The Secret Identity (#3 The Secret Series)

The Secret Identity (#3 The Secret Series)
Bab 25



Alexa mengeratkan pelukannya dan ia tersenyum ketika merasakan pria itu memeluknya balik, matahari sepertinya telah bersinar menembus jendela kamar apartemennya membuatnya mengernyit lalu menyurukan kepalanya di dada Alex mencari perlindungan dari cahaya yang menyilaukan itu.


Alis gadis itu mengerut ketika menyadari sesuatu, tidak ada jendela di kamarnya. Satu-satunya jendela di apartemennya ada di ruang depan. Jadi cahaya apa ini? Dan kenapa sangat berisik? Apa Alex lupa mematikan TV-nya?


"Aku tak percaya ini, bagaimana bisa dia tidur di kamar adikku…lagi!"


Alexa mengenali suara itu, itu mirip suara kakaknya. Kerutan alisnya semakin dalam tak mengerti kenapa suara Daniel ada di dalam TV? Apa sekarang kakaknya jadi pemain film seperti Kerelyn?


"Sayang, kau terlalu berlebihan... mereka hanya tidur tidak melakukan apapun."


Senyum Alexa sedikit mengembang, aaah rupanya kakaknya sekarang bermain film bersama Kerelyn, pikirnya dalam hati.


"Apa kau tak lihat, ******** itu tidak memakai baju!"


"Alex, hanya tidak memakai kaos, aku yakin dia masih memakai celananya... hmmm benarkan?"


Terdengar sedikit keraguan dari suara Kerelyn yang membuat Alexa kembali mengerutkan alis. “Alex? Kenapa mereka menyebut-nyebut Alex, apa dia juga sekarang sudah menjadi seorang aktor?” Alexa kembali bertanya dalam hati. Terdengar suara tawa seorang pria ketika mendengar perkataan Kerelyn.


"Aku tak yakin kalau celananya masih berada di tempat yang seharusnya."


"Gerard? Apa dia juga ikut main film? Tunggu dulu! Daniel, Kerelyn, Gerard, Alex..." otak Alexa berputar mencoba menghubungkan semunya, dan tiba-tiba saja dia teringat perkataan Daniel di awal dan pada saat itu juga dia mengumpat sambil bangun dalam sekali hentakan. Dan benar saja ketiga orang itu sedang berdiri berkerumun di dalam kamar dengan lampu yang menyala menatapnya seolah-olah dia dan Alex adalah tontonan yang menarik.


"Selamat pagi, Lexa, maafkan aku... aku tak berhasil mencegah kakakmu yang keras kepala ini untuk datang ke sini dan mengganggu kalian," ucap Kerelyn sambil tersenyum menatap Alexa yang masih terlihat belum sadar sepenuhnya.


"Hai!" Sapa Gerard santai sambil tersenyum membuat Alexa membuang napas berat, di sampingnya telah duduk Alex sambil bersandar dan bertumpang tangan yang menatap ketiganya tajam.


"Kita harus mengganti kunci apartemenmu, Lexi."


"Kau benar," ucap Alexa sambil mengangguk setuju.


"Apa kalian tidak ada kerjaan pagi-pagi seperti ini selain mengganggu tidur orang lain?" Alex berkata sambil turun dari tempat tidur dan memakai kaosnya, disusul oleh Alexa yang juga ikut turun dari tempat tidur.


"Selamat pagi, Lexi," lanjutnya sambil mencium bibir Alexa ringan membuat semua orang yang berada di dalam kamar itu membelalak tak percaya, termasuk gadis bermata amber yang masih berdiri mematung.


"Kami sudah resmi berpacaran," ucap Alex santai sambil tersenyum dan mengangkat alis matanya.


"APA!" seru semua orang termasuk Alexa.


"Tunggu, kapan aku setuju untuk menjadi kekasihmu?" tanyanya sambil menatap Alex tajam, tapi sialnya pria itu hanya tersenyum miring sambil berjalan keluar kamar.


"Itu permintaan keduaku, Lexi, kau tidak bisa menolaknya."


"Apa! Yang benar saja!" seru Alexa sambil mengikuti Alex keluar dari kamar tak memedulikan ketiga tamu mereka yang masih menganga tak percaya.


"Kau lupa taruhan kita? Siapa yang kalah, dia akan mengabulkan tiga permintaan yang menang," ucap Alex santai sambil mengambil air mineral dari dalam lemari pendingin dan meminumnya, sedangkan Alexa hanya bisa menganga tak percaya kalau permintaan pria itu adalah membuatnya menjadi kekasih pria bermata biru itu.


"Apa tak bisa kau merubahnya jadi... makan malam? Aku akan mentraktirmu makan malam selama sebulan, bagaimana?" Alexa mencoba bernegosiasi tapi pria itu hanya menatapnya tanpa ekspresi dan akhirnya menggelengkan kepala sambil mengacak-acak rambut coklat gadis itu kemudian berjalan meninggalkannya menuju ruang tengah dimana Gerard dan Daniel baru saja duduk di sofa kuning.


"Apa kau menemukan sesuatu soal yang kemarin?" tanya Alex setelah duduk di samping Gerard yang langsung mengangguk.


"Iya, tapi hanya sedikit yang bisa aku temukan. Apa dia orang penting? Kenapa datanya sangat susah sekali dicari seolah ada seseorang yang melindunginya," ucap Gerard serius membuat Alex terdiam terlihat berpikir.


"Siapa yang kalian bicarakan? Dan hei! Apa kalian benar-benar berpacaran?" Tanya Daniel merasa penasaran dengan percakapan kedua sahabatnya.


