The Secret Identity (#3 The Secret Series)

The Secret Identity (#3 The Secret Series)
Bab 45



“Sial!” Seru Alex sambil berlari keluat dari ruangan setelah membaca isi kartu itu, dengan terburu-buru dia menghubungi Alexa tapi ponselnya tak bisa dihubungi.


“Oh sial!” upatnya sambil terus menuruni tangga dengan cepat.


“Aku akan meminta seseorang yang berada di sana untuk mengecek keberadaan Alexa,” ucap Phillip sambil berlari menuju mobil patroli dengan menggunakan radio transmisi polisi dia memerintakan petugas yang sedang berada di daerah kantor Alexa untuk mengecek keberadaan kekasih dari Alex MacKena tersebut.


Sedangkan Alex kini terlihat tengah menghubungi Gerard yang untung saja langsung dijawab pada dering kedua.


“G! Apa di sana baik-baik saja?” tanya Alex dengan nada khawatir membuat Gerard menyadari kalau ada sesuatu yang salah tengah terjadi.


“Iya, kami baik-baik saja.”


“Oh syukurlah,” ucap Alex dengan nada sedikit tenang tapi ia kembali terlihat tegang, “G, periksa keberadaan Lexa sekarang, aku tak bisa menghubunginya.”


“Bukannya kau sedang bersamanya?”


“Sesuatu terjadi, aku akan menceritakannya nanti sekarang periksa keberadaan Lexa dan hubungi aku secepatnya setelah kau menemukannya.” Alex mengakhiri panggilannya lalu masuk ke dalam mobil dan baru saja akan menyalakan mesin mobil ketika ponselnya berbunyi, ia mengira itu adalah Gerard atau Daniel tapi seketika ia berhenti bernapas ketika melihat no yang masuk adalah no yang tak dikenal dan ia bisa menebak siapa yang menghubunginya.


“Halo.” Alex menjawab telepon itu dengan adrenalin terpacu.


“Hallo, Jack, atau kau harus ku panggil detektif Alex MacKena?”


Seketika jantung Alex berhenti berdetak untuk beberapa saat ketika mengenali suara dari orang yang menghubunginya saat ini.


*****


“Apa yang kau cari?” tanya Kely ketika melihat Alexa tengah mencari sesuatu di meja kerjanya.


“Ponselku,” jawab Alexa sambil melihat isi tasnya berharap benda mungil itu ada didalamnya, “Aku lupa menaruhnya dimana,” lanjutnya terlihat putus asa.


“Kau meninggalkannya di ruang workshop… ini,” ujar Kely sambil menyerahkan ponsel berwarna putih yang langsung saja membuat Alexa tersenyum lebar, “Untung saja aku melihatnya, tapi sepertinya batrainya habis.”


“Oh, Kely, terimakasih banyak kau memang penyelamatku.” Alexa memeluk rekannya dengan senyum mengembang.


“Aku tahu,” ucap Kely membuat Alexa tertawa, “Dan aku telah memberikan kopi untuk para pengawalmu.”


“Thank you, seharusnya kau tak perlu melakukan itu aku bisa mengantarkannya sendiri.”


“Oh tidak-tidak, itu hanya membuatku merasa risih,” ujar Alexa sambil menggelengkan kepala, “Para pengawal itu adalah ide dari para pria posesif dan diseponsori oleh iparku yang kaya.”


Kely tertawa mendengar itu karena dia sangat tahu kalau Alexa kurang menyukai fasilitas kelas atas seperti pengawal pribadi. Profesi ayahnya yang seorang Senator membuatnya sudah merasa kenyang dengan pengawalan ketat dari masih remaja, dan kini ketika ia menginjak dewasa ia harus kembali merasakan hal itu karena teror dari orang-orang gila yang mengancam nyawa mereka semua.


Mereka berjalan keluar dari kantor berselisih jalan dengan dua orang polisi yang memasuki gedung itu. Alexa menatap ke arah mobil para pengawalnya yang terlihat kosong, ia berhenti kemudian mengerutkan keningnya.


“Dimana mereka?” tanya Alexa sambil menatap sekeliling.


“Mungkin mereka sedang ke toilet atau membeli rokok, tidak usah khawatir aku telah memberi tahu mereka kalau kau akan pulang bersamaku dan meminta mereka untuk segera menyusul kita,” ucap Kely sambil menggandeng tangan Alexa dan menariknya supaya kembali berjalan ke arah tempat mobilnya diparkirkan.


Untuk beberapa saat Alexa terlihat ragu tapi akhirnya ia kembali berjalan mengikuti Kely yang langsung masuk ke dalam mobilnya setibanya ditempat parkir. Alexa kembali melihat ponselnya yang mati kemudian membuang napas berat.


“Apa baterai ponselku sudah rusak, kenapa tiba-tiba mati? Padahal aku sudah mengisinya penuh,” ucap Alexa sambil berusaha menyalakan ponselnya tapi tidak berhasil.


“Mungkin bateraimu sudah lemah,” jawab Kely sambil menyalakan mesin kendaraannya dan langsung melaju berbaur dengan kendaraan-kendaraan lain di jalanan kota New York.


Alexa kembali membuang napas kenapa pada saat dibutuhkan seperti ini ponselnya bisa mati, ia ingin mengetahui berita terbaru dari Alex, apa dia berhasil menangkap penjahat itu? Dan Alex pasti akan sangat khawatir ketika mendapati dirinya tak bisa dihubungi.


“Apa kau sedang menunggu kabar dari Alex?” tanya Kely setelah melihat Alexa yang terlihat gusar daritadi.


“Iya, aku sangat mengkhawatirkannya dan aku ingin tahu apa dia berhasil menangkap mereka,” ujar Alexa membuat Kely mengangguk mengerti sambil menghentikan mobilnya karena lampu jalanan kini telah berubah merah.


“Dimana mereka?” tanya Alexa sambil menatap ke belakang mencari mobil yang dikendarai para pengawalnya.


“Tenang saja mereka pasti di belakang kita,” jawab Kely tanpa mengalihkan pandangannya dari lampu lalulintas dan dalam hati berharap kalau lampu itu akan kembali berwarna hijau.


Alexa baru akan kembali menatap ke depan ketika matanya menatap sesuatu di jok belakang, ia mengerutkan keningnya mencoba memokuskan pandanganya terhadap topi hitam yang tergeletak di atas kursi belakang. Bukan topinya yang menarik perhatian Alexa tapi pin burung yang menempel di sampingnya.


Seketika jantungnya berdetak hebat, aura dingin merambati dari ujung kaki sampai tulang belakangnya, ia menggenggam ponsel yang dari tadi digenggamnya dengan sangat kencang ketika menyadari kalau pin itu sama seperti yang tertempel pada topi si pengirim bunga.


****


Haiiii.... nah kan ketahuan siapa si pengirim bunga. Yap, Kely!!! Selamat buat yang tebakannya benar 👏👏👏 akhirnya nama Kely keluar sebagai tersangka di saat-saat akhir, setelah sebelumnya posisi tersangka dipegang oleh Lucy 😅