
"Sial! Lagi-lagi kita gagal!" Seru seorang pria sambil menggebrak meja dengan wajah merah padam, memberengut menahan amarah.
"Kita terlalu menyepelakan detektif itu," ucap pria yang tangannya kini dibelebat perban.
"Kau sendiri yang mengatakan dia adalah salah satu detektif terbaik NYPD, untung saja tembakannya meleset kalau tidak, aku yakin saat ini kita sedang menghadiri pemakanmu."
Pria dengan luka di lengan itu mendengus menatap orang di hadapannya dengan mata tajam.
“Apa yang sebenarnya terjadi tadi malam? Bagaimana bisa dia mengejarmu?”
Pertanyaannya membuat semua orang di dalam ruangan itu menatap pria yang duduk di salah satu kursi di dalam ruangan itu, yang kemudian mulai menceritakan tentang apa yang terjadi malam tadi. Dia merasa tak melakukan kesalahan apapun. Mereka bergerak sesuai rencana, rekan-rekannya telah mengamankan keadaan di dalam gedung itu, yang perlu ia lakukan hanya masuk ke dalam apartemen dan mengambil kaset yang menjadi permasalahan selama ini.
Tapi ia tak menyangka kalau detektif yang tinggal bersama putri sang Senator itu memiliki kepekaan yang cukup tinggi. Ia bahkan hendak kembali dan menunda misinya hari itu sampai kedua orang di dalam apartemen itu tertidur, tapi sial kesalahannya hanya berhenti sesaat di depan pintu mereka. Dia tak menyangka kalau ada seseorang yang mengawasinya di balik pintu itu.
"Apa dia mengenalimu?" Tanya rekannya yang lain sambil menatapnya penasaran.
"Jangan bodoh, Bred, kalau dia mengenaliku apa kau pikir saat ini aku masih duduk bersama kalian?" jawabnya sinis sambil menatap pria yang ia panggil Bred itu.
"Baiklah, kita telah gagal beberapa kali dan sepertinya kita perlu perubahan rencana," ujar pria dengan luka tembak itu sambil memutar-mutar cincin emas di jari tengahnya dengan ukiran sebuah lambang perisai dan terdapat sebuah inisial di tengahnya. Ucapan pria itu membuat semua orang kini terdiam dan menatapnya dengan serius.
"Apa kau ada ide lain?"
Pria itu mengangguk sebelum akhirnya berkata, "Aku yakin saat ini para polisi akan memberikan perhatian lebih karena kejadian semalam." Dia terdiam beberapa saat sambil menatap salah satu diantara mereka dengan seringai di wajahnya.
"Kalau kita tidak bisa masuk ke dalam apartemen untuk mengambil kaset itu, maka kita akan membuat mereka menyerahkan kaset itu dengan sendirinya." ucapnya sambil tersenyum miring dengan mata memicing penuh misteri memikirkan rencana briliannya.
Semua orang di dalam ruang kerja mewah dengan rak-rak penuh buku tersusun rapi di samping kiri, dan sebuah lukisan malaikat yang sedang memainkan harva dalam ukuran besar dengan bingkai emas di samping kanan itu saling pandang tak mengerti dengan apa yang dikatakan pria yang kini tengah menuang anggur ke dalam gelas kristalnya.
"Bagaimana caranya?" salah satu dari mereka bertanya membuat semua orang menatapnya dengan serius.
"Kau," jawabnya sambil mengangkat gelas yang telah terisi oleh cairan berwarna merah tua itu menunjuk seseorang yang terlihat tak begitu paham dengan apa maksudnya.
"Aku?"
"Iya, kau," jawabnya santai sambil menyeruput minumannya membuat semua orang saling pandang.
"Bukankah keahlianmu untuk merayu seorang gadis sudah tak diragukan lagi?" tanya pria itu sambil menaikkan alis matanya, membuat semua orang terdiam beberapa saat tapi kemudian akhirnya senyuman lebar menghiasi setiap wajah diruangan itu setelah mengerti apa maksud dari perkataan pria itu.
*****
"Apa kau kena amukanya juga?" Tanya Kely sambil berjalan dengan cepat di samping Alexa yang baru saja keluar dari ruangan Direktur tempatnya bekerja.
Gabriel Clark, Direktur utama perusahan mode dunia yang berpusat di New York itu merupakan wanita berusia akhir empat puluhan yang bertangan dingin dalam menghasilkan karya-karya emas. Namanya disejajarkan dengan para perancang ternama lainnya. Dia merupakan seorang yang mengharapkan kesempurnaan dalam setiap karya dari para designer yang berada di bawah naungan label miliknya. Itulah yang membuat semua orang di lantai dua hari ini terlihat sangat sibuk, Gabriel tiba-tiba saja meminta mereka untuk menyerahkan hasil rancangan untuk koleksi musim semi mereka. Dan sialnya, Alexa baru menyelesaikan beberapa rancangan saja, mengingat dia harus membagi fokusnya terhadap rancangan untuk Dean Tyler tapi itu tidak menjadi pengecualian bagi wanita itu untuk memarahinya sama seperti rekan-rekannya yang lain.
