
"Em, berhentilah tertawa!" Seru Alexa dengan wajah cemberut.
Saat ini ia tengah berbicara dengan kembarannya di telepon dan menceritakan tentang apa yang terjadi. Selain tentang aksi penembakan ia-pun tak lupa menceritakan tentang rencana Daniel dan yang lainnya yang ternyata sengaja membuat Alex tinggal bersamanya untuk menjodohkan mereka.
"Maafkan aku, Lexa, tapi aku tak bisa berhenti tertawa, darimana mereka memiliki ide untuk menjodohkan kalian?" Tanya Emily disela tawanya.
"Kau tak akan percaya kalau Daniel memiliki ide ini dari Kerelyn."
"Kerelyn?"
"Iya, Kerelyn," jawab Alexa sambil menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, tangannya lalu meraih boneka anjing chihua-hua berwarna pink yang dibelikan Alex untuknya.
"Dan... apa kau menyetujuinya?"
Alexa terdiam beberapa saat terlihat berpikir sambil mengelus-elus boneka yang selalu menemaninya tidur itu.
"Yang benar saja, Em, apa kau mau aku terkena stroke di usia muda?"
Emily kembali tertawa mendengar jawaban Alexa.
"Menurutku tidak ada yang salah dengannya, dia sangat tampan dan hei, apa kau tak ingat ketika kita kecil dulu kau selalu meminta Alex untuk jadi pengantinmu ketika kita bermain rumah-rumahan."
Alexa mendengus tertawa mengingat kejadian masa kecilnya, Emily memang benar ia selalu memilih Alex untuk jadi pasangannya, dan walaupun sambil marah-marah tapi pria bermata biru itu akan bersedia melakukannya, dan biasanya mereka juga memaksa Gerard dan Daniel untuk bergabung dengan mereka yang mau tidak mau harus ikut.
"Yeah, tapi itu dulu, Em."
"Aku rasa kau sudah menyukainya dari kecil."
"Dan apa kau lupa kalau aku juga menyukai Bart Simpson."
Mereka kembali tertawa dan untuk beberapa saat larut dalam pembicaraan ingatan masa kecil, sampai akhirnya Emily berkata.
"Lexa, mungkin kau tidak tahu, tapi menurutku kalian pasangan yang cocok."
"Oh yang benar saja.. kami lebih sering bertengkar kalau bertemu."
"Tapi kalian juga bisa saling mengisi satu sama lain... mungkin di antara para perempuan yang dekat dengannya kaulah yang paling bisa memahaminya, dan begitu juga sebaliknya... jadi menurutku tidak ada salahnya kau mencoba untuk berhubungan dengannya... kalau aku boleh jujur, aku akan lebih bahagia kalau Alex adalah jodohmu, karena tidak akan ada yang menjagamu sebaik dirinya."
Alexa terdiam memikirkan perkataan Emily, jujur saja ia-pun sempat memikirkan hal yang sama. Ia sering putus dengan pria lain karena ia sering kali membandingkan mereka dengan Alex, walaupun saat itu ia berpikir hal itu sangat wajar karena Alex sudah seperti kakaknya sendiri. Tapi sekarang berbeda, ada perasaan lain ketika ia memikirkannya, perasaan ingin memiliki seutuhnya bukan sebagai seorang kakak, tapi sebagai seorang pria. Apa mungkin ia telah jatuh cinta pada pria berlesung pipit itu?
"Entahlah, Em, aku masih belum tahu dengan perasaanku sendiri. Dan kalaupun, misalnya, ini hanya misalnya saja... bilang saja aku mencintainya, apa dia juga memiliki perasaan yang sama denganku? Oh, Em, aku sangat takut kalau dia hanya menyayangiku seperti seorang adik, aku tak ingin terluka lebih jauh lagi."
"Lexa, apa kau mencintainya?"
"Aku.. aku tak tahu, Em," jawab Alexa terdengar putus asa dan itu membuat Emily bisa merasakan keputus asaan yang sama yang dirasakannya.
"Tidak apa-apa, Lexa, pelan-pelan kau coba pahami apa yang sebenarnya yang kau rasakan padanya, aku akan mendukungmu sepenuhnya... walaupun aku tetap berharap kalau Alex yang akan menjadi iparku."
"Emily, yang benar saja!" seru Alexa sambil mendengus tertawa, dan dia bisa mendengar di seberang sana kembarannyapun ikut tertawa, tapi tiba-tiba suaranya berubah menjadi tersengal-sengal.
"Ooo..h... Lexa, aku rasa aku akan melahirkan."
Alexa seketika membelalak dengan wajah cemas.
"Ooo..h, Em, Apa yang harus aku lakukan!" Seru Alexa sambil melompat dari tempat tidur dan mulai berjalan mundar-mandir.
"Lexa, perutku semakin... SAKIT! Aaarrrgghhh!"
"Aaarrrgghh... panggil, Mom!"
"Mom!!!... AAARRGGGHHH."
"AAAARRRGGGHHHH!" Alexa ikut berteriak sambil berlari keluar kamarnya membuat Alex langsung melompat siaga dengan pistol di tanganya.
"Ada apa?" tanyanya dengan cemas.
"Em, apa kau masih di sana?" Tanya Alexa.
"I..iya," jawab Emily dengan suara tersengal-sengal.
"Oke, sekarang tenang.. ambil napas... buang napas..." perintah Alexa dan diapun melakukan hal yang sama sambil terus berjalan mengelilingi ruangan dengan Alex yang mengikuti di belakang, bahkan pria itu-pun ikut melakukan pengaturan napas seperti halnya Alexa.
