The Secret Identity (#3 The Secret Series)

The Secret Identity (#3 The Secret Series)
Bab 9



Alex memasuki gedung pameran yang berada di daerah fifth evenue yang kini telah dipasang garis polisi berwarna kuning yang melarang orang-orang tak berkepentingan memasuki TKP. Ia masih tertidur ketika Phillip menghubunginya dan mengatakan kalau telah terjadi perampokan pada pameran perhiasan terbesar yang baru saja dibuka beberapa hari lalu.


Dia bersiul ketika melihat ruang pameran itu kosong tak meninggalkan sedikitpun barang-barang yang berada di sana, "Mereka mengambil semuanya?"


"Iya, mereka mengambil semuanya," ucap Phillip yang berdiri di samping Alex yang tengah mengawasi kondisi sekitar.


Ia bisa melihat CCTV terpasang hampir di seluruh bagian ruangan hingga kegiatan di seluruh ruangan akan terekam kamera pengawas, ia juga mendapat informasi kalau alarm tingkat tinggi dan berlapis-lapis telah dipasang.


"Bagaimana para perampok itu menjarah semuanya tanpa terdeteksi oleh keamanan yang terpasang di sini?"


"Para penjaga mengatakan tidak ada yang mencurigakan sama sekali, kamera pengawas tidak menangkap apapun, alarm yang berupa sensor gerak yang akan berbunyi bahkan ketika seekor tikus lewatpun tak menunjukan apa-apa," jelas Phillip membuat Alex terdiam berpikir.


Suasana di dalam ruangan itu terlihat sibuk oleh para ahli forensik yang terlihat sedang mencari sidik jari atau jejak apapun yang dapat dijadikan sebagai petunjuk, beberapa polisi sibuk mengabadikan TKP di balik kameranya dan di sisi lain Alex melihat sang kapten tengah berbincang dengan seorang pria berusia pertengahan empat puluhan.


"Siapa dia?" tanyanya kepada Phillip masih menatap pria itu dengan penuh selidik.


"Aku dengar dialah pemilik pameran ini, dan dia hampir terkena serang jantung ketika mengetahui kalau seseorang telah mengosongkan tempat ini semalam."


Alex menyipitkan matanya menatap pria itu dengan penuh selidik, "Tapi dia tak seperti orang yang baru saja terkena serangan jantung," ucapan Alex itu membuat Philip ikut memerhatikan pria yang terlihat perlente dengan pakaian mahal yang menyembunyikan perut buncit dan tubuhnya yang pendek.


"Kau benar, kalau itu aku... aku sudah mati berdiri ketika mendengar berita ini," ujar Philip yang mendapat anggukan dari Alex.


"Ayo, Phil, kita harus berbicara dengan ketua keamanan sekarang."


Mereka kini berada di dalam ruang pengawasan dimana kurang lebih sepuluh layar televisi yang menampilkan gambar dari kamera pengawas terpasang di salah satu dindingnya, dengan beberapa orang tengah mengawasi layar itu dengan serius.


Mereka berbincang dengan ketua keamanan, seorang pria kulit hitam berumur enam puluhan yang merupakan pensiunan tentara, dia menjelaskan kalau kamera CCTV mengawasi setiap sudut ruangan tanpa terkecuali, begitupun dengan alarm, mereka memasang alarm sensor gerak bahkan alarm dengan sensor suhu tubuh pada malam hari yang akan berbunyi ketika menangkap suhu tubuh di dalam ruangan itu.


Dan gedung itupun dikelilingi oleh para pengawal yang bertugas bergantian, tapi sayangnya tak ada yang bertugas di dalam ruangan, mereka terlalu mengandalkan kepada peralatan canggih, tapi kepala keamanan bisa memberi kesaksian kalau mereka tak beranjak dari ruang pengawasan untuk mengawasi setiap sudut ruangan.


Alex meminta copy-an dari video-video CCTV dan menyuruh mereka supaya menyerahkannya kepada ahli forensik untuk diteliti lebih lanjut. Alex dan Phillip kini telah keluar dari gedung itu dan berjalan berkeliling untuk melihat akses keluar masuk yang ada di sana, tapi gedung itu hanya memiliki dua akses keluar masuk, yaitu pintu depan dan pintu belakang yang dua-duanya dijaga oleh para pengawal bersenjata.


"Mereka seperti David Copperfield, yang bisa menghilang untuk keluar masuk ke dalam gedung itu," ucap Phillip sambil berjalan di samping Alex yang mengangguk setuju.


"Kau benar, tapi sulap tetaplah sulap, akan ada trik di balik semuanya," ucap Alex sambil menatap gedung dan terlihat berpikir, "Ini terlalu sempurna," lanjutnya sambil menggelengkan kepala, "Ayo sebaiknya kita kembali ke kantor, kita akan mengetahuinya setelah mendapat kabar dari para CSI."


Mereka kembali ke kantor NYPD yang langsung disibukan dengan kasus penyelundupan senjata, Pedro tersangka dari penyelundapan itu belum mau membuka mulut tentang siapa yang menjadi penadah barang-barangnya di New York dan itu membuat Alex terlihat geram.


Ia menghempaskan tubuhnya di atas kursi dengan kasar, rambutnya terlihat berantakan dan wajahnya kusut karena amarah, sesekali ia akan mengacak-acak rambutnya dengan kesal dan semua orang tak akan ada yang berani mendekatinya ketika ia sedang seperti itu, kalau sampai ada yang berani mendekati atau mengganggunya itu sama saja ia menyerahkan hidupnya ke tangan malaikat maut.