"Badai menerpa semua wilayah, tanpa terkecuali," jawab Alexa sambil terus berjalan menuju kursinya dan langsung menghempaskan pantatnya di kursi berwarna hitam itu.
"Apa dia tak berpikir kalau aku bukan hanya mengerjakan kolesi musim semiku saja, tapi juga harus membuat design untuk Dean!" Seru Alexa sambil menatap Kely dengan mata tajam.
"Aku pikir kau akan terbebas mengingat proyek keluarga Tyler bukanlah proyek biasa," ujar Kely sambil duduk di kursinya yang telah ia tarik hingga berdekatan dengan kursi Alexa.
"Percayalah aku harap juga seperti itu," ucap Alexa lemas sambil bersandar dengan kepala menengadah menatap atap.
Itu memang salahnya, akhir-akhir ini ia tak bisa fokus mengerjakan koleksi musim seminya. Selain karena proyek Dean Tyler, kejadian semalam menjadi salah satu penyebabnnya juga, tapi yang membuatnya kehilangan konsentrasi dalam mengerjakan designnya di rumah adalah karena wangi seseorang yang membuat fokusnya bercabang.
Wangi maskulin milik seseorang yang akhir-akhir ini tinggal bersamanya selalu sukses memecah konsentrasinya. Seperti memiliki zat adiktif yang membuatnya ketagihan dan selalu membuatnya ingin dekat dengan pria itu hanya untuk menghirup wangi tubuhnya.
"Ayo kita pergi!" Seru Alexa tiba-tiba sambil berdiri membuat Kely ikut menatapnya bingung.
"Ini semua membuatku menjadi sangat lapar," lanjutnya sambil membawa tasnya lalu pergi diikuti Kely yang mengekor di belakangnya.
Bukannya makan di café layaknya pegawai lain, mereka berdua kini duduk di atas rumput di central park dengan hotdog yang cukup panjang di tangan kedua perempuan yang mulutnya penuh dengan makanan siap saji itu, lengkap dengan gelas cola ukuran besar di depan mereka.
"Ini adalah makanan paling cocok untuk menghilangkan kesal," ucap Kely dengan mulut penuh.
"Kau benar, tidak ada yang lebih baik daripada hotdog di Central Park," ujar Alexa yang dapat anggukan dari rekannya itu.
Mata Alexa menatap sekeliling taman yang menjadi salah satu tujuan wisata di kota itu, terlihat beberapa orang sedang duduk seperti mereka menikmati hangatnya sinar matahari, anak-anak berlarian dengan tawa riang membuat suasana sore itu semakin hangat. Ia kemudian menggeleng ketika matanya menangkap sepasang kekasih yang tengah asik berciuman tanpa memedulikan sekitar mereka.
"Oh yang benar saja! Apa mereka harus melakukannya di tempat umum seperti ini," ucap Alexa sambil menggelengkan kepala tak mengerti.
Kely yang merasa penasaran ikut melihat ke arah Alexa menatap tadi lalu kemudian dia mendengus, "Mereka hanya membuat orang seperti kita terlihat menyedihkan."
Alexa mengangguk setuju, "Itu sangat... tidak sopan," lanjutnya yang kembali dapat anggukan setuju.
"Seharusya kita memiliki kekasih, jadi kita bisa seperti mereka," ucap Alexa sambil menggigit hordognya dengan mata masih menatap pasangan kekasih itu dengan iri.
"Bukan kita, tapi aku," ujar Kely sambil mendelik ke arah Alexa, membuat gadis berambut coklat itu mengangkat alisnya tak mengerti.
"Apa kau lupa atau pura-pura lupa kalau kau sudah memiliki kekasih yang sangat seksi," lanjut Kely sambil meminum colanya.
"Aku? Memiliki kekasih?"
"Ckk.. Alexa, apa kau lupa dengan pria tampan yang tinggal bersamamu? Bukankah dia kekasihmu? Kalau kau tidak mau, kau bisa menjodohkannya denganku," ujar Kely dengan semangat membuat Alexa tersedak hingga terbatuk-batuk.
"Maksudmu Alex?" Tanya Alexa setelah berhenti terbatuk dan meminum colanya dengan rakus.
"Iya, pria tampan dengan mata biru yang seksi." Kely berkata dengan tatapan memuja membuat Alexa mendengus lalu kembali minum hingga hanya menyisakan sedikit minuman bersoda itu.
