
‘Tidak, ini hanya kebetulan saja pin seperti itu banyak dijual bebas di pasaran,’ ucap Alexa dalam hati berupaya menenangkan diri, ia kembali menatap ke depan dengan cemas karena kini kepalanya dipenuhi oleh kecurigaan terhadap rekan sekaligus teman dekatnya selama ini.
Seketika matanya terbelalak menatap Kely ketika menyadari kalau hanya rekannya itu yang mengetahui tentang kepindahanya ke rumah di West Village. Alexa menggelengkan kepala mencoba mengusir kecurigaannya.
‘Tidak, bukan hanya Kely yang mengetahui tentang hal itu, beberapa rekan Polisi Alex juga mengetahui hal itu. Bisa saja informasi itu bocor tanpa sengaja.’ Alexa kembali mencari alasan untuk menyangkal kecurigaannya.
Matanya kini menunduk memandang ponselnya, dan kecurigaannya kembali muncul ketika mengingat kalau baterainya telah terisi penuh dan tak mungkin sampai mati karena kekurangan daya. Perlahan ia membalik ponsel itu dan diam-diam membukanya dan seketika matanya kembali terbelalak dengan jantung berdebar kencang. Ponselnya kosong tanpa baterai.
Ia memejamkan matanya erat ketika kecurigaannya kini telah terbukti, tanpa banyak bicara ia kembali memasang ponselnya kemudian menatap gadis berkacamata yang selama ini telah ia anggap sebagai teman dekatnya. Hatinya terasa sakit merasa terkhianati, selama ini ia merasa kalau ia telah berlaku baik kepada tamannya itu, atau lebih tepatnya orang yang ia anggap teman. Ia menceritakan semua rahasia hatinya layaknya dua orang perempuan yang berteman yang saling menceritakan rahasianya. Ia menganggap kalau ia telah mengenal Kely dengan sangat baik seperti Kely mengenalnya, tapi ternyata ia tak mengetahui apa-apa tentang gadis itu.
Alexa kembali tersadar dari lamunannya ketika menyadari kalau Kely membawanya ke arah berlawanan dari rumahnya di West Village.
“Kenapa kau berbelok ke sini?” tanya Alexa masih berusaha tenang, tangannya menggenggam jam tangan di tangan kirinya berharap yang lain akan menyadari ada sesuatu yang salah dengan dirinya.
Dalam hati ia bersyukur karena berdasarkan pengalaman pada kasus Emily dan Calista dulu dimana Gerard memasang alat pelacak di ponsel mereka tapi ternyata itu sia-sia karena hal itu lumrah terjadi dan biasanya para penjahat telah mengetahuinya, dan yang mereka lakukan terlebih dahulu adalah mematikannya atau membuangnya seperti yang kini dilakukan Kely.
Maka dari itu Gerard memiliki ide lain yaitu memasangnya pada jam tangan yang mereka kenakan, karena kecil kemungkinan para penjahat mengetahuinya dan dirasa lebih aman. Dan Alexa bersyukur untuk ide cemerlang dari kekasih Raina tersebut.
“Oh maafkan aku Lexa, aku lupa memberitahumu tapi kita akan mampir sebentar ke tempat salah satu klienku, kau tidak keberatankan? Itu tidak akan lama,” ucapnya dengan senyum mengembang membuat Alexa tersenyum hambar.
‘Ini tidak benar, aku harus melakukan sesuatu.’
Akal sehat Alexa telah kembali ketika melihat kalau kendaraan Kely kini telah meninggalkan hingar bingar kota New York dan semakin ke pinggiran kota dimana pemandangan gedung-gedung pencakar langit kini telah berubah menjadi deretan pohon-pohon red cedar yang menjulang tinggi di kanan kirinya.
“Kely,” panggil Alexa berusaha terlihat tenang sambil mencari sesuatu di dalam tasnya, “Kau tahu kalau salah satu dari mereka mendatangi rumah kami dan mengirimkan setangkai bunga,” tanya Alexa dan seketika ia bisa bernapas lega karena menemukan apa yang ia cari.
“Maksudmu bunga tulip putih dengan bercak merah, bukankah itu sangat menyeramkan, apa kalian telah mengetahui tentang identitas perempuan itu?” tanya Kely membuat Alexa terdiam dengan dada semakin bergemuruh ketika menyadari kalau ia tak pernah bercerita kepada siapapun kalau pengirimnya adalah seorang perempuan.
“Kely,” panggil Alexa membuat Kely menatapnya, “Aku tak pernah mengatakan kalau pengirimnya adalah perempuan,” lanjutnya sambil menyemprotkan cairan merica ke arah wajah Kely yang kini meraung kesakitan sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya sehingga membuat kendaraannya oleng.
