
Suasana bar eksklusif itu terlihat tenang, hanya ada beberapa orang yang tengah menikmati minuman untuk melepas lelah setelah aktifitas. Berbeda dengan The Rock yang didatangi pengunjung dari berbagai macam kalangan. Tempat ini hanya di datangi oleh orang-orang tertentu saja, termasuk keempat orang yang kini duduk di salah satu kursi yang tersedia.
"Jadi kita belum mendapatkan kasetnya?"
"Belum," ucap pria ke 2 sambil membuang napas berat.
"Aku telah mencari tahu tentang pria yang tinggal bersama perempuan itu, namanya adalah Alex MacKena, dia salah satu detektif terbaik NYPD dan dialah yang telah menggagalkan penyelundupan senjata kemarin," jelas orang yang duduk paling pojok membuat pria pertama mengumpat.
“Aku sudah mengatakankan sebelumnya kalau dia adalah kekasih salah satu detektif terbaik yang dimiliki NYPD tapi kalian tidak memercayainya, dasar bodoh,” umpat pria pertama yang membuat ketiga rekannya menatapnya dengan mata sarat akan emosi.
"Kita harus mendapatkan kaset itu bagaimanapun caranya," ucap salah satu dari mereka berusaha membuat keadaan kembali tenang.
"Kita tidak bisa menarik perhatian polisi lebih jauh lagi dengan melakukan kesalahan. Ingat, perempuan itu adalah putri salah seorang Senator yang mempunyai pengaruh cukup besar, dan sekarang dia berhubungan dengan detektif terbaik NYPD, apa menurutmu mereka hanya akan tinggal diam kalau sesuatu terjadi padanya? Tidak, karena itu kita harus hati-hati jangan sampai menarik perhatian mereka."
"Tapi bagaimana kalau mereka sudah melihat isi kaset itu dan melaporkannya? Kita semua akan habis!" geram pria pertama membuat tiga orang itu kini terdiam.
"Sampai saat ini para polisi belum bertindak apapun, jadi sepertinya mereka belum melihat isi kaset itu. Kita akan mengambilnya, tanpa menarik perhatian mereka apa kau paham?" ucap pria ke-3 yang akhirnya mendapat persetujuan dari ketiga rekannya.
"Kita lupakan sebentar tentang kaset itu, karena sekarang ada yang lebih penting. Pedro berhasil di tangkap... kau," lanjutnya sambil menunjuk orang yang duduk paling pojok, "Pastikan dia tak mengatakan apapun." Orang yang ditunjuk mengangguk mengerti.
"Bagaimana dengan rencana lusa, apa kau sudah memersiapkannya?" kini dia bertanya kepada pria ke-2 yang tengah meneguk anggur.
"Tidak usah khawatir aku sudah memersiapkan semuanya."
"Bagus, kalau begitu pastikan tidak ada lagi kesalahan untuk lusa... setelah itu kita akan fokus mencari kaset itu... Sial! Kita seolah hidup dengan tali gantungan menjerat leher kita selama benda sialan itu belum berhasil kita musnahkan."
Semua orang mengangguk setuju kemudian larut dalam keheningan, yang terdengar hanyalah suara musik lembut dari audio yang terpasang di bar itu.
*****
"Sial! Dia masih tidak mengatakan apapun!" Geram Alex sambil berjalan di lorong kantor kepolisian New York dengan Phillip di sampingnya yang juga terlihat sangat kesal. Mereka baru saja selesai mengintrogasi salah satu penyelundup senjata yang berhasil di tangkap pada waktu penyergapan.
"Dan aku membenci pengacaranya... ok dia memang seksi, tapi ya Tuhan! Aku ingin sekali mencekik lehernya supaya dia tidak selalu menginterupsi setiap pertanyaan kita." Phillip berkata sambil menghempaskan tubuhnya di atas kursi di sebelah Alex yang terlihat masih sangat marah.
"Kau benar, itulah kenapa aku tak pernah berkencan dengan pengacara, mereka sangat menyebalkan," ucap Alex sambil memainkan bolpoin di jari-jari tangannya terlihat berpikir.
Ia yakin kalau Pedro, orang yang berhasil dia tangkap memiliki informasi yang sangat penting tentang orang-orang yang memasok senjata kepadanya, dan siapapun orang itu pastilah sangat penting mengingat orang berkebangsaan Brazil itu lebih baik dihukum berat daripada memberi informasi tentang mereka.