"Katakan padaku sudah sejauh mana hubunganmu dengannya? Apa... dia hebat?" Tanya gadis berkaca mata itu dengan senyum lebar dan mata berbinar, terlihat penasaran dengan jawaban Alexa yang terlihat berpikir.
"He-bat?" Alexa balik bertanya dengan wajah tak mengerti, membuat Kely memutar bola matanya.
"Apa dia... good kisser?"
Alexa kini mengerti apa maksud dari pertanyaan rekan kerjanya, dia mengingat kejadian semalam dimana dia tertidur di dalam pelukan pria bermata biru itu, tapi mereka tidak melakukan apapun selain...ya tentu saja tidur. Jadi bagaimana dia bisa tahu apa Alex pencium yang hebat atau tidak? Dan walaupun mereka katanya pernah 'berciuman' tapi saat itu dia sedang mabuk, jadi dia benar-benar tak bisa mengingatnya. Sebenarnya dia sama penasarannnya dengan Kely... apa dia sehebat itu?
"Dia pasti pencium yang hebat! Lihat saja wajahmu sampai memerah seperti itu hanya dengan membayangkannya saja. Aaah... aku sangat iri padamu," ucap Kely dengan tatapan iri membuat Alexa kembali terbatuk-batuk tersedak makanannya.
"Wajahku tidak memerah... ini karena sinar matahari yang sangat terik" ucap Alexa berusaha menjelaskan tapi sayang gadis di sampingnya itu hanya tersenyum menggoda menatapnya.
"Lexa, matahari bahkan sudah mau terbenam bagaimana bisa sangat terik."
Kely menggelengkan kepala mendengar alasan Alexa yang tak masuk akal. Dan diam-diam Alexa mengumpat dalam hati ketika menyadari kalau yang dikatakan Kely itu benar.
"Kenapa wajahmu memerah?"
Alexa dan Kely membalikan badan mereka menatap ke arah suara dimana Theo dan Calista tengah berangkulan mesra sambil tersenyum menatap mereka.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya Alexa sambil tersenyum menatap sahabatnya.
"Sama sepertimu," jawab Theo sambil mengangkat hotdog yang berada ditangan kanannya, melihat itu Alexa tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Kalian berdua masih saja berkencan sambil makan hotdog di sini."
Alexa berkata sambil berdecak heran melihat pasangan yang sudah seperti saudara baginya itu.
"Tentu saja, karena di sinilah tempat kencan pertama kami," ucap Calista sambil menatap Theo mesra yang langsung mendapat ciuman lembut dari suaminya itu.
"Hentikan! Kenapa kalian harus berciuman di depanku!" Seru Alexa yang membuat Calista tersenyum malu dengan pipi merah, sedangkan Theo hanya tersenyum miring mengejek Alexa yang terlihat cemberut.
Tapi cemberutnya itu hanya sebentar ketika mendengar seseorang di sampingnya berdehem dan menyadari bahwa sekarang ia sedang bersama dengan teman sekantornya yang kini menatap mereka dengan senyum lebar.
"Sorry, Kely, aku hampir melupakanmu. Kenalkan ini sahabatku Theo dan ini istrinya, Calista," ucap Alexa mengenalkan mereka.
"Hai, aku telah mendengar banyak tentangmu dari Alexa," ujar gadis berkacamata itu dengan mata berbinar ketika menatap Theo yang terlihat tampan seperti biasanya, tapi senyumnya langsung hilang ketika matanya menatap Calista yang tengah menatapnya tajam, membuatnya menjadi gugup dan Alexa merasa kasihan kepada temannya itu karena belum mengenal siapa gadis cantik itu sebenarnya. Ya dia memang secantik Aprodite tapi ia bisa menjadi Medusa ketika berhubungan dengan perempuan yang mencoba merayu suaminya.
"Lexa, aku mendengar dari Daniel apa yang terjadi tadi malam," ucap Theo berusaha mengalihkan perhatian istrinya dari gadis yang kini terlihat bersembunyi di balik tubuh Alexa.
"Apa kau tak apa-apa? Aku sangat terkejut ketika mendengar ceritanya," ujar Calista sambil duduk di samping Alexa dengan wajah cemas.
"Aku tak apa-apa, hanya sedikit terkejut."
"Syukurlah... apa dia pencuri? Untung saja ada Alex yang menjagamu," ujar Calista sambil menatap Alexa serius, begitu pula dengan Kely yang terlihat penasaran.
"Aku tidak tahu, Alex langsung mengejarnya begitu saja, atau mungkin.... Dia, buronan yang menjadi target pengejaran para polisi," ujar Alexa menebak tentang pelaku semalam, membuat Calista dan Kely tercekat menyadari hal itu bisa saja benar.
