The Secret Identity (#3 The Secret Series)

The Secret Identity (#3 The Secret Series)
Bab 40



Rumah kediaman Winchester kini telah berubah menjadi rumah perlindungan bagi Alexa, Raina dan Kerelyn. Setelah kunjungan ke penjara Alex segera menghubungi Daniel dan memerintahkannya untuk membawa Alexa dan Raina tinggal di West Village, kediaman keluarga Winchester.


Dan mengingat baik Simon Javier maupun sang psikopat memiliki cerita masa lalu yang menyakitkan dengan Kerelyn maka ia-pun meminta Daniel untuk mengajaknya tinggal bersama. Setelah itu ia langsung menghubungi Dylan dan menceritakan tentang apa yang tengah terjadi dan memintanya untuk menahan orangtua si kembar di London bersamanya sampai keadaan kembali aman. Dylan langsung menyetujui hal itu dia juga menyarankan agar Alexa dan Raina untuk sementara tinggal di London, tapi saran itu di tolak Alex karena dia tak bisa mengawasi mereka kalau seandainya mereka tinggal jauh darinya. Dan Dylan bisa mengerti hal itu, sebagai gantinya dia akan meminta beberapa pengawal untuk menjaga mereka.


“Dasar baj*ngan!” seru Daniel bersamaan dengan Gerard setelah mereka mendengar cerita dari Alex tentang kunjungannya ke penjara tadi siang.


“Jadi baj*ngan gila itu adalah dalang dari semuanya?” tanya Daniel hampir saja tak percaya dengan apa yang dia dengar.


“Iya… tapi aku belum menemukan hubungan antara dirinya dengan ghost, dan apa hubunganya dengan Simon sehingga membuatnya terlihat mati,” jawab Alex sambil terlihat berpikir serius.


“Ini gila! Ini benar-benar gila!” teriak Gerard putus asa.


Saat ini mereka bertiga tengah duduk di ruang keluarga sedangkan para perempuan sudah terlelap tidur di kamar masing-masing.


“Jadi apa pihak kepolisian telah menetapkan Simon dalam daftar DPO?” tanya Daniel sambil mengambil minuman dinginnya.


“Iya, kami telah menyebarkannya keseluruh penjuru negri tapi media belum mengetahui hal ini atau semua akan menjadi kacau,” jawab Alex yang mendapat anggukan mengerti dari Daniel.


Ada kalanya media sangat berperan penting dalam suatu kasus, tapi sering kali media hanya membuat kekacauan dan membuat Polisi meradang karena ulah para kuli tinta dengan berita yang kadang berlebihan tidak sesuai dengan fakta yang ada.


“Seperti yang kau bilang, salah satu cara menangkap Simon adalah dengan menangkap kaki tangannya terlebih dahulu. Apa sudah ada perkembangan?” kali ini Gerard bertanya yang mendapat gelengan kepala dari Alex yang tengah meneguk minumannya.


“Belum, kita harus secepatnya menangkap Juan Valentino karena aku sangat yakin dia mengetahui tempat persembunyian baj*ngan itu.”


Mereka terdiam beberapa saat mencoba menikmati bir dingin walaupun kepala mereka dipenuhi oleh pikiran tentang bagaimana caranya menangkap penjahat yang membahayakan keselamatan orang yang mereka sayangi.


“Kalau baj*ngan itu King Arthur, apa kaki tangannya itu ratunya? Atau mungkin selingkuhannya?” tanya Gerard memecah keheningan yang membuat Daniel dan Alex menatapnya.


“G, apa kau tak ada pertanyaan lain selain membahas percintaan King Arthur,” ucap Daniel sambil menggelengkan kepala yang dijawab Gerard dengan mengangkat bahunya sambil berkata kalau dia hanya penasaran saja.


Daniel dan Gerard berlanjut dengan pembicaraan tak penting tentang seandainya mereka jadi Three Musketeers siapa yang akan jadi King Arthur? Mereka berdua saling berebut kalau diri mereka yang paling cocok untuk menjadi raja, tapi Alex tidak ikut dalam perdebatan itu. Ia terlihat larut dalam pemikirannya sendiri.


