The Secret Identity (#3 The Secret Series)

The Secret Identity (#3 The Secret Series)
Bab 13



"Apa yang sedang kau pikirkan?" Daniel bertanya ketika melihat Alex terlihat sedang memikirkan sesuatu. Saat ini mereka tengah berada di The Rock sedang menikmati minuman seperti biasanya.


"Tidak ada, aku hanya memikirkan sebuah kasus yang cukup rumit," jawab Alex sambil menatap Daniel lalu meneguk minumannya.


"Apa ada kemajuan tentang keadaan, Lexa?" kali ini Gerard yang bertanya yang di jawab Alex dengan gelengan kepala.


"Tidak, belum ada hal lain yang mencurigakan," jawab Alex yang membuat Daniel dan Gerard mengangkat alisnya.


"Apa kau mungkin salah tentang itu?" tanya Daniel yang membuat Alex menatap kedua sahabatnya tak percaya.


"Kalian tak memercayaiku?"


"Bukan itu maksudku, tapi sampai sekarang kita belum mendapat petunjuk apapun tentang keberadaan mereka," ucap Daniel yang mendapat anggukan dari Gerard.


"Percayalah aku juga berharap kalau aku salah, tapi bukankah kau juga mendapatkan bukti kalau seseorang menyabotasi kamera keamanan apartemennya, G, dan aku sangat yakin malam itu aku mendengar beberapa orang mencoba memasuki apartemen Lexi," ujar Alex membuat kedua sahabatnya kembali terdiam.


"Baiklah, kita tetap mengawasi Lexa secara diam-diam seperti rencana awal... tapi sepertinya kita memerlukan alasan lain agar kau bisa tetap tinggal bersamanya." Ucapan Daniel itu membuat ketiganya menganggukkan kepala.


"Hei, bukankah sekarang kalian berpacaran," ucap Gerard membuat ketiganya tertawa.


"Oh, percayalah dia akan sangat marah kalau diingatkan tentang itu," ucap Alex sambil meneguk minumannya.


Untuk sesaat Daniel hanya terdiam memerhatikan sahabatnya yang seperti biasa hari ini terlihat sangat keren dengan jaket kulit hitamnya, profesinya yang berbeda dengan dirinya dan Gerard membuat Alex jarang sekali berpakaian resmi seperti para pekerja kantoran pada umumnya, tapi walaupun seperti itu dirinya selalu sukses menjadi bahan perhatian kaum hawa.


Seperti saat ini seorang perempuan cantik berambut panjang berwarna coklat terang, terlihat mencari perhatiannya dari tadi, tapi Alex tak menunjukan ketertarikannya sama sekali dan kini perempuan itu terlihat putus asa hingga akhirnya dia mendekati meja mereka.


"Halo, apa aku mengganggu kalian?" tanyanya dengan senyum menggoda.


"Tidak," jawab Gerard yang membuat senyum perempuan itu semakin lebar.


"Apa kau Daniel Winchester?" tanyanya kembali sambil menatap Daniel yang yang tersenyum ramah sambil mengangguk.


"Aku tahu itu... kau terlihat jauh lebih tampan kalau dilihat secara langsung," lanjutnya yang membuat Daniel kembali tersenyum.


"Terimakasih," ucapanya ramah.


"Maafkan aku lupa memperkenalkan diri, aku Rebeca," ujarnya sambil mengulurkan tangan.


"Senang berkenalan denganmu, Rebeca.. ini temanku Gerard dan ini Alex." Daniel mengenalkan mereka yang kini terlihat saling berjabat tangan, dan seperti yang ia duga dirinya hanya dijadikan sebagai batu loncatan perempuan itu untuk berkenalan dengan Alex.


Tapi sepertinya Don Juan kita yang itu kurang tertarik karena setelah basa basi berkenalan kini dia kembali terdiam sambil menikmati minumannya, sampai akhirnya suara perempuan yang mereka kenal membuatnya membalikan badan dan seketika wajahnya-pun tersenyum menyambut perempuan bermata amber itu.


"Hei, Lexi, bagaimana kau tahu kalau aku ada di sini?" tanya Alex sambil tersenyum menatap Alexa yang hanya menatapnya acuh tak acuh.


"Aku tak tahu kau ada di sini," jawabnya santai sambil duduk di kursi yang tersedia di sana, "Hai, apa kau teman salah satu dari mereka?" lanjutnya sambil menatap Rebeca yang terlihat terkejut dengan perubahan suasana di sekitarnya.


"Kami baru saja berkenalan... Rebeca, ini adikku, Alexa," ujar Daniel mengenalkan keduanya.


"Kalian baru berkenalan?" tanya Alexa sambil menatap perempuan di hadapannya yang dijawab dengan anggukan dan senyuman.


"Kalau kau mendekati mereka untuk berkencan dengan salah satunya, sebaiknya kau berpikir ulang," ucap Alexa yang membuat Gerard menyemburkan minumannya dan perempuan itu menatapnya terlihat bingung.


"Apa ada masalah kalau aku mendekati mereka untuk berkencan?" Rebeca balik bertanya sambil menatap Alexa terlihat mengintimidasi tapi sayang itu tidak berpengaruh kepada perempuan berambut coklat itu karena dia hanya menatapnya santai sambil menganggukkan kepala.


"Iya tentu saja. Kau tahukan kalau kakakku sudah bertunangan dengan Kerelyn, dan percayalah dia akan berubah jadi bertanduk kalau melihat perempuan lain mendekati tunangannya,” ucap Alexa yang membuat Daniel hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum.


"Sedangkan dia," ucap Alexa sambil menunjuk Gerard.


