
“Apa kau sudah mengetahui dimana kaset itu sekarang?” tanya pria itu yang di balas gelengan kepala oleh dua rekannya, saat ini mereka tengah berada di club yang selalu mereka datangi hampir setiap malam hanya untuk minum-minum melepas lelah setelah bekerja seharian.
“Sial! Kita harus menemukannya secepatnya, sebelum rekaman itu jatuh ke tangan polisi,” ujar satunya lagi dengan sedikit emosi.
“Dimana baj*ngan itu membuang kasetnya? Apa kau telah mencarinya dengan benar?”
“Apa kau tak percaya padaku?” tanya pria ketiga dengan emosi.
Beberapa hari ini mereka di buat pusing karena aksinya terekam oleh salah seorang yang tak sengaja berada di lokasi kejadian. Walaupun mereka berhasil membereskan orang itu tapi sial bagi mereka karena kameranya telah kosong tanpa kaset. Malam itu juga mereka meyusuri jalanan yang menjadi rute pelarian tapi tak menemukan hasil, benda itu tak ada dimana-mana. Bisa jadi ia telah membuangnya dan seseorang telah mengambilnya atau orang itu meminta orang lain untuk mengirimkan kaset itu kepada polisi, dan kalau sampai itu terjadi maka hidup dan karir mereka semua akan hancur dalam hitungan detik.
“Aaarrggghh.. ini membuatku gila,” geram pria kedua sambil mengacak-acak rambutnya.
“Polisi belum bertindak apa-apa yang artinya kita masih aman, ada kemungkinan kaset itu belum ditemukan... kita yang harus menemukannya pertama kali.” Pria pertama berusaha bersikap tenang walaupun matanya terlihat sama cemasnya dengan kedua rekannya.
Mereka tengah terdiam larut dalam kecemasan masing-masing, ketika seseorang ikut bergabung duduk dengan mereka, “Aku tahu dimana kaset itu sekarang!” bisik orang itu dengan wajah serius membuat ketiga rekannya membelalakan mata menatap ke arahnya.
“Kau tahu dimana kaset itu?” tanya pria pertama sambil menatapnya dengan mata penuh harap seperti dua rekannya yang lain yang dijawab anggukan.
“Dia,” ujarnya sambil memerlihatkan foto seorang perempuan berambut coklat tenggah membereskan kaset-kaset yang berserakan di atas trotoar, “Aku telah menyelidikinya, sepertinya ******** itu tanpa sengaja menabrak perempuan ini dan menjatuhkan kasetnya hingga bersatu dengan barang-barangnya.”
Semua orang kini saling tatap dengan sorot mata memancarkan harapan untuk menyelamatkan karir dan hidup mereka semua.
“Apa kau sudah menyelidikinya?” tanya pria ketiga sambil menatap orang itu serius.
“Aku hanya mengetahui kalau dia adalah salah seorang designer di The Most dan namanya adalah…”
“Alexa Wincheser,” potong pria pertama membuat semua orang menatap ke arahnya.
“Kau mengenalnya?” tanya pria ke dua dengan wajah penasaran.
“Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali,” jawab pria pertama dengan mata penuh misteri, membuat semua orang saling pandang tak mengerti.
“Wincheser?” tanya pria ketiga sambil mengerutkan alis matanya terlihat berpikir, tapi sejurus kemudian dia membelalakan matanya terkejut ketika mengingat nama itu.
“Iya, dia adalah putri dari Senator Winchester dan adik ipar dari pemilik group Royal.”
“Dan kekasih dari salah seorang Detektif NYPD.”
“Sial!”
Seketika semua orang mengumpat ketika mengetahui kalau bukti kejahatan mereka kini berada di tangan putri salah satu orang penting di Amerika. Tapi mereka tak akan membiarkan bukti kejahatannya diketahui dunia, oleh sebab itu mereka memutuskan apapun harus dilakukan untuk mengambil bukti itu termasuk dengan melenyapkan putri bungsu sang Senator.
*****
Alex dan timnya memasuki kantor NYPD yang disambut oleh tepuk tangan riuh dari semua rekan-rekannya karena ia baru saja berhasil menggagalkan penyelundupan senjata api dalam jumlah besar, hasil dari kerja kerasnya selama beberapa minggu terakhir ini terbayar sudah.
“Kerja bagus MacKena,” puji sang Kapten sambil menepuk bahunya bangga, “Minuman gratis di The Rock malam ini,” lanjutnya yang langsung mendapat sambutan meriah dari semua petugas yang ada di sana, “Hanya untuk mereka,” ujar sang Kapten sambil menunjuk orang-orang yang tadi telah bertugas bersama Alex, “Dan kalian... lanjutkan tugas kalian.”
Semua orang membubarkan dirinya dengan kecewa setelah mendengar ucapan terakhir sang Kapten yang telah kembali masuk ke kantornya. Alex menghempaskan tubuhnya di atas kursi sambil membuka rompi anti peluru yang tadi ia pakai, satu tugasnya telah selesai walaupun ia dan timnya harus beradu tembak dengan para penyelundup tapi semuanya berjalan lancar karena kerja tim yang kompak.
