The Secret Identity (#3 The Secret Series)

The Secret Identity (#3 The Secret Series)
Bab 43



“Tapi kami belum bisa mengidentifikasi karena gambarnya terlalu gelap, Nate sudah berusaha sebisa mungkin untuk membuat gambar itu menjadi jelas tapi tetap kami tidak bisa mengenalinya.”


“Bagaimana dengan CCTV jalanan?” tanya Gerard dengan penasaran, “Maksudku apa tidak bisa dilihat darimana dia datang? Siapa tahu kita bisa melacaknya dari kendaraan yang dia kendarai.”


Alex menggeleng sambil menelan suapan terakhir makannya sebelum menjawab pertanyaannya.


“Kami belum menemukan apapun.”


“Apa aku bisa melihatnya? Mungkin aku bisa membantu,” ujar Gerard yang membuat Alex kembali menatapnya. Ia tahu Nate tidak kalah hebat dari sahabatnya itu tapi ia juga mengetahui kalau Gerard memiliki tangan ajaib bila berhubungan dengan komputer.


“Baiklah, aku akan meminta copy videonya dan besok aku akan memberikannya kepadamu,” ucap Alex yang langsung mendapat anggukan mengerti dari Gerard.


Malam semakin larut dan mereka semakin larut dalam pembicaraan-pembicaraan ringan, gelak tawa mengisi malam itu walau kadang terdengar perdebatan tak berarti yang membuat malam mereka semakin berwarna. Untuk sesaat Alex bisa melupakan kasus yang telah menguras tenaga dan emosinya saat ini. Bukan hanya tubuhnya yang merasa lelah karena kurang beistirahat tapi juga pikirannya yang bekerja ekstra mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk untuk menangkap orang yang membahayakan nyawa orang-orang yang ia sayangi.


Alex membaringkan tubuhnya di kasur Alexa yang terasa begitu nyaman mengingat beberapa hari terakhir ini ia hanya tertidur di kursi kantor itu-pun hanya beberapa menit.


“Kau kini terlihat seperti zombie lagi,” ucap Alexa sambil memeluk Alex dan menghirup wangi tubuhnya yang ia rindukan.


“Zombi yang tampan dan seksi,” ujar Alex sambil menciumi leher Alexa yang tertawa geli.


“Da..n, zombie tampan ini harus tidur sekarang.” Alexa berkata sambil nendorong kepala Alex menjauh dari lehernya.


“Oh ayolah, Lexi, aku sangat merindukanmu. Beberapa hari ini aku bahkan tak bisa menciummu,” ucap Alex sambil kembali menciumi leher, pipi dan telinga Alexa hingga membuat gadis itu terkikik geli.


“Alex, hentikan,” pinta Alexa sambil terkikik dan berusaha menghidar dari ciuman-ciuman Alex, “Kau harus tidur sekarang… besok kau harus kembali lagi mengejar para penjahat supaya kita semua bisa tidur nyenyak.”


“Aah.. kau benar, aku harus menangkap mereka secepatnya,” ucap Alex sambil mencium kening Alexa untuk terakhir kalinya kemudian memeluknya dengan nyaman.


“Tenang saja kau pasti bisa menangkap mereka, tidak akan ada seorang penjahat-pun yang lolos dari seorang MacKena.” Alexa menirukan perkataan yang biasa Alex ucapkan hingga membuat pria itu tertawa.


“Kau benar, karena aku adalah…”


“Karena kau adalah zombie narsis.”


“Detektif hebat.”


“Kau benar-benar narsis.”


“Itu bukan narsis tapi kenyataan, Lexi.”


Alexa mendengus sambil menggelengkan kepala mendengar hal itu.


“Alex, kenapa kau selalu memanggilku, Lexi? Bukankah kau tahu kalau aku tak menyukainya.” Alexa menanyakan hal yang membuatnya penasaran selama ini, dan jawaban dari Alex membuatnya cukup terkejut karena di luar perkiraanya.


