
Alex berlari memasuki kantor NYPD setelah mendapat telepon dari Phillip kalau Alexa sedang berada di kantor polisi karena suatu masalah, seperti orang gila dia menyetir mobilnya dari apartemennya di daerah Midtown ke kantor NYPD, jantungnya berdetak hebat karena takut sesuatu terjadi kepada gadis bermata amber itu.
Setibanya di kantor ia terus masuk mencari sosok yang selalu membuatnya hampir terkena serangan jantung karena kelakuannya yang sering menantang bahaya. Dan akhirnya ia bisa bernapas lega ketika melihat Alexa tengah duduk dengan santai di sebelah pria yang terlihat marah dengan tangan terborgol ke belakang, dan Philip duduk di depan mereka.
“Lexi, apa kau tak apa-apa?” tanya Alex dengan cemas.
“Aku tidak apa-apa,” jawab Alexa sambil tersenyum.
“Man, bukan dia yang terluka tapi aku, dan aku akan menuntutnya!” seru pria yang ternyata memiliki benjol cukup besar di jidat dan hidungnya terlihat patah.
“Aku tak melakukan apa-apa. Kau lari ke arahku setelah menjambret tas Nenek itu,” ucap Alexa sambil menunjuk seorang nenek yang duduk tak jauh darinya sambil mengangguk membenarkan.
“Lalu kau tersandung kakiku, dan hei! Jangan salahkan aku kalau kau terjatuh dengan menabrak tiang listrik, hingga hidungmu patah,” lanjut Alexa yang membuat pria itu kembali terlihat marah dan akan menyerangnya tapi Alex yang berdiri di samping gadis itu bergerak lebih cepat, dia menonjok hidung pria itu hingga kembali berdarah sampai meraung kesakitan.
“Ayo kita pergi dari sini... Phil, aku menyerahkannya padamu,” ujar Alex sambil menatap Philip yang mengangguk mengerti sambil menarik Alexa meninggalkan penjambret yang mengeluarkan sumpah serapah kepadanya dan mereka bisa mendengar ketika Philip tertawa sambil mengatakan kepada pria itu kalau ini adalah hari sialnya karena mengganggu orang yang salah.
“Demi Tuhan, Lexi, tak bisakah sehari saja kau tak membuat masalah.” Alex berkata sambil berjalan keluar.
“Aku tak mencari masalah... apa kau pikir aku akan diam saja melihat Nenek-Nenek itu kehilangan tasnya?”
Alex membuang napas berat, tentu saja Alexa tak akan membiarkan hal itu terjadi. Alexa Winchester, putri bungsu keluarga Winchester sebenarnya adalah seorang gadis penakut, ceroboh dan pelupa tapi dia juga seorang yang setia terhadap teman-temannya dan memiliki rasa empati tinggi terhadap sesama, itulah kenapa dia tidak bisa melihat ketidak adilan terjadi dihadapannya, walaupun dia sendiri gemetar ketakutan tapi ia tak akan hanya tinggal diam dengan hanya melihat saja.
“Jadi itu tidak disengaja?” tanya Alex sambil berjalan di samping Alexa menuju tempat parkir.
“Tidak,” jawab Alexa yang membuat Alex tertawa sambil menggelengkan kepala, ia sudah menduga hal itu.
“Aku melihatnya berlari ke arahku setelah menjabret Nenek itu, jadi yang aku lakukan hanya menjulurkan kakiku dan sedikit mendorongnya hingga kepalanya membentur tiang listrik,” lanjut Alexa yang membuat Alex kembali tertawa tapi tawanya tiba-tiba terhenti ketika seseorang memanggilnya.
“Hai, Lucy!” Sapa Alexa dengan ramah, setelah melihat kalau orang yang memanggil Alex adalah Lucy, mantan teman kencan Alex sekaligus rekan kerjanya di NYPD.
“Oh, Hai... bagaimana kabarmu?”
“Baik,” jawab Alexa.
“Aku pikir kau sudah pulang tadi,” ujar Lucy sambil menatap Alex menatapnya santai.
“Iya, tadi aku baru akan tidur ketika Phillip menghubungi dan mengatakan kalau anak ini sedang berada di kantor polisi dan membuat masalah... lagi.”
Alex berkata sambil menatap Alexa dengan mata memicing membuat gadis itu langsung pura-pura mengangkat telepon dan pergi menjauh membuat Alex tersenyum sambil menggelengkan kepala.
