
Alex membuka matanya, untuk beberapa saat dia terlihat bingung karena tak mengenali tempat dimana dia tidur saat ini, tapi setelah menatap sekeliling dalam keremangan cahaya dari jendela apartemen dia akhirnya mengingat kalau saat ini dia tengah berada di apartemen Alexa. Ia duduk lalu tersenyum ketika melihat sebuah selimut menutupi tubuhnya, dia tahu gadis itu tak akan tega untuk membangunkannya dan menyuruhnya pulang. Ia kini berjalan ke arah lemari pendingin untuk mengambil minum, lalu hendak kembali ke sofa ketika ia mendengar suara mecurigakan dari luar.
Dengan perlahan dia berjalan ke arah pintu sambil menajamkan pendengarannya. Alex mengumpat ketika dia menyadari ada lebih dari satu orang di balik pintu itu, dan ia kembali mengumpat ketika menyadari pistolnya ada di atas meja, dengan cepat ia mengambil pistolnya tapi botol air mineral yang tadi dipegangnya terjatuh hingga menimbulkan suara membuatnya mengutuk dirinya sendiri.
Ia berjalan dengan cepat ke arah pintu lalu dengan siaga penuh ia membukanya, tapi tak ada siapapun di lorong yang terlihat sepi. Ia baru saja akan membalikan tubuhnya untuk masuk ke dalam ketika telinganya mendengar bunyi denting pintu lift membuatnya berlari ke arah lift tapi sudah terlambat, benda itu kini sudah turun ke lantai dasar. Alex menatap sekeliling sampai matanya melihat CCTV yang di pasang di depan lift, ia memutuskan akan memeriksanya besok, tapi kali ini ia akan kembali untuk memeriksa keadaan Alexa.
Alex masuk lalu kembali mengunci pintu apartemen, dengan cepat ia berjalan menuju kamar Alexa kemudian membuka pintunya yang tak terkunci, ia menggelengkan kepala mengingat kecerobohan gadis itu karena tak mengunci kamar tidurnya tapi ia kemudian tersenyum dan bisa bernapas lega setelah melihat Alexa yang terlihat damai di balik selimutnya.
*****
Pagi itu Alexa keluar dari kamarnya dengan mata masih setengah terpejam, dia langsung menuju dapur untuk minum air mineral seperti kebiasanyaannya, lalu dia berjalan ke arah sofa tapi tiba-tiba matanya terbelalak ketika melihat seorang pria bertelanjang dada tengah tidur di sana dengan damainya. Beberapa saat ia hanya menatap tubuh sempurna itu dengan mulut menganga dan mata berkedip-kedip masih bingung.
"Alex! Apa yang kau lakukan?!" serunya setelah sadar dari keterkejutan dan membuat Alex langsung duduk siaga karena terkejut.
"Aah.. Lexi, kenapa kau harus berteriak!" Seru Alex sambil memegang kepalanya yang pening karena tiba-tiba terbangun.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Alexa kembali bertanya.
"Apa kau tak lihat kalau aku sedang tidur," jawab Alex sambil kembali berbaring telentang dan menutup mata dengan tangannya.
"Maksudku... kenapa kau tak memakai bajumu?" tanya Alexa sambil menatap dadanya yang bidang tapi kemudian dia menggelengkan kepala lalu memutuskan untuk memfokuskan matanya ke bagian wajah Alex yang sialnya kini tengah tersenyum ke arahnya.
"Ayolah, Lexi.. kau bahkan sudah melihat lebih dari ini," ujar Alex sambil merubah posisinya menjadi miring dan kembali memejamkan mata sambil memeluk bantal kepala Winnie the pooh sebagai guling.
"Jangan ingatkan aku tentang itu lagi! Kalian semua telah mencemari mataku dan Em dengan pemandangan yang..." Alexa bahkan tak bisa menemukan kata yang tepat, dia hanya mengangkat kedua tangannya sambil menggelengkan kepala lalu berjalan ke arah dapur dengan putus asa.
"Lexi, apa kau tak mengalami kejadian aneh akhir-akhir ini? Selain merasa diikuti?"
Alex bertanya setelah beberapa saat dia berpikir tentang kejadian tadi malam, dia masih terbaring di atas sofa sambil menatap Alexa yang terlihat sedang membuat kopi untuk mereka berdua dan mengambil roti yang kemudian dia masukkan ke dalam alat pemanggang.
"Tidak, apa ada yang salah?" tanya Alexa sambil menuangkan kopi ke dalam mug kemudian menaruhnya di atas meja makan.
"Tidak," jawab Alex sambil duduk lalu memakai kaosnya untuk kemudian bergabung dengan Alexa yang sedang mengolesi roti dengan selai coklat di meja makan. Untuk saat ini Alex tak akan menceritakan kejadian semalam karena semua belum pasti dan dia tak ingin membuat Alexa cemas dengan masalah yang belum jelas.
