The Secret Identity (#3 The Secret Series)

The Secret Identity (#3 The Secret Series)
Bab 54



Alex dan Simon saling berhadapan, mata keduanya sama-sama tajam menusuk lawannya. Alex terlihat berantakan dengan luka-luka di sekujur tubuh, napasnya masih terengah-engah karena pertarungannya dengan Juan, berbanding terbalik dengan Simon yang telihat masih rapi dengan pakaian mahalnya.


“Apa kau tak mendengar itu, Simon? Polisi sudah datang dan mengepung tempat ini jadi sebaiknya kau menyerah sekarang,” ucap Alex berusaha mengulur-ulur waktu.


Simon hanya menatapnya sambil tersenyum miring perlahan ia melangkah mendekati Alex dengan senjata dihadapannya membuat kekasih Alexa semakin waspada.


“Tidak usah khawatir, mereka akan menemukan… mayatmu!” serunya sambil memuntahkan tembakan membuat Alex langsung melompat berlindung di belakang pohon.


Untung saja ia bisa memperhitungkan pergerakan lawannya sehingga bisa menghindari serangan peluru, ia kini berlindung di belakang pohon yang melindunginya dari tembakan Simon, dadanya naik turun, ia mengumpat ketika senjata yang tadi digunakannya tergelatak di atas tanah agak jauh dari jangkauanya.


Tapi bagaimanapun ia harus mengambil senjatanya untuk melawan Simon atau merebut senjata dari tangan pria itu dan kembali harus berkelahi dengan tangan kosong, kalau dia hanya berdiam diri maka ia hanya akan tinggal nama saja. Dan akhirnya Alex memutuskan untuk mengambil senjatanya, ia mengatur napas untuk memersiapkan diri, dia mengintip dari balik pohon menunggu waktu yang tepat untuknya bergerak, ia hanya perlu sedikit berlari untuk menggapai senjata itu.


Dan… ini saatnya ketika Simon melakukan isi ulang peluru maka secepat kilat Alex berlari kemudian berguling dan bersamaan dengan ia berhasil mendapatkan senjatanya, Simon kembali melakukan tembakan tapi meleset mengenai tanah di samping Alex yang telah mengokang senjatanya dan langsung melakukan tembakan tepat di dada kiri Simon yang terbelalak dengan mata membulat sebelum akhirnya ambruk di atas tanah dengan bersimbah darah.


Melihat lawannya tak bisa bergerak lagi akhirnya Alex-pun ambruk terduduk dengan tubuh kelelahan, ia berusaha mengatur napasnya sebelum kembali berdiri dengan senjata di tangan kirinya sedangkan tangan kanannya terus mengeluarkan darah akibat peluru yang bersarang di sana. Alex berjalan mendekati tubuh Simon untuk memeriksa kondisinya, ia masih bisa merasakan denyut di leher pria itu yang menandakan kalau pria itu masih bernyawa.


“Jangan berharap kau bisa melarikan diri ke neraka sekarang. Aku akan memastikan kau menerima hukuman di dunia terlebih dahulu sebelum neraka menghukummu,” ucap Alex sambil kembali berdiri tegak dengan mata masih menatapnya tajam.


Derak suara ranting pohon yang terinjak membuat Alex menatap ke arah itu sambil mengokang senjata siaga, tapi kemudian ia membuang napas lega karena orang itu adalah rekannya di kepolisian.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya salah satu dari mereka sambil menatap Alex yang hanya mengangguk sebagai jawaban, ia kemudian berjalan sambil memegang tangannya yang tertembak meninggalkan kerumunan para polisi dengan pakaian seragam lengkap yang tengah meminta paramedis untuk datang dan telah mengamankan Juan dengan memborgol tangannya ke belakang.


“Alex, apa kau baik-baik saja?” ujar Phillip yang baru saja datang dari balik-balik pohon dan matanya seketika terbelalak sambil mengumpat ketika melihat lengan rekannya itu terluka akibat tembakan.


“Aku tak apa-apa... Lexi, apa kau telah bertemu dengannya?” Alex terdengar begitu mengkhawatirkan kekasihnya itu.


“Tak usah khawatir, dia baik-baik saja dan sekarang tengah ditangani paramedis untuk memeriksa keadaannya… ayo! Kau pun memerlukan pemeriksaan,” ujar Phillip yang mendapat anggukan dari Alex.


“Aku bisa sendiri, sebaiknya kau tangani di sini sisir hutan ini karena aku yakin masih ada beberapa anak buah Simon yang belum tertangkap.” Alex memberi perintah yang kembali mendapat anggukan dari rekannya.


“Bagaimana dengan, Kely? Apa kau sudah menangkapnya?” lanjut Alex ketika mengingat mantan rekan kerja Alexa yang ternyata adalah sang Ratu yang selama ini menyembunyikan Simon.


“Iya, dia yang pertama kami tangkap dan telah diamankan di dalam mobil patroli,” jawab Phillip yang mendapat anggukan lega dari Alex sebelum akhirnya ia kembali berjalan meninggalkan hutan itu.