"Dia memintaku mencari informasi tentang pria yang bersama dengan Dean Tyler kemarin. Aku juga penasaran, apa kali ini kalian benar-benar pacaran?" Gerard menjawab pertanyaan Daniel sekaligus bertanya kepada Alex yang terlihat sedang membaca dokumen yang baru saja diserahkan Gerard kepadanya.


“Iya, kenapa kalian terkejut? Bukankah selama ini kalian berusaha menjodohkan kami?”


Daniel dan Gerard saling pandang beberapa saat sebelum akhirnya mereka kembali menatap Alex.


“Kalau dia terluka maka aku akan jauh lebih terluka.” Perkataan Alex itu telah mewakili semua perkataan yang ingin disampaikannya. Daniel dan Gerard yang bisa melihat kesungguhan dimata sahabatnya itu akhirnya mengangguk mengerti dan bisa kembali tenang.


"Ada apa dengan pria yang bersama Dean kemarin? Apa ada hal penting?" tanya Daniel berusaha untuk mengembalikan percakapan mereka kepada hal yang tadi menjadi pokok pembicaraan mereka, Alex mengangguk sebelum menjawab pertanyaan itu.


"Aku rasa dia yang menyerang apartemen ini kemarin."


Jawaban Alex itu membuat keduanya saling menatap dengan serius.


"Sial! Apa kau yakin?"


Alex menatap ke arah dapur dimana Alexa dan Kerelyn sedang berbincang sambil membuat kopi dan memasak bacon untuk sarapan, sebelum dia mengangguk untuk menjawab pertanyaan itu.


"Aku hanya perlu sesuatu untuk memperkuat prediksiku."


"Apa itu?"


"DNA," jawab Alex membuat kedua sahabatnya saling pandang, "NYPD telah memiliki DNA dari orang yang menyerang apartemen ini kemarin, yang kita perlukan hanya mencocokan DNA-nya dengan baj*ngan itu."


"Bukankah itu terlalu sulit?" Tanya Daniel yang mendapat anggukan dari Alex.


"FBI tidak akan begitu saja membiarkan anggota mereka diperiksa tanpa adanya bukti kuat, apalagi untuk pengambilan DNA, kita bisa dituntut balik oleh mereka, tapi... kita bisa melakukannya sendiri."


"Maksudmu..."


"Iya, kita akan mendapatkan DNA dari baj*ngan itu tanpa sepengetahuan dari mereka," ucap Alex memotong ucapan Gerard.


"Bukankah bukti yang diambil tanpa persetujuan dari orang itu dan tanpa surat perintah dari kepolisian tidak bisa dijadikan bukti yang sah?"


Alex kembali mengangguk menjawab pertanyaan Daniel, "Kau benar, tapi untuk saat ini kita tidak memerlukan bukti yang sah."


Daniel dan Gerard menatap Alex dengan pandangan bingung tak mengerti, membuat Alex merubah posisi duduknya mengahadap mereka dengan serius.


"Maksudku, aku sangat yakin kalau baj*ngan itu adalah salah satu dari ghost dan aku sudah memastikan itu, tapi kita memerlukan sesuatu yang bisa membuat mereka menyadari kalau kita sudah mengetahui identitas mereka."


"Dengan DNA itu kau akan mengatakan kalau kau mengetahui identitas mereka," ucap Daniel setelah mengetahui maksud ucapan Alex.


"Dan secara tidak langsung dia akan membawa kita kepada anggota yang lainnya." Kali ini Gerard yang berbicara dan mendapat anggukan dari Alex.


"Bagaimana dengan barang mereka yang dimiliki Alexa, apa kita tidak bisa menggunakan itu saja?" Tanya Daniel yang mendapat persetujuan dari Gerard, sedangkan Alex terlihat diam untuk beberapa saat sebelum menggeleng.


"Tidak, mereka akan mengetahui kalau kita belum mendapatkan barang itu. Mereka pastilah orang-orang yang sangat pintar dengan rencana yang sangat matang, itu terbukti dengan belum ditemukannya bukti tentang mereka sampai sekarang. Mereka pasti akan berpikir kalau kita sudah mengetahui tentang barang itu, kita pasti sudah menyerahkannya kepada polisi dan mereka sudah tertangkap tapi sampai saat ini mereka masih aman."


"Sial! kau benar," ucap Daniel sambil menghempaskan punggungnya kesandaran sofa.


"Jadi apa rencanamu untuk mendapatkan DNA itu?" Tanya Gerard yang membuat Daniel kembali menatap Alex serius.


"Dean Tyler," jawab Alex yang membuat kedua pria dihadapannya tak mengerti.


"Dia adalah sahabatnya, dan kita akan memerlukannya untuk mendapatkan DNA baj*ngan itu."


"Maksudmu, kau akan memintanya untuk mengambil sehelai rambut sahabatnya dan menyerahkannya padamu? Yeah, yang benar saja, A," ujar Daniel sambil menggelengkan kepala.


"Tentu saja tidak, kalian tahu sendiri banyak hal yang bisa dijadikan bahan untuk mengetes DNA, salah satunya air liur... aaah, aku sebenarnya sangat membenci ide ini, tapi... kita memerlukan bantuannya," ucap Alex sambil menatap gadis berambut coklat yang juga tengah menatapnya dengan bingung.


"Apa! Kenapa kau menatapku seperti itu?!" seru Alexa dengan galak dari arah dapur yang hanya membuat Alex membuang napas berat, sedangkan Daniel dan Gerard membelalak tak percaya.


****