"Kekasihnya memiliki sabuk hitam, dan sangat.. sangat pandai berkelahi, bahkan belum lama ini dia berhasil mengalahkan beberapa anak buah seorang gembong narkoba hanya dalam beberapa menit."


Rebeca menatap Gerard dengan sorot mata terkejut yang hanya ditanggapi dengan senyuman santai dari pria berkacamata itu.


"Lexi, kau bilang kalau kau tak tahu aku ada di sini, jadi apa yang kau lakukan di sini seorang diri?" tanya Alex tak peduli dengan tatapan menilai dari perempuan yang dari tadi bermain mata kepadanya.


"Aku baru pulang makan malam bersama Dean ketika aku melihat mobil kalian terparkir di sana, jadi aku menebak kalau kalian bertiga sedang berada di sini. Dan tebakanku ternyata benar," jawab Alexa sambil tersenyum bahagia karena tebakannya benar.


"Tunggu dulu! Kau apa? Makan malam bersama siapa?" tanya Alex sambil menatap Alexa tak percaya.


"Makan malam bersama Dean," jawab perempuan bermata amber itu santai.


"Lexi, kita baru saja berpacaran kemarin dan kini kau sudah berselingkuh," ujar Alex yang membuat Alexa menatapnya tak percaya.


"Kita tidak berpacara, kau menjebakku, dan aku tidak selingkuh, aku hanya makan malam saja."


"Oh Tuhan, aku tak percaya ini... Lexi, mereka berdua bahkan melihat kalau kita bersalaman dan itu tandanya kalau kita telah resmi jadi sepasang kekasih, benarkan?"


Alex menatap kedua sahabatnya yang mengangguk membenarkan membuat Alexa menganga tak percaya, tapi kedua pria itu hanya duduk santai sambil menikmati minumannya, sedangkan Rebeca terlihat terkejut mendengar pertengkaran 'sepasang kekasih' itu.


"Tidak usah menghiraukan mereka, mereka memang seperti Tom and Jerry," ucap Gerard sambil menatap Rebeca yang masih terlihat bingung.


"Kau lihat itu, mereka setuju denganku," ujar Alex sambil melipat tangan di atas dadanya dan menatap Alexa yang juga menatapnya tajam.


"Tapi... tapi.. aku tidak selingkuh, aku hanya makan malam bersamanya saja," ucap Alexa mencoba menjelaskan.


"Lexi, kau seharusnya makan malam bersamaku. Bukannya bersama pria lain."


"Kau belum makan malam?" tanya Alexa.


"Dia sudah makan malam bersama kami," Gerard yang menjawab pertanyaan itu dan dibenarkan oleh Daniel, yang membuat Alex menatap mereka tak percaya.


"Kau sudah makan malam bersama dengan mereka, tapi kau melarangku makan malam?" tanya Alexa tak percaya.


"Aku tak melarangmu makan malam, aku hanya tidak suka kau makan malam dengan pria lain!" seru Alex yang membuat Alexa terdiam beberapa saat kemudian tersenyum miring.


"Apa kau cemburu? Alex kau cemburu!" ujar Alexa sambil tertawa menatap Alex yang terlihat tak percaya.


"Aku.. cemburu? Yang benar saja, Lexi."


"Sebaiknya kau mengaku saja kalau kau cemburu... jangan katakan kalau kau benar-benar jatuh cinta padaku, kalau itu benar berarti aku yang memenangkan taruhannya," ucap Alexa dengan senyum lebar sambil menatap Alex yang terdiam beberapa saat sebelum akhirnya ia mencondongkan tubuhnya ke arah Alexa yang membelalakan mata melihat bagaimana wajah mereka sangat dekat saat ini.


Wajah mereka begitu dekat, Alexa kini bisa melihat mata tajam berwarna biru milik Alex yang bisa membuatnya tersesat hanya dengan hanya menatapnya, kini matanya turun menatap hidung mancung milik pria itu dan akhirnya ia mentap bibir seksi yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak sepersekian detik sebelum akhirnya berdetak hebat. Apa ia harus mencoba saran Emily untuk menciumnya? Jantungnya semakin berdetak kencang, dan pipinya terasa panas walau hanya dengan memikirkannya saja.


"Lexi, kenapa pipimu memerah, apa yang kau pikirkan?"


Perkataan Alex itu sukses membuat logika dan akal sehatnya kembali, ia kembali menatap mata Alex yang tersenyum geli, kemudian dia mendorong tubuhnya hingga menjauh dan seketika tawanya mulai terdengar.


"Well, aku rasa kau yang sudah jatuh cinta padaku," lanjut Alex sambil tersenyum menatap Alexa.


"Hah, yang benar saja! Kau terlalu banyak berkhayal," ucap Alexa sambil mengambil minuman di depannya lalu meneguknya sampai habis.


"Lexa, jangan!" Seru Gerard berusaha menghentikan Alexa yang meneguk minumannya, tapi terlambat karena kini cairan berwarna keemasan itu telah masuk ke dalam tubuh perempuan bermata amber.


Mereka bertiga kini saling pandang ketika menyadari kalau perempuan yang kini terlihat memerah itu tak terbiasa dengan minuman beralkohol, tapi kini ia baru saja ia menghabiskan ¾ gelas minuman dengan kadar alkohol cukup tinggi.


"Apa yang kau minum?" tanya Alex sambil menatap Gerard.


"Minuman sepert biasa, tenang saja kadarnya tidak terlulu tinggi."


Gerard baru saja menutup mulutnya ketika kepala Alexa jatuh ke atas meja tak sadarkan diri, membuat ketiga pria itu membuang napas berat sambil menggelengkan kepala.


*****