"Detektif MacKena," seorang perempuan berambut gelap yang di sanggul rapi dengan berpakaian sangat rapi kini berdiri di depan meja Alex yang berantakan, "Aku ingatkan sekali lagi kalau kau memaksa klienku untuk memberikan informasi yang bahkan dia tidak mengtahuinya, aku akan melaporkanmu," ucapnya sambil menatap Alex dengan sangat tajam membuat Alex mengangkat alisnya.
"Well, bagaimana kau tahu kalau dia tidak memiliki informasi itu?" tanya Alex dengan santai membuat perempuan di hadapannya menarik napas panjang.
"Klienku, tidak bersalah... dia hanya berada di tempat dan waktu yang salah."
Perkataan perempuan itu membuat Alex kini menatapnya tajam, dia harus mengatur napasnya untuk meredam emosi.
"Dengar, Miss. Duvont... menurutmu apa yang dia lakukan di sebuah gudang terpencil jam 2 malam dengan senjata api ditangannya dan menembaki polisi?" Alex bertanya tanpa mengedipkan mata, "Aah..biar ku tebak, apa dia berjalan sambil tidur? Atau dia mengira kalau dia sedang bermain game?"
Pengacara wanita itu menatap Alex beberapa saat sebelum akhirnya dia tersenyum mengejek, "Apa kau punya bukti kalau dia penyelundup senjata itu?" tanyanya masih dengan senyum mengembang di wajahnya, "Ucapan tanpa sebuah bukti nyata itu tak berarti apa-apa, Detektif," lanjutnya dengan senyum menghina.
Kini giliran Alex yang menatapnya tajam, jujur saja dia ingin sekali mencekik perempuan di hadapannya yang hanya karena beberapa dolar membela seorang penyelundup senjata yang bisa membahayakan orang tak berdosa. Tapi tidak, karena itulah yang diinginkan pengacara yang terkenal tak pernah kalah di dalam persidangan.
"Apa menurutmu kami menahannya tanpa sebuah bukti?" tanya Alex membuat perempuan di hadapannya terlihat sedikit terkejut, "Kalau kau mengira aku sebodoh itu, lebih baik kau berpikir ulang," lanjut Alex sambil berdiri dan memakai jaketnya.
"Ayo Phil, kita harus mengamankan video malam itu sebelum seseorang berusaha menghancurkannya," ujar Alex sambil menatap Margareth Duvont yang membelalakan matanya menatap Alex dengan menahan emosi, membuat Alex tersenyum miring khasnya sambil berjalan meninggalkan perempuan itu dengan Phillip di sampingnya yang juga terlihat mengejek perempuan itu.
"Video apa maksudmu? Apa kita punya bukti seperti itu?" bisik Philip sambil setengah berlari di sebelah Alex yang terburu-buru keluar dari kantor NYPD.
"Tidak... tapi kita harus menemukan bukti apapun itu... secapatnya!" jawabnya membuat Philip mengumpat dan ikut berlari masuk ke dalam mobil Alex.
*****
Alexa berjalan keluar dari lift dan berjalan di lobi kantor ketika dia melihat seorang pria yang sedang berdiri di depan meja customer service dan bercanda dengan para CS di sana, seketika ia membuang napas berat sambil menggelengkan kepala setelah melihat para perempuan itu tertawa ketika mendengar candaan Alex.
"Apa kau sudah selasai?" tanya Alexa sambil menatap Alex tajam dengan tangan dilipat di atas dada, membuat mereka semua menghentikan tawa dan menatapnya.
"Lexi, aku tak melihatmu datang."
"Yeah, tentu saja kau sedang sibuk merayu mereka," ucap Alexa sambil berjalan menuju pintu keluar yang langsung di susul Alex.
"Sekarang aku tahu, kenapa kau mau menjemputku," tanya Alexa sambil menatap Alex. Mereka kini tengah berdiri di trotoar depan gedung kantor Alexa, "Kau hanya ingin bertemu dengan banyak perempuan cantik, benarkan?" tanya Alexa sambil melanjutkan jalannya ke arah lapangan parkir.
"Tidak.. yeah, anggap saja itu bonus, ok!" ujar Alex sambil tersenyum miring membuat Alexa menatapnya lalu menggelengkan kepala, "Lexi, kau mau kemana?" lanjut Alex setelah melihat gadis berambut coklat itu terus berjalan dengan cepat.
