
Alex berjalan dengan tergesa-gesa munuju tempat dia tinggal akhir-akhir ini, ketika Alexa menghubunginya tadi dia bisa merasakan ada yang salah dengannya dan itu terbukti ketika dia bertemu dengan Daniel di depan lift.
"Apa dia menghubungi juga?" Tanya Alex yang dijawab Daniel dengan anggukan.
"Apa kau tahu apa yang sedang terjadi?"
"Tidak, tapi kita akan mengetahuinya segera," jawab Alex yang langsung masuk ke dalam lift disusul Daniel.
Mereka berdua akhirnya sampai di apartemen Alexa dan terlihat terkejut ketika mendapati Gerard dan Theo yang telah berada disana dan terlihat membuang napas lega ketika melihat Alex dan Daniel datang, sedangkan Alexa yang tengah duduk di depan keduanya menatap mereka dengan tajam.
"Kenapa kalian sangat lama," ucap Gerard dengan wajah memelas.
"Apa yang terjadi?" Tanya Daniel sambil duduk di samping Gerard, disusul Alex yang duduk di samping Theo.
"Dia sudah mengetahuinya," bisik Gerard yang membuat Daniel dan Alex membelalak sambil menatap Alexa yang terlihat menatap mereka dengan sorot mata penuh dengan amarah.
"Bagaimana dia tahu?" bisik Daniel yang dijawab Gerard dengan menatap Theo yang hanya meringis melihat ketiga pria di sampingnya memelototinya tajam.
"Kenapa kalian tidak mengatakan padaku tentang apa yang sedang terjadi?"
"Lexa, kami tidak ingin kau merasa khawatir." Daniel berusaha menjelaskan kenapa mereka tidak menceritakan tentang masalah ini kepadanya.
"Sampai kapan kalian akan merahasiakan ini kepadaku? Sampai sesuatu terjadi padaku?"
"Jangan bicara seperti itu, kami tak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu," ucap Alex sambil menatap Alexa yang masih terlihat kesal.
"Seharusnya kalian mengatakannya kepadaku jadi aku bisa lebih waspada dan hati-hati. Semalam aku seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa dan mengira kalau orang yang menembakimu hanya seorang penjahat yang nasibnya sial karena dikenali olehmu."
"Kami masih belum yakin tentang itu, Lexi.. selama ini, itu hanya berupa kecurigaanku saja sampai akhirnya kejadian semalam yang membuat kami bertambah yakin kalau seseorang tengah mengincarmu."
Alexa memucat mendengar penjelasan Alex, dia tak percaya kalau selama ini dia menjadi target sebuah kejahatan.
"Kenapa aku? Apa yang mereka inginkan dariku?"
Para pria saling pandang sebelum akhirnya Daniel menjawab pertanyaannya, "Kami belum tahu."
"Kalian belum tahu!" Seru Alexa tak percaya, "Kalian belum tahu motifnya, tapi kenapa kalian bisa yakin kalau dia tengah mengintaiku?" tanya Alexa dengan putus asa.
"Lexi, kau ingat ketika aku menginap di sini?"
"Kau memang menginap di sini selama ini, Alex," jawab Alexa membuat Alex terdiam lalu mengangguk.
"Ah, kau benar, aku memang tinggal di sini," ujar Alex sambil mengedipkan sebelah matanya membuat gadis bermata amber itu memutar bola matanya.
"Tapi maksudku sebelum aku tinggal di sini, kau ingat ketika aku tertidur di sofa ketika mengatarmu pulang?"
"Jadi kau tinggal di sini bukan karena apartemenmu dalam perbaikkan?"
"Bukan, apartemenku masih berdiri tegak dan baik-baik saja."
"Apartemenya tidak butuh perbaikkan tapi butuh dibersihkan," ucap Gerard yang dapat gumaman setuju dari yang lainnya.
"Kenapa harus Alex?" Tanya Alexa tanpa menghiraukan gumaman tentang betapa berantakannya apartemen sang detektif.
"Karena aku yang paling tampan."
"Karena hanya dia yang memiliki pistol," ucap Daniel.
"Dan dia akan menembak siapapun yang akan mendekatimu," ujar Gerard.
"Karena kalian berdua jomblo." Theo berkata dengan yakin sambil mengangguk membuat Alexa menatapnya menganga tak percaya dengan apa yang dia ucapkan.
"Kau tak perlu mengingatkanku kalau aku jomblo, Theo," ucap Alexa sambil cemberut, "Maksudku, kenapa bukan kau," lanjut Alexa sambil menatap Daniel, "Kau adalah kakakku, seharusnya kau yang menjagaku."
"Lexa, kau tahu sendiri Kerelyn masih sedikit trauma dengan kejadian yang menimpanya dulu jadi aku tak bisa meninggalkannya."
Alexa bisa mengerti alasan kakaknya itu, Kerelyn memang belum bisa melupakan kejadian yang melibatkannya dengan psikopat gila.
"Dan kau?" kini ia menatap Gerard.
"Lexi, kau lebih pintar berkelahi melawan penjahat daripada dia."
"Aah.. kau benar," ucap Alexa sambil mengangguk setuju dengan Alex.
"Jadi selain tidak ada pilihan lain selain aku yang memang luar biasa ini," ucap Alex sambil bertumpang kaki dengan senyum miring diwajahnya, "Aku rasa, aku tahu alasan kedua mereka memilihku."
"Apa?" Tanya Alexa penasaran.
Alex mengangkat sebelah alisnya lalu kembali tersenyum miring sebelum menjawab pertanyaan gadis dihadapannya yang terlihat sangat penansaran.
"Karena mereka ingin menjodohkan kita."
"APA!!!" Seru Alexa dengan mata membelalak tak percaya.
*****
Haiii... apa kabar semuanya? Setelah sebelumnya aku share visual Daniel, kali ini aku akan share visual IT Jenius kita.. yap, the one and only Gerard. Agak sedikit susah ketika aku harus mencari sosok G ini, bayanganku adalah sosok seperti Clark Kent sang Superman 😁 tapi ternyata mencari sosok yg pas dengan imaginasi kita itu sedikit susah, sampai akhirnya tanpa sengaja aku nemu foto ini.. pas lihat pertama ok, ini adalah sosok yg mendekati bayanganku. Jadi, perkenalkan ini dia Gerard sang IT