“Hmm, Alex, apa kau sudah makan? Apa kau mau makan siang bersamaku?” Lucy kembali bertanya sambil menatap Alex penuh harap.
“Lucy, maafkan aku... aku benar-benar lelah hari ini, dan rencananya hari ini aku akan tidur seharian sampai nanti malam dan siap-siap untuk kembali bertugas... mungkin lain waktu,” ucap Alex berusaha menolak ajakan perempuan yang pernah ia kencani itu sehalus mungkin.
“Baiklah... lain waktu,” ujar Lucy berusaha mengerti kondisi Alex saat ini yang terlihat begitu lelah karena semalaman dia harus melakukan pengintaian.
“Lexi, apa kau sudah selasai?!” Seru Alex membuat Alexa memasukan ponselnya ke dalam tas, lalu berjalan ke arahnya.
“Sampai jumpa, Lucy,” ucap Alexa ketika berpapasan dengannya dan mendapat anggukan dari perempuan itu.
“Ayo pergi, aku sudah sangat lapar,” ucap Alexa sambil berjalan menuju mobil Alex.
“Kau belum makan?” tanya Alex tak percaya.
“Apa kau lupa kalau aku baru keluar dari kantor polisi? Dan mereka tak menyediakan makan siang di dalam sana,” ucap Alexa yang kini telah berdiri di depan pintu kursi penumpang mobil Alex.
“Baiklah, kita pergi makan siang dulu dan setelah itu aku akan mengurungmu di dalam apartemen supaya kau tak membuat masalah selama aku tidur.” Alex berkata sambil masuk ke dalam mobilnya yang langsung mendapat seruan protes dari Alexa.
Diam-diam tanpa mereka sadari Lucy melihat dan mendengar itu semua dan hatinya terasa sakit. Sudah lama ia menyukai Alex MacKena tapi selama ini pria itu tak pernah memberinya perhatian lebih dari sekedar rekan di kepolisian, bahkan ketika mereka berkencanpun Alex tak pernah memberinya perhatian lebih, dia-lah yang selalu berinisisatif mendekati dan mengajaknya berkencan. Tapi setelah bertemu dengan Alexa dia menyadari kalau ternyata hati pria itu telah dimiliki oleh gadis bermata amber itu.
“Jadi kau masih berkencan dengan Lucy?” tanya Alexa tak percaya sambil memakan spageti seafood miliknya, mereka saat ini tengah makan siang di sebuah restoran Itali.
“Tidak, aku telah memutuskannya tapi dia sepertinya tak bisa menerima hal itu... ah, inilah kenapa aku tak mau berkomitmen dengan seorang perempuan, mereka terlalu banyak menuntut,” ucap Alex sambil memakan fetuchininya.
Alexa menggeleng dengan mulut penuh, “Tidak semuanya, Alex... kau hanya kebetulan saja bertemu dengan perempuan seperti itu,” ucapnya setelah menelan makanannya.
“Katakan padaku, kalau misalnya kekasihmu memutuskanmu apa kau masih akan mengejar-ngejarnya?”
“Jadi kau akan menerima begitu saja keputusannya?” Alex kembali bertanya sambil menatap Alexa dengan menumpukan kedua tangannya di atas meja, melihat Alexa sedang makan selalu menyenangkan baginya, walaupun sering kali ia menggodanya dengan sengaja merebut makanannya.
“Tentu saja tidak... aku akan menanyakan alasannya terlebih dahulu, lalu setelah itu aku akan memutuskan apa aku akan memukulnya atau tidak,” ucapan santai Alexa itu sukses membuat Alex tertawa.
“Ya Tuhan, Lexi... aku bersyukur karena kau bukan kekasihku,” ucap Alex sambil mengambil gelas yang berisi air mineral.
“Oh, percayalah aku juga bersyukur karena kau bukan kekasihku.. dan jangan panggil aku, Lexi!” Seru Alexa yang kembali membuat Alex tertawa sambil menggeleng.
“Percayalah, Lexi (Alexa memutar bola matanya) aku sebenaranya adalah seorang yang setia hanya saja aku belum menemukan seseorang yang membuat jantungku berdetak hebat hanya dengan melihatnya saja,” ucap Alex sambil berpangku tangan memerhatikan Alexa yang duduk di depannya.
“Kalau begitu, kau harus bertemu psikopat gila seperti yang mengejar-ngejar Kerelyn kemarin, aku yakin jantungmu akan langsung berdetak hebat hanya dengan sekali melihatnya,” ucap Alexa sambil bergidik ketika mengingat dia hampir saja meninggal gara-gara orang gila itu.
