
Dan ternyata Alex harus berada di kantor lebih lama dari yang ia bayangkan, waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam ketika ia memarkirkan mobilnya di parkiran apartemen Alexa. Kasusnya kali ini memerlukan perhatian lebih, mereka belum menemukan titik terang dari pembunuhan dan perampokan pameran perhiasan beberapa waktu lalu. Dan Pedro yang disinyalir mengetahui tentang kawanan penjahat yang mendapatkan julukan ghost itu hanya tersenyum mengejek ketika dia berusaha mengorek informasi darinya.
"Kalian tak akan bisa menyentuh mereka."
Alex masih mengingat kata yang diucapkan oleh penyelundup senjata yang berhasil ia tangkap beberapa waktu itu. Ia berpikir kalau kawanan ini bukanlah kawanan penjahat biasa. Mereka pasti memiliki dukungan dari orang-orang berpengaruh, atau bahkan mungkin mereka adalah salah satu dari orang-orang berpengaruh itu.
Alex memasuki apartemen Alexa dan sesaat dia bisa melihat suasana gelap di dalam ruangan itu, semua lampu dimatikan, satu-satunya cahaya yang terlihat hanya yang keluar dari layar televisi dengan suara mencekam.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Alex membuat semua orang melonjak dan menjerit terkejut.
"Sial, Man, kau mengejutkan kami!" Seru Daniel sambil menatap Alex yang hanya tersenyum santai.
"Kalian menonton... boneka?" Ucap Alex sambil mengernyit setelah matanya menatap layar televisi yang dari tadi menjadi perhatian semua orang hingga tak menyadari kedatangannya.
"Ini bukan sembarang boneka, ini... Annabelle," ucap Gerard sambil menatap Alex yang kini duduk di antara dirinya dan Alexa, membuat pria berkacamata itu harus bergeser.
"Dan ini sangat menakutkan," bisik Alexa dengan wajah ditutupi boneka kepala Winnie the pooh, yang kelihatan hanya matanya saja tapi dia akan cepat-cepat bersembunyi lagi ketika suasana mulai mencekam.
"Ckk.. itu hanya boneka," ujar Alex sambil ikut nonton film horor itu.
Mereka semua terdiam fokus menatap layar datar 32', tak ada suara yang keluar dari mulut semuanya, yang terdengar hanya suara dari film yang mereka tonton. Suasana semakin tegang bersamaan dengan ketegangan di dalam layar. Calista semakin erat memeluk Theo, Kerelyn bersembunyi di balik punggung Daniel, sedangkan Alexa semakin erat memeluk bantal kesayangannya.
Para pria bersikap sok kuat, mereka masih santai menatap layar televisi sampai akhirnya mereka semua berteriak terkejut ketika tokoh utama film itu berteriak ketakutan dengan munculnya sosok Annabelle di balik pintu.
"Ah, boneka sialan!" Teriak Gerard sambil mengambil remot TV dan mematikannya dengan kasar.
"Untung kau mematikannya kalau tidak, aku bersumpah akan menembak boneka sialan itu," ucap Alex dengan wajah serius.
"Kau baru saja datang, A, sedangkan kami harus menahannya dari tadi," ujar Daniel sambil bersandar dan membuang napas lega karena tak perlu melanjutkan nonton film horor itu.
"Siapa yang memiliki ide gila untuk nonton boneka sialan itu?" Tanya Alex membuat semua orang menatap Alexa.
"Hei.. kenapa kalian semua menatapku?" Tanya Alexa polos tak berdosa.
"Tapi tadi sangat menyenangkan," ucap Calista sambil tersenyum.
"Sunshine, kau bahkan tak berani untuk membuka matamu," ujar Theo yang membuat Calista hanya mengangkat bahunya santai.
"Dan aku berani bertaruh malam ini, kalian semua tidak akan ada yang berani ke kamar mandi sendiri," ujar Alex sambil berdiri lalu berjalan ke dapur, setelah sebelumnya ia menyalakan lampu ruangan itu.