Pertanyaan sederhana Gerard tadi telah membuatnya teringat pada pembicaraannya dengan sang psikopat tadi siang, entah sengaja atau tidak dia telah mengatakan sesuatu hal tentang karma. Awalnya dia tak mengerti dengan ucapannya tapi berbeda dengan sekarang ketika mengingat beberapa saat lalu Alexa mengatakan kalau dia telah beberapa kali menerima bunga dengan kartu ucapan bertuliskan hal yang aneh tentang karma.


“Sial!” Seru Alex membuat Daniel dan Gerard menghentikan perdebatan mereka dan kini menatap Alex bingung.


“Kenapa? Apa kau mau jadi King Arthur juga?” tanya Gerard polos.


“Kau tidak cocok jadi raja, kau cocoknya jadi D’Artagnan,” ucap Daniel yang dapat anggukan setuju dari Gerard.


“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Alex bingung dan itu membuat kedua sahabatnya saling pandang bertambah bingung.


“Jadi apa maksudmu tadi?” tanya Daniel sambil mentap Alex yang terlihat serius.


“Ratu.”


“Kau ingin jadi Ratu?” tanya Gerard tak percaya yang langsung dapat pelototan dari Alex.


“Yang benar saja, G,” ujar Alex yang hanya membuat Gerard mengangkat bahunya santai.


“Kalau kau tak ingin jadi Ratu, jadi apa maksudmu dengan Ratu yang baru saja kau ucapkan itu,” ucap Daniel membuat Alex kembali terlihat serius menatap kedua sahabatnya


.


“Aku rasa ada seorang Ratu di sini.” Alex memulai penjelasannya membuat Daniel dan Gerard mulai terlihat serius.


“Orang gila itu mengatakan sesuatu tentang karma yang sudah mendekat, dan apa kalian ingat Lexi pernah bercerita kalau akhir-akhir ini ia telah menerima karangan bunga dan kartunya berisi tentang karma.”


Daniel dan Gerard terlihat terkejut ketika menyadari keterkaitan antara karangan bunga yang diterima Alexa dengan masalah ini.


“Beberapa hari yang lalu aku dan Phillip sempat mencari tahu tentang siapa pengirim bunga itu, tapi kami tak mendapatkan informasi apapun selain pengirimnya adalah seorang perempuan.” Alex mengakhiri penjelasannya dan berhasil membuat kedua sahabatnya membelalakan mata.


“Jadi maksudmu ada orang lain selain Simon?” tanya Daniel yang langsung dapat anggukan dari Alex.


“Sial! Jadi selama ini mereka telah mengawasi Lexa,” ujar Daniel ketika menyadari kalau selama ini nyawa adiknya dalam bahaya.


“Tapi kita tidak mengetahui apa mereka hanya mengawasi Lexi atau yang lain juga, termasuk kita sendiri,” ujar Alex yang membuat Daniel dan Gerard kembali mengumpat ketika menyadari hal itu bisa saja terjadi.


“Jadi bukan hanya Lexa saja yang menjadi target tapi kita semua bisa menjadi incaran baj*ngan itu?” tanya Gerard hanya untuk sekedar memastikan yang mendapat anggukan dari Alex, membuatnya mencondongkan tubuhnya ke depan dengan serius.


“Kalau begitu kita bisa membuat jebakan untuk mereka tanpa harus melibatkan para perempuan.” Ucapan Gerard kali ini berhasil mendapat perhatian seutuhnya dari Alex dan Daniel.


“Apa maksudmu kita menjadikan diri kita sebagai target untuk menangkap para ******** itu?” tanya Alex yang mendapat anggukan tegas dari Gerard.


“Kita akan membuat mereka mengejar kita dan melupakan para perempuan dengan begitu mereka bertiga akan aman.” Gerard berusaha menjelaskan maksudnya.


“Tapi bukankah dengan terang-terangan dia mengatakan kalau dia mengincar Lexa untuk membalaskan dendamnya, karena Alex telah membunuh seseorang yang sangat dekat dengannya, maka dia-pun akan mengambil orang yang sangat berarti bagi Alex yaitu Lexa,” ucap Daniel membuat Gerard dan Alex kembali terdiam terlihat berpikir.


“Kalian berdua benar.” Alex berkata sambil menatap kedua sahabatnya.