"Ya Tuhan, kenapa kau berantakan sekali?" suara seorang perempuan membuatnya menengadah menatap Alexa yang kini berdiri didepan mejanya.


"Lexi, kenapa kau ada di sini?" tanya Alex sambil menatap Alexa yang hanya menatapnya dengan santai.


"Sekarang siapa yang pelupa?" tanya Alexa sambil duduk di kursi depan meja Alex dengan senyum penuh kemenangan, "Kau yang tadi menghubungiku dan menyuruhku datang ke sini."


"Ah, kau benar maafkan aku," ucap Alex sambil tersenyum, sebelum melakukan introgasi ia menghubungi Alexa dan menyuruhnya untuk datang ke kantor NYPD karena ia tak bisa menjemputnya tapi ia juga tak ingin Alexa pulang sendiri.


"Apa ada masalah?" Tanya Alexa sambil menatap Alex dengan sorot mata lembut membuat pria itu kembali tersenyum lalu menggelengkan kepala.


"Alex!" Seru Alexa tak percaya dengan apa yang ia dengar, "Kalau kau mencekiknya bagaimana dia bisa bicara? Kau cukup menjambak rambutnya dengan sangat kencang... dia pasti mau berbicara," ucap Alexa dengan wajah serius membuat Alex terdiam beberapa saat sebelum tertawa terbahak-bahak membuat polisi yang lain menatap ke arahnya dengan wajah terkejut, karena untuk pertama kalinya Alex bisa tertawa seperti itu setelah melakukan introgasi yang menguras emosi. Biasanya dia akan marah-marah seharian untuk menyalurkan emosinya.


"Tapi kepalanya botak, bagaimana aku bisa menjambaknya?" tanya Alex setelah berhenti tertawa dan kini terlihat lebih santai.


"Kalau begitu kau pukul saja kepalanya dengan sangat kencang... apa kau mau melakukannya? Tenang saja aku akan menjadi alibi untukmu," bisik Alexa yang kembali membuat Alex tertawa.


"Aku mendengar kalian... tapi tenang saja aku akan tutup mulut," ujar Phillip membuat Alexa menatap ke arahnya sambil tersenyum.


"Phillip, maafkan aku, aku tak melihatmu tadi," ucap Alexa dengan tersenyuman yang mendapat balasan senyuman dari rekan Alex itu, "Bagaimana kabar istri dan putrimu? Aku mendengar kalau kau baru saja mendapatkan seorang putri lagi?"


"Si kecil masih suka menyuruhku begadang semalaman, dan Meggie, putri sulungku masih suka mengundangku untuk minum teh bersama dengan Barbie dan Ken," ucap Philip yang membuat Alexa tertawa.


"Alexa, aku senang sekali bertemu denganmu hari ini.. apa kau ada acara minggu besok?" Tanya Philip dengan mata berbinar.


"Tidak," jawab Alexa sambil mengangkat alisnya bingung.


"Bagus! Aku mengundangmu ke acara Baby Shower putri kecilku minggu besok dan aku harap kau bisa datang dengan detektif kesayangan NYPD ini," lanjut Philip sambil menatap Alex yang tersenyum menatapnya.


"Itu akan sangat menyenangkan, baiklah aku rasa aku bisa datang minggu besok," ujar Alexa yang membuat Philip tersenyum lebar.


"Bagus, istriku akan sangat senang bertemu denganmu."


"Baiklah, sebaiknya kita pulang ke apartemen kita sekarang, aku sudah sangat lelah dan lapar," ujar Alex sambil berdiri dan memakai jaketnya.


"Sampai jumpa Phil." Alexa berkata sambil berdiri menatap Philip yang terlihat mengerutkan alisnya.


Mereka sudah berjalan ketika Phillip berseru memanggil Alex, membuat keduanya berhenti dan menatap ke arahnya, telihat beberapa rekan polisi ikut menatap ayah dua putri itu yang terlihat membelalakan mata dengan berbinar.


"Kau tadi bilang, apartemen kita?" tanyanya sambil menunjuk keduanya yang terlihat bingung lalu mengangguk sebagai jawaban, "Jadi kalian tinggal bersama!?" Serunya dengan mata menatap jahil membuat semua orang yang berada di kantor itu kini menatap double A tak percaya.


"Kau salah paham," ucap Alexa mencoba menjelaskan tapi tangan Alex kini merangkul bahunya dengan posesif dan senyum miring menghiasi wajah tampannya membuat Alexa mendelik kearahnya.


"Iya, mulai kemarin kami tinggal bersama," ucap Alex memotong perkataan Alexa membuat seisi ruangan itu riuh dengan sorak dan siulan.


"Alex, apa yang kau lakukan?" geram Alexa tak percaya sambil menatap Alex dengan tajam.


"Kita memang tinggal bersamakan?"


"Iya, tapi.."


"Kalian dengar sendiri, kami memang tinggal bersama," lanjut Alex yang membuat ruangan itu kembali heboh dan membuat Alexa ingin sekali menjambak rambut pirang pria yang dengan santai merangkulnya itu.


"Ayo, Princes, kita pulang sekarang." Alex berkata sambil berjalan ke arah luar dengan tangan masih merangkul bahu Alexa yang berusaha menjelaskan kalau mereka semua salah paham, tapi usahanya sia-sia karena kini semua orang tengah menyorakinya dan mengucapkan selamat yang ditanggapi Alex dengan mengangkat sebelah tangannya dengan senyum penuh kemenangan.


*****