"Apa kau belum makan malam?" Tanya Alexa setelah melihat Alex mencari sesuatu di dalam lemari pendinginya.
"Aku tak sempat makan malam tadi," jawab Alex sambil menggigit apel.
"Tunggu sebentar, aku akan menghangatkan sup untukmu," ujar Alexa sambil berjalan dengan cepat ke arah dapur.
"Baiklah, karena pengawalmu sudah pulang sebaiknya kami pergi sekarang."
Daniel berkata sambil berdiri kemudian meregangkan badannya, disusul oleh yang lainnya.
"Sampai jumpa, Lexa," ucap Calista dan Kerelyn yang dibalas lambaian tangan dari Alexa yang sedang menyalakan kompor.
Alex mengantarkan mereka semua sampai depan lift. Bersamaan dengan masuknya mereka semua ke dalam lift, seorang pria keluar dari sana dengan mengenakan topi hitam lengkap dengan masker yang menutupi separuh wajahnya. Ia berjalan melewati Alex dengan wajah tertunduk membuat pria bermata biru itu mengamatinya sesaat dengan rasa curiga. Alex berjalan mengikuti pria tinggi besar itu dengan mata tajam penuh curiga, dan sepertinya pria itu menyadari kalau dia tengah diawasi. Dia sempat berhenti sesaat lalu kembali melanjutkan jalannya melewati apartemen Alexa.
Alex membuka pintu apartemen, tapi dia tak langsung masuk, dia terus mengawasi pria itu sampai orang itu berbelok lalu menghilang dari pandangannya. Alex masuk ke dalam setelah memastikan pria itu tak kembali lagi, dia menutup pintunya tapi pikirannya tak bisa lepas dari sosok pria tadi.
"Alex, makanannya sudah siap," ujar Alexa dari arah dapur. Ia mengangkat alisnya karena tak mendapat reaksi apapun dari pria yang telah tinggal bersamanya selama beberapa hari terakhir ini.
"Apa ada yang salah?" Lanjut Alexa setelah melihat Alex hanya diam berdiri di depan pintu dengan mata mengawasi luar dari lubang kaca pembesar yang terpasang di pintu.
Alex mengangkat sebelah tangannya memberi perintah kepada Alexa yang kini tengah berjalan ke arahnya untuk diam, membuat kembaran Emily itu terlihat bingung.
"Sial!" Teriak Alex kemudian sambil membuka pintu apartemen dengan kasar.
Dia berlari mengejar pria bertopi itu yang berlari ke arah pintu darurat. Alex mengeluarkan senjatanya dan berteriak agar orang itu berhenti, tapi ia kembali mengumpat ketika pria itu tak mengindahkan perintahnya dan malah menembakinya, untung saja ia sempat menghindar hingga peluru itu hanya mengenai pegangan tangga darurat di sampingnya. Alex kembali mengejar dan kali ini ia melakukan tembakan balasan, tapi sial tembakannya meleset. Pria itu kembali menembakan senjatanya membuat Alex harus kembali bersembunyi di balik tangga. Pengejaran berlanjut hingga akhirnya pria itu keluar dari tangga darurat menuju lapangan parkir, disusul oleh Alex beberapa saat kemudian yang kembali memuntahkan tembakan.
"Sial!" Seru Alex sambil melompat bersembunyi di balik mobil yang terparkir ketika sebuah mobil van hitam dengan kecepatan penuh memberondongnya dengan tembakan, Alex sempat melakukan tembakan balasan yang mengenai lengan pria berpakaian hitam yang hendak melompat masuk ke dalam van.
Alex tetap tiarap di balik mobil yang kini telah berlubang disatu sisinya karena hantaman peluru, sampai akhirnya suara decitan ban dan raungan mesin mobil van itu semakin menjauh, meninggalkannya dalam kemarahan karena telah gagal menangkap orang itu.
*****