“Dia memang mau membalaskan dendamnya kepadaku lewat Lexi, tapi kita juga jangan pungkiri kalau dia sangat terobsesi dengan Kerelyn dan dia mengetahui kalau saat ini Kerelyn berhubungan dengamu, D, jadi ada kemungkinan dia-pun menargetkanmu karena merasa kalau kau telah merebut Kerelyn darinya seperti saat itu, begitu juga dengan Raina, karena dia telah berhasil melukai harga dirinya karena merasa dikalahkan oleh seorang perempuan.”


Daniel dan Gerard terdiam mengakui itu semua bisa saja benar mengingat orang yang mereka hadapi saat ini adalah orang gila yang tak bisa dibaca apa yang ada dalam pikirannya.


“Jadi apa kau ada ide untuk menangkap mereka?” tanya Daniel dengan serius membuat Alex berpikir beberapa saat, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan itu.


“Yang bisa kita lakukan sekarang adalah mengurung mereka bertiga di sini saat ini, aku telah memerintahkan petugas untuk berpatroli di sini sejam sekali dan Dylan juga mulai besok akan menugaskan beberapa orang pengawal yang akan menjaga rumah ini, aku rasa mereka akan aman selama mereka hanya tinggal di dalam sini.”


“Tapi kita sendiri tahu, mengurung mereka untuk hanya diam di dalam rumah sama sulitnya dengan menangkap para baj*ngan itu,” ujar Gerard sambil menggelengkan kepala yang dapat gumaman setuju dari yang lainnya.


“Yang jelas kita sendiri-pun harus hati-hati,” ucap Alex sambil berdiri lalu meregangkan badannya yang terlihat sangat lelah, “Karena bisa saja kita juga merupakan target mereka,” lanjutnya sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.


“Kau, mau kemana?” tanya Daniel setelah melihat Alex berjalan menuju tangga.


“Aku sangat lelah, aku mau tidur dulu… selamat malam,” jawab Alex santai sambil menaiki tangga membuat Daniel membelalakan mata tak percaya.


“Wow! Man, berhenti!”


“Apa lagi?” tanya Alex sambil menghentikan langkahnya kemudian membalikan tubuhnya menatap Daniel dengan mata lelahnya.


“Kenapa kau tidur di atas? Kita tidur di sini,” ujar Daniel sambil menunjuk sofa.


“Sofanya hanya satu, kalau kau mau… kau boleh tidur di sana malam ini,” jawab Alex santai membuat Daniel menganga tak percaya, “Atau kalau kau mau, G, kalian berdua boleh tidur di sana… tapi aku mau tidur dengan kekasihku,” lanjut Alex sambil mengangkat alisnya dan kembali menaiki anak tangga.


“Aku ikut denganmu!” seru Gerard sambil berjalan dengan cepat menaiki anak tangga menyusul Alex.


“Aku akan membunuh kalian berdua!” ancam Daniel yang hanya dianggap angin lalu oleh keduanya yang hanya melambaikan tangan sambil tersenyum, “Sial!” umpat Daniel dengan tangan mengacak-acak rambutnya sendiri.


“Hei, D, apa kau akan tidur di sofa sendirian dan membiarkan Kerelyn kedinginan?” tanya Alex ketika sudah sampai di ujung tangga sambil menatap Daniel dengan senyum miringnya.


“Malam ini dingin sekali.” Gerard berkata sambil bergidik layaknya orang yang kedinginan.


“Ayo, G, jangan biarkan kekasih kita kedinginan,” ajak Alex sambil kembali berjalan diikuti Gerard di belakangnya.


“Akan sangat berbahaya kalau mereka kedinginan,” ucap Gerard sambil kembali melirik Daniel yang terlihat semakin bimbang.


“Sangat-sangat berbahaya,” ujar Alex sambil menggelengkan kepala.


“Sial!” umpat Daniel sambil melangkah dengan lebar menyusul keduanya naik ke lantai atas dimana Kerelyn tengah tidur di kamarnya dahulu.


Alex menahan tawanya ketika mendengar langkah Daniel yang menaiki tangga, ia kini telah berada di kamar Alexa dimana gadis itu telah terlelap. Senyumnya mengembang ketika melihat wajah damai kekasihnya dan dengan perlahan ia naik ke atas tempat tidur lalu menarik tubuhnya ke dalam pelukan, menghirup wangi tubuhnya yang memabukan kemudian memberikan ciuman lembut di kepalanya sebelum ia-pun ikut terlelap.


*****


Haiii.. apa D akan membiarkan A dan G begitu saja? 😁😁😁