
"Detektif MacKena, aku tak tahu akan bertemu denganmu di sini."
Mereka kini menatap seorang perempuan yang berdiri di hadapan mereka dengan pakaian rapi dan rambut rapinya.
"Miss. Duvont," ucap Alex sambil mengangkat alisnya, "Aku tak tahu kalau wanita sepertimu menyukai tempat-tempat seperti ini."
"Percayalah Detektif, kau belum mengenalku dengan sangat baik," ucapnya sambil menganggukkan kepala dan mengedipkan sebelah mata sebelum berlalu dari hadapan mereka menuju seorang pria berstelan rapi yang berdiri memerhatikan mereka daritadi.
"Apa tadi dia merayuku?" tanya Alex tak percaya sambil menatap Alexa.
"Apa dia dari planet lain?" Alexa balik bertanya dengan wajah serius.
"Aku rasa seperti itu, apa tadi dia merayuku?" Alex kembali bertanya tak percaya.
"Kau baru saja dirayu oleh seorang alien," ucap Alexa sambil bergidik lalu menyeruput kopinya, "Oh ya Tuhan, apa dia tak pernah melihat majalah mode? Dan aku rasa dia menghabiskan satu botol hairspray untuk membuat rambutnya sekaku itu."
Alex mengangguk setuju, "Kau benar, bahkan rambutnya sudah serapi itu dari pagi."
"Tadi pagi?"
"Iya, dia salah seorang pengacara dan percayalah dia sangat menyebalkan... pria tadi, aku rasa aku mengenalnya, tapi aku lupa siapa dia," ujar Alex sambil menggeleng dan terlihat berpikir.
"Mungkin dia kekasihnya," ucap Alexa sambil menghabiskan kopinya, berbeda dengan Alex yang masih terlihat berpikir tentang pria yang bersama dengan Margareth Duvont, ia yakin ia mengenal siapa pria itu tapi sial saat ini ia tak mengingatnya.
"Sebaiknya kita pulang sekarang," ujar Alexa sambil berdiri disusul Alex yang berjalan di sampingnya.
Mereka sampai di apartemen Alexa setengah jam kemudian, Alex seperti biasa langsung duduk di sofa sedangkan Alexa langsung menuju kamar untuk mandi dan berganti pakaian. Ia keluar dengan rambut basah yang masih tertutup handuk dengan pakaian tidur celana pendek hitam dan kaos putih dengan gambar bibir merah yang seksi di depannya.
"Kau berbicara dengan siapa?" tanya Alexa sambil duduk di samping Alex yang baru saja menutup teleponnya.
"Gerard... dia dan Daniel dalam perjalanan ke sini," ucap Alex sambil memerhatikan Alexa yang kini tengah mengeringkan rambutnya menggunakan handuk, untuk beberapa saat dia hanya terdiam menatap Alexa yang fokus menatap televisi, sampai akhirnya gadis itu merasa kalau tengah diperhatikan.
"Kenapa?" tanya Alexa sambil menatap Alex yang masih menatapnya.
"Tidak," jawab Alex sambil berdiri, "Aku mau mandi."
"Kau mau apa?" tanya Alexa tak percaya mendengar ucapan Alex.
"Mandi... badanku terasa lengket," jawab Alex sambil berjalan.
"Kenapa kau mandi di sini!" Seru Alexa membuat Alex menatapnya.
"Kenapa tidak," ucapnya santai.
"Kau seharusnya pulang dan mandi di rumahmu."
"Kalau di sini ada kamar mandi, kenapa aku harus pulang hanya untuk mandi."
"Alex!"
"Lexi!"
Beberapa saat mereka hanya saling tatap dengan mata tajam, sampai akhirnya Alex menyerah.
"Lexi, aku belum mandi dari kemarin dan tadi pagi aku pulang hanya untuk mengganti pakaian dan celana dalamku saja, jadi sekarang aku perlu mandi."
"Dasar jorok!"
"Aku tahu," ucap Alex santai sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Alexa memutar bola matanya.
"Alex, kenapa kau tidak pulang saja, mandi, ganti pakaian dan tidur di tempatmu, kenapa kau malah mandi di sini."
