The Secret Identity (#3 The Secret Series)

The Secret Identity (#3 The Secret Series)
Bab 5



Alex berjalan menuju Daniel dan Gerard yang telah duduk di salah satu kursi yang tersedia di plaza Time Squere, dia terlihat sangat mempesona dengan celana jeans biru, kemeja putih, jaket kulit dan kaca mata hitamnya.


"Apa kalian dari tadi?" tanya Alex sambil duduk di kursi yang tersedia.


"Apa maksudmu Alexa dalam masalah?" Daniel bertanya tanpa menghiraukan pertanyaan Alex.


Alex membuka kacamata hitamnya dan mulai menceritakan kejadian semalam kepada mereka berdua yang terlihat serius mendengarkan.


"Tapi itu semua belum pastikan?" tanya Gerard yang di jawab Alex dengan anggukan.


"Iya, aku pun sempat ragu dan menganggap itu hanya khayalanku saja. Tapi ketika aku melihat CCTV keamanan gedung aku melihat sesuatu yang janggal," ucap Alex sambil menatap kedua sahabatnya dengan serius.


"Apa maksudmu?" tanya Daniel sambil memajukan kursinya ke arah meja.


"Kami keluar dari The Rock sekitar pukul 9 malam dan sampai di apartemen jam 10an, tapi aku tak melihat kami memasuki gedung apartemen itu sepanjang malam." Semua orang kini saling pandang terlihat curiga, "Tapi aku melihat beberapa orang yang masuk ke gedung itu pada jam 10.30... begitu juga pada saat semalam aku mengejar ke arah lift, aku tak menemukan diriku terekam CCTV."


"Jadi seseorang memanipulasi CCTV?" tanya Gerard yang langsung dapat anggukan dari Alex.


"Aku mengcopy videonya, aku harap kau bisa menemukan sesuatu di sana, G," ujar Alex sambil memberikan sebuah flash disc kepada Gerard yang langsung mengangguk.


"D, kita memang belum tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi, tapi Lexi mengatakan kalau akhir-akhir ini dia merasa diikuti, bisa saja ini saling berhubungan. Tidak bisakah kau menyuruhnya untuk tinggal di West Village dulu sampai kita mengetahui siapa dan apa maksud orang-orang itu? Tapi jangan sampai dia curiga, kita tahu sendiri seperti apa adikmu yang satu itu," ujar Alex sambil menggeleng dan mendapatan anggukan dari Gerard.


Daniel membuang napas berat mengingat adiknya yang paling kecil ini selalu terlibat dalam masalah, "Mom rencananya akan pergi ke London besok untuk menemani Emily yang sedang hamil besar, dan Dad, dia sedang berada di DC untuk beberapa hari."


Semua orang kini terdiam memikirkan jalan keluar dari masalah ini, "Baiklah, jadi sekarang tugas kita untuk mengawasinya, kita tidak boleh membiarkannya sendiri," ucap Alex yang mendapat anggukan kembali dari Gerard.


"Kalau misalnya dia di suruh tinggal bersamamu untuk sementara waktu gimana, D?" tanya Gerard mengajukan sarannya, membuat semua orang saling pandang beberapa saat kemudian mereka semua menggeleng dengan serempak.


"Dia pasti menolaknya," Gerard menjawab pertanyaannya sendiri dan dapat anggukan dari kedua temannya.


Mereka kembali terdiam memikirkan jalan keluar untuk Alexa yang bahkan tidak mengetahui kalau dirinya sedang dalam masalah.


"Jadi... semalam kau menginap di apartemen adikku?" Daniel bertanya sambil melipat tangannya di atas dada dan menatap Alex penuh selidik membuat Alex menatapnya tak percaya.


"Man, yang benar saja... apa kau tak percaya padaku?"


Daniel dan Gerard menggeleng serempak, "Tidak," jawabnya santai yang membuat Alex semakin menganga tak percaya.


"Man... aku telah menganggapnya adik sama seperti kalian berdua!" seru Alex sambil menatap keduanya yang hanya menatapnya sambil menaikan alis mereka.


"A, kau bahkan akan menikahinya ketika dia baru lahir," ucap Gerard yang membuat Alex menatapnya.


"Itu hanya ucapan anak kecil dan kau memercayainya?" lagi-lagi kedua sahabatnya mengangguk serempak.


"Dengarkan aku, semalam aku hanya khawatir padanya karena curiga kalau ada yang salah, Lexi memang ceroboh dan pelupa tapi dia tak pernah lupa mengunci apartemennya. Oleh sebab itu tadinya aku hanya akan memastikan kalau semua baik-baik saja tapi aku tertidur karena malam sebelumnya aku belum tidur sama sekali dan ternyata kecurigaanku terbukti, beberapa orang mencoba masuk kembali ke dalam apartemen untung saja pada saat itu aku terbangun dan mengetahuinya."


Alex mencoba menjelaskan alasan dirinya menginap di apartemen Alexa malam tadi, dan sepertinya kedua sahabatnya itu bisa menerima penjelasanya karena kini kedua pria yang terlihat tampan seperti biasanya itu terlihat berpikir. Alex baru saja membuang napas lega karena tak dicurigai kedua sahabatnya ketika matanya membelalak menatap pemandangan di depannya.


