
Malam telah larut tapi Alex belum bisa memejamkan matanya yang masih fokus menatap layar laptop hitam miliknya, entah sudah berapa kali ia mengulang menonton video yang merekam aksi perampokan ghost. Tapi sayang kualitas gambarnya telalu gelap dan bergoyang hingga membuatnya putus asa dan akhirnya menyerah.
Ia mematikan laptopnya dan setelah memastikan pintu apartemen telah terkunci kemudian mematikan lampunya dan masuk ke dalam kamar. Ia membaringkan tubuhnya di atas kasur pada saat seperti inilah dia paling merindukan Alexa untuk ia peluk, wangi tubuh gadis itu seperti memiliki zat penenang yang bisa membuat syaraf-syarafnya tenang dan membuatnya tidur dengan lelap. Tapi kini ia hanya bisa memeluk guling dan mengumpat ketika tak juga mau terlelap.
Pagi itu suasana kantor NYPD belum begitu ramai, Alex berjalan dengan kacamata hitam menutupi matanya yang masih mengantuk, tangannya memegang gelas kertas berisi espresso yang kental. Ia menghempaskan tubuhnya di atas kursi lalu menyeruput espressonya berharap kafein pada minuman itu bisa membuatnya sedikit segar.
“Apa yang terjadi padamu akhir-akhir ini? Kenapa kau terlihat seperti mayat hidup seperti itu?” tanya Phillip setelah melihat kondisi mata Alex dengan kantung matanya.
“Aku kehilangan boneka beruangku jadi aku tak bisa tidur,” jawab Alex santai membuat Phillip terbelalak sambil menatapnya tak percaya.
“Kau… tidur sambil… memeluk boneka?” tanya Phillip dengan seringai lebar diwajahnya.
“Iya, boneka yang sangat wangi dan cantik,” jawab Alex dengan senyum miringnya membuat rekannya kini mengerti apa yang ia maksud.
“Aah… maksudmu boneka beruang dengan rambut coklat dan bermata amber yang sangat cantik?”
“Iya, boneka yang itu,” ucap Alex sambil menganggukan kepala, “Apa aku sudah gila, Phil? Maksudku aku hanya tidur dan benar-benar tidur dengannya selama beberapa hari saja dan lihat sekarang, aku bahkan tak bisa memejamkan mataku di malam hari tanpa memeluknya.”
Alex terlihat putus asa ketika mengatakan hal itu dan itu membuat Phillip merasa prihatin sekaligus bersyukur karena akhirnya sang player sudah menemukan seseorang yang bisa membuatnya tak bisa berkutik lagi.
“Tidak, kau tidak gila. Itu karena kau mencintainya,” ucap Phillip membuat Alex menangkat alisnya.
“Aku tahu kalau aku mencintainya tapi aku tak mengira kalau akan akan segila ini,” ucap Alex sambil menggelengkan kepala lalu kembali menyeruput espressonya membuat Phillip tertawa.
“Ah, aku hampir lupa!” Seru Alex dengan wajah serius menghadap Phillip yang baru saja akan kembali kemejanya, “Phil, aku rasa kita harus mulai mencari identitas ‘King Arthur’.”
“Tapi kau tahu sendiri mereka semua bungkam tentang orang itu, yang kita tahu hanya nama kecilnya adalah Pier, dan kau tahu berapa orang yang bernama Pier di sini? Banyak.”
“Kau benar, tapi kita mengetahui kalau ternyata Pier ini masih hidup… seandainya semua orang mengetahui kalau kau mati tapi ternyata kau masih hidup siapa yang akan kau hubungi terlebih dahulu?”
Phillip terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Alex, “Istriku tentu saja dan keluargaku.”
“Itu dia… pertama-tama kita bisa mencari tahu tentang masa lalu mereka dari sana kita akan mengetahui identitas King Arthur, kemudian kita akan mulai mencari tahu tantangnya dari keluarganya terlebih dahulu.”
Alex berusaha menjelaskan rencana yang telah ia susun dari semalam dan mendapat reaksi positif dari rekannya, mereka mulai mencari data tentang tempat tinggal Jason, Bradly dan Rebeca ketika masih kecil dan mengetahui kalau mereka tumbuh di daerah Louisiana.
“Ok, kita bisa mulai mencari tahu tentang identitas Pier dari keluarga mereka, kalau misalnya mereka memang berteman baik dari kecil aku yakin keluarga mereka mengenal siapa Pier ini sebenarnya,” ucap Alex yang mendapat anggukan Phillip.
“Sial! Seandainya video itu menunjukan suatu petunjuk tentang keberadaan King Arthur kita tak akan sesusah ini mencari orang yang sudah mati,” umpat Phillip dengan wajah kesal karena tidak menemukan bukti tambahan apapun tentang keberadaan Pier dari video yang mereka miliki.
