
"Apa kau sudah mendapatkannya?" Tanya Alex sesampainya di meja dan bertemu dengan Phillip.
"Ini," jawab Phillip sambil menyerahkan beberapa lembar kertas yang langsung dibaca oleh Alex.
"Tidak banyak yang bisa ku temukan tentangnya... apa kau tahu dia anggota FBI?" Tanya Phillip yang hanya dijawab anggukan oleh Alex.
"Kenapa kau menyelidikinya? MacKena, kita akan terkena masalah kalau sampai mereka tahu kita tengah menyelidiki salah satu anggotanya."
Phillip berkata pelan setelah memastikan tak ada seorangpun yang mendengarkan mereka. Untuk sesaat Alex menghentikan aktifitasnya membaca, ia menatap rekannya dengan serius membuat Phillip menaikan alisnya.
"Ada apa?" Tanya rekan Alex itu dengan bingung.
"Phill, selama ini kita mencocokan DNA dari darah yang ada di tempat Lexi hanya dengan database yang berada di kepolisiankan?"
"Iya, dan tidak ada satupun yang cocok."
"Aku tahu kenapa tidak ada yang cocok dengan database kita," ucap Alex dengan serius, "Karena data itu ada di FBI," lanjutnya.
"Maksudmu kau mencurigai dia yang menyerang apartemen Alexa malam itu?"
"Aku sangat yakin, Phil, dia yang melakukannya... malam itu dia berjalan melewatiku, aku masih mengingat tinggi dan postur tubuhnya, tapi yang pasti aku sempat mengamati caranya berjalan yang sedikit pincang, itu pasti dia!" serunya dengan menggebu-gebu.
Alex terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berdiri dan berjalan ke ruang kapten dengan penuh keyakinan, diikuti oleh Phillip yang masih terlihat bingung. Dan disinilah mereka kini berada duduk di depan meja Kapten yang tengah menatap mereka dengan tajam.
"Apa kau sudah gila? Kau ingin kita meminta data anggota FBI hanya karena sebuah kecurigaan?!" Seru sang Kapten yang terlihat marah setelah mendengar penjelasan Alex.
"Kapten, kau tahu instingku tak pernah salah selama ini. Dan aku yakin kalau James Barton adalah orang yang menyerangku di apartemen Alexa malam itu."
"Dan kau minta aku membuat surat perintah untuk menyelidiki seorang anggota FBI hanya karena instingmu itu. Apa kau ingin dipecat MacKena?"
"Kapten..."
"Cukup!" Kapten mengangkat tangannya supaya Alex berhenti bicara, "FBI tak akan menyerahkan database anggota mereka begitu saja apa lagi hanya karena sebuah kecurigaan, dan mereka tak akan tinggal diam ketika mengetahui kalau kalian tengah menyeldiki anggota mereka. Cari bukti kuat yang tak bisa mereka bantah, kalau kalian menemukan bukti itu.. aku akan membantumu untuk memasukannya ke dalam jeruji penjara."
Alex hanya bisa membuang napas berat mendengar keputusan kaptennya, dan dia pun keluar dari ruangan itu bersama dengan Phillip dengan wajah kecewa.
"Apa kau benar-benar mencuriganya?"
"Iya, aku sangat yakin ketika melihatnya berjalan tadi aku langsung mengenalinya, dan ketika dia berada tepat di depanku aku bertambah yakin. Sorot mata itu, aku tak pernah melupakannya ketika aku melihatnya di balik pintu apartemen Lexi. Dan aku yakin kalau di balik pakaiannya lengannya pasti terluka akibat tembakanku."
Alex berkata sambil terus berjalan keluar dari kantor NYPD menuju tempat parkir mobilnya, Phillip masih mengekor di belakangnya tak berkomentar apapun. Beberapa saat kemudian Alex telah berada di sebuah ruangan sempit yang hanya terdapat sebuah meja dan dua buah kursi, ciri khas sebuah ruang introgasi di penjara federal. Sedangkan Phillip berada di sebuah ruangan dengan kaca satu arah mengawasinya.
