
“Lexa, kau mendapatkan bunga dari penggemarmu lagi?” tanya Kely dengan mata berbinar menatap buket bunga mawar merah yang berada di meja kerja Alexa yagn kini terlihat sedang membaca kartu yang datang bersama dengan bunga itu.
“Dia bukan penggemarku, menurutku dia psikopat,” ucap Alexa sambil menyerahkan kartu itu kepada Kely.
Karma kini tinggal satu langkah… siap atau tidak dia akan segera datang menjemputmu.
“Apa maksudnya ini?” tanya Kely tak mengerti setelah membaca kartu itu.
“Kau lihat, bukan hanya aku yang tak mengerti tapi kau juga, iyakan?”
Kely mengangguk semangat menjawab pertanyaan Alexa, membuat rambutnya yang dikucir ikut bergoyang.
“Aku rasa siapapun orang yang mengirimnya benar-benar orang gila yang percaya akan karma,” ucap Alexa sambil menggelengkan kepalanya.
“Apa kau tak percaya dengan karma?” tanya Kely terlihat penasaran, ia kini menarik kursinya ke arah meja Alexa dan menatap gadis bermata amber itu menunggu jawabannya.
“Aku percaya.. tapi hal seperti itu bukan untuk dipermainkan apa lagi menjadikannya sebagai ancaman… tentang apa yang berhak kita terima sebagai karma hanya Tuhan yang bisa menentukannya, bukan manusia.”
Kely terdiam beberapa saat mendengar ucapan Alexa kemudian dia mengangguk setuju.
“Waah, hari ini kau benar-benar bijaksana,” ucapnya yang langsung membuat Alexa tertawa.
“Kita tiba-tiba akan menjadi bijaksana kalau ada seseorang yang mengancam kita,” jelas Alexa diantara tawanya membuat Kely ikut tertawa.
“Tapi apa kau mungkin mencurigai seseorang yang mengancammu dengan karma itu?”
Alexa terlihat berpikir beberapa saat sebelum akhirnya ia menggeleng, “Tidak, selama ini aku tak memiliki musuh.”
“Apa mungkin, kau mengiranya kalau dia bukan musuhmu tapi dia menganggapmu sebagai musuhnya.”
“Apa maksudmu?” tanya Alexa tak mengerti dengan ucapan Kely.
“Yeah, seperti… hmmm… dengarkan aku, tak bisa kita pungkiri kalau kekasihmu sangat tampan dan banyak orang yang menyukainya.” Kely berusaha menjelaskan dan Alexa bisa tahu kemana arah pembicaraannya ini.
“Aku berkencan dengan Alex ketika dia tak berkencan dengan siapapun,” ucap Alexa berusaha memberi pembelaan.
“Aku tahu… tapi bagaimana kalau misalnya salah satu dari mereka masih sangat mencintai Alex dan dia tak terima ketika melihatnya berkencan denganmu.”
Alexa terdiam beberapa saat terlihat berpikir dan seketika pikirannya melayang kepada seorang gadis cantik yang terakhir dikencani Alex, Lucy, ia ingat bagaimana gadis itu memandang Alex dengan penuh rasa cinta dan ia ingat kalau mereka sempat membicarakan bagaimana Lucy masih mengejar-ngejar Alex sampai sekarang. Apa mungkin Lucy yang mengiriminya bunga karena tak terima Alex berkencan dengannya? Alexa menggelengkan kepala berusaha menghapus pikiran negatifnya.
“Kau mencurigai seseorang?” tanya Kely ketika melihat reaksi Alexa.
“Iya, tidak.. entahlah aku rasa dia tak akan sampai berani melakukan hal ini,” ucap Alexa dengan tidak yakin.
“Kenapa tidak?!”
“Karena aku yakin dia adalah gadis yang baik… ketika aku hampir saja mati karena seseorang hendak membunuhku dialah salah seorang yang menolongku,” ucap Alexa kembali teringat bagaimana ketika ia kembali dari kematian dan melihat Lucy ada di sampingnya dengan wajah cemas.
“A-apa seseorang hendak membunuhmu?” tanya Kely dengan mata terbelalak terkejut mengetahui kalau sahabatnya itu hampir saja meninggal.
“Iya, seorang psikopat gila hampir saja membunuhku, tapi tak usah khawatir aku baik-biak saja sekarang,” ucap Alexa berusaha menenangkan Kely yang terlihat syok mendengar kabar itu.
“Bagaimana itu bisa terjadi? Kenapa kau tak memberitahuku?”
“Well, karena ini bukan sesuatu yang bisa dibanggakan.”
“Oh, Lexa, untung saja kau tidak apa-apa,” ujar Kely sambil memeluk Alexa dengan erat, tapi kemudian dia melepaskan kembali pelukannya dan kini menatap gadis bermata ember itu dengan mata membulat ketika dia menyadari sesuatu.
“Tidak, itu tidak akan terjadi.”
“Kenapa tidak? Bisa saja dia ingin kembali melukaimu.”
“Itu tidak akan terjadi karena orang itu telah meninggal,” jelas Alexa membuat mulut Kely membuka kemudian menutup seperti ikan yang kekurangan oksigen.
“Dia sudah meninggal?”
