The Secret Identity (#3 The Secret Series)

The Secret Identity (#3 The Secret Series)
Bab 34



Alex menatap orang di hadapannya dengan tajam terlihat mengintimidasi, tak ada kata yang terucap dari bibir pria itu, dia hanya menatapnya dengan pandangan menusuk. Seandainya pria yang kini ia introgasi adalah penjahat biasa mungkin dia sudah gugup bahkan takut karena suasana dingin ini tapi lawannya kini bukan sembarangan. Pria itu adalah James Barton seorang agen FBI yang telah terbiasa dengan ruangan introgasi.


“Sampai kapan kau akan menatapku seperti itu? Apa kau telah jatuh cinta padaku?” tanyanya dengan senyum mengejek di wajahnya.


“Tidak, kau bukan tipeku,” jawab Alex tak kalah santai membuat seringai di wajah pria itu menghilang berganti dengan tatapan sinis.


“Kau telah membuang waktumu dengan sia-sia, kau tak akan mendapakan apapun dariku,” ucap James Barton sambil mengangkat alisnya dan bersandar dengan santai di kursi ruang introgasi, dia masih menggunakan pakaian mahalnya saat pesta di tempat Dean Tyler, hanya saja sudah tak serapi semalam, ia kini terlihat sedikit berantakan dengan luka-luka di wajahnya akibat perkelahiannya dengan Alex saat penangkapan.


“Oh percayalah aku tak ingin apa-apa darimu,” lagi-lagi jawaban Alex terdengar meremehkan yang membuat emosi James Barton mulai tersulut.


“Jadi apa maumu, berengsek!” Serunya sambil menggebrak meja yang membuat Alex tersenyum miring.


“Pier… siapa dia?” tanya Alex yang membuat James Barton membeku untuk beberapa saat.


“Darimana kau dapatkan nama itu?”


“Well, percayalah aku mengetahui lebih banyak dari yang kau kira,” jawab Alex sambil tersenyum.


“Kalau begitu seharusnya kau tahu kalau dia telah meninggal,” jawab James terlihat berusaha senormal mungkin tapi kegugupannya tak lepas dari pengamatan Alex dan dalam hati ia bersorak karena tebakannya benar.


“Tidak… aku tahu kalau dia masih hidup dan dialah otak dari ghost,” Alex menjawab dengan mata mengamati lawannya bak seokor elang.


“Terserah padamu kalau kau ingin mengejar hantu, tapi usahamu akan sia-sia,” ujar James dengan wajah serius membuat Alex mengangkat alisnya dan tersenyum mengejek.


“Tenang saja aku memiliki tim ghost buster untuk menangkapnya, tapi kalau hantunya seperti kalian bukan masalah sulit untukku menangkapnya seorang diri… kalian hantu bodoh,” ejek Alex dengan senyum miringnya, membuat emosi James kembali tersulut.


“Dengar, kalau kau pikir bisa menangkapnya dengan mudah kau salah. Dia bukan tandinganmu!” geram James dengan tubuh maju ke depan bertumpu pada tangannya, wajahnya terlihat menahan amarah.


Mendengar itu Alex terdiam beberapa saat terlihat tanpa ekspresi tapi perlahan sebuah senyum miring menghiasi wajahnya, dengan santai ia berdiri lalu menatap lawannya dengan mata tajam dan senyum penuh kemangan.


“Jadi betul dia masih hidup,” ucap Alex yang membuat James terbelalak menyadari kebodohannya, “Terimakasih untuk informasinya, James.”


“Sial! Dasar ********, aku tak memberikan informasi apapun padamu!” Serunya dengan penuh amarah, membuat Alex yang telah berjalan ke arah pintu menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap James Barton yang kini berdiri dengan mata nyalang menatapnya.


“Tidak usah khawatir aku akan segera menangkapnya, jadi kalian bisa kembali bermain Three Musketers and King Artur di dalam penjara.”


Alex berkata dengan senyum lebar sebelum keluar dari ruangan introgasi meninggalkan James Barton yang berteriak marah.


