
“Pengawalan mereka bertambah ketat,” ucap pria dengan rahang ditumbuhi janggut itu sambil menatap pria yang terlihat duduk santai bertelanjang dada di depan kolam renang.
“Aku sudah menduga itu akan terjadi.” Simon berdiri lalu memakai handuk kimono berwarna abu-abu tua kemudian berjalan memasuki rumah atau lebih tepatnya salah satu villa miliknya yang tak terdaftar di bawah namanya sehingga tak terditeksi oleh pihak kepolisian.
“Seharusnya dia tidak melibatkan perempuan itu dalam masalah ini,” lanjutnya sambil menuangkan wiski ke dalam gelas yang telah diisi es batu.
“Apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Juan Valentino yang merupakan kaki tangannya selama ini.
Simon menyerahkan segelas wiski kepadanya sebelum akhirnya duduk dengan nyaman di atas kursi empuk mewah miliknya, dia baru saja akan membuka mulutnya ketika terdengar sebuah seseorang berkata.
“Tentu saja kita akan melanjutkan rencana kita.”
Sebuah suara perempuan yang baru saja memasuki ruangan itu membuat keduanya menatap perempuan bertubuh mungil yang kini berjalan dengan santai menuju sofa coklat besar yang ada di ruangan itu.
“Kau sudah merusak semua rencana kita,” ujar Simon sambil menatap perempuan itu dingin.
“Karena kau terlalu lambat bergerak dan lihat sekarang semua temanmu yang bodoh itu sudah tertangkap.”
Ucapan perempuan itu membuat rahang Simon mengeras, tapi ia harus menahannya. Selama ini ia memang tidak menyukai perempuan yang psikopat gila itu kenalkan sebagai adiknya.
“Apa kau lupa karena siapa mereka tertangkap?”
Perempuan itu mendelik mendengar sindiran dari Simon, memang secara tidak langsung ia berperan dalam penangkapan kawanan ghost.
“Itu karena aku tak tahu kalau kalian terlibat dengan kawanan perampokan itu,” ucapnya berusaha membela diri.
“Dan kau masih menyebutmu sebagai adik dari seorang prikopat terkanal tapi tak mengetahui kalau dia adalah otak dari semuanya?” cibir Simon membuat perempuan itu mendengus sambil mendelik, ia kemudian berjalan untuk mengambil wiski yang berada di meja mini bar, sedangkan Juan kini terlihat sudah duduk di sofa dengan gelas wiski di tangannya.
Psikopat itu memang sudah ia anggap sebagai kakaknya sediri begitu juga dengan pria yang Alex tembak mati beberapa waktu lalu. Tapi ia tak mengetahui dunia hitam keduanya, sampai dengan berita yang menggemparkan tentang pembunuhan berantai yang sempat menjadi tajuk berita utama di seluruh koran Amerika bahkan dunia mengingat sang pelaku adalah orang-orang terkenal.
Ia kini mengetahui alasan kenapa ‘Kakaknya’ itu selalu mengatakan kalau fakta mereka bertiga saling mengenal jangan sampai diketahui oleh publik. Tentu saja karena mereka berdua menyayanginya dan tak ingin ia terlibat dalam dunia hitam yang mereka geluti, tapi kini salah satu dari mereka telah meninggal dan satunya lagi mendekam di penjara menunggu hukuman mati. Tentu saja ia tak boleh hanya tinggal diam menyaksikan semuanya, ia akan membuat siapapun yang menyebabkan hal itu merasakan pembalasan yang setimpal.
“Tapi jangan lupa kalau bukan karena aku, saat ini kau sudah mendekam di penjara dengan Kakakku,” ucap perempuan itu sambil kembali duduk di sofa berhadapan dengan Simon yang menantapnya selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk mengakui hal itu.
Tentu saja itu benar kalau bukan karena perempuan itu yang memberi tahu kakaknya kalau Alex adalah seorang detektif tentu saja hal itu akan sangat merugikannya. Walaupun karena hal itu ia harus berpura-pura mati tapi setidaknya ia masih bisa menikmati wiski dan kemewahannya yang masih tersisa.
“Aku mengakui itu, dan kita anggap hutang di antara kita inpas karena kau secara tidak langsung telah menyebabkan teman-temanku tertangkap,” ujar Simon yang mendapat anggukan dari perempuan itu setelah terdiam beberapa saat.
“Baiklah karena sekarang kalian telah berdamai, jadi sebaiknya kita pikirkan apa rencana kita ke depannya.” Juan berkata sambil menatap keduanya yang juga menatapnya.
