The Secret Identity (#3 The Secret Series)

The Secret Identity (#3 The Secret Series)
Bab 16



Gedung apartemen itu tiba-tiba menjadi sangat ramai dengan kedatangan para polisi dan CSI yang tengah mengolah tempat terjadinya aksi penembakan beberapa saat lalu. Kerumunan para wartawan yang meliput kejadian itu menarik perhatian beberapa orang yang lewat dan membuat suasana di sana semakin ramai.


"Alex, kau harus lihat ini!" seru Phillip dari seberang ruangan, membuat pria bermata biru itu beranjak berdiri tapi sebuah tangan menahannya.


"Lexi, aku hanya akan menemui Phillip," ucap Alex lembut, tapi tetap saja gadis yang dari tadi berada di sampingnya itu tak mau melepaskan genggaman tangannya, matanya menatap Alex dengan rasa cemas bercampur takut dan kepalanya menggeleng kuat, memintanya untuk jangan pergi.


"Aku hanya sebentar," lanjut Alex sambil tersenyum menenangkan.


"Aku ikut denganmu," ujar Alexa sambil berdiri dengan mata masih menatapnya serius, membuat pria itu kembali duduk sambil menarik Alexa untuk duduk di sampingnya.


"Lexi, aku janji hanya sebentar, Phillip hanya ingin aku melihat sesuatu dan mungkin itu sangat penting untuk kasus ini," jelas Alex sambil menatap gadis di hadapannya dengan lembut.


"Tapi, bagaimana kalau mereka kembali datang lalu menembakimu," ucap Alexa membuat Alex tersenyum, setelah dia kembali ke dalam apartemen dari aksi tembak menembak gadis bermata amber itu sedikit paranoid kalau seseorang akan kembali menembakinya, dia bahkan tak mengijinkan Alex untuk pergi kemanapun, tangannya selalu menggenggamnya untuk memastikan kalau dirinya tak akan pergi jauh dan meninggalkannya.


"Lexi, hampir setengah dari petugas NYPD sedang berada di sini, kalau dia berani kembali datang itu artinya dia cari mati," ucap Alex sambil tersenyum, "Dan jangan lupa, kalau aku adalah penembak handal, dia tak akan berani macam-macam lagi padaku," lanjutnya membuat Alexa mendengus sambil tersenyum.


"Tembakanmu meleset."


"Itu bukan meleset tapi disengaja, sebagai seorang polisi kita tidak boleh langsung melakukan tembakan mematikan."


"Itu hanya alasanmu saja," ucap Alexa yang membuatnya tersenyum.


"Alex!" Phillip kembali berteriak memanggil membuatnya menatap rekannya itu lalu mengangguk serius.


"Lexi, aku hanya sebentar, aku berjanji tak akan kemana-kemana, kau masih bisa melihatku bersama Phillip di sana," jelas Alex sambil menatap Alexa yang masih menatapnya dengan sorot mata cemas.


"Baiklah," ucap Alexa setelah terdiam beberapa saat membuat Alex tersenyum lalu mengacak-acak rambutnya sebelum dia pergi mendatangi Phillip yang tengah menunggunya di ambang pintu apartemen bersama dengan salah satu petugas CSI.


Mata amber gadis itu tak lepas-lepasnya menatap Alex yang kini terlihat tengah berbincang dengan serius, sesekali pria itu akan menatapnya hanya untuk tersenyum menenangkan. Jujur saja tadi ketika ia melihatnya berlari keluar apartemen dan tak lama kemudian terdengar suara tembakan, jantungnya seolah-olah berhenti berdetak, tubuhnya kaku, otaknya tak dapat berpikir jernih.


Gambaran pria bermata biru itu tengah tergeletak dengan luka tembak membuatnya seperti orang gila, ia langsung berlari keluar dan ketika tengah menuruni anak tangga darurat ia kembali mendengar suara tembakan membuatnya dengan reflex berjongkok sambil menutup kedua telinganya, dan tak lama kemudian ia bisa mendengar suara Alex yang berteriak menyuruh sang penembak untuk berhenti, saat itulah ia bisa sedikit bernapas lega karena mengetahui kalau pria itu baik-baik saja.


Akhirnya akal sehatnya kembali, secepat kilat ia kembali ke dalam apartemen dan dengan tangan gemetar ia menghubungi 911 untuk melaporkan tentang penembakan yang tengah terjadi. Setelah itu ia berjalan mundar-mandir di dalam apartemen sambil mengigit kuku-kuku jari tangannya dengan perasaan cemas, waktu seolah sangat lambat berjalan sampai akhirnya Alex masuk dengan napas terengah-engah, membuatnya langsung menghambur ke dalam pelukannya.