Alex membuang napas berat sambil menatap Alexa, "Apa kau lupa kalau tadi aku bilang Gerard dan Daniel sedang dalam perjalanan ke sini?"
"Jadi?"
"Jadi... kenapa aku harus pulang, mandi dan ganti baju lalu kembali lagi ke sini, itu hanya membuang waktu saja."
"Kenapa kau harus kembali lagi ke sini?" tanya Alexa sambil menatap Alex tak mengerti membuat pria itu terlihat berpikir beberapa saat.
"Aku mandi dulu," ujar Alex sambil terus berjalan menuju kamar mandi tak memedulikan seruan Alexa, dia menutup pintu kamar mandi lalu menggelengkan kepala sambil tersenyum dan mulai membuka pakaiannya.
Alex keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah, dia dengan santai berjalan menuju ruangan depan sambil mengancingkan kemejanya dimana kedua sahabatnya telah duduk dengan manis di depan TV.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Daniel sambil menatap Alex yang terlihat segar.
"Apa kau tak lihat kalau aku baru selesai mandi?"
"Kenapa kau mandi di sini?" kini giliran Gerard yang bertanya.
"Aku sudah bertanya itu padanya," ucap Alexa sambil menggelengkan kepala.
"Badanku sangat gatal karena dari kemarin belum mandi, apa sudah jelas?"
Alexa mengangkat bahunya santai lalu kembali menatap TV, berbeda dengan Daniel, Gerard dan Kerelyn yang menatapnya dengan pandangan jahil, membuat Alex bertanya, "Apa?" tanpa suara yang hanya dijawab cengiran dari ketiganya dan membuat pria bermata biru itu memutar bola matanya putus asa.
"Apa kau menemukan sesuatu, G?" tanya Alex sambil ikut bergabung duduk bersama mereka di sofa kuning.
"Apa ada sesuatu yang salah?" tanya Kerelyn yang ditanggapi Daniel dengan tersenyum sambil menggeleng.
"Tidak, ini hanya tentang kasus Alex," jawab Kakak si kembar membuat kedua perempuan itu mengangguk lalu kembali menatap layar kaca.
"Dan aku bisa memastikan kalau siapapun orangnya memiliki kemampuan yang sangat hebat dalam melakukannya."
"Maksudmu, dia melakukannya seperti yang biasa kau lakukan?" tanya Alex yang mendapat anggukan dari Gerard.
"Iya, orang itu menyabotase saluran CCTV apartemen."
Mereka saling pandang untuk beberapa saat memikirkan orang-orang yang berusaha masuk ke dalam apartemen Alexa, dan sepertinya mereka kini berhubungan dengan para ahli bukan hanya perampok biasa.
"Jadi mereka adalah para ahli," ucap Daniel yang dapat anggukan kembali dari Gerard.
"Tapi aku bisa memastikan kalau dia melakukannya dari jarak dekat, mungkin saja dia berada hanya beberapa meter dari apartemen atau bahkan di tempat parkir."
Alex mengangguk mendengar penjelasan Gerard, "Lexi, apa kau punya makanan? Aku sangat lapar," ucap Alex membuat Alexa menatapnya.
"Kau benar, kita belum makan malam," jawabnya.
"Kenapa kau tidak pergi bersama Kerelyn untuk membeli makan malam?" lanjut Alex yang dapat anggukan dari Daniel dan Gerard.
"Kenapa kita tidak memesannya lewat telepon? Kenapa kita harus repot-repot keluar?" Alexa kembali bertanya membuat para pria saling pandang mencari jawaban.
"Lexa, buatkan kami kopi... sekarang! Dan kau, Sweetheart, bisa tolong lihat apa anak nakal ini memiliki sesuatu yang bisa kita makan di dalam kulkasnya karena kami sangat kelaparan," ucap Daniel membuat Kerelyn dan Alexa saling pandang sebelum akhirnya berdiri.
"Apa kalian mau aku memesan makanan?" tanya Alexa yang mendapat tatapan tajam dari ketiga pria itu.
