
"Ka.. kalian.." ucapnya dengan terputus-putus, yang membuat dua orang di hadapannya kini menatapnya dengan serius.
"Hmm... jadi apa yang dia lakukan di kamarmu?" Tanya Daniel sambil menatap tajam Alex yang masih tertidur.
Menyadari tatapan serius dari kakaknya membuat Alexa diam-diam menggoyang-goyangkan tubuh Alex yang mulai bergerak, tapi sial baginya karena yang dilakukan detektif NYPD itu bukannya bangun, dia malah kembali menariknya ke dalam pelukan.
"Alex, bangun!" geram Alexa pelan sambil berusaha untuk kembali duduk, tapi lagi-lagi pria itu berulah dengan memeluknya seperti guling hingga dia susah bergerak karena kini kaki Alex memerangkapnya.
"Lima menit lagi," ucap Alex dengan suara serak bangun tidurnya nan seksi tanpa membuka kedua matanya. Alexa dengan mata cemas menatap Daniel yang kini membelalakan mata tak percaya dengan apa yang dilihatnya, sedangkan Gerard terlihat tengah menahan senyumnya dan hanya mengangkat alisnya santai ketika gadis itu menatapnya meminta bantuan.
"Kita harus bangun sekarang atau seseorang akan membunuhmu," ucap Alexa sambil mendorong tubuh Alex hingga akhirnya pria itu mengumpat karena hampir terjatuh dari tempat tidur.
"Apa yang kalian berdua lakukan di sini?" Tanya Alex santai setelah matanya melihat kalau bukan hanya dia dan Alexa saja yang berada di dalam kamar itu.
"Man, yang benar saja seharusnya aku yang bertanya seperti itu! Apa yang kau lakukan di... tempat tidur adikku?"
"Tidur," jawab Alex santai membuat Daniel menganga menatapnya dan Alexa memelototinya sedangkan Gerard terlihat tak bisa lagi menahan tawanya.
"Dan sekarang apa yang kalian lakukan di dalam sini?" Alex kembali bertanya sambil bersandar di kepala tempat tidur dengan santai.
"Apa kau lupa kalau kami semalam tidur di sini... di sofa lebih tepatnya," ujar Daniel yang dijawab Alex dengan anggukan kepala.
"Ah kau benar, aku lupa kalau kalian menginap di sini," ujar Alex sambil tersenyum.
"Aku pikir setelah kau mandi kau akan tidur di kamar sebelah, tapi ketika tadi aku lewat sini.. hmm, well, aku melihat pemandangan yang sangat menyenangkan," ucap Gerard sambil mengedipkan sebelah matanya yang dibalas Alex dengan kedipan yang sama membuat Alexa terlihat semakin putus asa.
"Sepertinya aku lupa menutup pintu kamar semalam."
Alex terlihat berpikir ketika mengatakan hal itu, ia ingat semalam ia terburu-buru masuk ke dalam kamar Alexa karena mendengar gadis itu memanggilnya dan meminta tolong, jantungnya hampir saja copot ketika mendengarnya tapi untung saja itu hanya mimpi buruk.
"Yap, kau lupa menutupnya," ucap Daniel dengan masih berpangku tangan dengan wajah serius menatap Alex. Saat ini kekasih Kerelyn Howard itu tengah memerankan perannya sebagai saeorang kakak yang over protective.
"Baiklah lain kali aku tak akan lupa untuk menutup dan menguncinya, supaya tidak ada lagi yang mengganggu kita... selamat pagi, Lexi." Alex berkata sambil turun dari tempat tidur dan memberikan kecupan di pipi Alexa yang menganga tak percaya kalau dia akan melakukan hal itu di depan kakaknya.
"Kau.. kau.. kau mencium adikku!" Seru Daniel tak percaya sambil mengikuti Alex yang berjalan dengan santai menuju dapur.
"G! Kau melihatnyakan? Kau melihat dia mencium Lexa!"
"Jangan berlebihan, aku hanya mencium pipinya," ucap Alex sambil mengeluarkan satu botol air mineral dari dalam lemari pendingin.