Ketakutan membayangkan pria itu terluka membuat dirinya tak mau melepaskan pandangan darinya walau sesaat. Bahkan ketika para polisi sudah pergi, Daniel dan Gerard-pun kembali datang, Alexa tak mau melepaskan tangannya sampai akhirnya ia tertidur dipangkuan Alex dengan tangannya masih menggenggam tangan pria bermata biru itu.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Aku hampir saja terkena serangan jantung ketika kau menghubungi tadi," bisik Daniel tak mau membangunkan adiknya.


"Kalian ingat pria yang keluar dari lift sebelum kalian masuk tadi?"


Kedua sahabatnya itu sedikit berpikir mengingat kejadian beberapa waktu lalu kemudian mengangguk setelah mengingat pria bertopi hitam yang keluar dari lift.


"Aku mencuriganya, dan itu yang membuatku tetap mengawasinya di balik pintu, dan ternyata kecurigaanku terbukti... dia telah menargetkan tempat ini untuk dimasuki," bisik Alex sambil memajukan tubuhnya ke arah kedua sahabatnya yang langsung mengumpat, membuat Alexa mengernyit dalam tidurnya dengan cepat Alex menutup telinga gadis itu lalu memelototi kedua sahabatnya yang tengah meringis setelah menyadari kalau umpatan mereka lebih keras dari yang mereka bayangkan.


"Sorry," bisik Gerard.


"Apa kau sudah tahu siapa mereka?" Tanya Daniel yang dijawab Alex dengan anggukan.


Dia sangat terkejut ketika tadi Phillip dan Nate memberitahunya kalau dari peluru yang berada di TKP mereka menemukan ukiran dengan huruf G yang artinya mereka adalah kawanan Ghost yang tengah ia buru. Secara singkat Alex menjelaskan kepada Daniel dan Gerard tentang kawanan perampok itu.


"Tapi apa yang mereka inginkan dari Lexa?" Tanya Daniel membuat Alex membuang napas berat lalu menggeleng.


"Aku belum menemukan petunjuk apapun... tapi apapun itu, Lexi dalam bahaya," ujarnya lirih membuat ketiganya menatap Alexa yang sudah terlelap tidur.


*****


Malam semakin gelap dengan udara dingin membuat sebagian besar orang terlelap di balik selimut, dari kejauhan terdengar suara lolongan anjing yang membuat bulu kuduk berdiri, termasuk gadis berambut coklat yang kini tengah berjalan di jalanan yang sepi. Mata ambernya beberapa kali menatap ke belakang karena merasakan seseorang tengah mengikutinya, membuatnya berjalan semakin cepat.


"Kenapa tempat parkirnya sangat jauh," bisiknya pada diri sendiri setelah dirasa ia tak jua sampai di tempat mobilnya berada.


Langkahnya semakin cepat ketika terdengar suara langkah kaki di belakangnya semakin mendekat, jantungnya berdetak hebat, aura dingin tiba-tiba merambati seluruh tubuhnya, matanya menatap sekeliling untuk mencari perlindingan, tapi entah kenapa malam itu sangat sepi, semua pertokoan tutup, dan tak ada seorangpun di jalan itu selain dirinya yang kini ketakutan setengah mati.


Tangannya gemetar merogoh saku mantel coklatnya, ia mengucap syukur dalam hati ketika tangannya menemukan ponsel dalam mantelnya. Dengan sangat cepat ia mencari no telepon yang dituju dan langsung memijit tombol hijaunya. Langkah kaki di belakangnya kini semakin cepat dan semakin mendekat, membuatnya setengah berlari dengan ponsel di telinganya.


"Alex, aku mohon angkatlah!" Seru Alexa dengan penuh harap, tapi tak ada jawaban dari seberang sana. Ia kini berlari setelah dirasa pengejarnya semakin dekat.


"Alex, tolong aku!" seru Alexa sambil berlari, napasnya memburu, kakinya semakin cepat berlari menyusuri jalanan yang seolah tak berujung.


"Lexi!"


"Lexi, apa kau baik-baik saja?"


Suara itu! Alexa memperlambat larinya, suara yang sangat ia kenal kembali terdengar memanggilnya dan akhirnya ia menghentikan larinya. Dengan masih terengah-engah ia memberanikan diri untuk membalikan badan, dan seketika senyumnya mengembang dengan penuh kelegaan ketika melihat sosok pria bermata biru itu berdiri di sana menatapnya.


"Alex," ucapnya sambil berhambur ke dalam pelukannya.


"Iya, ini aku," ujar Alex pelan sambil memeluknya, "Semua baik-baik saja," lanjutnya menenangkan.


Untuk beberapa saat mereka tetap berpelukan di bawah redupnya lampu jalanan yang menerangi malam yang gelap sampai akhirnya mereka duduk di kursi dari besi tempa yang ada di salah satu sudut jalanan, tepat di bawah sorot lampu jalan berwarna kuning. Lengan kokoh Alex merangkul bahu Alexa dan menariknya semakin dekat.