"Alexa, itu sangat menakutkan, bisa saja dia pembunuh berantai atau penjahat yang menargetkan para perempuan sebagai korbannya," ujar Kely sambil bergidik membuat kedua perempuan di depannya ikut bergidik ngeri.
"Tapi tenang saja, Dylan telah memerintahkan beberapa orang pengawal untuk menjagamu," ucap Calista sambil menatap Alexa yang terlihat terkejut mendengarnya.
"Dylan apa?" Tanya Alexa untuk memastikan kalau dia tak salah dengar.
"Dia sangat marah ketika tahu kalau kau dalam bahaya, Kakakku bisa sangat menyeramkan kalau mengetahui orang yang dia sayangi dalam masalah. Theo bahkan sampai kena amukannya karena membiarkanmu tanpa pengawalan."
Alexa terlihat bingung kenapa dia butuh pengawalan? Bukankan kejadian semalam itu tak ada hubungannya dengan dia? Dia mengerutkan alisnya ketika menatap Theo yang langsung terlihat gugup ketika menyadari dia tengah menatapnya.
"Sunshine, kita harus pergi sekarang!" Seru Theo sambil berdiri dengan terburu-buru membuat Calista bingung.
"Theo..." Alexa berkata sambil menatap sahabatnya itu dengan tajam penuh selidik, "Duduk atau aku tak akan melepaskanmu," lanjutnya membuat pria bermata biru itu mengumpat pelan.
"Kami harus pergi sekarang, Lexa, aku akan menghubungimu lagi nanti," ucap Theo sambil terburu-buru membantu Calista berdiri.
"Theo...sebaiknya kau duduk!" ujar Alexa dengan suara tajam membuat Theo meringis lalu kembali duduk di samping istrinya yang terlihat bingung.
"Sekarang jelaskan kepadaku kenapa aku perlu pengawal?"
"Lexa, penjahat itu bisa saja kembali datang ke tempatmu," jawab Calista dengan semangat yang langsung dapat anggukan dari Theo.
"Itu benar, dia bisa saja datang lagi." Theo berkata mengikuti Calista.
"Dia hanya penjahat yang lewat dan sialnya dikenali oleh Alex, jadi bagaimana mungkin dia akan kembali lagi ke sana?" Tanyanya lagi sambil menatap Theo dengan penuh selidik, membuat suami Calista itu terlihat serba salah.
"Hanya ada dua kemungkinan dia akan kembali ke tempatku. Yang pertama dia penjahat bodoh karena kembali ketempat dimana sorang detektif tinggal atau... penjahat semalam memang telah menargetkan aku, dan kalian mengetahui tentang itu. Benarkan? "
Theo membelalak mendengar tebakan Alexa yang akurat, dan itu membuat kembaran Emily itu mengumpat sambil menatap Theo tajam.
"Jadi itu benar?"
"Ti-tidak... itu tidak benar."
"Theo, katakan padaku yang sebenarnya atau aku akan memperlihatkan video itu kepada istrimu," ucap Alexa sambil tersenyum dan membuat Theo membelalak sambil menganga tak percaya.
"Oh, sial, Lexa! Yang benar saja," seru Theo yang hanya ditanggapi oleh herdikan bahu oleh gadis bermata ember itu.
"Video apa?" Tanya Calista bingung sambil menatap keduanya bergantian.
"Percayalah, Calista, kau akan sangat menyukainya," jawab Alexa dengan senyum meyakinkan dan membuat Theo kembali mengumpat.
"Oh baiklah, aku akan menceritakannya!" Seru Theo dengan putus asa.
Theo menceritaka tentang awal mula kecurigaan Alex yang akhirnya terbukti dengan serangan semalam. Alexa terdiam mendengarkan semuanya dan tak percaya dengan apa yang didengarnya, begitu juga dengan Calista dan Kely yang terlihat terkejut mendengar hal itu. Dia tak percaya kalau penjahat itu telah mengintainya selama ini, dan itu membuatnya merasa takut sekaligus marah karena semua orang menyembunyikan kebenaran ini darinya. Dia merasa dibodohi.
Gadis itu terlihat menahan amarahnya, tapi Theo sebagai sahabatnya sejak lama sangat tahu kalau itu hanya sementara saja. Tebakannya terbukti ketika gadis itu mengambil teleponnya dan dengan tak sabar dia menunggu orang itu mengangkat teleponnya sambil berjalan mundar-mandir dan sesekali terdengar umpatan dari bibirnya yang membuat Theo merasa kasian kepada siapapun orang yang akan menerima amukannya kali ini.
"Alex, kita harus bicara... sekarang!" ucapnya dengan tajam lalu menutup teleponnya dengan napas berat sambil menatap Theo yang hanya meringis berusaha tersenyum menatapnya.
*****