“Jadi Pier, teman kecil mereka benar-benar masih hidup?” tanya Phillip seketika melihat Alex keluar dari ruang introgasi, dirinya dari tadi mengamati mereka berdua dari ruangan di balik kaca.


“Yap,” jawab Alex sambil terus berjalan ke meja mereka.


“Jadi apa kau sudah mencuriga siapa Pier?” James kembali bertanya sambil duduk di hadapan Alex yang terlihat sedang mencari sesuatu di komputernya.


“Tidak, tapi kita akan mencari tahunya,” jawab Alex sambil memerhatikan salinan video yang menjadi bukti keberadaan ghost.


“Tapi bukankah di dalam video ini hanya terlihat keberadaan James saja?” tanya Phillip yang mendapat anggukan dari Alex.


Jujur saja video itu sebenarnya tidak menangkap gambar yang jelas karena kondisinya pada malam hari dan gelap, di video itu hanya terlihat James yang terlihat sedang memasukan barang-barang curian dari pameran perhiasan dibantu oleh anak buahnya.


Beberapa anak buah James yang tertangkap di video itu telah ditangkap tapi ada beberapa yang berhasil melarikan diri, sedangkan keberadaan Bradly, Rebeca dan Pier tidak tertangkap kamera. Karena pada saat itu Bradly disinyalir bertugas mengamankan keamanan yang terpasang di gedung pameran tengah berada di dalam mobil dengan semua peralatan canggihnya, oleh sebab itu mereka tak mengetahui keterlibatan yang lainnya selain James pada saat video itu ditemukan dan baru mengetahuinya setelah penjebakan di apartemen Alexa.


“Aku tahu, tapi aku punya firasat kalau keberadaanya sempat terekam dalam video ini mungkin kita yang kurang teliti memeriksanya. Semua penjahat pasti akan meninggalkan jejak walaupun hanya sedikit.”


Phillip mengangguk setuju mereka kemudian memindahkan video itu ke dalam flash disc masing-masing agar bisa diamati di rumah. Ngomong-ngomong soal rumah, Alex telah kembali ke apartemennya yang berantakan, sedangkan Alexa kini tinggal bersama Raina. Mengingat kekasih Gerard itu menguasi ilmu beladiri cukup tinggi membuat semua orang bisa sedikit tenang meninggalkan mereka berdua di apartemen, dan hal itulah yang membuat Daniel langsung mengusir detektif NYPD itu dari apartemen adiknya. Dengan berat hati Alex-pun kembali ke apartemennya dan kembali melanjutkan kehidupannya bak seorang pria bujang pada umumnya yang tak memedulikan kebersihan.


Malam belum begitu larut ketika Alex keluar dari kantor polisi, ia berjalan menyusuri trotoar menuju tempat parkir mobilnya ketika ponselnya berbunyi.


“A, apa kau akan datang ke sini?” terdengar suara Gerard dengan latar hiruk pikuk keramaian di antara alunan musik, ia bisa menebak kalau saat ini sahabatnya itu tengah berada di The Rock.


“Apa Daniel sudah datang?” tanya Alex sambil masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya.


“Iya, dia sudah datang bersama Kerelyn dan tebak dia mengajak siapa lagi?” Gerard bertanya dengan sangat antusias dan itu membuat Alex mengumpat.


“Sial! Apa Lexi ada di sana?” tanya Alex setelah mencurigai siapa yang dimaksud Gerard di sini.


“Belum, tapi Rain menghubungiku dan mengatakan kalau mereka akan segera sampai.”


“Sial!” Alex kembali mengumpat lalu menginjak gas mobilnya dalam-dalam membuat kendarannya melaju dengan sangat cepat membelah jalanan kota New York.


Sesampainya di The Rock Alex berjalan menuju meja yang biasa mereka gunakan dengan napas masih terengah-engah karena dia setengah berlari dari tempat parkir membuat semua orang yang mengelilingi meja itu menatapnya tanpa berkata apa-apa.


“Aku menang!” Seru Gerard memecah keheningan.