"Apa, Mom, sudah bersamamu?"
"Mom... menyuruh... Supir... mobil," jawab Emily di antara pengatauran napasnya.
"Mom, sedang menyuruh supir menyiapkan mobil?"
"Iya... aaarrrgghhh!!!"
"Aaarrgghhh!" Alexa kembali ikut berteriak tapi kali ini Alex-pun ikut berteriak bersamanya.
"Apa Dylan, bersamamu?"
"Dia... huufftt... di kantor."
"Sial! Apa yang dia lakukan di kantor jam segini!!" Seru Alexa dengan emosi sambil menatap Alex yang terlihat terkejut kenapa tiba-tiba gadis itu melotot ke arahnya.
"Kau! Hubungi Dylan, sekarang!"
Tanpa banyak membantah Alex langsung mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan langasung menghubungi Dylan.
"Lexa, ini, Mom, aku akan membawa Emily ke rumah sakit sekarang, suruh Dylan langsung ke sana dan hubungi Ayahmu, beri tahu kalau cucunya akan segera lahir," perintah ibunya sebelum akhirnya teleponnya terputus.
Dengan tangan gemetar dia menjalankan perintah dari ibunya untuk menghubungi ayahnya, dan bisa ditebak sang Senator-pun terdengar terkejut dengan kabar itu dan akan langsung terbang dari DC menuju London karena tak ingin ketinggalan saat cucu pertamanya lahir.
Detik, menit, jam telah berlalu dan belum ada kabar tentang kondisi terbaru dari London, apartemen Alexa kini telah berubah seperti ruang tunggu rumah sakit bersalin. Daniel, Kerelyn, Gerard, Theo dan Calista tanpa pemberitahuan terlebih dahulu langsung datang ke tempat itu setelah mendapat kabar, seolah-olah kalau itu adalah tempat dimana Emily akan melahirkan. Alhasil diruangan sempit itu kini terdapat 7 orang yang terlihat cemas dan tegang.
Tak ada suara yang keluar dari mulut mereka semua, mereka hanya berjalan mundar- mandir dan walaupun duduk tetap saja terlihat tidak nyaman. Setiap salah satu ponsel dari mereka berbunyi mereka akan langsung diam tak bergerak dan hanya menatap posel itu berharap mendapat kabar baik, tapi wajah mereka kembali terlihat kecewa karena ternyata telepon itu bukan dari London.
Sampai akhirnya semua ponsel yang berada di dalam ruangan itu bunyi hampir berbarengan, menandakan ada pesan yang masuk. Mereka saling pandang beberapa saat lalu mulai membuka isi pesan itu dan seketika mata mereka terbelalak dengan senyum mengembang di bibir semuanya, ketika melihat foto seorang bayi yang sangat lucu sedang tertidur dengan lelap.
"Christoper McArtur... dia sangat tampan seperti Ayahnya,memiliki mata hijau sepertiku juga, dia benar-benar seperti aku!! HEI... I'M A DAD!!! HAHAHA... oh iya, kalian tak usah khawatir Emily dan bayi kami dalam keadaan baik-baik saja... YUHOOO.. I'M A DAD!!!"
Semua orang kini melonjak gembira setelah membaca isi pesan itu, gelak tawa dan tangis haru mengisi ruangan itu, mereka saling berpelukan sambil melompat-lompat bak pemain football yang merayakan kemenangannya.
"Aah.. aku tak percaya kalau sekarang aku memiliki seorang keponakan," ujar Daniel dengan senyum mengembang, yang dapat anggukan dari semuanya.
"Dia juga keponakanku," ucap Theo tak mau kalah.
"Dia keponakan kita semua."
Ucapan Gerarad itu mendapat anggukan dari semuanya yang kembali tertawa bahagia, tapi tiba-tiba terdengar tangisan dari Alexa yang membuat semua orang menatapnya.
"Dia terlalu bahagia sampai menangis seperti bayi," ucap Alex sambil mengacak-acak rambut Alexa yang menangis semakin kencang.
"Kembaranku sudah memiliki seorang bayi... sedangkan aku, pacar saja tak punya.. uwaaaa..." teriaknya sambil menangis membuat semua orang tertawa melihatnya.
"Hei.. bukankah aku sekarang kekasihmu, bagaimana bisa kau tidak mengakuinya!" Seru Alex membuat Alexa menatapnya beberapa saat.
"Aku ingin punya pacar pewaris perusahaan seperti Dylan, bukan detektif playboy sepertimu," jawab Alexa sambil membuang ingus di tisu yang diberikan Alex untuknya. Mendengar itu pria bermata biru itu hanya menggelengkan kepala lalu melap muka Alexa yang basah karena airmata dengan kasar membuat gadis itu menjerit protes.
"Sekarang aku bisa tidur dengan tenang," ujar Theo sambil berdiri lalu meregangkan badannya, disusul oleh yang lainya tak menghiraukan Alex yang berteriak meminta tolong karena dijambak oleh Alexa.
"Kami pulang sekarang... bye!" seru Daniel dan yang lainnya, sambil berjalan pergi meniggalkan double A yang kini terlihat Alex sedang memiting kepala Alexa di antara ketiaknya.
"Ya Tuhan... apa yang merasuki pikiran kita kemarin, hingga menjodohkan mereka berdua," ucap Gerard sambil menggelengkan kepala setelah mereka keluar dari apartemen itu, membuat semunya membuang napas berat dan ikut menggelengkan kepala tak mengerti.
*****