
“Well… well.. Detektif, sudah lama kita tidak bertemu? Bagaimana keadaan bintang kecilku, apa dia baik-baik saja?” orang dengan nomor 247 yang tertulis di dadanya itu bertanya sambil menyeringai membuat Alex terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaannya.
“Dia baik-baik saja, tenang saja dia memiliki kami yang akan selalu melindunginya,” jawab Alex berusaha santai dengan senyum menghiasi wajahnya, membuat pria di hadapannya mengangguk mengerti.
“Tapi tidak ada yang akan melindungi dia sebaik aku,” ucap pria itu sambil membetulkan letak kacamatanya dan kembali tersenyum bangga.
Pria itu adalah seorang Psikopat gila yang melakukan pembunuhan berantai dengan hanya meninggalkan sekuntum bunga tulip putih bercak merah pada setiap tubuh korbannya sebagai tanda.
“Itu bukan melindungi, tapi terror.”
Pria itu mengangkat bahunya santai dengan seringai tak lepas dari bibirnya.
“Jadi, Detektif, apa yang membawa mu kemari? Jangan katakan kalau kau merindukanku.”
“Jangan terlalu percaya diri seperti itu. Aah, jangan-jangan selama ini tak ada yang merindukanmu, apa lagi setelah aku menembak satu-satunya orang yang dekat dengamu tepat di dada menembus jantung,” ucap Alex dengan tangan menirukan senjata dan membidikannya ke arah pria yang kini rahangnya mengeras dan matanya tajam menatap Alex yang hanya tersenyum miring.
“Apa kau tak merindukannya? Kenapa kau tak merasa khawatir kalau dia akan kesepian di… sana,” lanjutnya dengan jari telunjuk menunjuk atas dan itu sukses membuat tubuh psikopat gila yang telah menghabisi banyak sekali nyawa itu gemetar menahan amarah dengan mata nyalang menatap Alex yang sepertinya telah menunggu hal itu terjadi.
Perlahan dia memejamkan matanya sampai akhirnya sebuah seringai iblis menghiasi wajahnya, matanya kini terlihat tajam seperti iblis yang yang baru saja keluar dari neraka. Perubahan itu membuat Alex semakin waspada. Pada kasus sebelumnya ia tak berhadapan langsung dengan iblis itu dan dalam hati ia kini bersyukur karena Kerelyn, Raina, Daniel dan Alexa bisa selamat ketika harus berhadapan dengannya dulu. Ia kini paham bagaimana perasaan takut yang dialami para korbannya sebelum meregang nyawa di tangan iblis bertopengkan pria sopan dan terhormat.
“Kau tak usah mencemaskannya,” ucap pria itu pelan, matanya kini menatap Alex tajam, “Karena sebentar lagi aku akan mengirim kekasihmu untuk menemaninya di sana.”
Alex hampir saja melompat menerjang pria yang duduk di hadapannya yang dengan santainya tersenyum setelah mengatakan hal itu. Giginya gemerutuk, rahangnya mengeras, jari tangannya telah mengepal siap untuk melayangkan pukulan. Phillip yang dari tadi berdiri dengan bersandar di dinding ruangan itu dengan cepat berdiri di sampingnya kemudian menekan bahunya dengan cukup kuat, secara tak langsung memberitahunya supaya tidak terpancing.
“Bagaimana kau bisa mengirim kekasihnya ke sana, sedangkan kau sendiri terkurung di sini,” ucap Phillip untuk mengalihkan perhatian pria itu dari Alex yang sedang berusaha mengatur emosinya supaya kembali tenang.
“Hmm.. rahasia,” jawab pria itu sambil tersenyum lebar membuat Phillip menatapnya tajam.
“Rahasia atau maksudmu kau memiliki senjata rahasia?” tanya Alex yang kini telah kembali normal walaupun sorot matanya masih menunjukan amarah.
Harry menatapnya beberapa saat kemudian mengangkat bahunya santai sambil tersenyum mengejek yang hanya ditanggapi Alex dengan sorot mata dingin.
“Simon Javier, apa dia yang menjadi senjata rahasiamu?”
Untuk sepersekian detik Alex bisa melihat keterkejutan di wajah Harry sebelum akhirnya dia mengangkat alisnya dan kembali terlihat normal.