"Ide bagus, dan lakukan itu di dapur ok!" ujar Alex sambil menyuruhnya untuk segera pergi ke dapur yang sebenarnya hanya berjarak beberapa meter dari tempat mereka saat ini.
"Apa kalian berusaha mengusir kami?" Alexa kembali bertanya membuat Alex membuang napas berat.
"Kau sangat pintar, sekarang bisakah kau pergi ke dapur dan buatkan kami kopi?" tanya Alex dengan mata tajam menatap Alexa yang malah santai menatapnya.
"Tapi kau baru saja minum kopi, Alex, perutmu akan sakit kalau minum kopi terus."
Alex membuang napas berat, "Bawakan aku minuman apa saja, ok? Sekarang bisakah kau pergi ke dapur."
"Dasar pemarah, kenapa kau tak mengatakan langsung agar aku dan Kerelyn pergi dari sini? Ayo Kerelyn kita pergi dari sini... kenapa pria selalu mengatakan kalau perempuan itu selalu penuh dengan segala macam kode yang membuat mereka tak mengerti, sedangkan mereka sendiri seperti itu, ckkk laki-laki memang egois," dumel Alexa sepanjang perjalanan menuju dapur yang mendapat persetujuan dari Kerelyn.
"Kalian mengerti sekarang, kenapa aku selalu bertengkar dengannya?" tanya Alex sambil menggelengkan kepala.
"Baiklah, kita lanjutkan," ucap Daniel membuat mereka bertiga kembali fokus.
Mereka terdiam beberapa saat hanya saling pandang tak ada yang memulai pembicaraan.
"G, lanjutkan penjelasanmu!" Seru Alex berupa bisikan, yang membuat pria berkacamata itu terlihat bingung menatap kedua sahabatnya.
"Penjelasan apa?" tanya Gerard membuat kedua sahabatnya menganga tak percaya.
"Apa tidak ada lagi yang perlu kau jelaskan?" tanya Daniel sambil menatap Gerard tajam.
"Tidak," jawab Gerard membuat Alex dan Daniel terlihat ingin sekali memakannya hidup-hidup.
"Hanya itu saja?" tanya Alex yang mendapat anggukan darinya.
"Iya hanya itu saja."
"Jadi kenapa kita harus menyuruh Lexa dan Kerelyn pergi dari sini tadi," ujar Daniel yang hanya mendapat hentakan bahu dari Gerard.
"Bukan aku yang menyuruh mereka pergi, tapi kalian berdua," ucap Gerard membuat Alex dan Daniel saling pandang.
"Kau yang menyuruh mereka pergi pertama kali," ucap Daniel sambil menatap Alex yang protes.
"Aku pikir dia mempunyai penjelasan lain selain soal CCTV yang disabotase."
Daniel mengangguk setuju dengan Alex, sedangkan Gerard hanya menaikan alis matanya santai tanpa dosa.
"Aku hampir lupa." Alex kembali berkata yang membuat kedua sahabatnya menatapnya kembali dengan serius, "Lexi, mengatakan kalau hari ini dia mendapatkan satu buket bunga mawar, tapi tulisan dikartunya sangat mencurigakan... dia tak mengatakan apa jelasnya yang tertulis di dalam kartu itu, tapi dia hanya megatakan tentang karma."
"Karma?" tanya Daniel dan Gerard berbarengan.
"Iya, karma,” jawab Alex sambil mengangguk, “Aku tak tahu apa ini berhubungan atau tidak, tapi kita tak boleh menyepelekan petunjuk sekecil apapun," ucap Alex yang mendapat anggukan dari keduanya.
"Oh iya, aku juga hampir lupa," kata Gerard sambil menyerahkan sebuah travel bag berwarna hitam.
"Apa ini?" tanya Alex sambil menarima tas itu.
"Pakaian dan keperluan sehari-harimu, karena mulai hari ini kau akan tinggal di sini," ucap Gerard, membuat Alex menganga tak percaya dia menatap kedua sahabatnya yang hanya tersenyum penuh kemenangan ke arahnya.
****
Haiii.. bonus hari ini up 2 bab, khusus buat kalian yang sangat luar biasa memberikan support...
Love 💓A.K💓