"Tentu saja pulang," ucap Alexa tanpa menghentikan jalannya di susul Alex yang terlihat tersenyum.
"Apa kita pulang dengan berjalan kaki?” tanya Alex kini berjalan di samping Alexa sambil memasukkan tangannya ke dalam jaket.
"Apa kau tidak membawa mobil?" Alexa balik bertanya dengan pandangan tak percaya, dia kini menghentikan langkahnya dan menatap pria yang hanya tersenyum miring menatapnya.
"Tentu saja aku membawanya," jawab Alex yang membuat Alexa membuang napas berat kesal.
"Jadi... tentu saja kita akan pulang dengan menggunakan mobilmu," ujar Alexa sambil kembali berjalan.
"Tapi, Lexi...!" seru Alex membuat gadis itu kembali menghentikan langkahnya kemudian membalikan badan menghadap Alex yang masih berdiri di tempat.
"Apa?!" tanya Alexa dengan galak membuat Alex tersenyum.
"Mobilku diparkir di... sana," ucap Alex sambil menunjuk mobil hitamnya yang terparkir tepat di depan gedung perkantoran Alexa.
Alexa menatap mobil Alex beberapa saat lalu dia memejamkan mata mengutuk dirinya sendiri, bagaimana mungkin ia tak melihat mobil itu di sana ketika keluar dari lobi kantor.
"Aku tahu... aku mau membeli kopi dulu," ujar Alexa sambil berjalan menuju Coffee shop yang ada di depannya. Melihat itu Alex hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Mereka kini tengah duduk di meja luar cafe sambil menikmati kopi, Alexa tadinya akan meminum kopi itu di jalan tapi Alex mengajaknya untuk meminumnya di cafe, dan di sinilah mereka saat ini duduk saling berhadapan tapi Alex bisa melihat kalau perempuan di hadapannya seperti berada di dunia lain, beberapa kali ia melihat Alexa membuang napas berat.
"Ok! Katakan padaku, apa yang terjadi?" tanya Alex sambil melipat tangannya di atas dada dan menatap Alexa dengan penuh selidik.
"Tidak ada," jawab Alexa sambil cemberut dan kembali membuang napas berat.
"Lexi."
"Jangan memanggilku, Lexi," ujar Alexa sambil menatap Alex galak.
"Baiklah, ‘jangan memanggilku Lexi’, katakan apa yang terjadi?"
Alexa memutar bola matanya mendengar perkataan pria yang kini tengah tersenyum miring menatapnya.
"Aku tadi menerima satu buket bunga mawar," Alexa mulai memulai ceritanya, "Tapi ketika aku membaca kartunya, aku merasa ada yang aneh."
Alex mengerutkan alis mendengar cerita Alexa, "Aneh?"
Alexa mengangguk, "Iya, tidak ada nama pengirim dan hanya ada kata-kata yang aku tak mengerti."
"Apa kau membawa kartunya?"
"Tidak, aku membuangnya karena ku pikir itu hanya seseorang yang iseng saja."
"Apa kau yakin bunga itu untukmu?"
Alexa kembali mengangguk, "Ada namaku tertulis di sana."
"Apa kau ingat apa kata-katanya?"
Alexa terlihat mengingat beberapa saat, "Tentang karma,"
"Karma?" tanya Alexa terlihat bingung.
"Iya... entahlah, aku rasa seseorang hanya bercanda yang tidak lucu dengan ku," ucap Alexa sambil cemberut berbeda dengan Alex yang terlihat terdiam berpikir.
"Apa kau akhir-akhir ini bertengkar dengan seseorang atau ada seseorang yang marah padamu atau kecewa padamu?"
Alexa menggeleng sambil berpikir, "Tidak ada, hanya saja... Well, kau tahu sendiri dalam dunia kerja sepertiku persaingan sangat ketat, projekku untuk mendesign gaun pengantin (terdiam beberapa saat) keluarga Dean, sempat membuat beberapa orang iri dan membenciku. Tapi aku yakin itu tak akan membuat mereka melakukan hal konyol seperti ini."
Alex kembali terdiam beberapa saat terlihat berpikir, apa mungkin ini ada hubungannya dengan pengunjung tak di undang kemarin malam?
*****