The Secret Identity (#3 The Secret Series)

The Secret Identity (#3 The Secret Series)
Bab 38



“Apa itu bunga yang sama?” tanya Alexa membuat semua orang kini menatap Alex yang tengah mengamati bunga tulip di hadapannya.


“Iya,” jawabnya singat yang langsung membuat para perempuan pucat pasi dan para pria memaki.


“Apa mungkin ada yang iseng dengan melakukan ini?” tanya Gerard berharap kalau bunga yang menjadi ciri khas dari psikopat gila dalam kasus pembunuhan berantai beberapa waktu lalu yang sempat membahayakan nyawa Kerelyn, Raina dan juga Alexa.


“Walaupun ini iseng, siapapapun orangnya aku bersumpah akan memberikan pelajaran padanya,” geram Daniel dengan penuh amarah yang mendapat dukungan Gerard sedangkan Alex masih terlihat diam berpikir.


“Sebaiknya kita tak memberitahu Kerelyn dulu tentang masalah ini, kalau tidak dia pasti akan sangat ketakutan,” ucap Raina sambil menatap Daniel yang masih terlihat emosi.


“Rain benar, D, kita harus merahasiakan ini dari Kerelyn.”


“Baiklah, aku akan merahasiakan ini dari Kerelyn,” ucap Daniel setelah sebelumnya ia terlihat berpikir.


“Dan rahasiakan juga tentang Simon Javier yang masih hidup.”


“APA?!!” seru semuanya dengan serempak sambil menatap Alex yang hanya mengangguk dengan serius.


“Sial, man! Kenapa kau tidak memberitahu kami!”


“Apa maksudmu dengan mengatakan kalau baj*ngan itu masih hidup?!”


“Bagaimana bisa dia masih hidup?!”


“Apa mungkin dia yang mengirim bunga tulip ini?”


Gerard, Daniel, Alexa dan Raina bergantian mengajukan pertanyaan. Alex bisa merasakan berbagai macam emosi dari mereka semua, rasa marah dan juga takut menjadi satu karena alasan itulah ia tetap merahasiakannya selama ini sampai semuanya benar-benar jelas dan benar-benar berakhir.


“Aku tak ingin membuat kalian semua khawatir dengan mengetahui kalau baj*ngan itu masih hidup.” Alex mulai memberi penjelasan membuat semua orang di dalam ruangan itu terdiam untuk mendengar penjelasannya.


“Aku baru mengetahui kalau baj*ngan itu masih hidup beberapa hari lalu, tanpa sengaja aku melihatnya ketika aku sedang menyelidiki kasus perampokan pameran permata, dan tanpa diduga dia terlibat dalam kasus itu.”


“Apa kau berhasil menangkapnya?” tanya Daniel dengan serius yang dengan menyesal dijawab Alex dengan gelengan kepala yang membuat semua orang kembali terlihat lemas.


“Tidak, saat itu belum begitu yakin kalau orang yang aku lihat saat itu adalah Simon, tapi setelah melakukan introgasi lebih dalam aku sangat yakin kalau orang itu adalah baj*ngan itu. Tapi sayang, kami tidak memiliki bukti nyata kalau dia masih hidup oleh karena itu kami belum bisa memasukannya ke daftar DPO dan mengumumkan pencariannya.”


Umpatan terdengar dari mulut semuanya termasuk Alexa dan Raina setelah mendengar penjelasan Alex. Untuk beberapa saat mereka semua terdiam dengan pikiran di kepala masing-masing sampai akhirnya Alexa memecah keheningan.


“Apa mungkin bunga ini dikirim olehnya?”


Semua orang kini menatapnya dengan mata terbelalak, termasuk Alex yang membelalakan mata seolah diingatkan sesuatu.


“Aku yakin seperti itu,” ucap Alex dengan mata menerawang masih terlihat berpikir.


“Sial! Selama ini dia telah membodohi kita semua!” Serunya sambil berdiri dengan penuh emosi, dia mnegeluarkan ponsel dari saku celananya untuk menghubungi rekannya.