Alex mengambil ponselnya ketika ada sebuah pesan masuk, ia langsung tersenyum ketika membaca pesan dari Daniel.
“Apakah malam ini kau bebas? Romeo sedang kambuh.”
Ia membalas pesan itu, “Ok, aku akan sampai di The Rock jam 7.”
Malamnya Alex sedang bersama rekan satu timnya untuk merayakan keberhasilan kasus mereka ketika ia melihat Daniel dan Gerard memasuki The Rock kemudian duduk di kursi depan meja bar seperti biasanya, setelah pamit kepada rekan-rekannya ia berjalan untuk bergabung dengan kedua sahabatnya.
“Man, kau terlihat kacau,” ucap Alex sambil duduk di sebelah Gerard yang memang terlihat sangat kacau.
“Kau belum tahu bagaimana rasanya merindukan seorang perempuan,” ucap pria berkaca mata itu sambil menggelengkan kepala.
“Zaman sudah berubah, kau hanya tinggal mengangkat ponselmu dan kau bisa melihat wajahnya.” Alex berkata sambil meneguk minumannya.
“Aku sudah mengatakan itu,” ujar Daniel yang tersenyum melihat sahabatnya menggila karena sepupunya yang tinggal di Indonesia.
“Kalian tidak akan paham.. kau, kekasihmu, Kerelyn tinggal di sebelah apartemenmu jadi yang kau lakukan hanya tinggal mengetuk pintunya saja, dan semua selesai, kau bisa bertemu denganya,” ucap Gerard sambil menatap Daniel yang mengangguk membenarkan, kini ahli IT itu menatap Alex yang menatapnya santai, “Sedangkan kau... kau bahkan belum pernah merindukan seseorang,” lanjutnya sambil menggelengkan kepala membuat Alex tersenyum miring sambil mengangkat bahu.
“Ketika kami berbicara di telpon atau melakukan video call itu hanya membuatku semakin gila, karena aku bisa melihat wajah orang yang aku rindukan tapi tak bisa memeluknya apalagi menciumnya, itu malah membuat kepalaku serasa mau meledak karena merindukannya.”
Alex mengangguk mengerti, “Kau benar, itu membuat kita gila.”
Ucapan Alex itu membuat Gerard dan Daniel menatapnya tak percaya.
“Apa kau memiliki hubungan jarak jauh tanpa kami ketahui?” tanya Daniel karena penasaran dengan perkataanya tadi yang seolah-olah ia sangat mengerti tentang kondisi seperti itu.
“Apa kalian pikir aku akan bertahan untuk hubungan jarak jauh?” Alex balik bertanya dengan santai yang membuat mereka menggeleng sambil mendengus tertawa.
“Orang sepertimu mana bisa bertahan untuk hubungan seperti itu, dan percayalah kalau bukan karena aku sangat mencintainya aku juga tak akan sanggup bertahan,” ucap Gerard sambil meneguk minumannya yang baru diantarkan oleh Max.
“Man, kau benar-benar sudah menemukan cinta sejatimu,” ucap Daniel sambil tersenyum melihat sahabatnya yang sedang dilanda kerinduan.
“Kau juga, D, kau telah menemukan Kerelyn.”
Daniel mengangguk membenarkan ucapan Gerard, “Dan kita berdoa supaya kau juga menemukan cinta sejatimu, A.” Alex tertawa sambil mengangguk mendengar ucapan sahabatnya itu.
“Kami baru sampai... untuk menghibur sang Romeo,” ucap Alex yang membuat Gerard membuang napas panjang membuat Theo tertawa melihatnya.
“Jadi dia kambuh lagi?” tanyanya sambil duduk di sebelah Daniel yang mengangguk membenarkan.
“Gerard, kenapa kau tak membawanya ke sini saja?” tanya Theo yang membuat Gerard menatapnya.
“Dia tidak mau sebelum mendapatkan pekerjaan pasti di sini.” Gerard sudah menyarankan itu kepada Raina tapi gadis itu tak mau kalau dia harus hidup dengan menggantungkan diri kepada saudaranya walaupun mereka tak keberatan tentang hal itu.
Mereka terdiam beberapa saat dan hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala setiap mendengar Gerard membuang napas berat sambil mengeluh tentang kerinduannya.
“Hai, apa kau sedang kambuh, G?” suara seorang perempuan membuat mereka kini menatap Alexa dan Calista yang baru saja datang dengan sebuah tas kertas bertuliskan nama sebuah toko sepatu yang berada tak jauh dari The Rock di tangan masing-masing.
Gerard kembali membuang napas berat ketika mendengar ucapan Alexa yang kini telah duduk di samping Alex, sedangkan Calista langsung duduk dipangkuan suaminya. Mereka baru saja melangsungkan pernikahan sebulan lalu jadi semua orang bisa memakluminya kalau hubungan mereka masih hangat-hangatnya.