Alexa membanting setir mobil ke arah pinggir hingga akhirnya berhenti dengan menabrak pohon. Tanpa membuang waktu ia keluar dari mobil dan berlari secepat yang ia bisa. Dari kejauhan terdengar teriakan Kely yang memaki dan menyuruhnya berhenti sambil mengeluarkan tembakan yang membuat Alexa merunduk sesaat sebelum kembali berlari sekuat tenaga.
Ia terus berlari menyusuri jalanan yang tadi mereka lewati berharap ada seseorang yang lewat dan memberinya pertolongan. Napasnya terengah, para-parunya mulai terasa panas terbakar karena kekuranagn oksigen, kakinya sudah terasa pegal tapi untung saja ia menuruti saran dari Raina yang menyuruhnya mengenakan sepatu kets. Raina memberi saran selama para penjahat itu belum tertangkap mereka bertiga harus menjauhi high heel supaya siap berlari kapanpun mereka dalam bahaya. Dan kini terbukti ia harus berlari menghindari penjahat yang ternyata temannya sendiri.
Alexa tak sanggup lagi berlari, ia merunduk dengan tangan ditumpukan di atas dengkul, napasnya memburu berusaha mengisi paru-parunya dengan udara segar. Matanya menatap ke arah depan berharap ada seseorang yang lewat dan seketika senyum mengembang ketika matanya menangkap ada sebuah mobil yang tengah melaju ke arahnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi Alexa berlari ke tengah jalan dengan tangan direntangkan berusaha menghentikan laju kendaraan yang tengah melaju, dan untung saja kendaraan itu berhenti tepat di depannya, membuatnya mengucap kata syukur sambil membuang napas lega.
“Alexa?”
Alexa menatap ke arah pria yang turun dari mobil dan kini menatapnya bingung.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya pria itu berjalan mendekati Alexa yang terlihat bingung melihat gadis itu terlihat ketakutan dengan napas terengah-engah.
“Ethan!” Seru Alexa merasa lega sambil tersenyum lebar, “Aku belum pernah sebahagia ini bertemu dengan mu,” lanjut Alex sambil memeluk Ethan dengan tulus.
“Oh, aku juga senang bertemu denganmu,” ujar Ethan sambil balik memeluk gadis bermata ember itu dengan wajah masih bingung, “Ada apa? Apa sesuatu yang buruk telah terjadi?”
“Ayo cepat putar balik!” perintah Alexa yang dituruti Ethan tanpa banyak komentar.
“Kely! Ternyata Kely!” Seru Alexa dengan kalut dan napas yang masih terengah.
“Kely?”
“Iya, dia adalah orang yang menaruh bunga tulip putih di rumahku!”
“Apa?!” seru Ethan terlihat terkejut, Kerelyn sebelumnya telah menceritakan tentang apa yang terjadi padanya dulu dan kini terjadi pada Alexa.
“Aku tak percaya ini,” ujar Alexa sambil menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
“Alex! Alex harus mengetahui tentang ini!” lanjut Alexa setelah tersadar dari keterkejutanya, “Ethan, ponselmu!” pintanya sambil menengadahkan tangan ke arah Ethan yang langsung mengambil ponsel dari saku celananya.
Tanpa menunggu lama Alexa langsung menghubungi Alex tapi sial kekasihnya itu tak mengangkat panggilannya, ia kemudian berinisiatif untuk menghubungi Daniel dan setelah menunggu beberapa saat kakaknya itu akhirnya mengangkatnya.
“Danile, ini aku,” ucap Alex seketika setelah panggilan itu tersambung.
“Lexa? Apa ini kau? Ini benar-benar kau?”
“Iya ini aku.”
“Apa kau baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja. Dengar, Daniel, sang ratu adalah Kely.”
“Kely?”
“Kely teman kerjaku.”
“Sial! Bagaimana bisa!”
“Dia berusaha menculikku tapi untung saja aku menyadarinya tadi dan berhasil melarikan diri dan bertemu dengan Ethan di jalan.”
“Oh syukurlah, Lexa, tadi Alex menghubungi kami dan meminta untuk melacak keberadaanmu dan kami menyadari ada yang salah ketika kau menuju arah berlawanan.”
“Alex, apa dia baik-baik saja? Aku tak bisa menghubunginya untuk memberitahu tentang Kely.”
“Dia belum menghubungi kami lagi dan langsung menutup telepon seketika setelah Gerard memberitahu tentang posisimu.”
Alexa menunduk dengan mata terpejam ia terdiam beberapa saat terlihat berpikir, merasa ada yang aneh Ethan menatap sekilas ke arahnya, dan pada saat bersamaan sebuah mobil dari awah berlawanan melintas tiba-tiba dengan kecepatan penuh dan itu membuat Ethan memaki karena ia terkejut dan membuat mobilnya sedikit oleng, tapi untung saja ia bisa kembali mengendalikannya kembali.
*****