… ayo!” ajak Daniel membuat mereka semua bejalan dengan santai keluar dari kamar itu meninggalkan keduanya yang tak sadar kalau sudah ditinggalan.


*****


Haiiii... besok epilog ya 😍