“Phil, sesuatu baru saja terjadi kita harus pergi ke suatu tempat… tunggu aku di depan penjara federal sepuluh menit lagi.”


Alex menutup ponselnya kemudian mengambil jaketnya yang tadi ia sampirkan di sofa Alexa, “Aku akan pergi untuk memastikan sesuatu,” ucapnya sambil mengenakan jaket, “Kalian tetap di sini dan jaga mereka agar tak membuat masalah apapun,” lanjutnya sambil menatap Daniel dan Gerard dengan serius yang mendapat anggukan dari kedua sahabatnya.


“Tenang saja, kami akan memastikan mereka tidak keluar dari sini.”


“Kalau perlu kami akan mengikat mereka supaya tidak bergerak,” ucap Gerard menyambung perkataan Daniel yang langsung mendapat protes dari Alexa dan Raina.


“Bagus,” ujar Alex tanpa menghiraukan protes para perempuan, dia kemudian keluar dari apartemen Alexa dengan tergesa-gesar.


Beberapa menit kemudian seperti yang telah dijanjikan Alex keluar dari mobilnya yang terparkir di depan penjara federal Amerika dan terlihat Phillip telah menunggu di sana dengan bersandar di tembok pagar penjara sambil menghisap rokok, dia langsung membuangnya lalu mematikan rokok itu dengan menginjaknya setelah setelah melihat Alex yang berjalan cepat ke arahnya kemudian mengajaknya masuk.


“Apa yang sebenarnya telah terjadi?” tanya Phillip dengan penasaran sambil berjalan di samping Alex menyusuri lorong yang menghubungkannya dengan ruangan pengunjung.


“Lexi, baru saja menerima bunga tulip putih persis seperti kasus Kerelyn,” jawab Alex tanpa menghentikan langkahnya.


“Sial! Bagaimana itu bisa terjadi?” tanya Phillip dengan pandangan tak percaya.


“Kita akan mencari tahunya sekarang… Phil apa kau tidak merasa aneh?” tanya Alex, ia menghentikan langkahnya beberapa saat untuk menghadap rekannya yang juga telah berhenti melangkah.


“Apa maksudmu?” Phillip balik bertanya dengan wajah penasaran dengan apa yang ada dalam pikiran Alex.


“Simon tiba-tiba saja bangkit dari kubur, bukankan baj*ngan itu mengaku telah membunuhnya? Dan tiba-tiba saja Lexi menerima sekuntum bunga tulip, bukankah terlalu banyak kebetulan di sini?”


Phillip terdiam terlihat berpikir setelah mendengar perkataan Alex, “Orang gila itu ada di balik semuanya,” ujarnya yang mendapat anggukan dari Alex.


“Kita akan memastikan hal itu.”


Mereka kembali melanjutkan langkah mereka menuju sebuah ruangan setelah sebelumnya mereka memerlihatkan lencana mereka kepada sipir penjara dan meminta untuk memanggil salah seorang tahanan.


Alex duduk di kursi yang berada di ruangan sempit bercat putih itu memikirkan kasus yang tengah dia hadapi saat ini, yang ternyata menyeret nama dua orang yang sempat membahayakan orang-orang yang dia sayangi dan juga nyawanya sendiri.


Otaknya berputar memikirkan hubungan antara dua orang dimana salah satunya dinyatakan telah tewas dan satunya lagi telah mendekam di balik jeruji penjara. Tapi bagaimana bisa hal ini terjadi? Apa mungkin ini adalah dua kasus berbeda? Atau penjahat yang baru saja masuk dengan tangan di borgol adalah dalang dari semuanya? Tidak, ia tak boleh tergesa-gesa mengambil kesimpulan, yang perlu ia lakukan sekarang adalah mencari tahu apa ada orang lain lagi yang mengetahui tentang pembunuhan bunga tulip selain orang ini.


****