Alex duduk di depan Alexa yang masih mengolesi roti mereka. Rambut coklat panjangnya di ikat dengan asal dan masih terlihat berantakan tapi juga terlihat seksi dengan kaos pendek dan celana tidur polos berwarna biru muda, sedangkan Alex juga terlihat seksi dengan rambut berantakan dan suara serak bangun tidurnya. Tapi sepertinya pemandangan seksi dari keduanya tidak memberi pengaruh apapun pada kedua orang yang duduk berhadapan itu.
"Apa kau ada acara hari ini?" Alex bertanya sambil menggigit roti yang diserahkan Alexa.
"Tidak, aku hanya akan bertemu dengan Dean sebelum makan siang setelah itu tidak ada yang penting.
"Kau akan makan siang dengannya?" tanya Alex sambil menatap Alexa yang terlihat sedang memakan rotinya.
"Tidak, aku hanya akan memerlihatkan beberapa rancanganku kepadanya."
Alex mengangguk sambil tersenyum lalu meminum kopi.
"Kenapa kau menjemputku?"
"Bukankah mobilmu di bengkel? Jadi aku akan menjadi supirmu sampai mobilmu selesai diperbaiki," ucap Alex sambil menaikan alisnya dan meminum kopinya santai.
Alexa melipat tangannya di atas dada, matanya menatap pria di hadapannya dengan sedikit dipicingkan penuh curiga, membuat Alex menatapnya dan mereka hanya saling pandang untuk beberapa saat.
"Apa?" tanya Alex memecah keheningan.
"Rancana apa yang sedang kau susun?" tanya Alexa masih menatap Alex dengan curiga.
Alex bersandar di kursi dengan santai sambil menggelengkan kepala, "Tidak ada," jawabnya sambil menyeruput kopinya lagi.
"Alex, kau tidak mungkin mau melakukan itu tanpa alasan... jadi katakan padaku apa rencanamu?"
"Tidak ada, ok! Sekarang lebih baik kau bersiap-siap, aku akan ke bawah sebentar," ucap Alex sambil berjalan ke arah pintu mengacuhkan seruan Alexa.
"Alex, jangan melarikan diri, aku tahu kau merencanakan sesuatu!" Seru Alexa sambil berdiri hendak mengejar Alex, tapi pria itu hanya tersenyum ke arahnya sambil membuka pintu lalu menutupnya meninggalkan Alexa yang mengomel sambil berjalan ke kamar mandi.
Alex kini sedang berada di ruang keamanan gedung untuk memeriksa CCTV tadi malam, dia memeriksa pada saat kejadian sekitar pukul 2 sampai 3 pagi tapi tak ada apapun yang terekam di sana, dia sangat yakin kalau ia mendengar sesuatu bahkan ia melihat lift itu turun ke bawah, apa mungkin dia salah?
Tapi instingnya sebagai seorang detektif tak bisa di bohongi sampai akhirnya ia meminta petugas untuk memerlihatkan CCTV dari jam 9 sampai jam 10 malam pada saat ia dan Alexa sampai di apartemen, tapi tak terlihat apapun di sana. Ia mengerutkan kening ketika melihat kejanggala pada layar CCTV, dan akhirnya ia meminta petugas untuk mengcopy hasil rekaman semuanya pada malam tadi. Alex kembali ke atas untuk menjemput Alexa yang sudah siap pergi kerja, sepanjang perjalanan menuju kantornya, Alexa melihat pria yang sekarang sedang menyetir itu jadi lebih banyak diam terlihat berpikir, dia hanya akan menanggapi pertanyaan-pertanyaan darinya dan kembali larut dalam pemikirannya sendiri sampai akhirnya mereka-pun tiba di depan kantor Alexa.
"Alex, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Alexa sebelum turun dari mobil membuat pria itu menatap ke arahnya lalu tersenyum.
"Tidak ada, semua baik-baik saja," jawab Alex membuat Alexa menatapnya sebentar kemudian mengangguk.
"Baiklah kalau begitu, terimakasih atas tumpangnya," ucap Alexa sambil membuka pintu dan ke luar.
"Lexi!"
Alexa membungkuk ke arah jendela mobil Alex yang terbuka.
"Jangan pulang sendiri, tunggu aku ok!"
Alexa bisa melihat pria itu terlihat serius dan dia tak ingin mendebatnya kali ini.
"Baiklah, aku akan menunggumu," ucap Alexa membuat Alex mengangguk terlihat puas, "Alex," panggil Alexa membuat pria itu kembali menghadapnya, "Pulang dan mandilah dulu... kau terlihat sangat kacau," lanjutnya sambil mneggelengkan kepala lalu pergi meninggalkan pria yang mendengus tersenyum lalu kembali melajukan mobilnya sambil mengangkat ponselnya.
"G! Aku perlu bantuanmu... Aku rasa Lexi dalam bahaya... beri tahu Daniel, kita bertemu siang ini."
*****