Alex duduk dengan santai di salah satu kursi yang berada di ruangan itu, dihadapannya duduk pria berpakaian seragam penjara berwana oranye, pria berkebangsaan Brazil dengan kulit coklat dan rahang yang ditutupi oleh jenggot pendek yang menatap Alex dengan pandangan mengejek.
"Sudah ku katakan sebelumnya aku tak akan mengatakan apapun tanpa pengacaraku," ucap Pedro dengan sombong, mendengar itu Alex hanya menatapnya tajam sambil mengangguk mengerti.
"Kau tak perlu mengatakan apapun," ucap Alex santai membuat Pedro menatapnya bingung, "Kau hanya perlu mendengar ceritaku saja," lanjut Alex sambil berpangku tangan melihat reaksi Pedro yang mendengus sinis.
"Sebaiknya kau mencari kekasihmu yang cantik dan seksi itu kalau ingin bercerita," ujar Pedro sambil tersenyum mengejek yang membuat Alex memicingkan matanya tajam.
"Aah, sepertinya kau telah mengetahui kalau kekasihku sangat cantik, apa kau mengawasi kekasihku selama ini?" Alex bertanya dengan suara sedingin es, yang hanya mendapat tatapan santai dari pria yang duduk di hadapannya.
"Dan sepertinya aku tahu alasan kalian mengawasinya," ucap Alex sambil mencondongkan tubuhnya dengan menumpukan sikutnya di atas meja, "Karena dia memiliki bukti kejahatan Ghost."
Ucapan Alex itu sukses membuat Pedro terbelalak kaget yang ditanggapi Alex dengan senyum miring lalu dia-pun kembali duduk sambil bersandar santai.
"Sepertinya apa yang aku ucapkan itu benar... aku hampir lupa.. kau tahu aku baru saja mengenali salah satu anggota Ghost? Kau benar terlalu sulit untuk menyentuh mereka tanpa bukti kuat, tapi tidak usah khawatir karena sebentar lagi aku akan memiliki bukti itu."
"Kau pikir aku akan percaya kalau kau mengenali salah satu dari mereka?" Pedro berkata dengan sombong, tapi Alex hanya menatapnya santai tanpa ekspresi.
"James Barton," ucap Alex yang membuat Pedro kembali terbelalak kaget.
"Kau tidak usah menatapku seperti itu, matamu seperti mau keluar dan itu sangat mengerikan," lanjut Alex sambil menggelengkan kepala.
"Sudah kukatakan mencari tahu identitas mereka itu sangat mudah bagiku dan hanya memerlukan waktu sedikit lagi untuk menangkap mereka semua." Alex berkata santai dengan senyum dingin menghiasi wajahnya.
"Sebenarnya tadi aku tak begitu yakin kalau James Barton adalah salah satu dari mereka, tapi berkatmu aku sekarang bertambah yakin.β
"Kau!" Geram Pedro dengan wajah merah padam, tapi amarahnya harus tertahan karena Alex dengan tiba-tiba menggebrak meja dengan wajah penuh amarah, ia mencondongkan tubuhnya ke arah Pedro yang masih menatapnya dengan sorot mata nyalang.
"Kau," geramnya dengan suara dingin dan mata yang menusuk mata lawannya tajam, "Katakan kepada mereka untuk tidak mengganggu kekasihku, kalau mereka masih melakukannya aku tak perlu surat perintah dari atasan ataupun bukti sialan yang akan menghukum mereka. Karena aku akan langsung menembak kepala mereka dengan peluru yang berukirkan huruf A! Apa kau paham?"
Pedro terdiam tak menjawab pertanyaan Alex yang sarat akan ancaman itu, tapi itu malah membuat Alex tersenyum miring sambil berdiri tegak.