Alex terdiam mengingat ketika mereka semua hampir saja kehilangan Alexa kalau saja ia terlambat beberapa detik, dan itu merupakan pemandangan yang paling mengerikan dalam hidupnya sama seperti ketika melihatnya bersimbah darah tertembak dalam kasus Dylan. Ia merasa jantungnya seolah ikut berhenti saat itu.
“Aku harap Lucy tak memiliki kebun bunga tulip putih dengan bercak merah,” lanjut Alexa sambil tersenyum meledek yang membuat Alex kembali tersadar dari lamunannya.
“Kalau dia memilikinya yang akan dia kirim pertama kali adalah kau,” ucap Alex membuat Alexa membelalakan mata tak percaya.
“Aku? Kenapa aku?”
“Karena dia cemburu padamu.”
“Dia apa?”
“Cemburu padamu.”
“Ya Tuhan, Alex, dia benar-benar gila,” ucap Alexa sambil tertawa terbahak-bahak.
“Aku tahu.”
“Dan kau berkencan dengan orang gila... Ya Tuhan, aku harap dia benar-benar tak memiliki kebun bunga tulip,” ucap Alexa masih tertawa.
“Dia tak memilikinya, tapi dia bisa membelinya di toko bunga.”
“Alex!” Seru Alexa setelah menghentikan tawanya secara tiba-tiba dan kini menatap pria dihadapannya dengan pandangan tak percaya.
“Apa?” ujar Alex santai terlihat tak berdosa.
“Kalau sampai aku mendapatkan bunga tulip dan aku mati, aku bersumpah akan menghantuimu seumur hidup,” ujar Alexa dengan wajah serius yang membuat Alex tertawa.
“Tidak usah khawatir, aku akan membunuhnya terlebih dahulu sebelum dia menyentuhmu,” ucap Alex membuat Alexa tersenyum, dia lalu mengambil tasnya dan bersiap-siap pergi.
“Ayo kita pergi sekarang, kau sudah seperti Zombie,” ujar Alexa sambil berdiri, yang dituruti Alex dengan senang hati.
“Zombie yang sangat tampan,” ucap Alex sambil berjalan di samping Alexa menuju luar.
“Dan yang paling menyebalkan.”
“Pria menyebalkan itu jauh lebih seksi,” ujar Alex sambil merangkul bahu Alexa dan berjalan di trotoar menuju mobilnya.
“Pria menyebalkan itu tetap saja menyebalkan... yang seksi itu seperti dia.” Alexa menunjuk sebuah billbord yang memasang iklan celana dalam pria dengan model seorang pria tampan dengan badan kekar nan seksinya.
“Ckk... dia hanya memiliki sekumpulan steroid dalam tubuhnya.”
“Kumpulan steroid yang tampan dan seksi,” ucap Alexa sambil menatap gambar itu dengan wajah mendamba membuat Alex menutup mata gadis itu lalu menyeretnya masuk ke mobil, tak memedulikan protes darinya.
Alex sampai di apartemennya di daerah Midtown setelah sebelumnya mengantarkan Alexa kembali ke tempat kerja. Apartemennya tak seperti milik Daniel yang rapi dan teratur, apa lagi seperti milik Dylan dan Theo yang eksklusif. Apartemenya lebih kecil dari milik Daniel, dan seperti tempat tinggal pria pada umumnya, apartemenya terlihat berantakan.
Sudah beberapa malam dia mengintai penjahat yang disinyalir akan menyelundupkan senjata api dalam jumlah besar masuk ke New York sebenarnya itu tugas Alex dan rekannya Philip, tapi istri Philip baru saja melahirkan anak kedua yang membuatnya harus selalu siaga di rumah pada malam hari menemani istrinya, alhasil dialah yang bertugas setiap malam mengintai pergerakan para penyelundup walau kadang dia akan ditemani rekannya yang lain, dan hal itu membuatnya sangat lelah dan kurang tidur.
Alex membuka jaketnya lalu melemparnya ke atas sofa hitam dimana kaos bekas dia pakai kemarin masih terlihat menyampir di sandaran, koran yang berserakan di atas meja dan mug bekas kopi kemarin masih berada di sana. Sambil berjalan ke kamar ia membuka kaos lalu melempernya sembarang. Badannya yang lelah langsung ambruk di atas kasur yang belum sempat ia rapikan, tapi ia tak peduli yang ia inginkan hanya tertidur beberapa jam, sebelum ia kembali bertugas.
*****