"Dia benar, dia hanya mencium pipinya," ujar Gerard sambil mencari kopi di dalam lemari.
"Jangan katakan kalau kalian sudah melakukan lebih daripada mencium pipi. Lexa, apa kalian telah berciuman?" Daniel kini bertanya kepada Alexa yang sepertinya sudah pulih dari keterkejutannya dan kini tengah membantu Gerard membuat kopi untuk mereka semua.
"Aku tidak yakin," jawab Alexa sambil menatp Alex yang hanya tersenyum sambil mengangkat alisnya.
"Apa maksudmu dengan kau tak yakin?"
"Aku tak ingat kalau kami pernah berciuman, tapi..."
Perkataan Alexa yang menggantung itu membuat Daniel dan Gerard saling pandang curiga lalu menatap Alex dengan penasaran tapi sayang lagi-lagi pria itu hanya mengangkat bahunya santai.
"Tapi..." ucap Gerard sambil menatap Alexa dengan penasaran, begitupun dengan Daniel.
Mereka berdua mencondongkan tubuhnya ke arah Alexa yang sudah membuka mulutnya untuk berbicara, membuat keduanya ikut membuka mulut, sedangkan Alex terlihat santai memakan roti sambil melihat ketiga orang dihadapannya.
"Aku tak tahu," ucap Alexa membuat Daniel dan Gerard terlihat putus asa, berbeda dengan Alex yang terlihat tersenyum.
"Bagaimana kau bisa tidak tahu apa kalian berciuman atau tidak!" Seru Daniel dengan putus asa.
"Oh percayalah, aku juga sangat ingin mengetahuinya apa kami berciuman atau tidak, tapi aku benar-benar tak mengingatnya!" seru Alexa sambil mengacak-acak rambutnya.
"Dia bilang kalau aku menciumnya ketika sedang mabuk, maka dari itu aku benar-benar tidak ingat."
"Apa kalian berciuman?" Tanya Gerard tanpa basa basi sambil menatap Alex yang sedang berpangku tangan menatap semuanya yang terlihat penasaran.
Alex terdiam beberapa saat, membuat ketiganya semakin penasaran. Daniel memberi perintah tanpa kata dengan mengangkat alis matanya supaya ia berbicara dan akhirnya ia mengangguk menyetujui.
"Baiklah, aku akan memberitahu kejadian malam itu... Alexa sangat mabuk saat itu, kalian berdua dengan jelas mengetahuinya." Daniel dan Gerard mengangguk membenarkan, "Dia bahkan merayuku dan memaksa menciumku."
Daniel dan Gerard kini menatap Alexa sambil menggelengkan kepala tak percaya.
"Hei! saat itu aku sedang mabuk." Alexa mencoba membela dirinya sendiri.
"Oh percayalah aku sangat bangga pada diriku sendiri karena aku memiliki pertahanan yang hebat malam itu dengan tidak terbujuk rayuannya."
"Jadi apa kita berciuman?" Tanya Alexa dengan penasaran memotong penjelasan Alex.
"Tapi kau terus saja merayuku, kau bahkan mendorongku sampai terlentang di atas sofa dan duduk di atasku, wajahmu semakin lama semakin mendekat sampai akhirnya..."
Semua orang semakin membulatkan matanya mendengar cerita Alex, tak ada yang berani untuk menginterupsinya, mereka bahkan terlihat menahan napasnya ketika melihat Alex terlihat kembali membuka mulutnya untuk melanjutkan ceritanya, tapi tiba-tiba ponselnya berdering nyaring.
"Aku harus menjawab telepon ini," ucap Alex sambil berdiri dan mengangkat teleponnya membuat ketiganya menganga tak percaya.
"Sial! Aku sangat penasaran," seru Gerard dengan wajah penasarannya.
"Ingatkan aku untuk membunuhnya," ujar Alexa sambil meneguk segelas air putih dengan rakus.
"Aku akan membantumu," ucap Daniel sambil menatap Alex tajam yang hanya dapat senyuman miring dari pria bermata biru itu, yang kini tengah duduk di sofa kuning sambil berbicara dengan seseorang di teleponnya.
*****