"Sepertinya kau sudah paham.. jangan takut aku akan segera mengirim mereka semua ke sini untuk menemanimu." Alex berkata sambil berjalan keluar dari ruangan itu meninggalkan Pedro yang masih duduk mematung. Setibanya di luar Alex langsung menghubungi seseorang dengan ponselnya.
"G, aku perlu bantuanmu... cari informasi tentang James Barton, lakukan apapun untuk mendapatkannya termasuk meretas data FBI."
Seharian itu Alex disibukkan dengan mencari informasi apapun untuk mendukung kecurigaannya tentang James Barton, dan dia baru pulang ke apartemen Alexa ketika jam tangannya sudah menunjukan angka jam 11 malam.
Dia masuk ke dalam dan langsung tersenyum ketika melihat Alexa tengah serius berkutat dengan lembaran-lembaran kertas designnya, rambutnya dikuncir asal, kacamata minus bertengger manis di hidung mancungnya, senyuman langsung menghiasi wajahnya yang lelah ketika melihat Alex memasuki apartemen.
"Kenapa kau pulang sangat malam?"
"Aku harus menyelesaikan sesuatu dulu, apa kau menungguku?" tanya Alex dengan senyum menggoda yang dibalas Alexa dengan sebuah delikan.
"Jangan mimpi, aku sedang menyelesaikan pekerjaanku."
"Sebaiknya kau mengaku saja, kalau kau merindukanku," ucap Alex sambil duduk di sofa dan menarik Alexa yang duduk di bawah untuk duduk di sampingnya.
"Aku merindukanmu? setelah kau mengatakan kalau aku seperti leci! yang benar saja," seru Alexa sambil memukul dada bidang Alex yang malah tertawa.
"Aah... seharusnya aku tak memercayai mereka."
"Bukan Daniel dan Gerard yang memberitahuku, tapi Theo."
"Theo?"
Alexa mengangguk, "Mereka menceritakan kepada Theo tentang apa yang terjadi tadi siang dan Theo menceritakan padaku... jadi, kau cemburu kepada Dean karena dia mengirimiku bunga?" tanya Alexa dengan senyum penuh kemenangan yang membuat Alex berdecak dan berusaha menghindari tatapan Alexa.
"Kau benar-benar cemburu, aku tak percaya ini," ucap Alexa sambil tertawa.
"Aku tidak cemburu."
"Kau cemburu."
"Tidak."
"Iya."
"Berhenti menyeringai seperti itu, Lexi!"
"Apa kau telah jatuh cinta padaku?" tanya Alexa dengan sorot mata jahil dan senyum mengembang.
Alex hanya menatap Alexa lembut tak menjawab pertanyaan sederhana itu, membuat dada Alexa tiba-tiba berdebar dan senyumnya perlahan menghilang, mereka hanya saling pandang dan itu membuat kembaran Emily itu semakin merasa tak nyaman dengan debaran jantungnya yang menggila. Tak bisa lagi menatap mata Alex yang membuatnya seolah tersesat, Alexa berdehem dan berdiri, tapi terlambat Alex kembali menariknya hingga duduk di pangkuannya.
"Apa kau mau melarikan diri? kau tak mau mendengar jawabanku?" tanya Alex dengan suara serak dan matanya masih menatap mata Alexa yang terkejut dengan kedekatan mereka saat ini.
"Ti-tidak," jawab Alexa dengan gugup membuat Alex tersenyum dan perlahan mendekatkan wajahnya.
Kening mereka beradu, begitu pula hidung mereka, Alex menatap bibir merah Alexa yang hanya berjarak hembusan napas, dan itu membuat jantung Alexa semakin mengila.
"Lexi," Alex memanggil nama Alexa dengan suara serak nan seksi membuat Alexa memejamkan matanya, "Apa kau percaya kalau aku katakan aku mencintaimu?"
Seketika Alexa terbelalak mendengar pertanyaan Alex itu, mata mereka saling memandang, tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, jantungnya seolah berhenti berdetak beberapa detik sebelum akhirnya kembali menggila.
*****
Nanggungkaaaan.... hahahahaha.... sampai jumpa besok πππ