“Video apa? Apa kalian memiliki video menarik? Seharusnya kalian berbagi denganku,” ujar Nate yang datang tiba-tiba membuat Alex dan Phillip terlihat sedikit terkejut.
“Sial, Nate! Kau mengejutkanku,” seru Alex dengan wajah garang menatap pria berkacamata dengan rambut berantakan yang hanya tersenyum santai sambil mengangkat bahunya menerima omelan dari Alex.
“Jadi video apa yang kalian bicarakan?” tanya Nate dengan semangat berharap kalau video yang sedang dibicarakan kedua detektif itu bisa memberinya sedikit hiburan.
“Video tentang orang mati,” jawab Phillip asal membuat Nate mendelik padanya lalu berdecak, ia baru saja memutar badannya untuk kembali keruangannya ketika Alex memanggilnya.
“Nate… apa kau bisa membuat tampilan sebuah viedo yang buram atau gelap menjadi terang?” tanya Alex sambil menatap Nate yang telah berbalik kembali menghadapnya.
“Iya tentu saja, jangankan buram aku bisa mengambalikan video yang telah rusak sekalipun.” Nate menyombongkan diri sambil menyeringai yang membuat Alex langsung berdiri lalu merangkul petugas CSI itu.
“Bagus! Kami perlu bantuanmu, ayo!” Ajak Alex sambil mendorong tubuh Nate yang telihat bingung dengan tindakan tiba-tiba itu.
Sudah beberapa menit mereka berada di ruangan Nate yang terlihat serius menatap layar komputer dimana pria berkacamata itu tengah melakukan sesuatu pada video yang Alex berikan.
“Ini resolusi maksimal yang bisa aku gunakan pada video ini, waktunya pada malam hari dan kurangnya pencahayaan di sekitar membuatnya hanya bisa sampai ini,” jelas Nate sambil memperbaiki letak kacamatanya.
“Tidak apa-apa, terimakasih banyak, Nate,” ucap Alex lalu mendekat ke arah layar komputer untuk memerhatikan video itu lebih seksama lagi.
Dia meminta Nate memutarnya dari awal dimana terlihat beberapa orang dengan pakaian hitam-hitam dan sebagian lagi menyamar menggunakan pakaian keamanan terlihat sedang berdiri di belakang gedung, sampai akhirnya James dan beberapa orang muncul dari dalam gedung dengan mambawa tas besar yang disinyalir berisi hasil jarahan mereka.
James terlihat terburu-buru menuju mobilnya pada saat itulah ia melihat ke arah kamera dan menyadari kalau aksinya telah terekam.
“Tunggu!” seru Alex dengan mata dipicingkan dan tubuh yang semakin mendekati layar komputer membuat Nate dan Phillip ikut melakukan hal yang sama.
“Mundur sedikit,” perintahnya yang langsung dituruti Nate tanpa banyak bicara.
“Stop!” serunya dengan mata semakin tajam menatap layar, “Ini! Kau bisa memperbesar ini?” tanyanya dengan jari tangan menunjuk kaca mobil James dimana terlihat pantulan wajah seseorang di sana. Nate langsung melakukan sesuai perintah Alex dia memperbesar objek yang ditunjuk Alex dan seketika detektif NYPD itu mengumpat.
“Kau mengenalnya?” tanya Phillip sambil bergantian menatap Alex dan pria dengan brewok yang menutup sebagian wajahnya yang terpampang di layar komputer.
“Juan Valentino, dia adalah kaki tangan… Simon Javier,” jawab Alex yang langsung membuat Phillip mengumpat sedangkan Nate mengangkat alisnya bingung melihat wajah-wajah tegang kedua detektif itu.
****
Haii... yg dari kemarin curiga sama Dean Tyler, dan ngira Bradly Foster saudaranya Matt, cuuung? hahahaha, Dean itu cuma pengalih perhatian, kalau Bradly ya dia emang tim ghost tapi bukan saudara Matt, kebetulan aja punya nama keluarga yg sama 😅😅 tapi ada juga beberapa yg tebakannya benar, Yap Simon Javier! clue sudah saya kasih, Alex yang melihat 'hantu' ketika keluar dari gedung Dean, panggilan kecil 'King Arthur' adalah Pier, dan dari awal juga sudah diberitahu kalau salah satu dari anggota ghost cukup mengenal siapa Alex, bahkan tau kalau Alexa adalah kekasih Alex, dan cuma kepada Simonlah Alex memperkenalkan Alexa sebagai kekasihnya waktu penyamaran dulu 😁😁 naaah pertanyaannya sekarang adalah bagaimana Simon selamat dari ledakan di Kanada? dan siapa perempuan yg mengirim bunga dan catatan tentang karma kepada Alexa? 😁😁😁