“Simon Javier,” ucap pria itu pelan dan terkesan santai sambil terlihat berpikir beberapa saat sebelum kembali berkata, “Kami telah meledekannya menjadi kepingan- kepingan kecil, sebagai hadiah untuk Kerelyn beberapa bulan lalu,” lanjutnya dengan bangga membuat Alex terdiam beberapa saat kemudian tersenyum miring.
“Aah ternyata kau tidak sehebat itu,” ujar Alex sambil berdiri dari kursinya membuat Phillip duduk di sampingnya karena mengetahui kalau Alex MacKena kini telah kembali seperti biasa.
Pria dengan seragam 247 itu mengangkat alisnya sambil menatap Alex setelah mendengar ucapnya, “Apa maksudmu?” ia bertanya dengan tenang tapi kini sorot matanya terlihat kembali emosi dan ini yang Alex harapkan.
“Aku mendengar cerita dari Kerelyn dan Raina kalau kalian bercerita dengan bangga kepada mereka tentang bagaimana kalian berhasil membunuh semua orang dengan mudahnya… tanpa jejak.”
Pria itu tersenyum bangga mendengar perkataan Alex yang kini berjalan ke arahnya, tangannya ditumpukan di atas meja, badannya sedikit membungkuk ke arahnya, matanya tajam menatap pria itu yang juga menatapnya serius, perlahan bibirnya tersenyum mengejek sambil berkata.
“Tapi itu hanya omong kosong semata.”
Seketika Alex bisa melihat perubahan pada lawan bicaranya, sorot matanya memancarkan amarah, tangannya mengepal, rahangnya mengeras dan itu membuat seringai di wajah Alex semakin lebar. Ia kembali berdiri tegak dan berjalan menjauhi meja.
“Ckk… kalian hanya membual seperti pembohong,” ujar Phillip membuat amarah Harry membuncah hingga membuatnya menggebrak meja dengan geram.
“Itu bukan omong kosong!” Serunya dengan berapi-api, “Aku membunuh mereka semua!” lanjutnya dengan sorot mata berapi-api dan seringai di wajahnya, “Kalian harus melihat bagaimana mereka akhirnya meregang nyawa di tanganku.”
Matanya menerawang, bibirnya tersenyum seolah menikmati aksinya, beberapa saat ia seolah kembali kepada masa itu sampai kemudian dia menatap Alex dan Phillip yang masih terdiam mengamatinya.
“Mereka berteriak ketakutan… memohon.” Dia tertawa, matanya memancarkan kebahagiaan dan itu membuat Alex dan Phillip saling pandang dengan rasa muak, ingin sekali mereka menghajarnya tapi mereka harus bisa menahan emosi untuk saat ini. Ya hanya untuk saat ini.
“Ya, kau memang berhasil menghabisi nyawa-nyawa tak bersalah itu,” ucap Alex membuat pria itu kini menatap Alex masih dengan senyum lebar sambil mengangguk semangat menyetujui ucapannya.
“Mereka hanya orang-orang lemah,” lanjut Alex sambil kembali duduk di hadapannya membuat seringainya perlahan hilang berganti dengan sebuah kerutan muncul di antara alis ketika mendengar ucapannya.
“Tapi kau tak berhasil membunuh orang-orang yang lebih kuat darimu, seperti Daniel dan Simon,” lanjut Alex membuat sorot kebahagiaan menghilang dari matanya dan kembali dengan sorot mata dingin penuh amarah.
“Itu gara-gara perempuan sialan itu!” Geramnya sambil dengan penuh amarah, “Seharusnya aku membunuh mereka berdua saat itu.”
“Kau bahkan dikalahkan oleh seorang perempuan lemah sepertinya,” ejek Alex sambil bertepuk tangan dan tersenyum menatap Harry yang amarahnya semakin membuncah.
“Dan lihat kau malah mendekam di penjara,” sambung Phillip seperti menyiram minyak di atas api.
“Kali ini aku tak akan gagal, mereka semua akan terkubur di bawah taman tulip milikku.”
“Bagaimana dengan Simon? Apa kau juga akan menghabisinya atau kali ini-pun kau akan gagal seperti sebelumnya? Mereka terlalu kuat untuk kau hadapi, sebaiknya kau akui itu.” Alex tak menyia-nyiakan kesempatan ketika melihatnya sedikit lengah karena terbawa emosi.
“Tidak…” ia menggelangkan kepala dengan kuat, sebuah seringai kembali menghiasi wajahnya, “Kau tidak mengetahuinya, tapi aku! Akulah yang membiarkannya hidup.” Dia tertawa penuh kemenangan karena selama ini telah berhasil mengelabui semua orang.