“Jadi, Raina belum juga bersedia untuk pindah ke sini?” tanya Calista sambil tersenyum melihat Gerard yang menggelengkan kepala lemah.
“Theo, apa di perusahaanmu tidak ada pekerjaan untuknya?” Tanya Gerard sambil menatap Theo penuh harap.
“Apa Raina sedang mencari pekerjaan?” Calista bertanya yang mendapat anggukan dari Gerard.
“Dia tak mau pindah ke sini kalau tak ada pekerjaan untuknya,” jawab Gerard sambil kembali minum.
“Apa dia tidak keberatan kalau bekerja di perusahan yang aku dan Kerelyn baru saja rintis? Jujur saja, beberapa kali kami berpikir untuk menariknya berkerja bersama kami, tapi kami ragu apa dia mau menerimanya atau tidak, mengingat dia sudah memiliki pekerjaan mapan di Jakarta.”
“Dia mau! Dan dia harus mau, kalau sampai dia menolaknya, aku yang akan menculiknya dan membawanya ke sini,” ujar Gerard dengan semangat karena akhirnya menemukan solusi dari masalah hubungan jarak jauhnya, wajahnya kini telah berubah menjadi lebih sumringah.
“Bagus! Jadi aku ada teman lagi... oh aku sangat ketakutan selama ini tinggal sendirian di apartemen, aku selalu merasa kalau ada seseorang yang tengah mengawasiku,” ucap Alexa membuat semua orang menatapnya.
“Apa kau sudah memastikan kalau tidak ada yang mengikuti atau mengawasimu?” tanya Daniel yang di jawab anggukan dari adiknya.
“Aku sudah memastikannya dan tidak ada siapapun di sana, tapi entahlah aku merasa kalau seseorang terus mengikutiku.”
Semua orang terdiam terlihat berpikir dan merasa khawatir, tapi mungkin saja itu hanya rasa takut Alexa karena tinggal sendiri mengingat gadis itu memang sedikit penakut.
“Itu hanya perasaanmu saja, Lexa, kau memang penakut,” ujar Theo yang mendapat anggukan dari semuanya.
“Mungkin kau benar, aku hanya paranoid gara-gara orang gila yang terobsesi oleh Kerelyn kemarin,” ucap Alexa yang kembali dapat sautan setuju dari yang lainnya.
“Jangan-jangan memang ada yang terobsesi denganmu... apa kau tidak menemukan bunga tulip di depan pintu rumahmu?” pertanyaanya Alex itu langsung saja mendapat pukulan dari Alexa, yang malah membuat pria itu tersenyum mengejek.
“Kalau aku sampai mendapatkannya itu salahmu karena kau berpacaran dengan orang gila.”
“Jangan salahkan aku kalau dia masih tergila-gila padaku.”
“Orang gila?” tanya Calista tak mengerti.
“Apa kau percaya kalau Lucy cemburu padaku?”
“Kenapa dia cemburu padamu?” tanya Gerard yang mendapat anggukan dari Theo, sedangkan Daniel yang sudah mengetahuinya hanya terdiam sambil tersenyum melihat keduanya.
“Aku juga tak tahu kenapa dia cemburu padanya,” ujar Alex sambil menatap Alexa.
“Karena aku cantik,” ucap Alexa sambil tersenyum.
“Kau seperti anak SMP, tidak seksi sama sekali.”
“Aku sangat anggun.”
“Perempuan anggun tak akan bisa meledakkan dua buah mobil dan berkelahi dengan psikopat gila.”
“Jadi kenapa dia cemburu padaku?”
Alex terdiam beberapa saat sebelum berkata, “Karena dia gila.”
“Kau benar,” ucap Alexa sambil mengangguk setuju.
“Apa kau sudah putus dengannya?” Daniel bertanya yang membuat Gerard, Theo dan Calista menatapnya serius.
“Iya aku sudah memutuskannya beberapa bulan lalu, tapi sepertinya dia belum bisa melupakanku.”
“Berapa lama kau berkencan dengannya?” kali ini Theo yang bertanya dan semua orang kini semakin menatap Alex dengan serius, tak menghiraukan ucapannya kalau perempuan itu masih mengejar-ngejarnya.
“Satu setengah bulan... apa kalian tak mendengarkanku kalau dia masih mengejar-ngejarku?”
Alex terlihat bingung melihat kelakuan aneh mereka semua yang langsung mengumpat kecewa.
“Jadi tidak ada yang menang?” tanya Gerard tak percaya, “Sial, aku bertaruh satu bulan.”
“Seharusnya aku tahu kalau dia bahkan tidak akan sampai dua bulan,” ucap Daniel sambil menggelengkan kepala. Dan kini Alex mengerti apa yang mereka bicarakan saat ini, dan itu karena Alexa membuka taruhan dengan semuanya tentang berapa lama ia akan berkencan dengan Lucy.
“Alexa?” Suara seorang pria membuat semua orang menghentikan pembicaraan mereka dan kini menatap ke arah seorang pria tampan yang berdiri sambil menatap Alexa yang terlihat terkejut melihatnya.
*****