“Sial! Bagaimana kau bisa menebak kalau dia bisa sampai sini hanya dalam waktu sepuluh menit,” ucap Daniel sambil mengeluarkan uang sepuluh dolar dari dompetnya dan memberikannya kepada Gerard yang diterima pria berkacamata itu dengan senyum penuh kemenangan.


“Kau harus membagi dua uang itu denganku, G, aku yang memberikan ide itukan,” ujar Alexa sambil memakan tacos.


“Tenang saja, aku akan mentraktirmu minum nanti,” jawab Gerard sambil memasukkan uangnya ke dalam saku kemeja.


“Sial,” umpat Alex sambil duduk di samping Alexa setelah menyadari kalau dirinya telah menjadi bahan taruhan teman-temannya (lagi), dan seharusnya dia menyadari itu.


“Bagaimana kau tahu kalau detektif kita ini akan datang secepat kilat kalau mengetahui Ethan ada di sini?”


“Karena aku tahu kalau dia sangat mencintaiku dan dia kalah tampan dari Ethan,” jawab Alexa santai membuat Alex menatapnya tak percaya.


“Wow! Lexi yang benar saja.. aku memang mencintaimu tapi kau lebih mencintaku dan aku jauh lebih tampan dibanding pria pesolek itu.”


“Yeah, semua orang juga tahu kalau kau telah mencintaiku bahkan ketika aku baru lahir,” ucap Alexa sambil mengangkat alisnya penuh kemenangan disambut tawa penuh ejekan dari sahabat-sahabatnya.


“Kau bukan lebih tampan, tapi kau lebih jorok,” lanjutnya sambil menggelengkan kepala.


“Semua orang pasti akan jatuh cinta kalau melihat bayi,” ucap Alex santai sambil mengambil tacos.


“Aku juga tidak,” sambung Daniel yang membuat Alex mendelik ke arah mereka.


“Kau dengar itu, hanya kau yang jatuh cinta kepada bayi… dasar pedofil,” ujar Alexa.


“Ya Tuhan, Lexi, kau lihat mereka,” ujar Alex sambil menunjuk Kerelyn dan Raina yang daritadi tak terpengaruh dengan perdebatan Tom & Jerry, “Mereka memanggil kekasih mereka sayang, bukannya zombie atau zombie mesum dan sekarang pedofil?” lanjutnya dengan pandangan tak percaya.


“Dan lihat mereka,” kini giliran Alexa yang menunjuk Gerard dan Daniel, “Mereka memanggil kekasih mereka Sweetheart, Sunshine, Baby bahkan Dylan memanggil Em dengan panggilan Cup Cake, bukankah itu sangat manis? Tapi kau memanggilku dengan nama yang paling aku benci,” ucap Alexa dengan wajah malas.


“Hei… Lexi juga sangat manis dan aku memiliki alasan khusus kenapa memanggilmu Lexi.”


“Kenapa?”


“Couse you are my little puppy,” jawab Alex dengan senyum manis berharap jawaban manisnya itu akan membuat Alexa luluh, tapi sayang kekasihnya itu memang lain dengan wanita pada umumnya.


“Kau menyamaiku dengan anak anjing!” seru Alexa sambil memukuli lengan Alex.


“Kenapa kau memukulku, itu sangat manis, Lexi.”


“Tidak! Dan berhenti memanggilku dengan nama itu.”


“Jadi kau ingin aku memanggilmu seperti Dylan memanggil, Em?”


“Iya.”


“Baiklah kalau begitu,” ucap Alex dengan serius sambil menatap Alexa yang menatapnya dengan mata berbinar, sedangkan yang lainnya kini terlihat penasaran dengan nama yang akan diberikannya kepada Alexa.


“Pancake, aku akan memanggilmu pancake, bukankah itu sangat manis,” ujar Alex dengan bangga tetapi tidak dengan Alexa yang kini menganga tak percaya dan yang lain kini tengah tertawa terbahak-bahak.


“Untung di Amerika, coba di Indonesia kau akan dipanggil dengan sebutan serabi,” ucap Raina sambil terbahak-bahak.