“Tentu saja kita akan membalaskan dendam kita kepada mereka… mereka telah merenggut semuanya dariku,” ucap Simon yang kemudian dapat anggukan dari perempuan yang mengenakan pakaian serba putih itu.
“Begitu juga dengan aku, aku akan memastikan mereka merasakan apa yang aku rasakan. Mereka harus tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup kita,” ujar perempuan itu dengan sorot mata penuh akan rasa dendam.
“Baiklah, tapi bagaimana kita mendekati mereka? Saat ini bukan hanya pihak kepolisian yang menjaga mereka tapi juga para pengawal pribadi mereka?” tanya Juan yang membuat mereka semua berpikir, sampai akhirnya ia menatap Simon dan Juan bergantian dan tiba-tiba saja seringai menghiasi wajahnya.
“Aku dengar dari Kakakku kalau mereka sudah mengetahui tentang kau yang masih hidup.”
“Jadi?” tanya Simon penasaran.
“Kita akan memanfaatkan itu untuk membuat mereka semua dalam genggaman kita,” lanjut perempuan itu sambil tersenyum penuh misteri, membuat kedua pria di hadapannya saling pandang tak mengerti.
*****
Malam menjelang ketika Alex pulang ke rumah perlindungan mereka di West Village, semua orang masih berada di depan TV ketika ia memasuki rumah keluarga Winchester yang langsung disambut semua orang. Alex terlihat sangat lelah, rahangnya ditumbuhi bulu-bulu yang sudah beberapa hari tak sempat ia cukur dan selama itu pula ia jarang ada di rumah. Ia pulang hanya untuk berganti pakaian, memastikan kalau mereka baik-baik saja dan kembali lagi mencari jejak keberadaan Simon dan kawanannya.
“Man, kau terlihat sangat berantakan,” ucap Daniel setelah melihat sahabatnya yang langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa, ia hanya tersenyum miring menanggapi ucapan kakak si kembar.
Dan itu sangat dimaklumi semua orang, di antara semuanya mungkin Alex-lah yang paling bekerja keras mengejar para penjahat itu sedangkan yang lainnya tidak bisa berbuat apa-apa karena itu memang bukan bidang mereka.
“Apa sudah ada perkembangan?” Daniel kembali memberanikan diri untuk bertanya yang langsung menyita perhatian semua orang.
“Belum,” jawab Alex sambil membuang napas berat, “Kami masih mencari hubungan atara Simon, psikopat gila itu dan the ghost. Entah mereka berbohong atau tidak tapi di antara anggota ghost yang tertangkap tak ada yang mengenal sang psikopat, selain dari yang ada di media atau internet.”
“Jadi sebenarnya dia tidak ada hubungannya dengan ghost?” tanya Gerard yang membuat Alex terdiam beberapa saat.
“Tidak, aku rasa orang gila itu adalah otak dari semuanya tapi dia hanya di belakang layar dan yang mengerjakannya adalah Simon,” ucap Alex sambil berdiri lalu meregangkan badannya, “Apa kalian mempunyai sesuatu untuk aku makan? Aku sangat lapar,” lanjutnya mengakhiri sesi tanya jawab tentang kasus itu.
“Alex terlihat sangat lelah, aku merasa kasian melihatnya,” Raina berkata sambil membantu Alexa mengeluarkan makanan dari dalam kulkas untuk dihangatkan.
“Kau benar, aku ingin sekali ikut menangkap para ******** itu!” geram Alexa sambil menaruh panci di atas kompor dan mulai menghangatkan sup.
“Apa kita tak bisa melakukan apa-apa untuk membantunya menangkap para ******** itu?” tanya Raina sambil memasukan ayam ke dalam microwife.
“Tidak ada, yang bisa kita lakukan hanya diam dan tidak menghambat penyelidikan mereka, dan berdoa tentu saja.”
“Dan sebaiknya kalian berdua mendengarkan apa yang Kerelyn katakan,” ujar Daniel yang baru saja memasuki dapur bersama denga Gerard.
“Ini sudah lebih dari seminggu kita tinggal di sini, aku sudah merasa sangat bosan dan sangat kesal.. eeehh!! Ingin rasanya aku ikut menangkap mereka semua.” Alexa mengatakan itu dengan wajah kesal yang mendapat anggukan Raina.
“Kau benar, ingin sekali aku ikut menendang mereka.”
Daniel dan Gerard membuang napas sambil menggelengkan kepala melihat kedua sepupu itu yang senang sekali terlibat dalam masalah.