*****


Suasana malam itu di pinggir jalan yang bisa sepi kini terlihat ramai dengan lampu-lampu dari mobil polisi dan ambulan yang terparkir di sepanjang jalan, suara radio transmisi milik polisi menambah ramai suasana selain para polisi yang tengah sibuk menyeret para anak buah Simon yang tertangkap, dan langsung memasukannya ke dalam mobil patroli dengan pengawasan. Semakin banyak para polisi yang datang untuk menyisir hutan itu dengan bantuan anjing pelacak.


Ethan langsung di larikan ke rumah sakit karena memerlukan penangan khusus sedangkan Alexa kini duduk di mobil ambulan untuk melakukan pemeriksaan tapi matanya tak lepas dari salah satu mobil patroli polisi yang terparkir tak jauh darinya dimana orang yang selama ini ia anggap sebagai temannya tengah duduk di dalamnya dengan tangan terborgol. Rasa tak percaya dan juga kecewa tergambar jelas di wajah kembaran Emily itu.


Setelah paramedis selesai memberikan pengobatan pada luka-lukanya, ia langsung berjalan mendekati mobil patroli dimana Kely berada. Ia meminta ijin terlebih dahulu kepada polisi yang berjaga sebelum masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Kely. Ia hanya menatap temannya itu beberapa saat, dadanya terasa sakit menyaksikan orang yang kita kenal duduk tertunduk dengan tangan terborgol, tapi di sisi lain ia juga merasa kecewa sekaligus marah atas apa yang telah ia lakukan kepada mereka selama ini.


“Mengapa kau melakukan ini?” tanya Alexa memecah keheningan membuat Kely menatapnya dan ia bisa melihat rasa amarah dan putus asa dari sorot mata rekan kerja sekaligus temannya itu.


“Karena kekasihmu telah membunuh orang yang sangat berarti dalam hidupku,” jawab Kely dengan sorot mata penuh kebencian membuat Alexa terdiam beberapa saat.


“Kau salah, dia tak mungkin membunuh seseorang.”


Kely mendengus dengan seringai di wajahnya ketika mendengar perkataan Alexa.


“Kau-pun bahkan sudah melupakannya,” ucapnya dengan sinis membuat Alexa kembali terdiam terlihat berpikir tentang siapa yang dimaksud Kely di sini.


“Maksudmu… Matt?” tanya Alexa setelah berpikir kemungkinan orang yang dimaksud Kely telah dibunuh Alex adalah orang yang juga hampir saja membunuhnya beberapa waktu lalu.


“Ah! Akhirnya kau mengingatnya,” sindir Kely sambil menatap Alexa dengan emosi kemudian melanjutkan ucapannya dengan berapi-api.


“Dia membunuhnya tanpa rasa bersalah sama sekali, tidak cukup di sana bahkan dia memenjarakan Harry, orang yang selama ini menjadi Kakakku.”


“Kakakmu?” Alexa tampak terkejut mengetahui kalau ternyata Kely mengenal Matt bahkan Harry.


“Karma, Lexa, ingat itu kau tak bisa lari dari karma… kalian mengambil orang-orang yang aku sayangi maka aku akan mengambil orang-orang yang kau sayangi… mata dibalas mata,” ujar Kely sambil mendekatkan wajahnya ke arah Alexa yang terlihat mematung.


“Alex, menembak Matt karena dia mau membunuhku, kau-pun tahu itu bukankah aku pernah menceritakannya padamu? Bahkan sampai sekarang-pun aku masih takut ketika mengingat hal itu. Aku hampir saja kehilangan nyawaku kalau saja Alex tidak menembaknya.”


“Itu hanya alasan saja,” geram Kely tak mau mendengar sedikitpun penjelasan Alexa.


“Itu bukan alasan!” Seru Alexa tak bisa lagi menahan diri, dadanya naik turun karena berbagai emosi yang berkecamuk di dalamnya, rasa marah, frustasi juga sedih yang berbaur menjadi satu.


“Matt dan Harry telah membunuh banyak sekali orang tak berdosa hanya karena sebuah obsesi, bukan karena membela orang yang mereka sayangi. Mereka lupa kalau orang yang mereka bunuh juga memiliki keluarga yang ditinggalkan, seperti halnya kau… kalau kau bilang karma itu ada, mungkin Alex adalah orang yang karma kirim untuk mengambil nyawa Matt atas tindakannya dan Harry kepada para korban mereka.” Alexa berkata dengan penuh emosi membuat Kely terdiam menatapnya.


“Dan salah satu dari korban itu adalah kau,” lanjutnya dan itu membuat mata Kely membulat tapi kemudian dia terlihat biasa kembali.


“Kau pikir aku akan memercayai ucapan kalian tentang Harry yang membunuh orangtuaku?” tanya Kely dengan wajah menantang kemudian tersenyum mengejek sambil menggelengkan kepala, “Jangan harap aku akan percaya. Kau dan kekasihmu sama saja… aku lebih mengenal Harry dan Matt dibandingkan kalian berdua mereka sangat menyayangiku dan juga orangtuaku, setelah orangtuaku meninggal merekalah yang merawat dan membesarkanku, mereka tak mungkin menyakitiku.”