“Karena kau hanyalah milikku seorang dan tak akan ada orang lain yang berani memanggilmu dengan panggilan itu selain aku,” ucap Alex sambil memeluk erat Alexa yang sepertinya untuk beberapa saat lupa untuk bernapas dan diam-diam tersenyum sambil menyurukan kepalanya di dada bidang Alex dan akhirnya tertidur dengan nyaman dalam dekapan sang kekasih.


Dan mulai saat itu setiap Alex memanggilnya Lexi, dia akan tersenyum bahagia dengan binar-binar penuh rasa cinta dimatanya membuat semua orang mengerutkan kening terlihat bingung dengan perubahan itu.


“Apa yang telah terjadi?” tanya Daniel sambil menatap keduanya dengan pandangan menyelidik, begitu pula dengan Raina dan Kerelyn tapi tidak dengan Gerard yang seolah tengah berada di dunianya sendiri ketika di depan komputer.


“Apa maksudmu?” Alex balik bertanya sambil menatap ketiganya santai. Seperti yang telah dijanjikan Alex tadi ke kantor hanya untuk mengambil copy video CCTV dan kembali ke rumah keluarga Winchester setelah sebelumnya meminta semua orang menghubunginya kalau ada berita terbaru tentang kasus itu.


“Apa ada sesuatu di antara kalian berdua yang tidak kami ketahui?” Kerelyn ikut bertanya yang membuat Alex dan Alexa saling pandang tak mengerti.


“Ok! Biar kuperjelas,” ujar Raina sambil memajukan tubuhnya ke depan, “Kau, Lexa, biasanya akan marah dengan wajah cemberut setiap Alex memanggilmu, Lexi, tapi sekarang… kau akan tersenyum lebar dan matamu seolah memiliki lampu neon karena bercahaya setiap Alex memanggilmu dengan panggilan yang kau benci itu.”


“Hmm.. kalau itu aku-pun tak tahu alasannya kenapa,” ujar Alex yang kini ikut menatap Alexa yang pipinya sudah memerah.


“A-apa?” tanya Alexa dengan gugup menatap empat orang yang menatapnya dengan penasaran.


“Kenapa pipimu jadi merah?” tanya Alex dengan senyum jahil.


“Ini karena ruangannya panas, aku akan menyalakan pendingin ruangan.”


“Oh ayolah, ceritakan pada kami kenapa kau sangat bahagia setiap dia memanggilmu, Lexi.” Raina berkata dengan penasaran begitu juga yang lainnya termasuk Alex yang menatapnya dengan penasaran, Alexa terlihat ragu beberapa saat dan itu membuat keempatnya menjadi lebih penasaran sampai akhirnya ia membuka mulutnya dan membuat yang lainnya ikut membuka mulut.


“Tidak ada,” ucap Alexa yang membuat semua orang menatapnya tak percaya.


“Memang tidak ada apa-apa,” lanjutnya mempertegas ucapan sebelumnya.


“Tidak mungkin,” ujar Kerelyn tak percaya yang mendapat anggukan dari yang lain.


“A, apa yang kau lakukan semalam hingga membuatnya berubah drastis hanya dalam dalam waktu semalam?” tanya Daniel membuat Alex terlihat berpikir.


“Semalam aku menciumi lehernya, kemudian…”


“Apa yang kau bicarakan!” seru Alexa dengan reflex menutup mulut Alex dengan tangannya, tapi terlambat semua orang sepertinya telah mendengar apa yang pria bermata biru itu ucapkan karena kini semua orang menatapnya dengan mata terbelalak dan mulut menganga.


“Jadi…”


“Semalam…”


“Kalian…”


“Ya Tuhan! Ayolah, jangan berpikiran yang tidak-tidak oke?! Semalam kami tidak melakukan apa-apa… kami hanya tidur, benar-benar tidur.” Alexa berusaha membela diri tapi sepertinya sia-sia. Raina dan Kerelyn menatapnya dengan senyum dan tatapan jahil membuat Alexa menganga tak percaya, sedangkan Daniel kini menatap Alex dengan pandangan membunuh seolah-olah dia telah mengambil adik kecilnya yang berharga dari pelukannya.


