The Secret Identity (#3 The Secret Series)

The Secret Identity (#3 The Secret Series)
Bab 28



"Apa kau yakin apartemennya kosong?" Tanya James sambil menatap rekannya yang duduk di kursi penumpang dengan laptop di pangkuannya. Terlihat tangan pria itu sangat lincah menari di atas keyboard.


"Ya, perempuan itu masih ada di pesta dan kau dengar sendiri kalau polisi itu sedang bertugas," jawab Bradly tanpa mengalihkan matanya dari layar laptop membuat James mengangguk yakin.


"Ok, selesai!" seru Bradly, "Aku akan mengawasi dari dari sini, ingat kalian hanya memiliki waktu 10 menit, paham?" lanjutnya dengan mata menatap James yang tengah bersiap memeriksa senjatanya lalu memasukkannya ke dalam sarung senjata yang tersampir di dadanya, sedangkan Rebeca mengangguk mengerti sambil membuka pintu lalu keluar dari mobil itu.


"Aku tahu! Sebaiknya kita jangan membuang waktu lagi," geram James lalu keluar dari mobil menyusul Rebeca yang telah berjalan mendahuluinya.


Suasana di lorong menuju apartemen itu terlihat sepi hanya terdengar ketukan dari high heel yang dikenakan Rebeca yang beradu dengan lantai gedung apartemen. Mereka terus berjalan dalam keheningan, mata mereka menyisir sekitar dan tak terlihat sedikitpun yang mencurigakan.


Mereka terus berjalan sampai akhirnya sampai di depan pintu aparteman milik Alexa. Rebeca dengan kepala memberi tanda kepada James untuk membuka pintu membuat pria plontos dengan badan tinggi tegap itu maju lebih mendekat ke arah pintu, ia hanya memerlukan waktu beberapa detik untuk membuat seringai di bibir keduanya ketika mendengar bunyi klik yang menandakan kalau kuncinya telah berhasil dibuka.


Dengan perlahan mereka berdua melangkahkan kaki memasuki ruangan yang gelap, hanya terdapat cahaya dari lampu jalanan dan cahaya bulan yang menyusup dari tirai jendela yang berada di seberang ruangan. James menganggukkan kepala, dibalas anggukan oleh Rebeca sebelum mulai mencari kaset yang bisa menjadi jalan menuju tiang gantungan mereka semua.


Mereka menyisir setiap bagian dari ruangan apartemen yang tak begitu besar itu, James memeriksa area buffet yang di atasnya tertata dengan rapi pigura berisi foto pemilik apartemen dengan keluarga dan sahabat mereka. Sedangkan Rebeca memeriksa meja TV dimana tersimpan beberapa kaset video dan juga DVD.


Setelah memeriksa kaset video yang tersimpan dengan rapi di dalam lemari, ia mengumpat karena tak menemukan apa yang mereka cari dan baru saja akan beranjak masuk ke dalam kamar ketika James berseru.


"Di sini!"


Rebeca berhenti melangkah lalu menatap ke arah James yang tengah berjongkok di hadapan sebuah dus yang terletak di pojok ruangan tak jauh dari buffet. Dengan cepat mereka mulai mencari kaset handycam di antara tumpukan kaset-kaset video yang berada di dalam dus itu.


Sampai akhirnya mata mereka terbelalak dengan senyum mengembang dari wajah masing-masing ketika melihat sebuah kaset yang memiliki ukuran lebih kecil dari kaset lainnya.


"Ini dia!" ujar Rebeca sambil mengambil kaset itu dan menatap James yang mengangguk membenarkan dengan wajah sumringah.


"Ayo!" Ajak Rebeca sambil berdiri disusul oleh James dan mereka baru saja melangkah beberapa langkah ketika ia mendengar suara berat miik seseorang dari arah kamar.


"Ah... jadi itu yang selama ini kalian cari," ujar Daniel sambil berjalan dengan santai membuat keduanya terbelalak dengan tubuh membeku.


Beberapa menit yang lalu Alex menghubunginya dan mengatakan kalau mereka telah bergerak, dengan kecepatan penuh menembus kemacetan kota New York akhirnya ia sampai ke apartemen adiknya dan bersembunyi di dalam kamar untuk mengawasi apa yang sedang terjadi, sambil menunggu Alex yang masih dalam perjalanan.