Alexa merebahkan kepalanya di bahu bidang pria bermata biru itu, mereka terdiam beberapa saat menikmati kedekatan dan debaran di dada masing-masing. Sebut saja ini gila, tapi bagi keduanya ini pertama kalinya mereka merasakan debaran seperti itu. Membuat darah terpacu lebih cepat tapi juga menghangatkan. Alexa melingkarkan tangannya di pinggang Alex yang tersenyum sambil mencium ujung kepalanya.


"Tubuhmu dingin," ucapnya sambil menyurukan kepalanya di dada bidang pria itu lalu tersenyum sambil terus menghirup wanginya yang memabukkan.


"Kau sangat wangi," lanjutnya dengan mata tertutup menikmati sensasi segar wangi pohon ketika musim hujan.


"Aku tahu," ucap Alex membuat Alexa semakin mempererat pelukannya.


"Wangi parfummu berbeda."


"Ini bukan parfum," ujar Alex, "Ini sabun," lanjutnya.


"Sabun?" Tanya Alexa sambil mengernyit bingung.


"Iya, aku baru selesai mandi," ucap Alex membuat gadis dalam pelukkannya semakin bingung.


"Mandi?" tanyanya tak mengerti.


"Iya, mandi," jawab Alex sambil mengeratkan pelukannya.


Kerutan di antara alis Alexa semakin dalam terlihat berpikir, sampai akhirnya matanya tiba-tiba terbuka lebar ketika menyadari apa yang tengah terjadi.


"Alex, apa yang kau lakukan di sini!" Serunya sambil terduduk tegak di atas tempat tidur, matanya terbelalak menatap pria bermata biru yang dengan santainya berbaring di atas tempat tidurnya sambil bertelanjang dada, dia terlihat seksi dengan hanya mengenakan celana jeans belelnya saja.


"Tidur," jawab Alex santai.


"Ta..tapi, kenapa kau tidur di sini?" Tanya Alexa tak percaya.


"Aku baru saja selesai mandi ketika mendengarmu berteriak ketakutan memanggilku, dan sebagai pria sejati ketika seorang perempuan berteriak ketakutan sudah seharusnya aku melindunginya, jadi di sinilah aku sekarang," jawab, Alex sambil membetulkan letak bantalnya dan kembali menatap Alexa dengan senyum miringnya.


"Ta..tapi.."


"Sebaiknya kita tidur lagi," potong Alex sambil menarik Alexa kembali ke dalam pelukannya.


"A..apa yang kau lakukan?" Tanya Alexa gugup dengan mata masih terbelalak tak berani bergerak, diam-diam ia menelan ludahnya sendiri dengan kasar ketika kulit wajahnya merasakan betapa kekarnya dada bidang pria yang kini memeluknya erat.


"Tidur," jawab Alex singkat dan mulai memejamkan matanya.


"Kau seharusnya tidur di kamar sebelah," ucap Alexa pelan sambil berusaha menenangkan jantungnya yang kini berdetak hebat. Akal sehat memerintahkan untuk mendorong dan mengusir Alex dari kamarnya, tapi hati kecilnya menginginkan hal lain... ia tak ingin Alex melepaskan pelukannya.


"Diamlah, Lexi, aku sangat lelah setelah aksi tembak-tembakan tadi, aku sangat memerlukan tidur walau hanya beberapa jam. Jadi malam ini aku akan tidur di sini," ucap Alex dengan suara beratnya yang mengantuk.


Alexa terdiam beberapa saat terlihat bimbang, "Baiklah, tapi hanya malam ini."


"Hmm," jawab Alex sambil mengeratkan pelukannya dan tak lama kemudian Alexa bisa merasakan napas Alex yang mulai teratur menandakan kalau sang deterktif telah tertidur. Alexa tersenyum dan mulai memejamkan matanya kembali tapi dia memerlukan waktu sedikit lama untuk kembali tertidur.


Malam itu Alexa merasakan kalau itu adalah tidur ternyenyaknya, ia merasa sangat nyaman tidur dalam pelukan Alex. Diam-diam ia tersenyum ketika menyadari saat membuka matanya dan melihat kalau pria itu masih terlelap di sampingnya. Perlahan matanya menyusuri lekuk wajah tampan Alex, dia memiliki alis mata tebal dan bulu mata yang lentik untuk ukuran seorang pria yang membingkai mata tajamnya menjadikan lebih mematikan ketika menatap lawan bicaranya, hidung mancungnya membuat matanya semakin dalam, rahangnya terpahat sempurna dengan bulu-bulu halus yang baru tumbuh membuatnya semakin terlihat maskulin.


"Kau memang tampan," bisiknya sambil tersenyum menatap Alex yang sepertinya masih berada di alam mimpinya.


"Apa yang kalian lakukan?"


Sebuah suara berat membuatnya terperanjat, secepat kilat ia terduduk, matanya membulat ketika menyadari ada dua pasang mata yang daritadi mengawasinya, mulutnya menganga lebar tak percaya.


*****