“Selesai!” Seru Gerard mengalihkan perhatian semua orang. Terlihat senyum mengembang dari pria yang terlihat tampan dengan kacamata dan rambut sedikit gondrong yang terlihat berantakan.


“G, kau memang hebat!” puji Alexa berlebihan sambil memeluk Gerard karena pria itu telah berhasil menyelamatkannya dari interogasi keempat orang yang kini lebih tertarik untuk menatap layar laptop Gerard.


“Yeah, aku tahu, aku memang hebat,” ujar Gerard sambil menaikan alisnya bangga tanpa mengetahui alasan sebenarnya dari pujian perempuan bermata amber itu.


“Ini jauh lebih baik daripada yang kemarin.”


Alex berkata sambil duduk mendekati layar laptop, kini semua orang tengah serius mengamati video hasil rekaman CCTV dimana terlihat seseorang dengan berpakaian serba hitam lengkap dengan topi dan masker tengah berjalan di pekarangan rumah mereka.


“Kau benar dia seorang perempuan,” ucap Daniel dengan mata tak lepas dari layar yang dapat anggukan dari Alex.


“Tapi sayang kita tak bisa melihat wajahnya, kualitas gambarnya terlalu jelak dan gelap,” ujar Gerard.


“Tunggu!” Alexa tiba-tiba saja berseru dengan mata menatap layar terlihat serius, “Bisakah kau memutar kebelakang sedikit,” pintanya yang langsung dituruti Gerard.


“Ada apa Lexi? Apa kau mengenalnya?” tanya Alex dengan semangat berharap Alexa mengenal sosok dalam video itu, begitu juga dengan yang lainya yang kini terlihat bersemangat menatapnya.


“Ini…” ucap Alexa dengan jari menunjuk topi yang dipakai perempuan itu, beberapa saat Alexa terlihat ragu, alis matanya berkerut menandakan kalau ia tengah berpikir, “Aku sepertinya mengenal topi ini, tapi…” Alexa kembali terlihat ragu dan akhirnya menggelengkan kepala dengan putus asa, “Maafkan aku, aku lupa.”


“Apa mungkin kau melihatnya di jalan?” tanya Daniel yang kembali membuat Alexa berpikir kemudian menggeleng.


“Bukan, bukan di jalan… aku yakin sangat mengenal topi ini,” jawab Alexa yakin sambil kembali mengingat dimana ia pernah melihat topi itu.


“Tapi bisa saja kau melihatnya di toko, Lexa, bukankah topi seperti ini dijual bebas,” ucap Raina sambil memerhatikan topi hitam baseball pada umumnya.


“Bukan topinya, tapi ini,” ujar Alexa sambil menunjuk pinggir topi yang menarik perhatiannya dari tadi yaitu sebuah pin burung phoniex yang menempel di pinggirnya.


“Apa ini? Bukanlah ini sebuah burung?” Gerard berusaha memperbesar gambarnya tapi hasilnya pecah hingga membuat gambar itu kabur.


“Aku mungkin salah karena gambarnya tidak begitu jelas, hanya saja aku merasa kalau aku pernah melihatnya,” ujar Alexa kembali terlihat ragu.


“Kau benar, Lexi, bisa saja kau salah tapi kita tidak boleh melewatkan semua kemungkinan yang ada bahkan petunjuk sekecil apapun itu akan sangat membantu kita untuk menangkap mereka, jadi kalau kau mengingat sesuatu apapun itu kau beritahu aku secepatnya, ok?


Alexa mengangguk menyetujui dengan apa yang dikatakan Alex sebelum ia kembali menatap layar laptop milik Gerard dan matanya kembali fokus menatap sosok di dalam video dan hal itu membuat alisnya kembali berkerut berusaha mengingat dimana ia pernah melihat lambang itu.


*****


Haiii.. mohon maaf bab 42 telat up, padahal dari pagi seperti bisa sudah saya up, mungkin karena sibuk jdnya NT telat up 🙏 Dan seperti yang sudah saya janjikan di grup kalau malam tidak up juga maka saya akan double update... so... selamat baca 💗A.K💗