“Kalian tahu,” ucap Gerard sambil duduk di kursi makan menghadap Alexa dan Raina yang sedang menyiapkan makan malam untuk Alex, “Kalian berdua sering kali protes ketika menonton film ketika melihat pemeran perempuannya melakukan hal yang cerobah yang akhirnya tertangkap penjahatnya kemudian membuat sang pemeran utama ikutan tertangkap.”
“Kalian akan berkata ‘dasar bodoh kenapa tidak diam saja!’, dan sekarang kalian mau melakukan hal bodoh itu?” Daniel melanjutkan ucapan Gerard dengan menirukan suara perempuan.
“Hei, itu berbeda!” Alexa berusaha membela diri sambil menaruh panci sup di atas meja makan.
“Apa yang beda?” tanya Gerard dengan mata menatap Alexa santai sambil mengambil potongan ayam lalu memakannya.
“Karena mereka benar-benar bodoh.” Raina yang menjawab pertanyaan itu sambil duduk di salah satu kursi, “Mereka melarikan diri tapi memakai high heels? Yang benar saja… yang ada mereka akan tertangkap lagi,” lanjutnya sambil menggelengkan kepala.
“Seharusnya mereka menggunakan high heels-nya itu untuk memukul kepala penjahatnya, atau buka saja dan lari sekuat tenaga.” Alexa menambahkan yang dapat anggukan dari Raina.
“Itu bukan salahnya, dia hanya menjalankan apa yang ada dalam nasakah dan arahan Sutradara,” ucap Kerelyn sambil mengambil anggur dan memakannya.
“Hei, kenapa kalian tidak menulis naskah dan membuat film sendiri saja.” Daniel memberi saran.
“Dan aku yakin film itu akan cepat tamat karena penjahatnya akan segara mati atau tertangkap,” ucap Gerard sambil tertawa begitu pula Daniel dan Kerely yang ikut tertawa, tapi tidak dengan Aexa dan Raina yang hanya mendelik ke arah mereka.
“Apa yang kalian tertawakan?” tanya Alex yang kini terlihat segar setelah mandi dan mencukur jenggot.
“Mereka berdua akan menulis naskah dan membuat film aktion sendiri,” jawab Daniel dengan senyum lebar sambil memakan apel.
“Aaah… aku akan merasa kasian kepada siapapun yang memerankan penjahatnya karena hanya muncul beberapa menit kemudian tertangkap atau mati tertembak,” ujar Alex sambil duduk, yang kembali membuat yang lainnya tertawa sambil mengangguk setuju.
“Tapi kalau saat ini adalah film yang kalian tulis, aku akan sangat mendukungnya,” lanjut Alex sambil mengambil sup dari mangkuk yang Alexa serahkan, membuat semua orang terdiam seolah kembali diingatkan kalau nyawa mereka semua dalam bahaya dan ini adalah skenario Tuhan tak ada yang mengetahui akhirnya akan seperti apa.
“A, apa tidak ada yang bisa kami bantu?” Gerard bertanya membuat semua orang menatap Alex yang tengah memakan supnya dalam diam.
“Tidak ada,” jawab Alex singkat. Semua orang terlihat saling pandang kemudian kembali terdiam.
“Alex, apa kita tidak bisa menangkap mereka memakai cara yang sama ketika kita menangkap ghost?” tanya Alexa membuat Alex menatapnya dengan pandangan dingin.
“Jangan pernah terpikir dalam pikiranmu untuk menjebak ******** itu dengan kau menjadi umpannya, Lexi, atau kali ini aku serius akan mengurungmu di dalam kamar sampai semuanya berakhir, apa kau paham?” tanya Alex dengan wajah serius membuat Alexa tak berani untuk membantahnya.
“Aku-kan hanya bertanya,” ucap Alexa pelan sambil cemberut.
“Bagaiman dengan CCTV depan? Apa polisi sudah mengenali orang yang menaruh bunga malam itu?” Daniel bertanya berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Tidak, itu sangat gelap tapi kami yakin kalau dia bukanlah Simon,” ucap Alex membuat semua orang menatapnya tak percaya.
“Apa maksudmu? Apa dia anak buah Simon?” tanya Gerard penasaran.
“Aku belum tahu, tapi melihat bentuk tubuhnya kami curiga kalau dia adalah perempuan,” ujar Alex membuat semua orang terlihat serius.
“Sang Ratu?” tanya Daniel yang membuat Alex terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.
*****