
Pria itu berlari secepat yang ia bisa, tangannya menggenggam handycam dengan kencang, “Sial!” umpatnya ketika terdengar orang yang mengejarnya semakin mendekat, dengan kaki yang semakin lelah ia berbelok masuk ke dalam lorong gelap berusaha bersembunyi, napasnya terengah-engah, paru-parunya mulai memanas kekurangan oksigen, matanya terpejam beberapa saat untuk menenangkan diri sebelum dia mengintip di balik tembok gedung, matanya kini menatap benda di tangannya yang telah merekam sesuatu yang tidak seharusnya dilihat, dengan tangan gemetar ia mengeluarkan kaset dari dalamnya. Ia kembali mengumpat dan berlari ketika melihat orang-orang itu berlari ke arahnya.
Beberapa saat lalu dia hanya seorang mahasiswa biasa yang tengah merekam tugas tentang sisi lain kota New York pada malam hari terlepas dari gemerlap kota besar itu, sampai akhirnya tanpa sengaja dia melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat, tapi entah dari mana melihat hal itu tiba-tiba saja dia memiliki jiwa jurnalis yang berkobar.
Dia bisa membayangkan kehebohan yang akan terjadi karena rekamannya, seluruh saluran berita televisi akan berlomba untuk membeli rekamannya, dan mungkin dia akan diundang sebagai bintang tamu ke acara-acara talk show sebagai orang yang membongkar sebuah kejahatan besar. Semua orang akan mengenalnya, dan perempuan akan mengantri untuk berkencan dengannya.
Tapi semua berantakan ketika dia berusaha untuk mengambil gambar dari jarak yang lebih dekat yang malah mengantarnya ke dalam bahaya karena kini keberadaanya diketahui oleh salah satu dari mereka, membuatnya langsung melarikan diri.
Dia berlari sekuat yang dia bisa, dia juga tahu sendainya dia tertangkap maka kemungkinannya untuk selamat adalah 0% mengingat kejahatan apa yang telah dia saksikan, oleh karena itu bagaimanapun caranya dia harus menyelamatkan rekaman ini. Dia ingin kalaupun dia tidak selamat, kematiannya tidak sia-sia dan para polisi akan menangkap para penjahat itu.
Bruk!
“Hei! Apa kau tidak melihat?!”
“Maafkan aku,” ucapnya dengan mata cemas menatap ke arah kaset yang berserakan kemudian melihat ke belakang sebelum kembali memutuskan berlari meninggalkan perempuan yang terlihat marah-marah sambil memasukan barang-barangnya yang berupa kaset-kaset hasil rekaman peragaan busana beberapa musim lalu kembali ke dalam dus.
Ia tengah berjongkok mengambil kaset terakhir ketika beberapa orang kembali melewatinya sambil berlari.
“Hei!” serunya dengan kesal sambil menatap orang-orang yang berlari meninggalkannya seolah dirinya tak terlihat, “Ya Tuhan, apa mereka tak diajari sopan santun ketika sekolah dulu?” ujarnya sambil mendengus lalu berdiri dan mulai berjalan dengan wajah kesal menuju mobilnya yang terparkir di lapangan parkir restoran 24 jam yang berada di simpang jalan.
Dia baru saja berjalan beberapa meter ketika terdengar suara tembakan membuat semua orang terdiam membeku untuk beberapa saat, sebelum akhirnya mereka berlari menuju lorong sebuah gedung perkantoran yang terlihat gelap dan hanya bercahayakan temaran lampu jalanan yang terhalang gedung-gedung di kanan-kirinya. Tak mau ketinggalan perempuan itu ikut berlari untuk melihat apa yang tengah terjadi.
Orang-orang telihat berkerumun dengan wajah terkejut, ia menyeruak keramaian dan seketika matanya terbelalak kaget ketika melihat seorang pria kini telah terbujur bersimbah darah dari luka tembak tepat di dada. Ia semakin terkejut ketika menyadari kalau pria yang telah jadi mayat itu adalah orang yang tadi menabraknya.
*****