Alex dan Phillip saling pandang beberapa saat sebelum kembali menghadap depan dimana pria itu kini tersenyum lebar.
“Jadi kau membiarkannya hidup?” tanya Phillip yang dijawab anggukan semangat.
“Iya, aku membiarkannya hidup. Aku bisa saja membunuhnya dengan mudah, tapi tidak,” ia menggelengkan kepala dengan seringai diwajahnya, “Aku masih memerlukannya dalam keadaan hidup.”
“Kenapa kau membiarkannya hidup? Apa karena… ghost?” Alex bertanya dengan serius membuat pria itu menatapnya beberapa saat dan sebuah senyum miring mengejek menghiasi wajahnya.
“Ghost? Itu hanya permainan anak kecil,” ucapnya sambil mengangkat bahu santai, membuat Alex dan Phillip kembali saling pandang.
“Jadi kau masih ada hubungannya dengan ghost?” Alex kembali bertanya, tapi emosi pria itu sudah kembali tenang terlihat dari caranya duduk yang bersandar dengan santai sambil menatap keduanya.
Dia hanya mengangkat bahu sambil tersenyum sebagai jawaban dan itu membuat Alex harus kembali memutar otak untuk membuat pria itu mengatakan semuanya, sampai akhirnya ia mengingat sesuatu.
“Simon… bukan kau yang membiarkannya hidup, tapi orang itu… orang yang berhasil aku bunuh,” ujar Alex sambil menatap tajam membuat sorot mata emosi kembali terlihat pada mata pria itu dan itu membuat senyum miring Alex terbit.
“Tebakanku benar,” lanjut Alex sambil tertawa penuh kemenangan membuat rahang pria di hadapannya semakin mengeras, lubang hidungnya kembang kempis, matanya menusuk tajam penuh amarah tapi hal itu malah membuat Alex semakin menjadi.
“Kau hanya orang di balik layar, kau benar-benar pengecut.” Alex menggelengkan kepala menghina, “Sepertinya aku tak salah menembak mati dirinya saat itu, karena dialah sang malaikat pencabut nyawa sebenarnya, bukan kau… kau hanya seorang yang haus akan perhatian.”
“AKU!” teriaknya sambil menggembrak meja, tapi Alex tak mau kalah dia menggebrak meja lebih kuat dengan badan dicondongkan ke depan, matanya menatap lawannya dengan sorot mata berapi-api, rahangnya mengeras.
“KAU!!!” ia menggeram mengeluarkan amarah yang dari tadi ditahannya membuat pria di hadapannya menelan kembali kata-kata yang ingin diucapkannya dan kini hanya terdiam menatap Alex yang meradang.
“Kau hanya seorang pengecut, tidak lebih… dan aku akan membunuh pengecut sepertimu dan Simon kalau kau berani menyentuh sehelai-pun rambut kekasihku, apa kau paham!” ancamnya dengan mata menusuk menatap mata lawannya yang juga memancarkan kemarahan sama besarnya, tapi perlahan dia tertawa dengan sangat kencang seolah tak peduli dengan ancaman detektif YNPD itu.
“Kau sudah terlambat,” ucapnya diantara tawa membuat Alex mengerutkan keningnya, “Karma sudah mendekat, Malaikat maut menjalankan tugasnya.”
Seketika Alex terbelalak mendengar ucapannya, dadanya bergemuruh, jantungnya memacu dengan hebat, adrenalinnya semakin terpompa membuatnya dengan mudah mengangkat tubuh pria bernomor 247 itu lalu memukulnya hingga tersungkur di lantai.
Tak cukup di sana Alex memaki sambil kembali melayangkan tinjunya membuat hidung lawannya patah dan mulutnya mengeluarkan darah. Melihat itu Phillip berteriak memanggil sipir penjara untuk membantunya memisahkan perkeliahian tak seimbang itu.
“Alex, cukup!!” seru Phillip sambil menarik Alex menjauh dari tubuh pria yang kini telah dibantu dua orang sipir penjara utuk berdiri.
“Baj*ngan! Aku akan membunuhmu! Ingat itu!” teriak Alex penuh emosi yang hanya ditanggapi lawannya dengan seringai mengejek sambil melap bibirnya yang berdarah menggunakan punggung tangan, sebelum akhirnya sipir penjara membawanya keluar dari ruangan itu.
*****