“Kau!” seru Alexa sambil kembali memukuli Alex yang tak mengerti kenapa kekasihnya itu terlihat marah dengan panggilan barunya.


“Kenapa kau memukuliku? Kau sendiri yang meminta panggilan seperti Dylan memanggil Em.”


“Dylan memanggil Em dengan cup cake! Cup cake itu mungil, cantik dan manis, sedangkan kau… kau memanggilku dengan pancake!”


“Apa masalahnya dengan pancake? Pancake sangat enak, aku menyukainya,” Alex berkata sambil mengelus lengannya yang tadi dipukul Alexa.


“Pancake itu bulat, mengembang dan berwarna gelap,” ucap Gerard yang seperti menyiramkan bensin di atas api.


“Kau dengar itu, bahkan Gerard yang bodoh dalam berkencanpun tahu itu,” ucap Alexa yang langsung dapat protes dari Gerard karena tak terima dibilang bodoh dalam berkencan.


“Apa aku bodoh dalam berkencan?” tanya Gerard kepada Raina karena protesnya tak dihiraukan Alexa.


“Iya,” jawab Raina singkat dengan wajah penuh keyakinan membuat Gerard tak percaya, “Tapi kau sangat menggemaskan,” lanjutnya sambil mencubit pipi Gerard yang seketika tersenyum lebar.


“Jadi sebenarnya kau ingin aku memanggilmu apa?” tanya Alex sambil menatap Alexa yang terlihat berpikir beberapa saat.


“Hmm…”


“Hm?” tanya Alex sambil mengangkat alisnya.


“Princes… aah tidak-tidak itu sangat menjijikan.” Alexa berkata sambil bergidik lalu kembali terlihat memikirkan nama panggilan yang cocok untuknya.


Tak jauh berbeda dengan Alexa, Alex-pun terlihat berpikir setelah mendengar perkataan Alexa tapi untuk alasan yang berbeda, pikirannya kini berkelana ke kasus yang tengah ia hadapi.


“Queen,” ucapnya dengan mata terbelalak menatap Alexa ketika dia menyadari sesuatu.


“Ratu? Alex kau tak perlu memanggilku sampai seperti itu,” Alexa berkata dengan malu-malu.


“Bukan kau,” ucap Alex membuat Alexa mengangkat alisnya.


“Bukan aku?”


“Bukan… King Arthur.”


“Kau ingin aku memanggilmu King Arthur? Yang benar saja, Alex.”


Alexa berkata sambil menggelengkan kepala tak percaya.


“Tidak, bukan itu,” ucap Alex dengan mata terlihat masih sedikit berpikir membuat semua orang kini menatapnya merasa penasaran.


“Kalau misalnya King Arthur harus bersembunyi, apa Ratu akan menyembunyikannya?” Alex bertanya dengan mata menatap semua orang mengharap jawaban dari mereka.


“Iya, tentu saja,” jawab Kerelyn sambil mengangguk.


“Dia akan menyembunyikannya di tempat paling aman,” sambung Raina yang kembali dapat anggukan dari Kerelyn dan Alexa.


“Beda ceritanya kalau dia berselingkuh.” Gerard berkata dengan santai membuat semua orang kini menatap ke arahnya.


“Dia benar, kalau King Arthur berselingkuh maka dia akan bersembunyi di tempat selingkuhannya, karena dia tahu semua orang yang mencarinya akan menanyakan keberadaannya kepada Ratu,” jelas Daniel membuat Alex terdiam beberapa saat kemudian mengangguk setuju.


“Kalian benar, tapi yang pertama-tama harus aku lakukan adalah mencari ratunya terlebih dahulu dan setelah itu baru kita ketahui apa dia berselingkuh apa tidak.”


Alex tersenyum sambil menganggukan kepala seolah dia telah menemukan titik terang untuk mengetahui tentang identitas dan keberadaan ‘King Arthur’.


Semua orang yang berada di meja itu hanya saling pandang tak mengerti tentang apa yang baru saja dia ucapkan, tapi mereka menyadari kalau hal itu masih ada hubungannya dengan kasus yang tengah dihadapinya.


*****