“Yeap, Alex menembaknya tepat sebelum aku kehilangan nyawaku,” ujar Alexa kembali teringat saat itu, ia teringat ketika udara di paru-parunya menipis dan sedikit demi sedikit kesadarannya menghilang dan akhirnya kegelapan menyelimutinya, tapi untung saja Alex datang tepat waktu untuk menolongnya hal itu masih menyisakan sedikit ketakutan baginya, sehingga secara tak sadar ia bergidik ketika membayangkan kejadian hari itu.
“Oh, maafkan aku Alexa, seharusnya kau tak mengingatkanmu atas kejadian hari itu maafkan aku,” ucap Kely setelah melihat efek yang ditimbulkan kepada Alexa ketika mengingat hal itu.
“Tidak apa-apa, semua baik-baik saja.” Alexa tersenyum hambar berusaha bersikap senormal mungkin, “Dia harus bersyukur karena Alex membunuhnya saat itu kalau tidak dia akan mati di tanganku,” ucap Alexa sambil tertawa berusaha mencairkan suasana kembali.
*****
“247! Keluarlah, seseorang datang mengunjungimu.”
Seorang pria dengan seragam biru yang di dadanya tertulis angka 247 perlahan berdiri lalu berjalan keluar dari sel penjara mengikuti sipir yang bertugas mengantarnya ke dalam ruang kunjungan.
Dulu dia adalah seseorang yang lumayan dihormati banyak orang tapi di sini mereka tak mengenal namanya, ia hanya dikenal dengan sebutan 247 sesuai dengan nomor yang tertulis di seragam tahanannya.
Mereka berjalan menyusuri lorong penjara yang mencekam dan sunyi senyap yang terdengar hanya suara dari sol sepatu milik sipir penjara dan suara siulan lagu anak-anak dari mulut tahanan 247, perlahan senyumnya terbit ketika ia memasuki ruang pengunjung dan melihat siapa yang datang mengunjunginya hari ini. Ia duduk di kursi menghadap kaca dimana orang yang mengunjunginya berada di balik kaca, mereka mengambil gagang telepon yang menghubungkan keduanya untuk berkomunikasi.
“Apa semuanya berjalan lancar?” tanyanya dengan mata iblisnya menatap orang di hadapannya.
“Iya dan tidak,” jawab orang itu membuat tahanan 247 mengangkat alisnya.
“Ghost telah tertangkap, maksudku hanya James, Bradly dan juga Rebeca.”
Mendengar itu tahanan 247 terdiam beberapa saat kemudian mengangguk mengerti kalau Simon masih belum tertangkap sampai sekarang.
“Dan yang menangkap mereka adalah…”
“Alex MacKena, baj*ngan itu!” seru orang itu dengan gigi gemerutuk menahan amarah ketika menyebut nama Alex.
“Sudah ku katakana dia bukanlah lawan mudah, kau harus bekerja sama dengan Simon untuk menghadapinya,” ucap tahanan 247 yang mau tak mau mendapat anggukan dari pengunjungnya.
“Bagaimana dengan perempuan itu?”
“Dia masih tidak menunjukan reaksi apapun, sepertinya mereka tak menyesal dengan apa yang telah mereka lakukan pada…” orang itu tak bisa melanjutkan kata-katanya karena amarah kembali menyeruak ketika mengingat dengan apa yang telah Alex dan juga kekasihnya lakukan padanya.
“Sudah waktunya mereka mengetahui identitas kita,” ucap tahanan 247 membuat orang di hadapannya kembali fokus menatapnya.
“Kirimkan dia hadiah dariku, maka mereka akan mengetahui kalau ancaman itu bukan hanya isapan jempol semata,” lanjutnya dengan tatapan iblisnya yang membuat semua korbannya dulu ketakutan setengah mati, tapi orang di hadapannya itu malah tersenyum mengerti sebelum akhirnya pergi meninggalkan penjara.
Malam sudah sangat larut ketika ia berjalan di lorong apartemen Alexa, dadanya bergemuruh oleh adrenalin yang meningkat, ingin rasanya ia menerobos masuk ke dalam lalu membunuh gadis itu saat ini juga dengan tangannya sendiri, tapi tidak ia harus menahan amarahnya kalau tidak rencana yang mereka susun selama ini akan berantakan.
Ia kini berdiri di depan pintu bercat hitam, matanya tajam menatap pintu itu seolah bisa menembus menatap ke dalamnya, perlahan seringai muncul di wajahnya ketika menyadari dendamnya akan terbalas sebentar lagi, ya sebentar lagi dan dia akan mengetahui apa arti karma. Ia berjongkok untuk menaruh sesuatu sebelum akhirnya pergi meninggalkan tempat itu dengan seringai di wajahnya. Tak ada jejak kedatanganya malam itu di sana selain setangkai tulip putih bercak merah yang tergeletak di depan pintu apartemen Alexa.
*****
Haiiiii.... naaaah, sekarang taukan siapa di balik semuanya? Yap, si psikopat! saya sudah bilang clue nya "KETERKAITAN KETERIKATAN", nah sekarang pertanyaanya ada keterkaiatan apa antara King Arthur dan si psikopat? serta ada keterikatan apa antara si psikopat dan sang pengirim bunga? 😁 selamat menebak... Love 💗A.K💗