Alexa menatap Kely dengan simpati, ucapan tegas gadis itu berbanding terbalik dengan sorot matanya yang penuh keraguan.


“Aku ada di sana, Kely,” ucap Alexa dengan suara lirih, “Aku ada di sana ketika mereka dengan bangga bercerita kalau mereka-pun membunuh orangtua angkat mereka.”


Perasaan terkejut, terluka terpampang jelas di wajah Kely yang memucat mendengar perkataan Alexa yang kembali melanjutkan ucapannya.


“Mereka menceritakan bagaimana mereka membunuh satu persatu orang yang telah membuat Kerelyn terluka baik disengaja atau tidak hanya untuk mendapat pengakuan darinya, mereka juga menceritakan bagaimana mereka membuat pembunuhan kedua orangtua angkat mereka terlihat seperti kecelakaan padahal pada saat itu mereka masih sangat muda. Mereka tertawa bangga dan menganggap diri mereka jenius karena sampai sekarang tak ada yang menyadari tentang itu.”


“Cukup… cukup!” seru Kely dengan penuh emosi terlihat dari wajahnya yang memerah menahan emosi dan matanya berapi-api tapi juga terluka, “Tinggalkan aku sendiri, Lexa,” lanjutnya memohon membuat Alexa ikut terluka melihatnya.


“Maafkan aku, tapi kau harus mengetahui kebenaran ini dan mengenal siapa mereka sebenarnya,” ucap Alexa sebelum keluar dari mobil patroli meninggalkan Kely yang telihat terluka.


Alexa mengatur napasnya berusaha kembali tenang tapi tak bisa karena ia kembali mencemaskan Alex yang belum juga kembali. Suasa di pinggir hutan itu masih terlihat sedikit tenang karena sebagian besar dari mereka kini tengah berupaya menangkap para penjahat yang berada di dalam hutan, begitu pula Alex yang belum diketahui kabarnya.


Menit berlalu dengan lambat dan satu persatu polisi yang berhasil menangkap anak buah Simon telah kembali kemudian memasukkan mereka ke dalam mobil patroli yang dilengkapi dengan jeruji di jendelanya. Alexa akan terlihat siaga setiap melihat orang yang keluar dari hutan tapi sayang Alex belum tampak batang hidungnya sampai sekarang.


Beberapa saat kemudian terlihat beberapa orang polisi menggotong kantung mayat, seketika jantungnya seolah berhenti berdetak memikirkan siapa yang berada di dalam kantung berwarna kuning yang kini telah tergeletak di dalam ambulan. Dengan tangan gemetar ia berusaha membuka kantung itu untuk melihat identitas mayat. Matanya memejam dengan jantung bertalu hebat, ia menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya berusaha memantapkan dirinya untuk membuka kantung mayat di hadapannya.


“Apa yang kau lakukan?”


Seketika ia melonjak terkejut mendengar suara yang sangat ia kenal itu, matanya membuka sempurna menatap pria bermata biru yang berdiri di hadapannya, ia kemudian menatap kantung mayat yang masih tertutup rapat, lalu kembali menatap Alex yang tengah menatapnya sambil menaikan alis dengan senyum miring khasnya yang seketika membuat gadis itu tersadar dan langsung menghambur ke dalam pelukkan kekasihnya.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Alexa dengan mata memindai tubuh Alex dan seketika matanya terbelalak ketika melihat lengan pria itu mengeluarkan darah.


“Kau tertembak! Ya Tuhan, kau tertembak!” Alexa berkata dengan cemas dia lalu kembali menatap wajah Alex yang sekarang terlihat sangat pucat dan seketika tangisnya tumpah, membuat Alex tersenyum lalu kembali memeluknya dengan sebelah tangan.


“Aku tak apa-apa, ini hanya luka kecil.”


“Ini bukan luka kecil, Alex!” seru Alexa membuat Alex menatapnya sambil mengangkat alisnya dan tersenyum miring.


“Kau jauh lebih parah ketika tertembak dulu, Lexi,” ucap Alex sambil berjalan sambil merangkul Alexa menuju ambulan yang telah menunggunya, “Sekarang kau tahu bagaimana perasaanku ketika melihatmu terluka parah dan hampir kehilangan nyawakan?”


Alexa mengangguk mengerti.


“Jadi jangan pernah lagi terluka tanpa seijinku,” ucap Alex sambil tersenyum menatap Alexa.


“Kau juga, jangan pernah lagi terluka atau aku akan marah… sangat marah.”


Alex mengangguk sudah tak kuat lagi untuk berkata-kata karena rasa sakit yang membakar lengannya, dengan bantuan paramedis ia naik ke dalam ambulan yang membawanya ke rumah sakit, dengan Alexa menemani disisinya.


*****