"Siapa kau?" Tanya Rebeca dengan waspada.


"Well, aku adalah kakak dari pemilik apartemen ini dan kalian adalah orang asing yang masuk tanpa ijin, tapi tenang saja aku sudah menghubungi polisi dan mereka sedang dalam perjalan ke sini," jawab Daniel santai, tapi tanpa diduga James secepat kilat menggapai pistol lalu mengarahkan kea rahnya dengan wajah puas melihat keterkejutan dari mata Daniel.


"Dan polisi hanya akan menemukan mayatmu di sini," ancam James dengan mata nyalang dan senjata yang sudah terkokang dihadapannya.


"WOW! Tunggu dulu!" Seru Daniel sambil mengangkat kedua tangannya, "Sebelum kau menembakku, aku mempunyai satu pertanyaan untuk kalian... apa kalian yakin kalau itu adalah kaset yang kalian cari?" Tanya Daniel membuat kedua orang di hadapannya saling pandang terlihat mulai ragu.


"Oh ayolah, kalian jangan berpikir kalau kami sebodoh itu!" Seru Daniel sambil tertawa, membuat keduanya kembali saling pandang lalu melihat kaset yang ada dalam genggaman Rebeca.


"Apa kalian pikir adikku yang memiliki rasa penasaran tinggi dan sangat suka mencari masalah itu belum melihat apa isi kaset itu?" Daniel kembali bertanya sambil menatap keduanya, "Kalian belum mengenal siapa dia sebanarnya... percayalah dia pernah menembak seseorang yang mau membunuh sahabatnya, berkelahi dengan gembong narkoba terbesar di Amerika bahkan dia pernah melawan psikopat gila yang hampir saja membunuhku menggunakan bom. Dia memang suka sekali mencari masalah," ujar Daniel dengan wajah serius sambil menggelengkan kepala menyadari kalau adiknya sering kali menantang bahaya.


"Oh, satu lagi!" seru Daniel sambil mengacungkan jari telunjuknya, "Apa kalian tidak pernah berpikir kalau kami sengaja membuat apartemen ini 'kosong' tanpa alasankan?" Tanya Daniel berusaha mengulur waktu sampai Alex datang, dan dia dalam hati mengutuk sahabatnya itu karena sangat lama.


"Jadi kalian percaya begitu saja?" lanjut Daniel dengan wajah tak percaya, "Aku tak mengerti kenapa selama ini polisi kesulitan menangkap kalian."


"Tidak usah khawatir, kalian menjebakku atau tidak yang pasti ketika polisi datang ke sini mereka hanya menemukan mayatmu, dan kami?" Rebeca berkata dengan sombong sambil mengangkat kedua alisnya, "Tidak akan ada bukti yang bisa menuduh kami... ah mungkin kau tidak tahu, kalau saat ini lebih dari seratus orang yang akan memberikan kesaksian kalau kami sedang berada di pesta Emerald Grup... termasuk adikmu," lanjutnya dengan senyum mengejek.


Daniel terlihat mengangguk mengerti, "Hmm, baiklah tapi kamera tidak bisa berbohong karena kalian berdua akan terlihat memasuki apartemen ini tanpa ijin."


"Maksudmu CCTV?" Tanya Rebeca sambil tertawa mengejek, bahkan James-pun ikut tertawa.


"Bukan, bukan CCTV," jawab Daniel santai membuat keduanya berhenti tertawa, "Maksudku itu," lanjutnya sambil menunjuk sebuah kamera yang terpasang di pojok ruangan, lalu ia menunjuk kearah lainnya lagi, "Itu... itu, dan... itu. Kalian sudah terekam dari berbagai sisi, tidak usah khawatir wajah kalian akan sangat jelas di sana, mungkin kalian tidak tahu tapi aku seorang cameraman handal," ucap Daniel dengan senyum bangga membuat amarah kedua orang di hadapannya hampir saja meledak.


"Ah! Dan mengenai rekan kalian yang berada di bawah, Alex tadi menghubungiku kalau dia telah menangkapnya dan aku yakin kalau sebentar lagi dia akan sampai ke sini untuk menangkap kalian berdua."