Alex berseru sambil berdiri membuat Daniel dan Gerard menatap ke belakang dan di sana dia melihat Alexa dan Dean Tyler tengah berjalan berdua sambil tersenyum bahagia.


"Dia bilang hanya akan bertemu dengannya sebelum makan siang, tapi sekarang?" Alex menggeleng tak percaya.


"Mungkin saja dia bertemu dengannya memang sebelum makan siang tadi," ucap Daniel dan persetujuan dari Gerard yang membuat Alex menatap keduanya tak percaya.


"Tapi mereka melanjutkannya sampai makan siang atau bahkan sampai makan malam," ujar Gerard yang membuat dia dan Daniel tersenyum sambil mengangguk, tapi berbeda dengan Alex yang hanya menatap mereka berdua dengan mata terbelalak.


"Apa kalian akan membiarkannya?"


"Entahlah, A, Lexa sudah cukup dewasa untuk hal itu, dan aku rasa pria itu cukup lumayan," ucap Daniel sambil menatap Alexa yang kini masuk ke dalam mobil pria itu, membuat mulut Alex semakin menganga lebih lebar.


"Daniel benar, Emily bahkan akan segera melahirkan anak pertama, begitu juga Calista, dia sudah menikah dengan Theo. Jadi aku rasa kini saatnya kita untuk tidak ikut campur lagi untuk urusan pribadinya."


Alex kembali duduk, yang dikatakan kedua temannya itu memang benar. Alexa sudah cukup umur untuk melakukan hubungan bahkan menikah, tapi entah kenapa hatinya seperti belum ikhlas untuk melihat gadis itu dengan pria lain.


"Kalian benar.. tapi, kita tahu sendiri Emily menikah dengan Dylan yang sudah kita sangat kenal dengan baik. Tapi dia? Kita belum mengenalnya sama sekali, bagaimana kita tahu kalau dia adalah pria yang baik?"


Daniel dan Gerard terdiam memikirkan ucapan Alex, "Kau benar... bukankah Calista mengetahui pria itu? Kita akan meminta Theo dan Dylan untuk mencari tahu siapa dia sebenarnya, tapi... kalau dia orang baik dan tidak ada masalah kita harus membiarkan Lexa yang mengambil keputusan ok? Biarkan dia menjalaninya."


Alex mengangguk menyetujui ucapan Daniel, "Tentu saja... aku akan lebih tenang kalau dia menikah dengan Theo," ucap Alex yang mendapat anggukan dari kedua temannya.


"Seandainya Calista mendengar ini, dia pasti akan sangat marah." Gerard berkata sambil tertawa.


"Tapi aku akan lebih tenang kalau dia menikah dengan salah satu diantara kalian," ucap Daniel yang membuat Alex dan Gerard saling pandang lalu menatapnya tak percaya.


"Aku selalu berharap salah satu adikku akan menikahi kalian, karena aku tahu kalian berdua akan menjaganya dengan sangat baik dan kita akan menjadi saudara yang sebenarnya. Tapi aku juga bersyukur karena Emily menikah dengan Dylan, salah satu pria yang aku percayai seperti aku memercayai kalian, dan kau, G, tanpa di duga jatuh cinta setengah mati kepada sepupuku, jadi yang tertinggal hanya kau, A."


Daniel menatap Alex yang kini tengah menatapnya, "Diantara semua orang hanya kau-lah yang bisa menjaga Lexa dengan sangat baik, bahkan kau lebih baik daripada aku dalam menjaganya. Dan hanya kau-lah yang bisa tahan dengan sikapnya yang keras kepala," lanjut Daniel sambil tersenyum, "Tapi kalau melihat kalian yang selalu bertengkar, sepertinya harapanku sangat tipis untuk melihat kalian bersatu."


Alex dan Gerard tertawa mendengar ucapan terkahir Daniel yang juga ikut terawa.


"Tapi menurutku, mereka malah cocok," ujar Gerard sambil tersenyum, "Kau tahu sendiri, dia selalu bersikap manis ketika sedang bersama perempuan karena tak mau menyakiti hati mereka," ucap Gerard sambil menatap Daniel, kemudian dia pindah menatap Alex, "Tapi ketika bersama Lexa, kau akan mengeluarkan sikap aslimu dan sepertinya hanya Lexa yang berhasil membuatmu melakukan itu."


"Karena hanya dia yang selalu membantah apapun yang ku ucapkan, bahkan dia tidak takut dengan semua ancamanku," ucap Alex sambil menggelengkan kepala membuat Daniel dan Gerard tersenyum.


Alex melihat ponselnya untuk membaca pesan masuk, dia kembali memakai kaca mata hitamnya dan bersiap pergi.


"Aku harus pergi sekarang... G, aku harap kau menemukan sesuatu dari video itu, dan D... kita harus pikirkan bagaimana mengawasi adikmu yang keras kepala itu," ucapnya sambil berdiri lalu pergi meninggalkan kedua sahabatnya.


"Mereka berdua sama-sama keras kepala," ucap Gerard sambil menggelengkan kepala yang dapat anggukan dari Daniel.


"G, aku rasa, aku mempunyai ide," ujar Daniel sambil tersenyum miring dan menaikan sebelah alisnya membuat Gerard ikut tersenyum penuh misteri.


*****