"Sial!" umpat James dengan rahang mengeras, begitu juga Rebeca yang kini terliihat gusar sambil menatap ke arah pintu apartemen dimana seseorang tengah berusaha membukanya.


"Ah itu dia sudah datang," ujar Daniel dengan senyum mengembang ketika perlahan pintu itu terbuka, tapi senyumnya seketika hilang ketika melihat bukan Alex yang kini berdiri di ambang pintu, melainkan seorang gadis cantik berambut hitam sebahu dengan sebuah koper besar di tangannya yang terlihat menganga terkejut melihat pemandangan di dalam apartemen dimana seseorang tengah menodongkan senjata.


"Rain, berlindung!" seru Daniel membuat Raina berlindung di balik tembok bersamaan dengan terdengarnya letusan suara pistol dari dalam.


"Sial! Yang benar saja aku baru saja sampai dan seseorang sudah menembakiku! Aku seharusnya tetap tinggal di Jakarta!" Umpat Raina sambil berlari menuju lift yang tak lama kemudian pintunya terbuka dan menampakkan sosok Alex yang telah siap dengan senjatanya.


"Oh, syukurlah kau datang! Seseorang menembakiku dan Daniel masih berada di dalam."


"Kau pergilah bersembunyi, aku akan menolong Daniel," ucap Alex sambil berlari ke arah apartemen Alexa, "Sial!" Serunya sambil bersembunyi ketika James keluar dari apartemen dan langsung memuntahkan tembakan. Anggota FBI yang juga merupakam salah satu kawanan ghost itu berlari ke arah pintu darurat untuk melarikan diri, tapi Alex tak membiarkan hal itu ia langsung mengejarnya.


Di dalam apartemen Daniel berhasil menangkap Rebeca yang akan melarikan diri bersama James, tapi melawan seorang perempuan seperti Rebeca Duvon bukanlah hal yang mudah. Dia terus saja memberontak membuat kakak sikembar itu sedikit kewalahan.


"Ya Tuhan! Tidak bisakah kau diam!" Seru Daniel sambil memegang kedua tangan perempuan itu dari arah belakang.


"Dasar pengecut, kau hanya berani melawan seorang perempuan!" seru perempuan itu sambil terus berontak.


"Sial!" umpat Daniel sambil mengaduh karena kakinya diinjak oleh hak tajam sepatu milik perempuan yang kini terlihat senyum mengejek di wajahnya setelah berhasil melepaskan diri dari cengkraman Daniel lalu tanpa pikir panjang dia langsung menendang kakak si kembar itu.


"AWW! Ya Tuhan, kalau kau laki-laki, aku sudah menghabisimu!" geram Daniel sambil mengelus-elus tulang keringnya yang kena tendang.


"Pukul saja aku kalau berani, dasar pengecut," tantang Rebeca dengan wajah meremehkan yang membuat Daniel sangat gemas.


"Dengar! Aku memang sudah berjanji tak akan memukul perempuan tapi beda ceritanya kalau perempuan itu sepertimu," ucap Daniel sambil berdiri tegak dengan mata menatap tajam.


"Kalau kau berani memukulku aku akan menuntutmu, dan seluruh dunia akan mengetahui bagaimana seorang pria terhormat melukai seorang perempuan lemah."


"OH YA! Kalau begitu aku yang akan memukulmu!" seru Raina sambil berjalan dengan cepat ke arah keduanya yang terlihat terkejut karena kedatangannya yang tiba-tiba, dan tanpa banyak bicara ia langsung melayangkan tinjunya tepat di wajah perempuan yang kini hidungnya mengeluarkan darah, matanya terbelakak terkejut karena serangan tiba-tiba itu sebelum akhirnya ambruk.


"Sekarang seluruh dunia akan mengetahui bagaimana seorang penjahat perempuan dipukul sampai pingsan oleh seorang perempuan lemah. Ah... aku paling benci penjahat perempuan," ucapnya gemas sambil mengelus-elus tinjunya dangan mata tajam menatap perempuan yang kini tergeletak tak sadarkan diri di lantai apartemen Alexa, sedangkan Daniel hanya bisa menganga melihat apa yang baru saja sepupunya itu lakukan.


*****